Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 33 Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Gimana buat persiapan party nanti malem?" ucap Yola menanyakan projek mereka yang sudah berjalan beberapa hari ini.


" Semuanya sudah beres , tinggal kita nanti mengambil pesanan kita" jawab Filla semangat, tidak sabar menunggu nanti malam.


"Oke nanti gue aja yang ambil, lo fokus sama persiapan tempatnya aja" Yola menawarkan diri disela kunyahan baksonya.


"lo udah dapet tepungnya Cha?" tanya Yola lafi.


"Udah dong, plus telur busuknya malah" jawab Icha sambil mengerlingkan matanya kearah Filla. Mereka bercakap cakap sambil menikmati santapan bakso miliknya masing masing.


"Sumpah gue nggak sabar liat ekpresi...." Suara Icha perlahan menghilang, terdiam beberapa saat.


"Ekspresi apa?" tanya Yola bingung, melihat Icha yang mendadak bisu. Matanya melihat arah pandnagan mata Icha, Ia menangkap sosok Zen yang tengah berjalan kearah kantin dengan menggandeng Nisa.


"Lo kenapa Cha?" timpal Filla, Ia mengikuti arah pandangan mata kedua sahabatnya.


"Emmm engga papa kok" balas Icha canggung, pikirannya menjadi kacau sekarang.


"Lo tadi tanya apa La? gue lupa" ucap Icha, ia pura pura mengalihkan pembicaan sekaligus menghindari tatapan menusuk dari Yola.


"Lupa atau nggak denger?" sergah Yola cepat, ia menatap curiga Icha.


"lo tadi liatin apa sih?" imbuh Filla yang penasaran dengan perubahan sikap Icha.


"Engga ada liat apa apa kok" sanggah Icha, ia menundukkan kepalanya menyembunyikan pipinya yang memerah.


"Lo cemburu?"


Icha sontak mengankag kepalanya.


"Maksud lo?" Icha menyendok kuah baksonya, mengurangi kegugupannya. Pertanyaan Yola menohok hatinya.


"Lo cemburu liat Zen bareng Nisa?" tebak Yola, ia memincingkan matanya menitik dengan seksama raut wajah "aneh" Icha.


"lo tau dari mana" ucap Icha asal, ia merasa bertambah gugup saat Zen duduk diseberang mejanya. jantungnya berdetak cepat, keringat dingin menerobos keluar dari dahinya.


"Jadi bener ?" Desak Yola, ia yakin tebakannya benar seratus persen.


"Engga lah"


"Yakin?"


"Iya" jawab Icha cuek. Ia mengaduk aduk makanan dimangkuknya, moodnya mendadak turun drastis. Ia melihat Nisa yang dengan tenang duduk disamping Zen.


"Kalo engga kenapa lo jadi lesu kayak gitu?" papar Yola ia masih mencari pembenaran dari tebakannya.


"Ini karena gue lagi enggak enak badan" elak Icha, ia tidak ingin menjadi bahan pembullyan.


"Ya udah makan lagi gih" perintah Filla, ia melihat heran Icha yang hanya mengaduk tidak jelas santapannya.


"Gue udah kenyang La"

__ADS_1


"Setengahnya aja belum lo makan".


Filla menatap curiga Icha, fantastis sekali sekali suap langsung kenyang."Secepet itu lo kenyang?"


"Udah deh lo berdua jangan brisik, kepala gue pusing nih"


"lo sakit Cha?" Filla memegang dahi Icha refleks.


"Tapi kok nggak panas?" lanjutnya.


"Apaan si lo Fil, kepala gue cuma pusing bukan demam"


"Kok gue ngerasanya panas yah" Ujar Yola, ia meraba dahi Icha juga.


"Seriuh lo? Engga kok" jawab Filla, ia meraba lagi dahi Icha.


"Hatinya yang panas maksud gue" ucap Yola sambil cekikikan. Ia tertawa lebar melihat Icha yang mengerucutkan bibirnya.


"Mau ke UKS Cha?" Filla tidak berminat menanggapi Yola, Ia tidak ingin becanda ditengah sahabatnya yang sedang sakit.


"Jangan alay deh" Tolak Icha, Ia menopang dagu dengan kedua tangan.


"Lo bilang tadi pusing, berarti lo sakit jangan dipaksain sok kuat"


"Gue masih kuat kok"


"Yakin lo masih kuat menghadapi kenyataan?" Yola melirik Zen melalui sudut matanya, mengode.


"Apan sih lo nggak jelas"


"Engga perlu, lo dua habisin makanannya gue pengen cepet balik kelas" pinta Icha tegas, ia menghela nafasnya menenangkan gejolakn tidak wajar dihatinya.


"Mending lo di Uks aja, kalo dikelas berisik sama aja lo nggak bisa istirahat" tutur Filla lembut, Ia memegang tangan Icha merasa dingin di telapak tangannya.


Yola berdecak pelan melihat kekerasan kepala Filla, jelas-jelas Icha mendadak lesu saat Nisa dan Zen tiba dikantin, kenapa masih mengotot ingin membawanya ke UkS? hah dasar tidak nyambung batinnya.


