
Bel istirahat baru saja usai mengalun merdu, membuat para siswa SMA nusa Bhakti kembali bersemangat empat lima.
"Mau ke kantin nggak? ucap Filla sembari merapikan peralatan menulisnya, meletakan disudut meja.
"Iya" sahut Icha pendek, seperti biasa irit bicara.
Filla melangkah lebih dulu menuju bangku Yola,
"Kantin yuk"
"Ayok" balas Yola menggandeng Nisa ikut bangkit.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju kantin yang otomatis mereka melewati X IPS 2. Saat itulah kebetulan Aldo juga hendak pergi menuju kantin.
Aldo menarik tangan Ardan secara tiba-tiba membuat si pemilik tangan itu terpaksa bangkit.
"Mau ngapain lo?" Ardan merasa panik saat Aldo masih meneruskan langkahnya sembari menarik tangannya.
"Ikut aja" balas Aldo cuek.
Teman-teman yang lainnya segera memfokuskan pandangannya kepada mereka berdua. Bisikan-bisikan halus berdengung, tampak sekali mereka antusias dengan kelanjutan pertunjukan yang akan digelar dadakan itu.
Zen yang sedang mengemasi peralatan tulisnya langsung sigap menuju ketempat Aldo dan Ardan berpijak sekarang, memposisikan dirinya diantara keduanya dengan paksa. Zen berpikir akan terjadi baku hantam mengingat Aldo yang merasa panas saat Ardan pulang bersama Doi.
Annisa, nama itu lah yang membuat mereka enggan bertegur sapa meski tempat duduk mereka bersebelahan.
"Apaan si lo Zen?" seru Aldo kesal saat Zen menghalangi dirinya dan Ardan.
"Semua bisa dibicarkan baik-baik Al, jangan brutal kaya gini" ucap Zen
"Apanya yang perlu dibicarain sih?" tanya Aldo menautkan alisnya.
"Emang lo mau ngapain?"
"Gue mau ajak dia ke kantin" jawab Aldo santai membuat Zen menepuk jidatnya sendiri.
"Yaelah, gue pikir lo mau ngehajar Ardan karena udah berani pulang bareng doi" ucap Zen mengungkapkan kekhawatirannya.
"Enggak seru nih, kirain bakal ada tontonan gratis" cerca Fian yang kini sudah ikut membaur dengan ketiga temannya, euforia antusiasme dirinya seketika berubah menjadi desahan kecewa.
Ucapan Fian spontan langsung mendapat balasan jitakan level tiga dikepalanya dari Zen.
"Aww" Fian segera menepis tangan Zen kasar.
"Salah gue apa bang?" protes Fian sambil mengusap manja kepalanya.
"Bukannya bersyukur Aldo cuma ngajak ke kantin malah lo berharap yang enggak-enggak"
" Yee, apa salahnya si, jarang kan ada siswa yang baku hantam dalam satu kelas? siapa tau nanti bisa naik tingkat jadi tawuran antar RT kan seru momen langka bro" sanggah Fian tanpa rasa berdosa.
"Emang lo pikir lomba pake tingkatan segala?" sahut Zen geram.
"Lo berdua bisa diem nggak?" ucap Aldo menengahi, cacing dalam perutnya sudah berdemonstrasi karena kelaparan sejak tadi.
"Minggir" imbuh Aldo sedikit mendorong Zen agar dirinya bisa mendapat akses jalan.
"Sebentar Al" Ardan berlari kecil menuju ke meja tempatnya duduknya, Ia melipat ujung buku novel yang tadi dibacanya menjadikannya sebagai tanda batas. Lalu menentengnya agar ikut serta pergi ke kantin. Karena tergesa Ia menabrak seseorang dari arah yang berlawanan membuatnya tersungkur ke lantai.
Aldo tidak menghiraukan Ardan, Ia melenggang pergi menuju kantin diikuti Fian dan Zen.
