Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 70 Stttt Cukup Kita Yang Tau!!


__ADS_3

Nisa menopang dagunya, jenuh menyimak pembelajaran yang sedang diterangkan Bu Ratna. Sepuluh menit lagi bel tanda pulang akan berbunyi namun terasa sepuluh abad lamanya.


"Lo kenapa sih Nis?" tanya Yola yang gemas melihat Nisa yang tampak seperti mayat hidup, lemas tak bergairah.


"Nggak papa" jawab Nisa cuek.


"Biasanya juga lo semangat kenapa sekarang lesu?"


Nisa terdiam, malas menanggapi Yola. Dia sendiri juga sudah bisa mengira kemana arah pembicaraannya.


"Pasti gara-gara Azam absen" terka Yola penuh percaya diri seraya terkekeh kecil.


"Kenapa sih otak lo isinya Azam melulu" sewot Nisa mengerucutkan bibirnya.


"Ya terus lo kenapa hmm?"


"Nggak tau belum dapet tumbal kek nya" balas Nisa lemah membuat Yola bergidik ngeri.


"Mau njengukin? nanti gue temenin deh" tawar Yola seraya memamerkan kedua gingsulnya.


"Wait, jangan-jangan lo yang rindu" ejek Nisa memicingkan matanya.


"Biasanya kalo suka ngolok-olok itu tandanya dia sedang ngresain di fase itu sendiri, tapi berhubung nggak punya nyali buat mengakui jadi dia melampiaskan ke orang lain"


"Gue tuh orang baik, makanya menawarkan diri tanpa diminta"


"Enggaka ada untungnya nawarin diri ke gue. Ke om-om aja yang dompetnya tebel lumayan pesangonnya gede"


"Anj*y itu mah ngejual diri" sahut Yola cemberut.


Nisa menengakan tubuhnya, matanya berbinar ria. Selintas ide singgah dikepalanya.


"Mau nggak?" ulang Yola memastikan pertanyaannya tadi.


"Enggak" jawab Nisa tersenyum tipis.


Yola mendengus berat "Oke".


"Kirain cuma cowok doang yang suka PHP" imbuhnya. Nisa menepuk-nepuk pundak Yola


"Memang wajah mudah menipu, makanya jangan gampang mau"


"Gaje ih"


Nisa berdehem kecil,


"Lo serius mau nemenin gue?"


"Iya"


"Tapi ada syaratanya"


"Apa?"


"Lo jujur kalo lo kangen Azam?"


"Dih ogah"


"Ya udah lo nggak boleh ikut"


"Yaaah kok gitu?"


"Kok lo ngambek?"


"Enggak biasa aja kok" ucao Yola gugup.


"Ya udah makasi tawarannya, tapi gue bisa sendiri kok"


Yola menghela nafas pasrah "Ya udah deh".


"Punya temen kok gini amat yak, nggak ada pekanya hiks"


Kriiiiing..


Bel tanda pelajaran telah usai berbunyi, Nisa semangat mengemasi peralatan tulisnya.


"Gue balik dulu yaw" pamit Nisa seraya melenggang pergi.


"Iya" jawb Yola cuek, hatinya masih sedikit dongkol.


"Byeee"


"Hmm" gumam Yola pendek.


Nisa tergesa menuju pintu gerbang keluar, Ia langsung gercep menghentikan sebuah angkutan umum.


Wiiij neng geulis, tumben jam segini udah pulang " seru Mang Asep riang menyambut kedatangan Nisa.


"Iya dong" jawab Nisa sumringah.


"Waaah pasti nggak sabar ya mau ketemu mang Asep" godanya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Yoi, enggak sabar pengen cepet-cepet dianter sampe rumah pengen pup soalnya😊"


"Yaelah Neng, Mang Asep rindu beneran"


"Mang berhenti d ialamat X yah" pinta Nisa menghiraukan candaan Mang Asep , jika disahuti bisa baper dia😔.


"Lho kok tumben?" tanya Mang Asep heran.


"Iya nih pengen ganti suasana"


"Rumah baru Neng?"


"Bukan"


"Terus ngapain ke sana?"


"Itu rumah temen saya katanya punya Ac jadi pengen nyobain" jawab Nisa Asal.


"Kalo itu sih di minimarket terdekat juga ada"


"Beda atuh Mang, dimini market mah makanannya bayar sendiri beda dong dirumah temen kan gratis"


"Suka gratisan mah si eneng"


"Iya dong. Mang Asep mau kasih gratisan juga ke saya?"


"Waduh gimana yah" Mang Asep


"Oke makasi"


"Saya belum ngomong iya atuh Neng"


"Oo kirain udah" desah Nisa kecewa.


"Ya udah iya" ucap Mang Asep menyerah tak tega melihat wajah Nisa yang tertekuk.


Mamg Asep tak berniat lagi menanyai Nisa tak ingin kena batunya.


"Udah sampe Neng nggak mau turun?"


"Ah.. iya, makasi Mang" Nisa melambaikan tangannya, tertawa lebar penuh kemenangan. Nisa menggaruk tengguknya, merasa canggung hendak bertamu ke rumah azam.

