Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 32 Terciduk


__ADS_3

Nisa menenggelamkan wajahnya pada tas yang ia letakan diatas meja. Bel tanda istirahat baru saja berbunyi, semua siswa dikelas X IPS 3 antusias menuju kantin.


"Dif mau ke kantin nggak?" tanya Nayla mantan teman sebangku Difa, ia menemuinya lagi saat istirahat.


"Iya nih"


"Nisa lo mau ikut nggak?" tanya Difa mengajak Nisa.


"Engga deh, nanti aja"


"Kenapa? lo sakit?" Difa menatap khawatir Nisa yang terlihat lesu.


"Enggak, gue cuma ngantuk" jawab Nisa sambil menguap.


"Oke, gue tinggal dulu ya" seru Difa mengakhiri, ia berjalan bergandengan tangan dengan Nayla yang sabar menunggunya selesai berbincang dengan Nisa.


"Hati-hati" ucap Nisa, ia meletakan kepalanya diatas tas yang berubah fungsi menjadi bantal. Saat itulah dipersekian detik matanya yang hendak terpejam ia menangkap tiga sosok siswi yang juga ikut keluar. Mereka terlihat bahagia dengan melempar canda tawa tanpa menghiraukan empat pasang mata yang menatap mereka dengan seksama.


Jantung Nisa berdenyut pelan, ada perasaan nyeri saat melihat mereka yang ceria melenggang kelaur. Nisa menghembuskan nafas pelan, merelakan kepergian mereka. Perlahan ia menutup kelopak matanya, tidur.


Ruang kelas terlihat sepi, Azam tidak menyia-nyikan kesempatannya. Sudah lama dia menunggu momen seperti ini, melihat Nisa sendiri tanpa ada ketiga sahabat yang rempong akan kehadirannya, terutama Yola.


Brakk..


Sebuah gebrakan meja membuat tubuh Nisa tersentak kaget, Ia refleks menegakkan badannya.


" Apaan sih Zam" teriak Nisa kesal, Ia mengelus-elus telinganya yang habis terkena ledakan bom atom.


"Lo kenapa nggak pergi ke kantin?" tanyanya tidak memedulikan kekesalan Nisa.


"Suka-suka gue lah"


"gue cuma nanya kenapa sewot sih, bikin makin cantik aja". Azam duduk dimeja Nisa, merasa mendapat santapan empuk.


"Kalo lo kesini cuma mau godain gue lebih baik lo sekarang pergi, gue nggak bakal kegoda sama rayuan iblis kayak lo


"Iya gue tau hati lo tuh keras kaya tembok, gue mah apa atuh cuma jelly mana bisa nembus lo"


"Kadang gue suka heran sama lo, sebenarnya hati lo terbuat dari apa sih kerikil atau semen kenapa bisa kaya tembok gitu" lanjut Azam, ia pura-pura memasang wajah pilu.


"Mending lo pergi deh, gombalan lo terlalu receh buat gue yang berlian ngerti nggak" gertak Nisa, emosinya seperti akan meledak.


"Iya iya gue nggak akan gombalin lo, gue ganti deh peetannya gue" timpal Azam memelas, ia masih ingin berdua dengan Nisa.


"Btw, kenapa ko nggak bareng sama Yola Cs?" ungkap Azam yang penasaran saat melihat ketiga sahabat Nisa yang melenggang pergi tanpa mengajaknya.


"Bukan urusan lo" jawab Nisa galak, ia tidak ingin membuka masalah pribadinya dengan sembarang orang.


"Lo kenapa sih jutek banget sama gue" Azam berdecak heran, "salah gue apa coba? "batin Azam.


"Pertanyaan lo sama enggak bermutunya sama gombalan lo"


"Terus gue harus tanya apaan?"

__ADS_1


"Terserah"


"Lo jahat banget Nis"


Nisa tidak menyahutinya, ia merebahkan kepalanya dimeja bersiap tidur.


"Gue lagi ngomong sama lo Annisa, jangan lo kacangin " serunya ikut kesal.


Nisa mengangkat kepalanya, menatap galak kearah Azam.


"Masih mending cuma gue kacangin, apa mau gue kulitin juga?"


Azam menelan salivanya susah payah menatap cengo Nisa, membuatnya sulit berkata-kata.


"Gu..e gue cuma tanya kok Nis, kalo lo nggak mau jawab juga nggak papa"


"Ya udah, ngapain lo masih disini"


Azam menarik napas dalam-dalam mengajak mulutnya berkompromi untuk berkata jujur tidak perlu basa basi.


"Gue cuma mau ngajak lo ke kantin, lo mau nggak makan bareng gue?


Nisa terdiam beberapa saat, sebenarnya ia tidak ingin mencak-mencak terhadap Azam tetapi emosinya tersulut saat menyaksikan sahabatnya yang tega meninggalkan dirinya.


"Mau kok" Jawab Nisa melembut, merasa iba dengan Azam yang seperti frustasi melihat dirinya. Toh bukan salah Azam, dia tidak boleh melampiaskan amarahnya kepada sesorang yang bukan menjadi penyebab kemarahannya.


"Lo serius mau? tutur Azam masih tidak percaya.


"Iya, lo nggak budeg kan?"


Nisa tersenyum kecut melihat tinggah Azam, ""Apa spesialnya?" Nisa menggelengkan kepalanya, Ia hanya menganggap ajakan Azam sebagai sesuatu yang biasa saja.


