
Azam meninggalkan kantin dengan berlari kilat, menghindari Nisa yang siap mengejarnya.
Semua mata menatap kepergiann dua sejolii itu dengan penuh tanda tanya. Bisik-bisik berdengung dari setiap meja kantin.
Yola yang penasara dengan sikap kedua bergegas menyusul, namun sialnya..
"Awww, ****" umpat Yola saat kakinya terantuk kaki meja.
"Azab tukang kepo sih" Ardan berdiri dari duduknya, menopang tubuh Yola agar tak ambruk karena kehilangan ke seimbangan.
"Makasi" ucap Yola lirih memaksakan berdiri tegak, Ia meringis kecil merasakan nyeri dibetisnya.
"Mau kemana bir gue anter" tawar Ardan hendak memapah Yola.
"Emm nggak usah deh" tolak Yola halus.
"Okey" Ardan melepaskan pegangan di pundak Yola tanpa basa basi.
"Gue balik ke kelas dulu yah" pamit Yola dengan langkah tertatih. Semangatnya untuk menguntit Azam dan Nisa mengalahkan rasa sakitnya.
"Hati-hati" balas Icha melambaikan tangnnya lantas diangguki tipis oleh Yola.
Ardan lahap menghabiskan makannya, Ia ingin segera pergi ke perpus.
"Berapa hari nggak makan lo Ar" cibir Fian.
"Sembilan bulan sepuluh hari" jawab Ardan cuek.
"Pantes rakus, kayaknya ini arwah gentayangan yang minta jatah makan deh"
"Bener tuh, yakali body cungkring begitu rakusnya minta ampun" sambung Aldo.
"Gays, gue mau ke perpus dulu yah"pamit Ardan cuek tidak menggubris ledekan teman-temannya.
"Lho makanan lo gimana?" teriak Fian menatap punggung Ardan yang mulai menjauh.
"Udah abis"
"Yang bayar cuy"
"Alfian ganteng" teriak Ardan semakin berlari menjauh.
"Astagfirullah, kalo begini ceritanya bisa satu meter panjang catetan kasbon gue"
"Sekalian punya Yola, biar jadi dua meter" imbuh Filla tertawa kecil.
Fian mengerucutkan bibirnya,
"Dompet gue menangis mendengar ini"
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Nisa kewalahan mengejar langkah kaki Azam yang seperti menjauhinya.
"Azam tung ghu" teriak Nisa memohon. Nafasnya mulai tersenggal.
Bukannya berhenti Azam justru semakin mempercepat langkahnya. Suasana hatinya sedang kacau, Ia tak ingin Nisa mendapat dampratan akibat emosinya yang mulai memuncak. Sebisa mungkin Azam menghindar, Ia ingin menenangkan gejolak hatinya dengan sepi dan sendiri.
Kurang pengertian apa lagi Azam? Ia semula ingin meminta penjelasan dari Nisa secara baik-baik karena tak ingin mengganggu konsentraasi Nisa yang sedang menghadapi ujian.
Ia bersabar agar bisa meredam kemarahannya sendirian tanpa melampiaskan amarahnya langsung pada Nisa. Tetapi apa yang di dapatnya?.
__ADS_1
Dia bahkan sama sekali tak peduli. Dia tak merasa kehilanganku saat aku tak berada disisi. Dia tak mencari ku saat aku jauh darinya.
Langkah kaki Azam terhenti saat telah sampai di rooftop sekolah.
Ia meletakan pantatnya di sofa berwana cokelat yang telah tersedia. Diusapnya kasar wajah tampannya, bodo amat jikalu mau lecet Ganteng pun masih jomblo.
"Azam" Panggil Nisa dengan nafas terengah-engah. Ia merapikan anak rambutnya yang berantakan. Lantas mengelap dahinya yang berkeringat.
Azam tak menyahuti, mulutnya terkunci oleh rasa sakit dihati.
"Azam please jawab gue"
Sepi, hanya semilir angin yang berhembus.
"Kalo lo marah, mending lo marahin gue jangan diemin gue" Nisa melangkah mendekat, mengambil posisi duduk disebalah Azam.
Nisa ingin memegang tangan Azam, namun sontak langsung ditepis. Azam membuang muka, hatinya perih mengingat kejadian tadi pagi.
"Zam, kita bisa bicarain baik-baik"
Azam monoleh kesamping, mengarahkan pandangannya lurus menatap Nisa. Hatinya bergetar, perasaannya menjadi iba melihat mata Nisa yang berkaca-kaca.
Azam menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan.