__ADS_1


Ia menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkan dalam sekali hembusan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, seorang security yang tengah berjaga berjalan menghampiri Nisa dari pos jaganya.


"Permisi pak, Azam nya ada?" ucap Nisa ramah membuka suara.


"Eh Neng geulis, ada neng" jawab pak satpam tak kalah ramah sembari membuka pintu gerbang.


"Mari masuk" imbuhnya tersenyum hangat


Nisa mengangguk kecil, tersenyum singkat. Ia menahan nafas beberapa saat, menenangkan ritme jantungnya yang berdetak tak karuan.


Jemari Nisa perlahan mendekat ke arah bel rumah Azam, menekan sekali, dua kali, lalu memberikan jeda menunggu panggilan.


"Iya siapa"


Nisa menelan salivanya, kegugupan melandanya. Bibirnya terkunci rapat saat tak kala mendengar suara bariton si pemilik rumah.


"Nisa?" ucap Azam kaget menatap sosok yang tengah berdiri kaku di ambang pintu rumahnya.


"Ha...i" Nisa terbata mengeluarkan suaranya, harga dirinya seakan runtuh saat melihat seringai licik dari wajah Azam.


"Rindu yah" goda Azam menaikan turunkan alisnya.


"Ah apaan si, enggak lah" elak Nisa menunduk, menyembunyikan semu merah di pipinya.


"Terus lo ngapain disini?"


"Emm lo kenapa nggak berangkat" ucap Nisa balik bertanya.


"Pengen ngetes aja, siapa yang nyariin gue disaat gue nggak ada" ledek Azam.


"Issh gue khawatir sama lo"


"Khawatir kenapa?" desak Azam tak puas mendengar jawaban Nisa.


"Lagian lo kenapa nggak bales chat gue? nggak ada sinyal?"


"Nggak ada rasa" Sontak Nisa melayangkan cubitannya pada perut rata Azam.


"Aww ...aww..."


"Jahat banget lo ya" serangan cubitan masih terus berlangsung, Azam berkelit ke sana kemari menghindari. Namun sayangnya tangan Nisa seperti kerasukam belut yang gesit mengikuti arah lenggokan tubuhnya.


"Udah dong" rengek Azam.


"Enggak" tolak Nisa cepat.


"Sakit nih"


"Lo pikir gue nggak sakit"


"Ya ampun gue becanda"


"Becanda lo nggak lucu"


"Iya gue tau, kalo lucu pasti lo udah ketawa ngakak bukan mencak-mencak kayak gini"


Nisa melipatkan tangannya didada, memandang Azam dengan tatapan kesal.


"Ayok duduk" ajak Azam mencairkan suasana.


"Kasian betis sexy lo, udah meronta nggak kuat menahan beban berat badan lo"


Nisa melotot tajam, mengacungkan kedua kepalan tangannya.


"Antara kuburan sama rumah sakit lo pilih yang mana?"


"Gue milih lo jadi istri gue, boleh?"


Nisa memalingkan wajahnya ke samping, pertanyaan macam apa itu? rayuan? gombalan atau candaan?.


"Ya udah nikahnya nanti sore aja sepulang sekolah"


"Gue masih dibawah umur"


"Nanti gue tambahin umur emak gue"


"Serah deh, yang jelas gue nggak mau sama lo"


"Ya udah gih duduk. Gue juga capek berdiri terus" ajak Azam tidak ingin terus berdebat.


"Aduh" Nisa terpental kebelakang beberapa langkah saat dahinya beradu dengan dada bidang milik Azam.


"Lo gimana sih" sewot Nisa kesal.


"Maksud gue duduk disitu aja" tunjuk Azam mempersilakan Nisa untuk duduk disofa beranda rumahnya.


"Kalimat lo terlalu ambigu"


"Dirumah lagi nggak ada orang, nggak baik berduaan didalem"


"Ututu sholeh banget temen gue"


"Jelas dong, tapi sayang temen gue penggoda iman jadi kadang suka bikin gue khikaf"


"lo aja yang lemah iman"


"Gue lagi mencoba istigomah


"Emm btw lo sakit apa?"


Azam menepuk-nepuk perutnya, memasang wajah memelas.


"Jadi...?"


"Fix positif"


Ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Nisa memandang lekat Azam mencari keseriusan dibalik bola mata hitam legamnya. Berharap cemas agar senyuman segera terbit dibibir tipis Azam yang menggambatkan jika Ia hanya bergurau.


"Seriusan?"


Azam menyorot Nisa tajam menyakinkannya melalui tatapan mata yang tanpa kedip itu.


"Terus gue harus gimana sekarang?" ucap Nisa lirih.


"Terserah"


"Kok gitu?"


"Menurut catatan sejaran nilai matematika bu Mia nilai lo lebih tinggi dr pada gue"


"Apa hubungannya bambang?"


"itu artinya lo lebih pinter dari pada gue, jadi buat masalah sepele dibanding rumus trigonometri kenapa lo malah tanya ke gue?"


"Cerdas ntelektual bukan berarti juga cerdas dalam interpersonal" sengit Nisa menoyor kepala Azam.


