
Baru saja dipertengahan jalan menuju kelasnya, Nisa telah dicegat oleh Filla.
"Heh sini lo" Filla menyeret paksa Nisa ke dalam toilet yang ada belakang sekolah.
"Aduh pelan dong Fil" ucap Nisa lirih karena merasa nyeri di perutnya.
Brukk
Filla menghempaskan Nisa kasar ke dinding toilet.
"Aww lo apan si Fill" teriak Nisa saat punggungnya menghantam benda keras dibelakangnya.
"Lo ngapain sama Aldo?" tanya Filla tanpa basa-basi.
"Kepo lo" ucap Nisa cuek sambil melihat sikunya yang juga ikut terbentur dinding, Ia mengusap perlahan mencoba untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Filla dengan kasar mengangkat dagu Nis.
"Gue tanya baik-baik sama lo, LO NGAPAIN SAMA ALDO?!" ucap Filla tegas tepat didepan wajah Nisa.
Nisa segera menghempas kasar tangan Filla dari dagunya namun sayangnya pertahanan Filla terlalu kuat, cengkraman didagunya telah merambat ke pipinya.
"Gue nggak ngapain-ngapain sama dia" ucap Nisa sembari berusaha melepaskan jari-jari tangan Filla yang menempel kuat di kedua pipinya.
Filla yang tidak puas mendengar jawaban Nisa langsung menekan jarinya lebih kencang ke pipi Nisa.
Nisa mengerang menahan perih di pipinya saat kuku panjang Filla menggores kulitnya.
"Heh lo pikir gue anak TK yang bisa lo kadalin? nggak mungkin nggak ada apa-apa tapi Aldo ngajak ngobrol berdua sama lo" tandas Filla dengan nada meninggi. Emosi tersulut tak kala melihat Aldo yang datang ke kelasnya hanya untuk menghampiri Nisa bukan dirinya. Berbagai pertanyaan segera menyeruak menjejali otaknya. Jiwa keponya bercampur kecemberuan memenuhi rongga dadanya membuatnya tak bisa mengontrol diri.
"Gue cuma ngobrol biasa" papar Nisa berusaha tenang agar emosi Filla tidak semakin meledak.
Filla melepaskan tangannya dari pipi Nisa, memberinya kesempatan agar bisa menjawab pertanyaannya dengan lebih logis.
"Ngobrol apaan lo?" selidik Filla menatap tajam pada Nisa.
"Privasi, yang jelas nggak ada urusannya sama lo" jawab Nisa. Ia membalas tatapan Filla dengan tajam. Rasa nyeri diperutnya membuat dirinya tidak sabaran mengahadapi Filla.
Filla yang kesal dengan jawaban Nisa langsung menjambak rambut Nisa.
"Enggak bisa diajak kompromi yah lo" teriak Filla sambil sekuat tenaga menarik rambut Nisa.
Nisa mengigit bibir menaham sakit dikepalanya. Ia berusaha melepaskan tarikan Filla yang justru membuat Filla semakin brutal menark karena mendapat perlawanan.
Nisa tak kehilangan akal dengan sigap mendorong perut Filla ke belakang.
Bruukk
Filla jatuh tersungkur, Nisa segera keluar dari toilet itu. Filla tak tinggal diam, Ia menarik kaki Nisa.
Dughh
Nisa melirik tajam pada Filla, keduanya kini telah tersungkur dilantai. Kali ini Nisa lebih sigap, Ia menangkis dengan kilat tangan Filla yang hendak menjambaknya lagi. Nisa segera mendorong Filla menjauh dari tubuhnya.
Filla menggeram marah, segera bangkit berdiri saat melihat Nisa hendak kabur.
"Aduh" Nisa mengaduh pelan saat dahinya menubruk dada bidang seseorang. Beruntung Azam dengan sigap menahan punggung Nisa agar tidak jatuh dengan satu tangannya.
Filla tak menyia-siakan kesempatan, Ia mengulurkan tangannya ke kearah kerah belakang baju Nisa.
Happ
Filla melirik tajam pada seseorang yang menahan gerakan tangannya. Nisa tanpa sadar memeluk Azam saat tubuh Azam tersentak ke depan untuk menangkap tangan Filla.
"Nggak udah ikut campur lo" desis Filla geram.
"Ini sekolah, kalo mau tawuran noh ke lapangan bola" ucap Azam seraya membuang tangan Fila dari genggamannya.
Nisa semakin memperat pelukannya, seluruh tubuhnya terasa nyeri, entah itu diwajah, punggung, kepala bahkan siku nya.
"Gue nggak ada urusan sama lo" bentak Filla.
"Andai kan membunuh orang nggak dosa udah gue banting lo" gertak Azam sembari melotot galak pada Filla.
Filla terdiam di tempatnya, bukan karena takut pada ancaman Azam namun karena tidak ingin memperpanjang masalah. Ia pun melenggang pergi.