"Oke" ucap Azam membuka suara, Ia tak ingin melihat Nisa menjatuhkan air mata karenanya.
"Kenapa lo marah sama gue? gue tau mungkin ada sikap gue yang nggak lo suka. Tapi yang mana? biar gue jelasin"
"Lo masih suka sama Aldo?"
Nisa menatap Azam lekat,
"Lo yakin?"
"Gue yakin, Apa lo ragu?"
"Tapi gue melihat ada yang sesuatu di mata lo saat nerima pemberian dia"
"Lo salah paham Zam"
"Gue ikhlas kalo lo mau balikan" tukas Azam dengan tersenyum kecut.
"Gue jelasin dulu Zam"
Azam terdiam menunggu pejelasan dari Nisa.
" Gue senyum cuma sebates menghargai pemberian dia. Enggak mungkin kan gue pasang muka jutek?. tanya Nisa penuh penekanan.
"Tapi asal lo tau nggak semua bahagia diartikan dengan adanya sebuah rasa" imbuhnya.
"Terus kenapa lo nggak jujur tentang hubungan kita?"
Nisa memalingkan wajahnya, firasatnya benar. Pasti Azam mendengar ucapannya. Meski Ia terlihat cuek tapi sifat keponya juga sangat tinggi. Lagaknya saja yang sok pergi namun nyatanya suka menguping!!.
"Lo malu pacaran sama gue?"
"Pikiran lo sempit banget"
"Terus kenapa?" desak Azam ingin tahu.
"Lo tau sendiri Yola suka sama lo kan? gue nggak mau nyakitin dia dengan fakta hubungan kita"
__ADS_1
"Tapi lo secara nggak langsung nyakitin gue Nis"
"Zam, gue tau lo terluka tapi gue mohon sama lo. Tolong ngertiin gue. Lo masih ingat kasusnya si Filla kan?"
Deg, jantung Azam berdegup kencang. Tentu saja Ia masih mengingatnya, sampai sekarang Ia bahkan masih memusuhinya.
Air mata Nisa jatuh tak terbendung lagi, trauma nya kembali terbuka.
"Gue nggak mau persahabatan gue hancur. Mungkin gue egois tapi gue bener-bener takut. Gue bahkan nggak nyangka Filla bisa seganas itu. Gimana kalo Yola melakukan hal yang sama ke gue?"
Azam merengkuh tubuh Nisa, rasa bersalah menjalari rongga dadanya. Ia bahkan tak berpikir sampai sana.
"Nisa gue minta maaf" lirih Azam mengelus punggung Nisa.
"Maaf gue harus ngorbanin perasaan lo lagi. Jujur gue bingung harus gimana"
"Gue tau perasaan lo. Nggak seharusnya gue marah-marah nggak jelas sama lo. Harusnya gue tau, lo ngelakuin hal itu pasti ada alasan logisnya"
Nisa melepaskan pelukannya, Ia menatap Azam tulus.
"Makasih lo mau ngerti"
Azam mengangkat dagu Nisa, dihapusnya sisa air mata yang masih mengalir turun.
"Jangan di pikirin lagi yah. Ini cuma salah paham"
Nisa mengangguk lemah, dalam hatinya Ia banyak mengucap syukur. Terbuat dari apa gerangan hati Azam? kenapa mudah sekali untuk mengalah. Meski emosi menguasainya, tak sekali pun kata-kata kasar meluncur dari bibirnya.
"Lo serius nggak papa?"
"Iya, pacarannya bisa nanti dirumah" ucap Azam menggoda.
"Jangan macem-macem"
"Gue sayang sama lo, pasti gue jaga nggak mungkin gue rusak"
"Uwu..semoga ini bukan omong kosong"
"Gue bakal buktiin"
"Semoga saja"
"Gue cuma butuh komitmen lo buat hubungan kita. Kejar dulu cita-cita sebelum cerita cinta. Gue pengen Fokus pendidikan, kerja, bahagian orang tua, baru bahagian Nisa"
Nisa mengacak rambut Azam gemas.
"Balik ke kelas yuk" ajak Nisa merapikan pakiannya yang sedikit berantakan.
"Ingus lo bersihin dulu"
"Nangisnya cuma sebentar jadi nggak ingusan" sergah Nisa.
"Ya udah cuci muka dulu gih biar seger"
"Okey, lo balik ke kelas aja dulu"
"Siap ibu negara"
Keduanya berjalan berdampingan keluar dari area rooftop.
Hati Azam kini merasa lapang. Tidak masalah jika harus black street. Toh komitmen lebih penting dari pada status hubungan.
__ADS_1