
Nisa menutup pintu rumahnya kembali dengan hati-hati. Betapa terkejutnya saat kedua bola matanya melihat sesosok tubuh yang terbaring di sofa ruang tamu.
Perlahan Ia mendekati Dian yang tengah tertidur pulas. Ditatapnya lekat-lekat mata yang terpejam itu. Ada kelelahan yang tersirat dibalik kelopak mata yang sedikit menghitam.
Nisa menelan salivanya, apa yang harus dilakukannya sekarang?. Apa Ia harus membangunkannya? tidur diatas sofa jelas bukan tempat tidur yang nyaman. Namun untuk membangunkannya pun Ia tak tega.
Menggendongnya jelas tak mungkin. Tubuh Dian jauh lebih besar dari dirinya. Setelah sekian lama berdiam diri, Nisa melangkahkan kaki menuju kamarnya, diambilnya bantal dan juga selimut.
Diletakan dengan hati-hati selimut bermotif bunga mawar diatas tubuh Mamanya. Nisa menggigit bibir saat mengangkat kepala Dian sedikit ke atas agar memudahkannya meletakan bantal.
"Selamat malam Ma. Maaf telah merepotkan mu. semoga mimpi indah dan tidur nyenyak" gumam Nisa dalam hati. Ingin sekali Ia mencium kening Dian, namun ditahan karena takut akan membangunkan.
Nisa kembali menuju kamarnya hendak berganti pakaian. Dilemparkannya sling bag yang dikenakanya ke sembarang arah di atas ranjang.
Ia berjalan gontai menuju lemari, lantas mengambil salah satu koleksi baju tidurnya.
"Sumpah aslinya nggak secomel ini" ucap Nisa sesaat memandangi baju bermotif keroppi pilihannya.
Setelah berganti pakaian, Ia pun mengobati tangannya yang memar dengan salep.
Melihat luka disekujur tubuhnya membuatnya mengingat kembali pada perkataan si preman gendut yang ditemuinya beberapa jam lalu.
Nisa menggeram pelan, luka lama dihatinya kembali terbuka. Ingatannya kembali ke masa lalu, masa-masa dimana keluarnya berada di ujung tanduk dan berakhir di kursi persidangan.
Hidupnya memang berubah 180° setelah Mamanya mengugat cerai Ayahnya, Wijaya Bramastia dua tahun silam.
Waktu itu Ayahnya adalah seorang CEO diperusahaan Wijaya group. Yah tentu saja dengan posisi yang sefantastis itu membuatnya banyak disukai wanita dari jenis mana pun. Meski Ia sudah beristri tentu masih banyak yang berminat kan?.
Entah karena lemah iman atau memang dasar buaya, Dian yang sengaja datang ke kantor tanpa aba-aba memergoki Suaminya sedang bercumbu dengan wanita. Sejak saat itu Dian menjadi lebih protemtif dan hal itu menyulut emosi Wijaya yang tak bisa bergerak bebas. Lambat laun Wijaya akhirnya meminta izin untuk menikah lagi.
Tentu saja sebagai seorang wanita Dian tak mau di madu, lebih baik berpisah dari pada harus didua kan.
Nisa yang saat itu sudah memasuki remaja pasti sudah sedikit memahami permasalahan orang tuanya. Nalurinya sebagai sesama wanita membuatnya kecewa berat dengan sikap Ayahnya yang tak bisa setia.
Ia pun memilih untuk tinggal bersama Mamanya. Meski hanya diberbekal butik kecil warisan Neneknya, Nisa bersikukuh untuk tetap menemani Dian. Mereka berdua sepakat untuk tidak meminta uang sepeser pun dari wijaya, agar Ayahnya sadar harta bukan lah segalanya.
Nisa mengusap wajahnya kasar, air matanya tak lagi bisa dibendung. Dalam hati kecilnya kebencian itu kembali muncul. Beruntung Nisa mempunyai seorang Mama yang baik hati andai kata tidak, sudah dipastikan Nisa akan tumbuh menjadi gadis yang ambisus untuk balas dendam.
Drrtt..drttt...drtt
__ADS_1
Bunyi getaran yang beruntun memutus lamunan Nisa. Ia segera mengambil ponsel dari tas sling bag nya. Diliriknya notif pesan baru yang baru saja muncul.
