Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 12 Meeting Yang Tidak Penting


__ADS_3

Filla termenung, kenangannya bertemu Aldo selalu berputar dalam otaknya. Filla baru sadar saat seseorang mencubit pinggangnya.


Entah apa yang membuat Filla tak bergeming, ia juga tidak mengumpat. Nisa dibuat takjub karenanya. Ia hafal betul kegemaran sahabatnya jika berani membuat ulah dengannya, semua nama binatang akan meluncur deras dari bibirnya tanpa disaring.


"Lo kenapa sih senyum senyum nggak jelas gitu" ucap Nisa.


"Iya tau nih, kalo lo ngajakin kita meeting cuma buat liat senyuman murahan lo mending juga gue balik" cibir Yola pedas, emosinya meradang usai berdebat dengan Nisa.


"Kan buken gue yang bikin pengumuman meeting, kenapa nyalahin gue sih". Ucapan Yola yang super pedas tak memudarkan senyum manis Filla, ia santay menangapi cibirannya.


Icha mengelus dadanya berusaha bersabar, ia tidak ingin ikut larut suasana emosi.


Filla tersenyum lagi.


"Fil lo kesambet apaan sih, dari tadi senyam senyum terus" Nisa mengulangi pertanyaannya, menatap curiga pada Filla.


"Iya nih, gue abis kesambet cinta pangeran" ucap Filla membayangkan Aldo.


"Malaikat izroil maksud lo?"


"Yola" teriak Filla kesal,


"Gue serius nih, tadi ada pangeran, sumpah ganteng banget" senyum Filla mengembang, bayangan Aldo tidak bisa lepas dari pelupuk matanya.


"Serius lo?" Nisa termakan bualan Filla. Mendengar kata ganteng seketika membuat otaknya ngeblank.


"Kayaknya waktu kekamar mandi lo tadi ketiduran deh makanya lama, ngimpi ketemu pangeran tuh" lambat laun emosi Yola tidak terkontrol, jawabanya semakin meracau sekenanya.


"Beneran Nisa, Yola"


"Udah deh mending tinggal bilang kalo lo ketemu Aldo, nggak perlu cerita panjang lebar" tebak Icha, jengah mendengar Filla yang bertele tele menjelaskan.


Sontak mereka bertiga serempak memandang Icha dengan tatapan luar biasanya, Dari tatapan kaget sekaligus penasaran.


Icha pun menjelaskan pertemuan tak terduganya beberapa hari yang lalu.


*flash back*

__ADS_1


Icha pernah bertemu Aldo saat dirinya diperpustakaan. Saat itu ia tidak sengaja hendak mengambil sebuah buku Novel, disaat yang sama Zen juga ingin mengambilnya.


Sesaat tatapan mereka bertemu Zen tersenyum canggung kearahnya, sedang Icha memandang Zen intens. Bukan Zen sebenarnya yang ingin dia tatap, tetapi sesorang dibelakangnya. Laki laki itu berdiri tepat dibelakang Zen. Postur tubuh Zen yang lebih pendek memberikan ruang untuk Icha bisa melihatnya.


" Ehemm" Seseorang dibelakang Zen membuyarkan tatapan keduanya.


"Kalo udah selesai milih bukunya, ayo buruan cabut gue laper" ucapnya cuek tidak memedulikan Icha yang berdiri mematung tersihir pesonanya.


Sedari tadi dia jengah melihat adegan romantis ala ala sinetron. Adegan saling menatap mata justru membuatnya gemas ingin mencolok mata keduanya.


"Ooo, eh, Iya Al" Zen terbata menjawab. Nyawanya belum sepenuhnya sadar, dirinya mabuk kepayang melihat bidadari duniawi didepannya.


" Oke gue tunggu didepan" Aldo berjalan hendak keluar, ia melewati Icha begitu saja. Tidak memedulikan keberadaan Icha, namun sesaat matanya selintas melihat name tag yang melekat diseragamnya, Icha Andala Claire. Setahunya didalam perpustakaan ini, dia hanya mengenal Zen jadi tidak perlu repot repot menegur orang lain.


Zen mengangguk.


"Ambil kamu aja Novelnya" Zen mengalah, berusaha memberikan kesan gentle man.


"Ambil kamu aja" Icha menolak halus, sebagai perempuan dia juga harus bisa mengalah.


"Zen buruan" Teriak Aldo dari beranda perpus, cacing dalam perutnya sudah kelaparan. Ia tidak peduli tatapan galak petugas perpus, Ia merasa tidak berada dalam area perpus jadi peraturan dilarang berisik tidak berlaku untuknya.


