
Belum sempat Aldo berhasil mengejar Filla, bel tanda masuk justru berbunyi. Aldo menghela nafas berat. Sekarang sedang ujian tak mungkin ia terlambat masuk. Baiklah urungkan dulu masalah hati, sekarang fokus pada materi yang akan diuji.
Aldo berjalan gontai menuju kelasnya, perasaannya menjadi tak tenang. Apa yang difikirkam Filla tentangnya nanti?.
Seorang guru pengawas memasuki kelas dengan tatapan galak, membuat semua murid mendadak jadi bungkam.
*******
2 jam berlalu, itu artinya waktu ujian 1 mata pelajaran telah habis. Jam berikutnya di isi dengan istirahat selama 30 menit.
"Kantin yuk gays" ajak Fian bersemangat.
"Yuhu. Jangan lupa lupa syukurannya Ar"
"Asyiiap, gas lah hayuk" sahut Ardan tak keberatan.
"Gue ajak bebeb yah?" pinta Zen nyengir lebar.
"Boleh, lo ajak Nisa, Yola sama Azam sekalian"
"Siap bos. Gue ke kelas X IPS 3 dulu"
"Iya, hati-hati" jawab Ardan melambaikan tangannya.
Aldo melirik Ardan sekilas, dia bahkan tak mengajak Filla ikut serta.
"Ayok Al"
Aldo bangkit dari duduknya malas. Ia ingin menemui Filla namun takut menyinggung hati Yola dan Nisa apa lagi Ardan. Apa yang akan mereka katakan jika Aldo masih berhubungan dengan Filla?. mungkinkah mereka akan kecewa padanya?.
Keduanya berjalan sejajar menuju kantin, lantas memesan 8 bakso dan es jeruk.
Aldo tersenyum pahit. Itu artinya mereka tak akan menganggap Filla sebagai sahabat lagi.
Tak lama kemudian Zen datang bersama keempat sahabatnya. Dalam sekejap meja mereka sudah ramai oleh canda tawa.
"Alhamdulillah, akhirnya lo sehat juga Ar" ucap Azam menepuk punggung Ardan.
"Alhamdulillah, makasih udah doain dan jagain gue" balas Ardan tulus.
"Sama-sama Al. gue juga berterimakasi banget lo mau nolongin Nisa"
"Biasa anak baik gue mah" jawab Ardan merendah.
Yola memutar bola matanya malas," Oii Ardan lo bukan sekedar nolongin Nisa karena lo baik, tapi lo berkorban atas nama cinta" batin Yola ketus.
" Anak baik kok sombong" cerca Zen sewot.
"Biar semua orang tau, kan percuma baik kalo nggak dihargai" balas Ardan dengan ekpresi sok dramatis.
__ADS_1
"Betul tuh, sakitnya sampe ke sumsum" imbuh Fian setuju.
"Nggak gitu juga konsepnya dodol" potong Zen.
"Terus kek apa Zenata ganteng yang super jenius"
"Kalo berbuat baik tapi pamer itu namanya riya"
Ardan memijat pelipisnya.
"Serah ae lah" ucap Ardan mengalah.
Zen mengacungkan jempolnya, tak berselera menggoda lagi.
"Oh ya, minggu depan udah libur. kalian mau liburan kemana?" tanya Azam disela-sela melahap makanannya.
"Jalan-jalan ke pulau kapuk" balas Fian asal.
"Ehm nggak kencan kemana gitu?" sindir Icha tertawa kecil.
Zen menatap Icha tajam.
"Teross aja teross"
"Zen kalo lo butuh dukun santet calling me" timpal Nisa merasa kasihan pada zen yang terus dijaili Icha.
"Cari gendaan dimana yah yang buka" balas Zen menatap Fian sebal.
"Gue bukan barang dagangan, nggak perlu lo tawar-tawar" ketus Yola.
"Terus Al siapa? pacar yang tak dianggap?" tanya Fian bingung.
"Mata lo bunder, Aldo tuh sepupu gue yakali pacaran" sewot Yola mendelik tajam.
Uhuk..uhuk..
Ardan tersedak es jeruk yang baru diminumnya.
"Pelan-pelan Ar" oceh Yola mengingatkan.
"Cie so sweet" goda Nisa menoel perut Yola.
"Apaan sih" jawab Yola salah tingkah.
Ardan menatap Aldo dengan tatapan sebal.
"Ya Tuhan ampunilah aku yang sudah su'udzon"
Aldo nyengir lebar tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
"Hehe becanda" ucapnya singkat.
"Kenapa?" tanya Yola tak mengerti.
"Dia tuh ngaku-ngaku lo jadi pacar dia" jelas Icha.
"Dihhh, gue mah ogah punya pacar mlehoy begono"
Aldo refleks menoyor kepala Yola.
"Cih, bersyukur lo kalo dapet pacar setamvan gue"
"Cari pacar tuk bukan sekedar dari rupa, tapi juga dilihat dari isi kepala" sergah Yola meledek.
"Udah jangan berantem" lerai Icha memisahkan.
Yola mencebikan bibirnya sedangkan Aldo mengedikan bahu tak peduli.
"Balik lagi ke topik" sambung Nisa.
"Jadi gini, gue mau kita muncak bareng gimana?" imbuh Azam
"Wiih boleh tuh, rame kalo kita liburang bareng" ucap Fian antusias.
"Iyap, sekalian kita rayain pertemanan kita yang udah 1 tahun ini" tambah Icha.
"Gue setuju" sahut Ardan mengangguk-angguk.
"Zen lo ikut nggak?" tanya Nisa
"Nggak usah ditanya, dia pasti ngintilin pacarnya takut selingkuh" ejek Yola mengingat sifat posesif Zen.
"Yaps betul, tikungan dimana-mana soalnya"
Semua orang memecahkan tawanya, membuat pipi Icha memerah seperti kepiting rebus.
"Okey, gue sih rencananya mau sabtu depan biar malem mingguan gitu" ucap Azam mengutarakan rencanya.
"Al lo kok diem aja sih?" heran Fian yang sadar tak mendengar ocehan Aldo sejak tadi.
"Gue ikut" jawab Aldo singkat.
Bagaimana bisa dia berantusias sedangkan kekasihnya entah dimana sekarang. Sedari tadi matanya berkelana menyusuri setiap sudut kantin namun tak didapatinya Filla dimanapun.
"Masih kepikiran yang tadi pagi kali" celetuk Zen menebak.
"Gue ngikut kalian aja" jawab Aldo dengan senyum terpaksanya.
Ardan menatap Aldo dengan rasa bersalah. Tidak seharusnya Ia memanasi Filla tadi pagi. Situasi hubungannya pasti sudah rumit karena skandal kemarin.
__ADS_1
Ardan menghela nafas, dirinya dikuasai emosi sehingga tak bisa berfikir logis.
Kecemburuannya membuatnya lupa diri, Yola pernah mengatakan jika Aldo adalah sepupunya.