Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 27 Salah Paham


__ADS_3

"Kok lo bisa dateng sama Nisa?" ucap Filla yang masih penasaran.


"Lo kok nggak berangkat bareng Nisa? lo kan temennya?" Zen melemparkan pertanyaan balik untuk Filla.


Filla memandang Icha, meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Zen melaui tatapan matanya. Icha hanya mengangguk, ia masih terpesona dengan Zen. Ia tidak ingin menggangu imajinasinya dengan menanggapi ocehan Filla.


Filla menimbang sebentar tidak ada salahnya untuk bercerita kan? Toh mereka bertiga juga teman Nisa, rasanya pasti asyik jika bisa menghasut seseorang untuk ikut membenci orang lain yang dibencinya.


"Kita lagi ada masalah sama Nisa" ungkap Filla memulai dramanya.


"Kenapa" Tanya Zen antusias.


"Si Nisa udah keterlaluan" ucap Filla memanasi.


Zen Mengerutkan keningnya.


"Ngehina gimana?" tanya nya tidak paham, meski ia tau Nisa memang memiliki jiwa yang terlalu bar bar, tapi dia tidak tahu keterlaluan disini mengacu pada apa.


"Dia ngehina Yola secara fisik"


"Ngehina Fisik?" timpal Fian, ia tidak melihat kekurangan ditubuh mereka yang terlihat sempurna dimatanya.


"Nisa tuh ngehina fisik Yola yang tingginya dibawah dia" ungkap Filla blak- blakan langsung pada pokok pembicaraan.


"Hah?" Zen mengerutkan keningnya, ia merasa itu bukan masalah besar mengingat mereka adalah sahabat baik, ia yakin Nisa pasti hanya bergurau. Baginya penghinaan hanya berlaku jika kata-kata itu ditujukan untuk orang lain. Jika kata itu merujuk pada seorang sahabat itu hanya berlaku sebagai gurauan. Lagi pula Nisa memang tipe orang yang ceplas ceplos ia yakin Nisa tidak serius menghina Yola.


"Terus hubungannya sama lo berdua apa? bukannya Yola yang dihina? dia kan seharusnya yàng marah? bukan lo dua?" seru Ardan dari balik buku Novel yang dibacanya. Dalam acara yang penting seperti ini tidak ada niatan sedikit pun untuk meninggalkan kekasih setianya, ia akan membawanya kemana pun ia pergi.


"Sebagai temen yang baik gue harus belain Yola"


"Baik kata lo? itu sih cuma baik buat Yola enggak buat Nisa" sindir Ardan keras, konsentrasinya membaca sedikit terganggu dengan ocehan Filla, membuatnya senang untuk menyudutkannya.


"Karena gue baik makanya gue belain Yola Nisa tuh salah dia jahat udah ngehina temen sendiri" cecar Filla tidak terima disudutkan.


"Jadi gini caranya orang baik menyelesaikan masalah? ngomporin orang lain buat ikut ngebenci? setau gue orang baik juga ngasih solusi baik buat menyelesaikan masalah bukan cara kotor kayak gini" balas Ardan sewot entah yang dikatakannya benar atau tidak dia hanya tidak ingin kalah.


"Lo yakin Nisa beneran ngehina Yola?


ujarnya Fian heran, persahabatan mereka yang tampak kokoh ternyata tidak sekuat yang terlihat, bahkan hancur hanya sekejap. Mereka berjumlah tiga orang? tidak adakah yang bisa berpikir waras sedikit? Ini pasti hanya sebuah lelucon.

__ADS_1


"Iya lah" Tegas Filla mantap. Ia yakin dengan pendapatnya.


Mereka berbincang panjang lebar, jarum jam terus berputar ke kanan. Mereka asyik menggosipkan Nisa


Zen menepuk jidatnya, bolak balik menyebut nama Nisa membuatnya tersadar sesuatu. Sudah lebih dari tiga puluh menit Nisa pergi tetapi Ia tak kunjung kembali.


" Nisa kenapa belum balik ya?" tanya Zen tiba tiba. Ia takut terjadi sesatu, rasanya tidak mungkin jika Nisa lupa dimana letak toilet


tamu dirumah Aldo? setahun berpacaran membuatnya sering berkunjung kerumahnya, bukan sekali dua kali dia mendarat ditoilet tamu milik Aldo melainkan berulangkali. Ia yakin Nisa tidak setua pipiyot sehingga membuatnya pelupa.


"Betah kali dikamar mandi kan wangi" sahut Ardan cuek, ia tidak mengalihkan matanya yang sedanig membaca novel dipangkuannya.


"Paling juga ketiduran itu anak kan doyan ngebo" jawab Fian sedikit logis, melihat kecemasan dimata Zen mengurungkan niatnya untuk menggoda. Ia masih punya hati meski sedikit. Ia bersyukur tidak membagikan semua hatinya kepada para gebetannya.