"Udah deh Fil enggak usah lo paksa dia ke UKS lagian yang sakit tuh bukan badannya tapi hatinya" papar Yola menyakinkan Filla.


Icha tidka menjawab, pikirannya campur aduk, hatinya berkecambuk tidak karuan. Huftt, Rasanya nyesek sekali .


"Lo serius cemburu Cha?" Seru Filla tidak percaya Ia melipatkan tangannya didada menatapnya intes.


"Mana ada orang cembguru mau ngaku" celetuk Yola, ia menyuapkan potongan kecil bakso kedalam mulutnya. Berdebat juga membutuhkan energi.


"lo pikir maling mau ngaku" ketus Icha.


Yola mencubit kedua pipi Icha "Mana ada maling yang mau ngaku sayang" ucap Yola gemas membenarkan perkataan Icha.


"Udah deh Cha, lo itu udah ketangkep basah ngapain sih harus ngelak?" ucapnya lagi.


Icha menyingkirkan tangan Yola dari pipinya, kulit wajahnya terasa panas karena cubitan pedas Yola.

__ADS_1


"Minggir deh La" .


Filla manggut manggut, sepertinya dia merasa sependapat dengan Yola.


"Sekarang lo mending ngaku, kalo lo mau jujur nanti kita bakal bantu lo buat PDKT" ujar Filla mulai tertarik menggoda, ia menyikut lengan Yola meminta dukungan.


"Gimana mau dukung? belum sempet berjuang aja udah ditikung" celetuk Yola, ia menyeringai licik kerah Icha mengingatkan Zen yang sedang berdua dengan Nisa, tampak romatis sekali.


Icha terdiam membisu, suasana hatinya bertambah buruk.


Filla menatap Icha miris, Entah mengapa Ia merasa sedikit kesal dengan Nisa.


Yola masih hendak menggoda Icha, tetapi matanya lebih dulu bersitatap dengan Azam yang baru tiba dikantin.


Azam melemparkan senyum kearah Yola sebentar, kemudian menarik kursi duduk bergabung dengan Nisa. Yola membalas dengan senyum yang dipaksakan.


"What? kenapa Azam duduk sama Nisa?" ucapnya lirih tetapi masih bisa didengar kedua sahabatnya. Wajahnya terasa memanas, tidak rela melihat Azam yang santai duduk disamping Nisa dengan jarak relatif dekat.


"Lo kenapa La?" tanya Icha santai ia merasa akan memiliki bahan untuk balas dendam, ia melihat sedikit kecemburuan di mata Yola.


"Kenapa Azam bisa akrab sama Nisa? bukannya mereka berdua seperti kucing sama tikus yah?"


Icha berdehem pelan, ia sudah menyusun siasat.


"Mereka kan cuma kayak kucing sama tikus bukan minyak sama air, lo lupa Tom and Jerry aja biasanya baikan"


"Tapi kenapa bisa secepet ini?" seru Yola tidak terima.


"Ya udah biarin aja, kenapa lo sewot sih?"


"Gue biasa aja kok" seru Yola kesal, ia mengusap wajahnya kasar.


"Mungkin Nisa udah tobat menyadari kebaikan Azam makanya dia sekarang care gitu, atau dia udah insyaf mau jadian sama Azam?" Icha menaik turunkan Alisnya, berniat sekali menggoda Yola.


"Ngaco lo"


"Bisa aja kan? lo cemburu?" Icha melempar balik pertanyaan Yola tadi, ia mengatupkan bibirnha menahan tawa.


"Engga"


"Mana ada gue cemburu, cuma heran aja kok" jelas Yola berusaha mengontrol emosinya.


"Ooo, kalo orang heran emang harus yah mukanya berubah garang gitu?"


"Maksud lo?"


"Wajah lo keliatan jelas banget lagi kesel, kenapa? cemburu kan lo liat doi akreb sama cewek lain" ucap Icha mengompori, ia harus bisa membuat temannya merasakan hal yang sama. Disaat mental sedang down tapi malah asyik di bully.


Yola mendengus kasar, ia menyantap baksonya dengan lahap.


"Au ah" jawab Yola singkat. Senjata makan tuan ini mah ucap hati kecilnya.

__ADS_1


Icha tertawa lebar, puas menggoda Yola. Tapi kali ini dia merasa aneh, kenapa Filla hanya mematung ditempatnya? Suara cemprengnya tidak keluar ikut meledek Yola, ia bahkan tidak bereksprsi sama sekali, mukanya terlihat datar. Apa Filla juga Jealous? Icha menepuk dahinya, ia baru menyadari Aldo yang datang bersama Azam. Itu artinya, ia juga bergabung dengan Nisa kan? Icha menggigit bibirnya, menyadari kecerobohannya. Harusnya dia lebih teliti, bukan tergesa meledek Yola.


Filla hanya menatap dingin melihat kedekatan Nisa dengan ketiga temannya. Hatinya semuka berdesir pelan saat Aldo juga ikut bercanda tawa dengan Nisa, hatinya berdenyut perih. Ia menahan emosinya, menetralkan aura kemarahannya yang alhasil menciptakan ekspresi dingin diwajahnya.


__ADS_2