
Seusainya upacara.
"Nis lo mau ikit ganti ke kamar mandi nggak?" tanya Yola yang bingung melihat Nisa yang santai menopang dagunya. Sekarang jam mata pelajaran olahraga, sehingga mereka harus mengganti seragam osis mereka dengan pakaian olahraga.
Nisa menggelengkan kepalanya,
"Gue ganti disini aja" ucapnya pelan.
"Okey" Yola berjalan meninggalkan Nisa, menyusul Filla dan Icha yang sudah lebih dulu menuju KM.
"Tutup pintunya" seru Nisa memerintah.
Yola pun mengangguk sebagai jawaban. Nisa segera turun ke kolong meja, melepas seragam osisnya yang Ia double dengan pakaian olah raga.
Nisa meletakan baju seragamnya di kursi bangkunya, kini Ia bergantian melepas roknya. Baru saja Ia membuka resleting roknya saat mendengar seseorang membuka pintu kelasnya, diikuti langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
Nisa mempercepat gerakannya, tidak ingin dicap negatifi karena berganti pakaian di dalam kelas. Ia pun bangkit dari tempat Ia berjongkok.
"Astaga" Nisa terperanjat kaget saat seseorng telah berdiri diseberangan meja.
"Lo ngapain disini?"
Zen mengerucutkan bibirnya, tentu saja Ia mau menagih penjelasan darinya.
Tawa Nisa pecah saat mengingat kejailannya pada Zen, memberikan nomor yang salah padanya.
"Sumpah lo jahat bener sama gue Nis" ucap Zen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kan gue udah bilang, cinta itu butuh perjuangan" sahut Nisa tidak peduli.
"Gimana gue mau berjuang, lo aja ngasih alamat palsu ke gue"
"Ya lo berjuang sendiri lah, minta nomernya sendiri langsung baru namanya lelaki idaman"
"Gue malu Nis"
"Cuih minta nomer aja nggak punya nyali, cemen lo. Emang nggak malu sama anak SD yang gaya pacarannya udah ayah-bunda?"
Zen menghembuskan nafasnya pelan, mengalah untuk tidak berdebat dengan Nisa. Ia mengeluarkan silver queen dari balik buku paketnya.
"Gue bukan kurir"
"Emang siapa yang bilang lo kurir? itu buat lo"
"Wait, dalam rangka apa nih?" tanya Nisa curiga.
"Ya anggep aja sebagai ungkapan terima kasih gue karena lo udah mau dengerin curhatan gue meskipun akhirnya lo sesatin gue sama nomer yang antah berantah punya siapa" cecar Zen.
"Lo serius?" tanya Nisa menyakinan.
"He.em"
"Okey gue terima, thanks" Nisa menatap curiga pada Zen yang masih berdiri tegak di depannya sambil cengar-cengir tidak jelas.
"Lo ngapain disini?"
"Emmm, gue boleh nitip ini buat doi nggak?" ucap Zen malu-malu.
Nisa mencebikan bibirnya, sudah ku duga, pasti ada udang di balik batu.
"Boleh yah?" pinta Zen penuh harap.
"Iya" ketus Nisa.
"Tapi jangan salah lo sasarin coklat gue"
"Iya"
"Janji?" Zen mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya, udah sana pergi" usir Nisa sambil menautkan jari kelingkinya.
"Uuuunch thank you so much Annisa cantik, jadi sayang gue" Zen menarik kedua pipi Nisa gemas.
"Aduh sakit bego"
"Gue balik dulu yah"
"Hmm". Nisa melipat seragam osisnya, menyimpannya di laci meja bersama dengan coklat pemberian Zen. Baru saja Nisa mendudukan pantatnya saat seseorang dari belakang menepuk punggungnya.
"kelapangan bareng gue yuk?" ajak Azam, senyum manis tercetak jelas dibibirnya.
" Enggak usah deh, gue udah ada yang nemenin" ucap Nisa seraya bangkit dri dudukknya, dalam hatinya Ia mennyumpah serapah teman-temannya yang lama sekali berganti pakaian.
"Sama siapa?"
"Sama Malaikat Raqib Atid" Nisa pun melenggang pergi menuju lapangan olahraga disekolahnya.
"Hadeh, kalo itu si gue juga tau" Azam berjalan mengekori Nisa.
Kelas pun kembali sunyi, sebagian siswa sudah menuju lapangan dan sebagian lagi maaih didalam kamar mandi sedang berganti pakaian.
*****************
X IPS 2
"Ada orgil baru nih" sindir Fian saat melihat Alex, sang ketua kelas tersenyum sendiri sambil menenteng lembaran kertas fotokopian.
"Sekarang lo ngatain gue gila nanti kalo lo liat ini, pasti lo bakal lebih gila dari gue" cerca Alex sambil menunjuk kertas yang dibawanya.