"Yang paling penting lo uda tau busuknya mau lo buang atau simlen ya terserah lo"


"Oke tapi jangan lo umbar yah aib orang"


"Ya enggaklah, buat apaan juga menghasut seseorang buat ikut benci sama orang yang nggak kita suka?"


"Bagus, gue bakal lebih hati-hati lagi"

__ADS_1


"Gue Azam bukan bagus" protes Azam.


"Iya tau. Tapi gue enggak bisa ngejauh gitu aja, ada perasaan yang harus gue jaga. Gue takut dia semakin benci sama gue atau Yola dan Icha curiga sama gue"


"Okey, menjauh perlahan"


"Sekarang gue cuma bisa bersikap biasa aja ke dia" lirih Nisa yang masih tak percaya.


"Nanti gue beliin topeng monyet biar lo punya muka dua"


"Kenapa nggak harus beli? pake muka lo aja, udah mirip kok kayak monyet "


Azam mengacak rambut Nisa sebagai balasan.


"Nyebelin yah lo sekarang"


"Plus ngangenin" imbuh Azam.


"Iih nanti berantakan tau" omel Nisa yang takut kecantikannya akan berkurang.


"Mantai yuk" ucap Azam tiba-tiba.


"Hah? apa?"


"Cantik-cantik kok budek"


"Mantai kemana?" decak Nisa kesal.


"Ke mana aja asal berdua sama lo"


"Pantai mana tuh"


"Ckk norak bener dah"


"Ya udah ayok jangan ngebacot doang" tegur Nisa seraya bangkit dari duduknya.


"Serius mau?"


"Iya"


"Gue ambil jaket dulu"


"Iya"


"Jangan pulang dulu"


"Iya"


"Nanti lo nge prank gue lagi" ujar Azam ragu hendak melangkah masuk.


"Enggak"


"Yakin?"


"Gue pulang beneran nih" sungut Nisa.


"Eeeh jangan..jangan" Azam ngacir masuk rumah.


Hanya butuh beberapa menit untuk Azam bersiap-siap, setelah itu mereka berjalan beriringan menuju garasi.


"Kita mau kemana?" tanya Nisa untuk ke sekian kalinya memandang Azam dengan keraguan.


"Bawel nanti juga tau"


"Buruan naik" suruh Azam.


"Eh iya" Nisa patah-patah menaiki motor Azam, lagi-lagi jantungnya berdetak tak teratur.


"Astaga jantung, biasa aja dong. Lo cuma jalan sama doi kenapa detakan lo kayak abis lari maraton"


"Udah siap?"perlahan Azam melajukan motor sportnya membelah jalanan kota. Suasan sore terlihat memesona dengan warna jingga yang membentang luas diangkasa diufuk barat.


"Udah"


"Pelan-pelan dong Zam bawa motornya".


"Nanti keburu malem, gagal dong liat sun setnya"


Nisa mengalah membungkam mulutnya tak ingin berdebat lagi. Ia mempererat pelukannya saat laju motor berada diatas kecepatan 90km/jam. Tak terasa mereka telah memasuki area pantai, Azam memakirkan motornya rapi.


"Turun" ucap Azam menyadarkan Nisa yang terbengong ditempatnya.


Nisa memandang takjub pemandangan didepanya, bibirnya tersenyum lebar.


"Ayok" Azam menyeret tangan Nisa menuntunnya mendekati bibir pantai.



"Suka?"


Nisa mengangguk cepat, merasa senang. Padahal ini bukan pertama kalinya pergi ke pantai namun seseorang yang berada disampingnya membuatnya kebahgiaannya bertambah kali lipat.


"Nis" Azam menoleh ke samping.


"Iya" sahut Nisa yang masih memandang ke ke depan dengan memejamkan matanya, merasakan semilir angin sore yang menerpa wajahnya. Ia tak memedulikan Azam yang pasti tengah mendamprat dirinya didalam hati.


"Liat gue"


"Sebentar" Nisa mengeluarkan ponselnya dari tas punggungnya.


"Emang muka lo tiap detik berubah yah? sampe harus selfi terus"


"Lo pikir gue bunglon" ketus Nisa sembari membuka kamera hp nya. Ia memfokuskan lensa nya tepat saat matahari hampir tenggelam.



"Lo tadi mau ngomong apa?" tanya Nisa yang telah selesai menyimpan hasil jepretan kameranya.


"Gue boleh nggak jadiin lo wanita yang paling berharga kedua dihidup gue"


"Gue mau menjadi satu-satunya"


"Gue nggak bisa jadiin lo wanita satu-satunya tapi gue bisa jadiin lo yang pertama dan terakhir dihidup gue"


Nisa mengerutkan keningnya "kenapa?"


"Karena ada Ibu gue di urutan pertama"


"Ohh"


"Boleh nggak?"


"Enggak tau gue belum miikir"


"Ya udah gue kasih lo waktu seminggu buat mikir"


"Seminggu mana cukup"


"Dua minggu deh" tawar Azam bernegosiasi.


"Seabad boleh nggaak?"


Azam mengelus dadanya, berusaha bersabar.

__ADS_1


"Gue mundur Nis"


__ADS_2