
Pukul 11.30 siswa siwsi SMA Nusa Bhakti perlahan meninggalkan sekolahan.
Aldo duduk termenung, hingga kelas sepi ia masih enggan untuk beranjak. Pikirannya terasa buntu. Lagi-lagi Ia ragu untuk mengambil keputusan.
Aldo menjambak rambutnya sendiri. Tuhan, andaikan Ia bisa memilih Ia akan meminta hati yang baru. Hati yang kuat, yang tak mudah goyah dalam menentukan langkah.
"Al mau pukang bareng?" tanya Ardan yang prihatin melihat wajah kusut Aldo. Hanya ada Aldo, Ardan dan Fian sekarang. Jangan tanyakan Zen dimana, sudah tentu dia ngacir kelas sebelah.
"Lo duluan aja" jawab Aldo singkat.
Ardan melangkah mendekati Aldo, Ia mengambil duduk disebelahnya.
"Lo kenapa? sini cerita sama gue" tutur Ardan lembut. Ia yakin Aldo sedang tidak baik-baik saja.
Aldo tersenyum samar
"Gue nggak papa, gue cuma pengen disini dulu" jawab Aldo lirih.
Ardan mengelus punggung tangan Aldo untuk menguatkan sahabatnya yang sedang rapuh.
"Jangan bohongi gue Al"
Fian yang sedang membereskan perlatanya terhenti sejenak, ia menatap Aldo dan Ardan dengan penasaran.
Ia pun mendekati keduanya. Ia menyeret salah satu kursi lantas mendudukinya.
Ardan menatap Ardan dan Fian bergantian. Ia menenangkan gejolak di hatinya. Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakan tentang hubungannya. Mengingat dirinya yang payah dalam bertindak, mungkin kedua sahabatnya mampu membantu memberikan saran.
"Lo serius mau dengerin curhatan gue?" tanya Aldo balik.
Ardan mengangguk tegas. Fian diam tak bergeming, sadar tak ikut ditanyai.
"Tapi ini menangkut Filla" desis Aldo lirih.
"Lo masih berhunungan sama dia?"
Aldo menggeleng lemah.
"Lo udah putus"
Aldo menggekeng sekali lagi.
"Terus? nggantung?"
"Iya"
Ardan saling melempar pandang dengan Fian.
__ADS_1
"Mau sampai kapan?"
"Gue nggak tau"
"Lo cowok Al, harusnya lo bisa tegas"
"Gue tau Ar, tapi gue bingung cara menghadapi dia"
"Lo masih cinta?"
Aldo termenung dalam duduknya. Ia ingi berkata iya namun lidahna terasa kelu.
"Filla udah nyakitin temen-temen lo? apa lo masih mau sama Filla?" oceh Fian menatap tak percaya pada Al.
"Yan gue tau, gue bahkan sampai sekarang nggak kirim kabar sama Filla. Itu karna gue juga kecewa sama dia" jelas Aldo dengan nada meninggi.
"Kenapa nggak lo putusin aja sih? masih banyak cewek baik di luar sana" imbuh Fian sinis.
"Gue butuh waktu Yan, gue nggak mungkin putusin dia gitu aja. Kondisi dia sekarang sedang terpuruk apa lo sekarang juga udah nggak punya hati?"
Mulut Fian terbungkam rapat, dia sendiri juga melihat perubahan drastis pada diri Filla. Sifatnya yang ceria berubah menjadi pendiam. Filla yang dulu sangat cantik sekarang mejadi kusut dan pucat. Penampilannya tak lagi seperfect dulu kini Ia sangat acak-acakan.
"Ar gue minta maaf, mungkin lo kecewa sama gue. Tapi tolong ngertiin gue, posisi gue nggak gampang" pinta Aldo memelas.
"Gue tau Al. Lo udah korbanin perasaan lo buat kita semua" jawab Ardan lebih hangat dari pada Fian.