Nisa menghembuskan nafas kasar saat nama Azam muncul di deretan atas daftar pesan chat.
Nisa memijat pelipisnya, kekecewaan yang pada Ayahnya dirasanya kini telah berganti menjadi kekesalan pada Azam.
Drt..drt...
"Ya ampun nggak tau orang lagi sebel apah" gerutu Nisa pelan. Namun di buka juga pesan chat dari Azam.
Azam: Nisa gue minta maaf, gue beneran lupa. Gue nggak sengaja, serius😐
Azam:Tapi sekarang gue udah inget kok🤗
Azam: Please jangan marah yah😘
Azam: Nis?😓
Azam: Kok nggak bales? padahal on line?😭😂
Azam: Lo udah tidur?🙃
"Iya" balas Nisa sewot yang hanya diutarakan lewan lisan bukan tulisan.
Drt..drt...
Azam: Ya udah deh, kalo masih marah. Tenangin dulu diri lo, gue maklum kok. Kabarin yah kalo udah baikan😊.
Nisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Hah? udah gitu doang? nggak ada niat buat bujukin gue?" cerca Nisa emosi.
Azam: Selamat malam pacar😘
semoga tidurnya nyenyak😉
Have a nice dreams🤗
love you💝
__ADS_1
Nisa me reacd semua pesan Azam tanpa membalasnya satu pun.
"Au ah males"
Nisa melempar ponselnya saat tak ada lagi notif chat.
"Heh bambang cewe mana yang bisa sembuh marahnya kalo nggak dibujuk? besok kabarin kalo udah baikan? baikan dari hong kong. tambah ancur mood gue" kesal Nisa sembali menghentak-hentakan kakinya di ranjang.
"Aww" Nisa meringis kecil. Kakinya sedikit kram karena lari jauh. Ditambah untuk menendang tubuh preman yang sekeras batu.
"Huwaa punya pacar gini amat..nggak ada pekanya " ucap Nisa sembari memijit kakinya, terutama diarea betis.
Jarum jam menunjuk angka dua belas. Namun mata Nisa masih enggan terpejam. Barisan kalimat Azam masih terngiang dibenaknya.
"Ya udah kata lo? nggak ada gitu yang lebih romantis"
Nisa melirik lagi ponselnya berharap notif pesan masuk. Perlahan layar kunci diponselnya digeser, tetapi nihil. Tidak ada notif apa pun di WA nya. Ia pun mengecek kontak Azam yang justru terlihat tulisan terakhir dilihat pukul 23. 53.
"Astaga lo bahkan uda off duluan. Enggak nelpon atau VC gue" kesal Nisa membanting ponselnya.
Nisa meremas selimutnya, hampir saja air matanya lolos terjatuh.
"Hiks kenapa gue jadi bucin sih" Disekanya sudut matanya yang berair.
"Bodo amat deh. Besok juga ngemis-ngemis maaf dari gue" imbuh Nisa optimis.
Nisa menoyor kecil kepalanya sendiri,
"Mulut aja bilang bodo amat tapi kepala masih mikirin melulu"
"Ini juga, kenapa hati gue, masih berharap dispam chat"
Diliriknya ponselnya sekali lagi, mengecek notif pesan.
"Aah awas aja lo besok, berani nyuekin gue, gue bejek-bejek lo" sungut Nisa geram.
Nisa mengalah, memungut lagi ponselnya, lalu mematikan paket datanya. Diletakan ponselmya di nakas dengan baik-baik.
Nisa mengambil perlengkapan tidurnya, malam ini Ia memutuskan untuk tidur di ruang tamu bersama Mamanya.
__ADS_1
Dengan langkah tertatih Nisa berjalan menuju ruang tamu. Meski sedikit kesulitan karena kasur lantai yang dibawanya cukup besar, bahkan hampir menutupi kepalanya namun Ia berhasi menuju ruang tamu dengan selamat tanpa menabrak benda apa pun.
Dibaringkan kasur lantainya tepat dibawah sofa tempat Dian tidur. Di pejamkan matanya perlahan sembari bergelung memeluk guling.