"Aldo" panggil Filla pelan. Matanya berbinar saat melihat Aldo berada diambang pintu kelas hendak keluar.
"Filla?" jawab Aldo singkat sambil tersenyum singkat, namun tatapan matanya tidak bisa lepas dari seseorang yang berjalan dibelakangnya, melepas rindu sesaat.
"Hai, mau kemana?" tutur Filla
"Emm Mau kekantin"
"Gue juga mau ke kantin, bareng yuk" tawar Filla.
"Iya ayok"
Filla langsung berjalan mendekati Aldo, melangkah bersejajar dengannya. Icha tersenyum ramah melihat Zen. Sedangkan Zen hanya mampu meringis satu senti, gugup dengan pertemuan tidak terduganya. Tanpa sadar Zen tersihir wajah imut Icha, ia menatap intens pada Icha yang masih mengembangkan senyuman.
__ADS_1
"Ada yang salah sama gue?" tanya Icha heran.
"Ada yang berubah yah sama lo?"
"Berubah gimana? enggak kok gue masih sama kayak dulu" jawab Icha semakin tidak mengerti arti tatapan Zen.
"Gue yakin ada yang berubah" jelas Zen serius.
"Apa?" tanya Icha penasaran.
"Terakhir gue lihat lo masih jadi manusia, kenapa sekarang udah berubah jadi bidadari?" papar Zen.
Icha menunduk malu, pipinya yang putih bersih sudah berubah warna menjadi merah tomat.
"Ehmmm" Fian berdehem keras.
"Gue cabut dulu, takut jiwa jomblo gue menangis melihat ini" ucap Fian lalu pergi menyusul Aldo.
Zen menyikut lengan Fian berusaha menahannya.
"Emm gue juga mau ke kantin, takut Filla nyariin" ucap Icha pelan, jantung berdetak lebih cepat.
Zen hanya mengangguk cengo, tatapannya kini beralih pada Nisa yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser sesenti pun.
Zen menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan mengekori Icha.
Nisa masih mematung memandang punggung Aldo yang semakin menjauh dengan Filla yang bergelayut dilengannya tanpa ada perlawanan sedikit pun dari Aldo.
"Gue terlalu lama menunggu harapan hingga lupa akan kenyataan. Lihatlah, lo cuma sekedar masa lalu sedangkan didepan sana banyak sekali yang menginginkannya untuk menjadikannya sebagai masa depan" batin Nisa mendadak terasa sesak.
"Nis? lo kenapa?" suara Yola seakan hanya angin lalu, Nisa masih diam membisu.
"Nisa" ucap Yola sambil menjentikan jarinya didepan wajahnya.
"Eh iya" Nisa tersadar dari diamnya, terlonjak kaget.
"Lo nggak papa?" tanya Yola prihatin saat melihat raut wajah Nisa berubah sendu.
"Harusnya gue yang tanya begitu sama lo"
"Temen lo lagi kegatelan sama pacar lo"
Yola mengerutkan dahinya,
"Bukannya Aldo pacar lo?" cecar Nisa mengingingat ucapan Yola yang mengklaim Aldo sebagai pacarnya.
"Astaga Nisa" Yola tersenyum kecil menggelengkan kepalanya.
"Sorry, gue lupa bilang waktu itu gue cuma becanda"
Nisa menghembuskan napas kasar, saat hatinya sudah mengikhlaskan Aldo untuk orang lain, namun sekarang dia harus menelan kekecewaan. Jujur, dalam hati kecilnya Nisa lebih rela jika Aldo bersama Yola dibanding dengan Filla.
"Ya udah kekantin yuk" sahut Nisa.
Yola mengangguk, keduanya melangkah dalam diam.
Sesampainya dikantin, Nisa masih enggan membuka suara.
"Nasib gue gini amat yah, enggak ada temen yang setia" celetuk Ardan tepat saat sudah sampai dimeja Aldo Cs. Ardan tampak lesu mengambil tempat duduknya. bagaimana tidak? didepannya Filla tampak asyik bersenda gurau bersama Aldo.