"Apaan nih? pengumuman pemenang lotre?" tebak Fian asal.
"Lo baca aja sendiri" Alex memberikan satu lembar kertas buram kepada Fian. Mata Fian berbinar bahagia membaca kertas yang berisi tugas kelompok tersebut.
"Wih rejeki anak soleh Nih" seru Fian girang.
"Woiiii makan-makan yok, jamkos nih" teriak Fian membuat heboh satu kelas.
"Serius lo?" tanya Aldo antusias menyambut kabar bahagia itu.
__ADS_1
"Serius lah, anak ganteng mana boleh bohong nanti gantengnya makin nambah" jawab Fian sombong.
Aldo mengambil kertas yang dipegang Fian, membaca kilat. Aldo menatap penuh makna pada Fian, membuat Fian mengangguk paham. Keduanya bersepakat untuk satu kelompok. Tanpa perlu dijelaskan, Ardan dan Zen pun ikut bergabung.
Hanya butuh satu jam, tugas yang mereka kerjakan berempat telah selesai.
"lo kumpulin gih ke Alex" ucap Fian memerintah Zen.
"Siap boskuh" jawab Zen tanpa protes.
"Kantin nggak?" tawar Fian tanpa basa-basi.
"Gue libur dulu"
"Mau kemana lo?" tanya Fian kepo melihat Aldo merapikan baju seragamnya.
"Emang lo lupa misi kita tadi pagi?"
"Oooo" Fian membulatkan bibirnya.
"Ayok cuss" Aldo melangkah kan kakinya.
"Yok gaskeun" sahut Fian bersemangat.
"Kemana?" tanya Zen bingung.
"Mengejar cinta"
"Emang cinta lari kemana?"
"Ke tetangga sebelah"
"Sejak kapan cinta punya kaki?"
"Cinta emang nggak punya kaki, tapi cinta punya kekuatan super buat berpindah kelain hati" papar Fian sok dramatis.
"Mau ikut nggak?" tambah Fian.
"Nanti gue nyusul, tunggu Ardan dulu"
"Okey, gue duluan"
"Eh tunggu dulu"
"Apa lagi?"
"Share lok dulu"
Fian memonyongkan bibirnya,
"Lo temenan sama Aldo berapa lama sih?"
Zen menggaruk tengkuknya,
"Emang masih setia sama yang lama?" ucap Zen polos.
"Ya iyalah. Kita sebagai laki-laki harus gantle. Setia pada satu wanita bukan semua wanita, tetap stay sama yang lama meski ada yang lebih menggoda"
"Yoi, Alfian gitu loh"
"Ya udah gue pergi dulu, kasian temen gue berjuang sendirian" pamit Fian melenggang pergi.
"Fian sama Al kemana?" tanya Ardan saat sampai di mejanya yang hanya menyisakan Zen.
"Lagi apel Nisa, samperin yuk"
Keduanya pun berjalan bersama menuju kelas X IPS 3.
Masih ada sisa waktu 30 menit lagi sebelum bel istirahat berdering. Pak Rafli menyudahi kegiatan pembelajarannya, memberikan waktu untuk siswa nya berganti pakaian dengan seragam osis.
"Ada yang mau ikut gue ke kantin nggak" tanya Yola sambil mengelap keringat diwajahnya dengan tissue.
"Gue ikut" sahut Icha cepat, meski masih pukul sepuluh, namun sinar matahari sudah terasa sangat terik memebuat kerongkongannya mudah kering.
"Yang lain?" ucap Yola melirik Filla dan Nisa bergantian.
"Gue mau ganti baju dulu deh, gerah nih" jawab Nisa mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajahnya.
"Gue mau ke kelas dulu ngambil sepatu" timpal Filla yang tadi sengaja melepas sepatunya.
"Pesenin juga yah? gue cuya ma make sepatu doang kok" imbuh Filla.
"Ukay, siap bos" balas Yola.
"Lo nggak mau sekalian nitip Nis? tanya Icha.
"Kek Biasa aja" seru Nisa yang sudah melangkah lebih dulu.
Icha pun mengangguk,
"Kita duluan yah" pamit Icha pada Filla, lalu menggandeng tangan Yola.
Sesampainya dikelas, Nisa
"Gila panas banget, neraka lagi bocor kali yak" gumam Nisa sambil mengmbil sembarang buku tulisnya untuk mengipasi wajahnya yang sudah memerah menahan gerah.
"Kantin yuk" ajak Azam yang kini sudah duduk dimeja Nisa.
"Gue udah ada janji" jawab Nisa cuek.
"Sama malaikat isroil?"
Nisa meneplak lengan Azam dengan buku yang dipegangnya.
"Gue nanti ke kanti sama lo kan Fil?" ucap Nisa saat Filla baru saja memasuki kelasnya. Filla kikuk memaksakan senyumnya, mengangguk seklilas.