"Iya Aldo sebentar" Zen merasa malu dengan panggilan Aldo baru saja, beberapa pasang mata melirik tidak suka kearahnya.


Icha mengernyitkan keningnya, jadi ini yang namanya pangeran tanpa sayap, diapa tadi,Aldo? seorang murid baru yang ketenarannya melebihi kakak kelas.


***


Kembali kemasa kini.


"Jadi benerkan yang tadi gue bilang, Asli beuh ganteng banget" Ucap Filla senang, merasa menemukan orang yang satu frekuensi.


"Engga perlu alay deh, paling juga gantengnya standar" Ucap Nisa, semangatnya untuk mengintrogasi Filla mendadak hilang.


"Kalo lo ketemu langsung pasti lo juga bakal klepek-kelepek"


"Kayaknya lo perlu priksa mata deh, udah rabun kayaknya" Nisa bangkit dari duduknya. Lebih baik pulang kerumah bobo cantik, dari pada harus mendengaran celotehan tentang Aldo. 2 tahun menjalin asmara dengannya membuatnya sedikit banyak tahu tentang kebaikan Aldo. Masa 3 tahun satu atap sekolahan membuatnya mengetahui segala kebrobokan tentang Aldo.

__ADS_1


Sekarang gue harus mendengar kisah tentang Aldo? tidak ada istimewanya sama sekali, ini sih namanya meeting tidak penting batin Nisa.


"Nisa lo mau kemana? lo nggak mau denger cerita Aldo?" tanya Filla yang kebingungan dengan perubahan sikap Nisa, bukahkan dirinya tadi sangat antusias?


"Gue nggak minat, mau pulang" Teriak Nisa yang terus berjalan pulang.


Terlebih Yola yang masih saudara sepupu Aldo, ia merasa tidak tertarik dengan cerita tentang Aldo, dirinya bisa melihat sendiri gerak gerik Aldo tanpa perlu perantara orang lain.


"Kayaknya gue juga mau pulang deh" Yola meminta Izin pada Filla dan Icha.


"Okey hati hati dijalan" Filla tidak menahan Yola, sejak awal dia memang tidak minitik beratkan Yola untuk ikut meeting.


Masih tersisa dua orang. Icha menawarkan dua option pada Filla.


"Kita mau ikut pulang atau lanjut?"


"Pulang aja yuk, nggak enak juga kan kalo nggibahin orang cuma berdua?"


"Oke" Icha menurut meski dia juga tertarik dengan Aldo, Icha lebih memilih memendam perasaannya. Dia takut jika perasaannya akan melukainya atau pun orang lain.


Dia ingat Aldo sama sekali tidak menyapanya waktu itu, Icha takut jika nanti cintanya bertepuk sebelah tangan atau Aldo hanya belum menyadari keberadaannya? Icha tak mau ambil pusing. Apalagi sekarang Filla terang terangan menyukai Aldo, dia tidak ingin melukai sahabatnya sendiri.


"lo bawa motor sendiri atau dijemput Mang Adin"


" Gue bawa motor sendiri. Mang Adin (supir pribadi keluarga Icha) lagi nganterin Mama ke salon".


"Yess, bisa pulang bareng dong"


"Iya"


"Gimana kalo mulai sekarang lo bawa motor aja sendiri, biar bisa berangkat bareng terus, kemaren juga gue liat Nisa bawa motor bisa pulang rame rame Nih"


"Boleh, nanti gue coba ngomong sama Mama, semoga beliau ngizinin" Icha setuju dengan ide Filla.


"Nanti lo bantu ngomong sama Mama yah" pinta Icha, dia tau Mamanya tidak akan keberatan jika Filla yang meminta izin. Mamanya hanya khawatir terjadi sesuatu pada Icha jika nekat membiarkan putrinya berkendara sendiri, sebab itulah ia meminta Mang Adin untuk mengantar Icha kemana pun ia pergi. Berbeda jika bersama Filla, mamanya akan tenang setidaknya ada yang menjaga Icha. Mereka telah bersahabat sejak TK, Bu Restya mamanya Icha sudah percaya penuh pada Filla.


"Tentu, Tante Restya pasti ngizinin" Ucap Filla optimis. Ia tidak sabar memberitahu Nisa, sebentar lagi mereka akan mempunyai geng motor, meski abal abal. Masalah Yola, dia pikirkan nanti. Rumah Yola berdekatan dengan Nisa, meski tidak satu kompleks tapi ada memungkinan keduanya bisa bersatu.

__ADS_1


__ADS_2