"Dede cacing lebih penting dari pada kutu kampret kayak lo" sanggah Fian, lantas bangkit hendak memesan pesanan.
"Hmmm" Ardan bergumam malas.
"kenapa lo? abis digantungin sama pacar?" terka Zen mencibir.
"Bad mood nih, abis liat tante kunti soalnya"
Filla menatap Ardan tajam
"Serius lo? dimana?" tanya Fian tidak percaya.
"Dimana-mana sampe gue enek liatnya"
__ADS_1
"Cantik?" ledek Fian.
"Cantik sih, tapi judes" seru Ardan melirik Filla sekilas.
"Mau pesen apa nih?" ucap Zen.
"Terserah lo aja" jawab Nisa cuek saat tidak ada yang menyahuti.
"Yang lain gimana?"
"Samain aja" timpal Aldo tidak mau ribet.
"Gue mau nasgor yah" timpal Ardan.
"Pedes?" tanya Zen lagi.
"Enggak usah, lirikan tetangga juga udah pedes"
Filla melotot galak kerah Ardan.
"Okey" Zen melangkah bangkit menuju meja ketempat pemesanan makanan di kantin.
Tidak selang beberapa lama, Zen datang membawa pesanan mereka satu porsi nasi goreng , tujuh mangkuk berisi bakso dan delapan es jeruk.
Fian dengan suka cita menerima jatah makananya.
"Mau gue suapin Al?" tanya Filla.
Aldo melirik Nisa sekilas, menanti rekasi darinya.
Nisa memotong kecil-kecil bakso didepannya, mengaktifkan mode budeg.
Filla menyodorkan suapan bakso pertamanya untuk Aldo.
Perlahan Aldo membuka mulutnya menerima suapan dari Filla, namun matanya tidak lepas mengawasi Nisa.
Nisa menelan makanannaya susah payah, ingin sekali rasanya menjadi buta dalam waktu satu menit agar tidak melihat kejadian itu.
"La gue balik dulu yah, gue baru inget kalo mau ngembaliin novel yang gue pinjem kemarin" pamit Nisa pada Yola yang duduk didekatnya.
"Tapi Nis..." sergah Yola.
"Gue masih kenyang kok" Nisa tergesa bangkit dari duduknya.
"Bukan itu, tadi lo bilang mau nraktir gue"
"anj*m, gue pikir mau nyegah gue" umpat Nisa dalam hati.
"gue cancel La, mendadak isi saldo gue raib semua kayaknya perlu tumbal dulu deh" seru Nisa seraya menunjuk Aldo melalui sudut matanya.
Yola bergidik ngeri, membiarkan Nisa melangkah pergi.
"Lo mau kemana Nis?" teriak Icha melihat kepergian Nisa.
"Gue ada urusan mendadak di perpus" balas Nisa ikut berteriak.
Ardan menegakan badannya, wajahnya tampak sumringah. Ia menyeringai kecil.
"Kenapa lo?" tanya Aldo yang merasa aneh dengan perubahan ekspresi muka Ardan.
"Gue mau ke perpus dulu"
"Muka lo kenapa mendadak ceria?
"Emang lo enggak denger Nisa mau ke perpus?"
"Hubungannya sama lo apa?"
"Mantan mu semangat ku" ucap Ardan sambil berbisik lantas tersenyum jail setelah menjauhkan tubuhnya.
"****" Aldo menggeram pelan.
"Al?" Panggil Filla menyadarkan Aldo atas keberadaan dirinya. Tangannya pegal memegang sendok berisi bakso yang akan disuapkan padanya.
__ADS_1
"Iya Fil, gue mau makan sendiri aja" tolak Aldo lembut. Untuk apa uwu-uwuan jika yang mau dipameri saja sudah pergi.
Filla tersenyum kecut mendengar penolakan Aldo, lalu menyuapkan makanannya untuk dirinya sendiri.