"Lo harus cepat bertindak Al" ucap Fian penuh dengan nada penuh tekanan sambil menepuk bahu Aldo.
Aldo mematung didepannya, melihat pemandangan tidak mengenakan dideppannya.
__ADS_1
"Terus gue harus gimana dong?"
"Muka lo doang yang ganteng tapi otak masih cupu" cibir Fian kesal.
"Gue butuh saran dari lo bukan kritikan"
"Ya lo samperin lah, lo labrak tuh cowok yang lagi kegatelan sama doi, syukur kalo lo hajar sekalian" sahut Fian bersemangat mengompori.
"Terus nanti kalo udah gue samperin gue ngomong gimana?"
"Lo tonjok ae langsung"timpal Ardan yang kini sudah bergabung dengan Aldo Cs disertai Zen.
"Anak orang bro" tolak Aldo polos.
Ardan mendengus sebal,
"Gue nggak serius kali" Ardan menjitakk kepala Aldo agar lebih konek.
Aldo menghela napas kecewa, Ia hendak berbalik lagi menuju kelasnya.
"Eh mau kemana lo?" seru Ardan bingung.
"Kelas" jawab Aldo pendek.
"Lha? itu doi gimana?" sambung Fian.
"Biar di urus sama yang diatas"
"Yaelah gitu aja ngambek" ledek Ardan.
"Gue cuma lelah bukan nyerah" sanggah Aldo.
"Terus nanti kalo Nisa kesemsem sama tu cowok gimana? tanya Fian
"Makanya lo bertiga bantuin jangan malah ledekin"
"Iya kita bantu" Fian menyenggol lengan Ardan.
"Apaan?"
"Lo contohin gih" bisik Fian.
"Kok gue?" protes Ardan.
"Lo kan udah les privat sama gue, sekarang saatnya ujii kemampuan" terang Fian menjelaskan.
"Heh, lo kemaren ngajarin gue cara ngegombal yang jitu bukan jadi ahli labrak dodol"
"Otak lo masih utuh kan?"
"Masih lah"
"Ya udah lo pikir aja sendiri"
"Anjay, teorinya apa prakteknya apa" gerutu Ardan.
"Udah jangan banyak bicit, nanti kalo lo berhasil gue naikin tingkatan lo"
"Woy disini masih ada orang" cerca Aldo yang jengah melihat keduanya bisik-bisik.
"Okey, gue contohin nih cara melabrak orang yang baik dan benar" Ardan kemudian dengan mantap memasuki kelas X IPS 3.
"Ehmm. ehem" Ardan berdehem agak keras agar keduanya mau menoleh padanya.
Azam mengerutkan dahinya saat Ardan berhenti tepat di depannya.
"Lo ngapain disini?" seru Ardan menatap serius pada Azam.
"Duduklah, emang lo nggak liat?" balas Azam bingung.
"Gue tau, mata ku gue masih normal. Maksud gue Lo ngapain duduk di sini?"
"Ya terserah gue lah" jawab Azam cuek, malas meladeni Ardan.
"Lo nantangin gue? temen gue banyak noh diluar jangan macem-macem"
"Maksud lo apaan si? gue nggak ngerti" uungkap Azam jujur tidak paham
"Emang lo nggak tau siapa gue?"
Azam melirik sekilas name tag yang tertera didada kiri seragam Ardan.
"Lo Ardan kan?"
"Tau dari mana lo?"
"Tuuuh" Fain menunjuk dada kiri Ardan.
Ardan sontak menyilangkan kedua tangannya didada,
"Dasar omes"
Azam bergidik jijik melihat respon Ardan.
Pandangan Ardan kini fokus pada Nisa,
"Baru beda kelas aja udah mendua apa lagi beda negara? bisa langsung ke KUA lo"
"Anda waras?" Nisa menempelkan telapan tangannya di kening Ardan.
"Alhamdulillah gue waras" ucap Ardan sambil menurunkan tangan Nisa dahinya, lalu mengecup singkat punggung tangan Nisa.
,"Gue kan bilang kita cuma berjarak bukan berpisah, jangan selingkuh"
"Apah? siapa yang selingkuh?"
"Annisa Meylin Cyla" Nisa membuka mulutnya lebar hendak protes, namun telujuk Ardan lebih dulu menempel di bibir Nisa.
"Jangan ganggu pacar gue, jadi jomblo high kualitas dong" seru Ardan menatap serius pada Azam. Membuat dia melonggo lebar mendengar pernyataan Ardan.
__ADS_1
"Gue tinggal pergi dulu, nanti kalo hati gue udah nggak sakit lagi, gue bakal nemuin lo lagi" Ardan mengelus pucuk kepala Nisa. Lalu melangkah keluar kelas.