
Nisa mengembangkan senyumanya sepanjang perjalanan menuju ke sekolah. Hari yang dinantikannya telah tiba, apa lagi jika bukan hari Jum'at hari terakhir dalam kegiatan belajar mengajar.
Tepat saat hendak masuk melewati pintu kelas, Nisa berpapasan dengan Aldo yang juga akan masuk ke kelasnya. Kelas mereka yang bersebelahan membuat keduanya sekilas saling tatap sesaat .sebelum melangkah masuk
Aldo melemparkan senyum kearah Nisa sedangkan Nisa hanya diam ditempatnya tanpa pergerakan apapun. Seseorang telah membutakan dirinya karena pesonanya, membuatnya tanpa sadar mematung tanpa memyadari orang yang menyapanya menanti balasan darinya.
"Hai" ucap Aldo menyadarkan lamunan Nisa.
"Hmm Iya" jawab Nisa lirih.
Nisa membalas senyuman yang masih menggantung dibibir Aldo singkat, kemudian berlalu masuk kelas. Pikirannya sedikit terganggu.
"Aduh" Nisa mengaduh pelan saat kakinya terantuk sebuah kaki meja.
"Gue udah enggak jatuh cinta lagi sama dia tapi kenapa gue selalu keinget sama dia?" gumam Nisa pada pada dirinya sendiri.
Nisa menepis bayangan senyuman manis Aldo, Ia menempati tempat duduknya. Tampak Yola yang canggung hendak menyapanya.
"Pagi Nis" sapa Yola, Semula Ia kecewa melihat Nisa yang kasar tega menampar Filla, namun saat mendengar Filla yang tampak antusian memfitnah Nisa pada Zen dan Fian membuatnya pro dengan Nisa. Andai saja dirinya yang berada diposisi Nisa, Ia bahkan tidak hanya sekedar menampar namun bisa jadi mengajak Filla untuk sparing dengannya.
"Pagi juga La, apa kabar?" jawab Nisa basa basi.
"Baik kok. Tumben berangkat lebih awal?" cibir Yola.
"Iya soalnya pepatah mengatakan harus rajin berangkat pagi biar ilmunya nggak dipatok ayam"
"Bisa aja lo"
"Becanda" Nisa meletakan tas punggungnya pada laci dimejanya lalu mengeluarkan buku tulis Matematikanya
"Lo udah ngerjain PR Matematika?" tanya Nisa ada harapan penuh pada kilaran matanya yang menatap serius pada Yola.
"Udah kok"
"Syukur lah" Nisa menghembuskan nafas lega. Yola memicingkan matanya menatap curiga apda Nisa
"kenapa?"
"Jangan ngaku sohib baik gue kalo masih enggak paham" Nisa menaik turunkan alisnya mengoda Yola.
"Mau nyontek?"
Nisa menggelengkan kepalanya sekali,
"Enggak lah, mau ditaruh mana muka gue secara gue itu kan siswa paling genius diseantero sekolah"
"Bagus deh"
__ADS_1
Nisa berdecak kesal,
"Ck...ck... Gue pikir cuma cowok yang enggak peka ternyata lo juga sama aja"
"Terus mau lo apa?"
"Ya gue mau nyalin jawaban lo lah"
"Jangan ngaku siswa paling genius kalo PR matematika doang masih nyontek" cecar Yola melipatkan tangannya didada.
"Gue cuma nyalin jawaban kok"
"Sama aja pea" ucap Yola sambil mengeluarkan buku tulis matematikanya.
"Beda lah, gue kan udah nulis soalnya tinggal jawabannya aja yang belum gue isi makanya gue mau nyalin jawaban lo"
"Aduh Annisa lo pikir definisi mencontek itu apa sih" Yola mencubit kedua pipi Nisa gemas.
"Sakit Nyet. Ya mana gue tau pengertiannya orang gue kagak pernah nyontek"
"Terserah lo deh" Yola lebih memilih mengalah, Ia mengambil buku paket mata pelajaran yang lainnya memulai belajar. Sebentar lagi akan ada Ujian kenaikan kelas. Yola belajar mandiri untuk mengejar materi yang belum dikuasainya.
"Makasih zeyeng" ucap Nisa girang. Ia dengan santai memulai mencatat jawaban dari buku Yola.
"Ada maunya aja lo sayang coba kalo kagak pasti deh lo tendang" gerutu Yola mencibir Nisa.
"Sialan lo"
"Kalem baby, nanti gue traktir deh makan siang dikantin"
"Maaf, enggak menerima sogokan"
"Yakin lo?"
"kalo lo maksa juga gue nggak keberatan"
"Okey nanti gue traktir sepuas lo, anggep aja itu sebagai bonus lo tadi malem"
"Hah? Maksud lo?"