Nisa semakin menyadarkan tubuhnya pada Azam, kakinya tak kuat lagi menyangga.
"Lo nggak papa Nis?" tanya Azam yang cemas saat merasa tubuh Nisa yang terasa ringan. Ia segera mejauhkan wajah Nisa dari dadanya.
"Nggak papa kok" ucap Nisa lirih, dari semua rasa sakit ditubuhnya perutnya lah yang terasa nyeri.
"Muka lo pucet banget"
"Perut gue sakit banget" Nisa menggigit bibirnya berusaha menahan sekuat mungkin. Punggungnya juga terasa pegal seperti ditusuk jarum.
"Gue anter lo ke UKS yah?" tawar Azam penuh kekhawatiran.
Nisa mengangguk lemah, rasa sakit telah membuatnya tak berdaya.
"Mau gue gendong?"
Nisa menggeleng dengan cepat,
"Gue masih kuat kok" ucap Nisa sambil menegakan tubuhnya, menerbos keluar melewati Azam yang masih cengar-cengir ditempatnya berdiri.
"Nis" seru Azam berteriak kencang.
"Apa" tanya Nisa kesal, jaraknya dengan Azam hanya berselisih dua langkah membuat telinganya seperti mati rasa saat suara cemprengnya menembus gendang telinganya.
"Itu" sahut Azam ragu menunjuk pantat Nisa.
"Apaan sih?" tanya Nisa tidak mengerti, sementara Azam hanya menggaruk tengkuknya merasa canggung.
__ADS_1
"Itu" Azam menunjukagi.
"Astaga" Mata Nisa membulat sempurna saat melihat bercak darah di roknya. Pantas saja perutnya terasa nyeri tidak karuan. Wajah Nisa merona merah.
Azam mengalihkan tatapannya pada langit-langit kamar mandi, seolah-olah tak melihat apa pun.
Nisa menunduk dalam, malu setengah mati.
"Lo tunggu disini dulu yah, gue ambilin jaket dulu" ucap Azam mencairkan suasana.
"Buat apa?"
"Emang lo nggak malu jalan ke UKS dengan noda membandel itu?" tanya Azam balik.
"Ya malu lah" ucap Nisa menggelembungkan pipinya.
"Makanya itu, lo bisa pake jaket gue buat nutupin itu" sergah Azam.
Nisa hanya manggut-manggut setuju.
"Lo tunggu sini dulu, jangan kemana-mana"
"Iya, siapa juga yang mau jalan-jalan"
"Hehehe iya, gue lupa"
"Buruan gih ambil jaket, keburu pingsan nih gue" gerutu Nisa.
"Iya bawel" Azam pun bersiap melangkah.
"Tunggu" Azam berbalik lagi menghadap Nisa.
"Apa lagi?"
"Lo masuk aja ke toilet, jangan lupa dikunci dari dalem. Gue takut Filla ngamuk lagi"
Nisa menelan salivanya, bergidik ngeri jika membayangkan kebrutalan Filla.
"Jangan keluar sebelum gue dateng"
"Iya"
Azam mengelus pucuk rambut Nisa pelan.
"Gue tinggal sebentar, jangan kangen yah"
"Siapa pula yang mau kangen sama lo" Nisa menjitak kepala Azam pelan.
"Pipi lo kenapa merah Nis?" ejek Azam.
Nisa sontak memegangi kedua pipinya, kemudian tergesa masuk ke dalam kamar mandi.
Azam tertawa kecil melihat tingkah Nisa, kemudian berlalu menuju kelasnya.
"Ya ampun jatung gue kenapa deg-degan yah" batin Nisa sambil memegangi dadanya.
10 menit berlalu..
"Busyet dah, tu anak lagi tidur apa kemana sih lama bener"
"Apa gue telpon aja yah" imbuh Nisa, Ia merogoh saku rok osisnya.
"Zam lo dimana sih?" cecar Nisa saat sambungan telepon telah diangkat oleh oleh Azam.
"Kenapa? kangen hmm?" tanya Azam.
"Iya, kangen njitak kepala peyang lo"
"Gue udah didepan lo kok"
"Becandanya nggak lucu"
"Iya lo buka dulu dong pintunya"
Hanya dalam waktu sepersekian detik pintu di depan Azam telah terbuka.
"Gue nggak bohong kan?" ucap Azam seraya menyerahkan jaket kulitnya pada Nisa.
Nisa ragu hendak menerimanya.
"Emm tapi nanti jaket lo ikutan kotor dong"
jawab Nisa menunduk.
"Nisa dengerin gue, selain gue tulus bantuin lo gue juga tulus sayang sama lo. Nggak papa jaket gue kotor dari pada harus liat lo jadi bahan tontonan gara-gara noda membandel itu" sahut Azam menunjuk ke belakang Nisa dengan dagunnya.