"Gue susulin dulu ya" Zen bangkit dari duduknya, langsung menuju tempat tersangaka pertama.


Icha terpaku menatap punggung Zen yang berlalu. Ia menghembuskan napasnya perlahan, kecewa. Sesorang yang sedari tadi ia perhatikan justru memperhatikan orang lain.


"Oiya Yola juga belum keliatan, kita cari dulu yuk?" ajak Icha kemudian, Ia masih tidak rela dengan kepergian Abang gantengnya. Ia hendak menyusul.


"Iya nih" Filla mengiyakan.


"Okey hati-hati" jawab Fian sambil melambaikan tanganya.


Filla mengacungkan ibu jarinya, melangkah bersamaan dengan Icha masuk kedalam.


"Nisa lo dari mana aja sih?" seru Zen kesal saat berpapasan dengan Nisa diambang pintu masuk ruang tamu.


Nisa tidak peduli ia menerobos keluar.


"Nisa"


Nisa seolah tuli dengan pangilan Zen, ia terus bergerak menjauh.


"Lo mau kemana Nis" Serunya heran, ia melongokan kedalam ruang tengah mencari sumber ketulian Nisa. Dilihatnya Aldo yang sedang diduduk di Sofa ruang tamu ditemani Yola yang memegang lembut dagu Aldo. Zen hanya melihat punggung Aldo yang membelakanginya, matanya tertuju pada gerakang tangan Yola, membuatnya otaknya berpikir cepat mengartikan. Tanpa pikir panjang ia langsung mengejar Nisa.


Dilain sisi, Filla dan Icha hanya melihat Nisa yang tengah berlari keluar, mereka tidak sempat mencegahnya. Menatap kepergian Nisa yang berurai air mata membingungkan keduanya.


"Nisa tunggu" teriak Zen, berharap Nisa mau mendengar dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Filla melihat Zen yang tengah berlari mengejar Nisa membuat mereka semakin kebingungan.


"Zen lo mau kemana?" teriak Filla saat Zen melewatinya begitu saja. Ia memandang ke arah Icha, mereka berdua hanya saling memandang satu sama lain. Mengejar Zen pun percuma, mereka memutuskan masuk kedalam ruang tamu. Dilihatnya Aldo yang tengah duduk di Sofa ruang tamu terkulai lemas.


"Lo kenapa Al?" Filla mendekat, duduk didepan Aldo. Ia melihat lebam di pipi kirinya.


"Tadi jatuh kepleset"


"Kepleset dimana? kok lukanya kayak gini?"


"Al gue obatin dulu yah" Yola meletakan kotak P3K yang baru diiambilnya dari kamar Aldo, menggeser posisi duduk Filla.


"La Nisa kenapa?" tanya Icha spontan, Ia lebih peduli dengan keadaan sahabatnya.


"Dia marah karena nggak kita undang"


"Tapi kok sampe nangis gitu?" tutur Icha polos ia merasa iba.


"Bagus dong berarti misi kita berhasil" seru Filla girang, membuatnya mendapat tatapan tajam dari Aldo. Filla bungkam, ngeri ditatap seperti itu.


"Hmm" Yola hanya bergumam pendek, tangannya fokus mengobati luka Aldo. Bertolak belakang dengan pikirannya yang menerawang jauh memikirkan Nisa.


"Ada apa sebenarnya Nis, kenapa lo emosi banget? Kenapa lo marah sampe lo nangis? atau lo lagi sedih? tapi kenapa?" Yola menghembuskan nafasnya berat, pikiranya kini terasa berat dijejali berbagai macam pertanyaan.


"Zen kenapa Al? tanya Fian begitu sampai didekat Aldo. Posisinya yang berada di beranda depan membuatnya dapat melihat dengan jelas Nisa yang keluar di susul Zen yang pontang panting mengejarnya dari arah pintu ruang tamu. Membuat Fian dan Ardan bergegas masuk kedalam ruang tamu. Ingin tahu apa yang terjadi.


Sepi, tidak ada yang menjawab.


"Nisa tadi marah karena dia nggak diundang dateng, terus protes, ngambek langsung pulang" papar Filla membuka suara.


"OOO" ucap Fian dan Ardan serempak, memaklumi. Perbincangan panjang lebar dengan Filla dan Icha sedikit banyak mengetahui permasalahan yang terjadi.


Aldo menatap Filla intens, menuntut penjelasan panjang.


"Kenapa?" tanya Filla lirih jantungnya berdetak kencang.


"Kedepan yuk, kita mulai acaranya" Tegas Yola ia tidak ingin suasana menjadi tambah rumit. Ia menarik paksa tangan Aldo untuk berdiri.


"Iya Al udah ngaret satu jam nih" Fian ikut menimpali .

__ADS_1


Aldo menurut, setelah selesai acara pesta ulang tahunnya, dia akan segera menyelesaikan masalahnya.


__ADS_2