"Tadi pagi gue liat nominal dikartu debit gue nambah banyak, gue pikir itu hasil lo ngepet semalem"
"Kurang ajar lo Nis, lo pikir gue ba*i ngepet?"
"Stttt" Nisa menempelkan jari telujuknya pada bibir Yola, lantas berbisik ditelingannya.
"Santai gays gue enggak ember kok, nanti kalo butuh partner kerja gue siap jadi penjaga lilin saat lo keliling jangan malu-malu" lanjut Nisa dengan tampang wajah innocent.
__ADS_1
"Mulut lo kayaknya perlu diruqyah deh Nis biar nggak nyablak kalo ngomong"
"Enggak perlu repot-repot nanti gue mau daftrain sekolah aja mulut gue biar berpendidikan dan mempunyai moral"
"Jangan lupa lo juga harus masukin RSJ, kayaknya mulut lo juga terkena gangguan jiwa" ucap Yola sinis.
"Gue siap mendonasikan harta gue buat biaya rumah sakit jiwa lo" imbuhnya lagi tanpa ragu.
"Mulut gue gila bukan karena gangguan tapi gara-gara sering lo ajak gosip jadi virus lo nular ke gue" Sanggah Nisa tidak mau kalah.
" Ya ampun Nisa, yang ratu ghibah aja elo. Mana mungkin lo dapet virusnya dari gue" elak Yola tidak terima.
Nisa dan Yola masih sibuk bersenda gurau melupakan kejadian kemarin siang yang membuat hubungan persahabat mereka menegang, tanpa mereka sadari Filla menatap tajam tidak suka. Filla tersenyum masam saat mendekati bangku meja Nisa. Ia menepuk pelan bahu Nisa dari belakang.
Nisa terlonjak kaget mendapat sentuhan tidak terduga itu.
"Eh Filla? kenapa?" ucap Nisa sedikit gugup karena masih terkejut.
"Gue mau minta maaf, kemaren gue lagi PMS makanya enggak bisa ngontrol emosi gue" papar Filla sembari menunduk. Tangannya terkepal menahan gejolak didadanya, ada perasaan tidak rela harus merendah dihadapan Nisa.
"Sabar Filla, lo pasti bisa membuat Nisa yang bakal ngemis maaf dari lo Nantinya" Batin Filla membesarkan hatinya sendiri.
Dihatinya masih terpendam kebencian terhadap Nisa, namun melihat Yola yang tampak akrab dengan Nisa membuat mau tidak mau harus meminta maaf dari Nisa, meski Ia sendiri merasa pihak yang tersakiti disini namun Ia tidak Ingin terlihat buruk dimata Yola dan Icha karena egonya.
"Oo itu, harusnya lo minta maaf sama Ardan bukan gue" sahut Nisa pelan, Ia merasa tidak enak mengingat dirinya yang telah menampar Filla.
Filla tersenyum kecil,
"Iya nanti sepulang sekolah gue bakal nemuin dia langsung" jawab Filla menurut.
Nisa hanya mengangguk masih canggung harus menanggapi bagaimana, Ia mengalihkan perhatian dengan melanjutkan menyalin jawaban PR matematika Yola.
Filla lantas menatap Yola, menyapa melalui senyuman terpaksanya. Yola balas menatap Filla tulus, merasa semuanya akan baik-baik saja seperti sedia kala.
"Gue balik dulu yah" pamit Filla undur diri kembali ke bangkunya.
"Iya" jawab Yola dan Nisa serempak.
Filla membuang napas dalam sekali sentakan, Ia melirik sekilas pada Icha yang tampak juga mendiamkannya.
"Sial, kenapa jadi semua nyuekin gue? " cerca Filla dalam hatinya, merasa kesal dengan para sahabatnya yang seolah memihak Nisa. Filla mengusap wajahnya gusar, dirinya harus bisa bersabar agar bisa terlihat good looking. Lupakan dulu masalah sakit hati dan ego, yang terpenting sekarang bagaimana caranya agar persahabat ini bisa kembali terlihat baik. Yah Filla akan menjadi penyusup dalam hubungan pertemanan mereka, orang bilang musuh dalam selimut. Memang terlalu pengecut namun bagaimana lagi? itu cara terbaik untuk membalas dendam tanpa harus dibenci dalam lingkar persahabatan mereka. berbeda jika harus dibalaskan secara terang-terangan bukan dukungan yang didapat melainkan tatapan menjijikan.
******
NB: Jika kalian suka, tolong like yah gays❤. Budayakan memberikan jejak positif seperti like, vote, komen atau rate 5 untuk mendukung author🤓. Jangan menjadi silent readres ya gaes itu nyesek banget lho buat Author😢
Happy reading gays😘
__ADS_1