"Makasi ya. Zam nanti gue cuci sampe bersih kok"
"Nggak perlu repot-repot Nisa" Azam mengacak-acak rambut Nisa.
"Kenapa? jaket lo buat gue?"
"Iya.Tapi nanti lo beliin gue yang baru" Tawa Azam seketika membuncah melihat ekspresi kesal Nisa.
"Parasit lo" celetuk Nisa.
"Ya kali lo mau ngasi gue bekas lo"
"Iya....iya" jawab Nisa cemebrut.
"Becanda, gitu aja ngambek sensi amat bund" seru Azam mencubit pipi Nisa.
"Enggak kok emaang bener kata lo" ucap Nisa kembali menunduk malu, entah apa yang akan Azam pikirnya jika besok Ia mengembalikan jaketnya. Pasti Azam akan selalu mengingat kejadian memalukan ini, lebih baik jika membelikannya yang baru.
__ADS_1
"Lho kita mau kemana?" tanya Nisa heran saat Azam menuntun langkahnyaa ke arah parkiran bukan UKS.
"Parkiran"
"Mau ngapain??"
"Pulang
"Tapi Zam.."
Belum sempat Nisa menuntaskan kalimatnya Azam lebih dulu menempelkann jari telunjuknya ke bibir Nisa.
"Tenang gue udah mintain surat izin ke guru piket" Azam menunjukan kertas kecil dari saku seragam osisnya.
Nisa membisu ditempatnya, menatap Azam lekat-lekat. Kini Ia tau mengapa Azam lama sekali saat kembali ke toilet.
"Maaksi yah Zam" ucap Nisa berkaca-kaca. perasaan bersalahh mencuat dari hati kecilnya menyadari sikapnya yang selalu jutek pada azam.
Azam mengelus pundak Nisa, menenangkan punggungnya yang bergetar.
"Enggak semua usaha dibalas dengan rasa, ucapan terima kasih sudah lebih dari cukup dari pada haris berbagi kasih dengan terpaksa" sahut Azam tulus pada Nisa seolah tau apa yang ada dalam pikirannya.
Nisa mengangguk penuh makna, membalas tersenyum hangat.
"Btw sakitnya udah sembuh?" tanya Azam tiba-tiba.
Nisa memukul pundak Azam.
"Kenapa lo ingetin sih" ucap Nisa kesal, rasa sakit yang tadi dilupakanya perlahan muncul.
Nisa bergegas menuju mobil Azam,
"Wey cepetan bukain" seru Nisa yang tak sabar melihat Azam masih tertinggal dibelakang.
Azam menghela napas,
"Tangan lo fungsinya buat ngapain sih" cibir Azam sambil membukakan pintu mobil untuk Nisa.
"Buat makan sama nge gampar lo"
"Unfaedah banget njir"
"Crewet banget lo, emang kalo tangan gue lecet lo mau tanggung jawab?"
"Selama RSJ belum tutup gue bakal tanggung jawab kok"
"Buruan jalan sih, ngoceh mulu lo. Nggak liat perut gue lagi sakit?"
"Yang sakit kan perut? kenapa tangan lo yang manja?" sanggah Azam, Ia pun bergegas masuk dan melajukan mobilnya keluar gerbang.
"Nanti mampir dulu ke mini market yah" ucap Nisa memecah suara.
"Okey" Azam pun mengawasi setiap pinggir jalan yang dilewatinya, mencari mini market terdekat.
"Lo mau beli apa?"
"Bukan gue tapi elo"
"Hah? gue?"
"Iya, lo nanti beliin gue pembalut yah?" pinta Nisa memelas.
"Dih ogah" tolak Azam cepat.
"Yah Azam, dirumah gue udah abis. Biar sekalian kan nglewatin" bujuk Nisa
"Nggak...lagian gue juga nggak rupa tu barang, nanti gimana kalo salah beli?"
"Lo kan punya mulut, tanya la sama kasirnya"
"Gue malu lah Nis"
"Ayolah, atau lo cari yang merknya Xxxx"
"Mata yang gue malu liat begituan"
"Please dong Zam" rengek Nisa sambil memegangi perutnya.
"Males gue"
"Cuma beli pembalut nggak bakal jatuhin harga diri lo sebagai cowok kok, justru kalo mau lo masuk kategori lelaki idaman" ucap Nisa bangga.
"Hmm iya"
"Nah gitu dong, cari yang warna orange bukan hitam gue nggak suka"
"Hmmm"
"Yang panjangnya tuh 23 cm"
"Iya"
"Yang ada tulisannya wings"
"Gile, ribet banget"
"Pokonya gue nggak mau tau, awas kalo salah beli lo harus balik"
"Iya"
"Yess" Nisa berseru riang.
"Hmmm"
__ADS_1
"Kalo udah sampe rumah, bangunin gue"
Nisa kemudian menyandarkan kepalanya ke belakang. Tubuhnya benar-benar remuk saat ini.