"Makasih Ar. Dibanding pacar jelas gue milih sahabat lo, sahabat gue dari dulu. Tapi lo tau hubungan gue masih berhitung hari, nggak mudah menghilangkan rasa yang terlanjur ditanam dihati"
"Gue harap persahabatan kita nggak hancur" sahut Ardan merangkul pundak Aldo.
"Gue juga harap hubungan lo sama Fila nggak baik-baik saja" tambah Ardan menatap Aldo serius.
Aldo menautkan kedua alisnya.
"Maksud lo apa Ar?" tanya Fian memicingkan matanya.
"Ini masalah gue, Nisa dan Yola sama Filla. Dalam kasus ini nggak ada sangkut pautnya antara hubungan Aldo dan Filla" ucap Ardan menjelaskan.
"Aldo sahabat kita Ar, sudah seharusnya dia bela sahabat bukan pacarnya yang jelas-jelas salah"
"Kita egois Yan kalau harus maksa Aldo mihak kita. Sebagai pacar seharusnya Aldo juga kasih support ke Filla disaat dia terpuruk"
"Filla melakukan tindak kriminal dan lo nyuru kasih support? otak lo geser ke dengkul?"
"Bukan itu maksud gue. Filla udah mengakui kesalahanya. Dia mau berubah, dia butuh pendamping buat nunjukin ke arah yang benar"
"Lo terlalu baik apa terlalu b*go sih" ucap Fian kesal.
__ADS_1
Aldo memijat pelipisnya yang mendadak pening.
"Udah stop" potong Aldo menghentikan adu mulut keduanya.
"Lo tenang aja Yan nggak perlu emosi. Gue putudin Filla tapi nanti yah nunggu beberapa waktu dulu. Dia pasti lagi down menerima* banyak hujatan gue nggak mau bikin dia stress"
"Jangan muna Al. Gue tau lo masih sayang sama Filla. Perbaiki hubungan lo Al. Gue udah maafin dia" pinta Ardan.
Aldo tersendat menelan salivanya. Yah tentu saja Ia masih sayang. Ia mengubur perasaan pada Nisa karena Filla mampu membuat hatinya terbuka kembali.
"Nggak Al, lo gila kalo sampe balikan sama Filla" cetus Fian tak terima.
"Gue yakin Yola dan Nisa udah maafin Filla, mereka pasti ngerti"
Brakkkk
Yola menggeram marah saat mendengar kalimat Ardan baru saja. Semula Ia ingin mengajak Aldo untuk pulang bersama. Namun samar-sama Ia mendengar suara Fian melengking tinggi menyebut nama Filla. Ia pun memutuskan untuk menguping.
"Nggak Ar gue nggak terima" teria Yola menatap Ardan tak suka.
"Yola" kaget Al dan Ardan bersamaan.
Yola melangkah masuk.
"Gimana mungkin lo masih bisa bersama dengan orang yang udah nyelakain sahabat sekaligus sepupu lo"
Fian mengangguk setuju. Ardan menarik Yola duduk disampingnya.
"La tolong jangan kebawa emosi, jangan larut dalam dendam yang berlebihan"
"Lo hampir kehilangan nyawa Ar dan lo masih belain Filla?"
"Betul" imbuh Fian.
Ardan menangkup Kedua pipi Yola.
"Filla mau insyaf Yola, kita harus kasih kesempatan buat dia berubah"
"Dia iblis Ar nggak akan berubah"
"Nggak boleh ngejugde orang begitu, kita do'a kan yang terbaik yah. Lo sahabatnya kan? Ayok saling membimbing agar bisa sesurga dengannya. Jangan biarkan dia jatuh ke lembah dosa yang sama"
Yola menyeka sudut matanya yang berair. Ia terharu dengan Ardan yang bisa setegar itu.
"Kita kasih kesempatan buat dia La, gue yakin dia cuma khilaf" bujuk Ardan belum menyerah.
Yola mengangguk singkat.
__ADS_1
"Bimbing gue juga biar jadi calon makmum yang baik"
"Gue yakin lo nggak cuma cantik tapi juga baik" ucap Ardan menghapus sisa air mata Yola dipipinya.