Nisa berjalan mendahului Azam, saat melewati kelas X IPS 2 sayup sayup ia mendengar suara Aldo yang meninggi, ia mendekatkan telinganya ke pintu.


"Lo ngapain Nis?" Azam mengerutkan keningnya, tidak memahami tingkah laku Nisa.


"Sstttt" Nisa menempelkan jari telunjuknya mengarah pada Azam.


"Lo nguping?" tebak Azam yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nisa.


"Jangan berisik" desis Nisa pelan.


Azam manggut manggut, ia tidak tertarik ikut menguping. Dia menikmati wajah Nisa yang terihat lucu dengan ekspresi tegang diwajahnya serius menyimak percakapan didalam ruang kelas.


"Lo punya hubungan apa sama Nisa?" ucap Aldo lantang, kelas mereka sedang sepi, semua penghuninya sedang pergi ke kantin menyisakan mereka berdua.


"Apa urusan lo?" Zen melontarkan pertanyaan yang menusuk ulu hati Aldo, ia merasa tersindir. Sebagai lelaki yang awet jomblo karena tidak ingin menyakiti hati wanita, Zen merasa geram dengan sikap Aldo. Dia masih peduli dengan Nisa tetapi dengan sadar menyakiti hati Nisa. Jika dia sudah memilih Yola, untuk apa dia menanyakan Nisa? ingin menjadi buaya darat hah? pikir Zen.


"Lo itu nggak bakat jadi tukang nguping" bisik Azam lirih, merasa kasihan dengan Nisa yang berkonsetrasi penuh menguping.


Nisa mencubit perut Azam,


"Lo bisa diem nggak?" Nisa berdesis pelan, ingin rasanya dia mencakar Azam ditempat.

__ADS_1


"Iya ndoro"


"Asal lo tau gue tuh penguping handal nomer satu didunia" jelas Nisa menyombongkan diri.


"Penguping handal apaan orang lo aja budeg" ujar Azam nyinyir, tidak terima dengan kesombongan Nisa.


"sembarangan lo yah kalo ngomong"


"Kalo masih normal kenapa juga lo maksa nempelin telinga lo? lo nggak sadar pintunya sampe retak kayak gitu"


"Itu emang udah dasar anyi*g" Nisa melihat retakan tipis dipintu kelas tersebut, ia yakin itu bukan karena ulahnya.


"Kalo lo mau debat sama gue nanti aja di meja hijau" imbuh Nisa, ia mendekatkan lagi telingannya, meneruskan aksi mengupingnya.


"Mau ngapain lo ke pengadilan?"


"Mau sidang buat nentuin siapa yang budeg diantara kita" Tandas Nisa sarkas, ia merasa rugi sudah melewatkan banyak percakapan.


"Kalo lo mau lomba cerdas cermat sama gue, gue berani. Tapi kalo masalah budeg nggak usah diadu, jelas lo yang menang" papar Azam bangga, ia menyedekapkan tangannya didada.


Nisa mengepalkan tangan kananya, jaraknya yang dekat dengan Azam membuat kepalan tangannya dapat dengan mudah teracung tepat dihidung mancung Azam.


"Kalo lo ngoceh lagi, jangan salahin gue kalo hidung lo ngemuarin darah" ancam Nisa, ia mendekatkan kepalan tangannya menyentuh permukaan kulit hidung Azam.


Azam membuka lipatan tangannya, ia menurunkan kepalan tangan Nisa.


"Oke gue diem"


Nisa berbalik arah mendekati pintu harta karunnya, setiap jawaban Aldo terasa berharga baginya.


"Kenapa lo bisa bernagkat pulang bareng Nisa?" tanya Aldo dengan intonasi yang sedikit diturunkan, ia mengakui posisinya yang tidak memiliki ikatan apa pun dnegan Nisa.


Zen menatap tajam kedua manik bola mata Aldo. Ia memiringkan kepalanya membisikan sesuatu tepat dilubang telinga Aldo, memastikannya agar dia tidak salah denar. Zen segera menarik tubuhnya, berdiri sebentar didepan Aldo ingin melihat ekspresi yang Aldo berikan saat ia selesai mengucapkan kalimatnya.


Aldo menatap syok Zen yang berdiri lurus didepannya mencerna kalimatnya barusan.


Zen tidak memedulikannya, ia berjalan gontai keluar kelas.


Nisa yang sedang melamun mendadak terdorong kebelakang saat Zen membuka pintu.


"Aaarghh" Nisa berteriak kaget. Azam dengan gercep menagkap tubuh Nisa. Memegang pinggangnya agar tidak terjatuh kelantai.


"Nisa?" panggil Zen tidak kalah kaget, ia tidak menyadari keberaan Nisa sejak tadi.


Nisa tersenyum kikuk, ia salah tingkah telah ketahuan menguping. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, menahan malu.


"Zen segera menarik Nisa mendekat kearahnya. Nisa terlonjak kaget, sejak tadi Azam belum melepas pegangan dipinggangannya.


"Ke kantin yuk" Zen menggengam tangan Nisa, kemudian melangkah menuju kantin.


Azam membulatkan bibirnya, bersaan dengan Aldo yang juga melihat adegan romantis didepannya. Keduannya saling tatap tanpa arti.


Aldo tersadar dari lamunannya, merangkul bahu Azam yang masih mematung ditempatnya.

__ADS_1


Aldo mengedipkan satu matanya, mengode. Azam mengangguk, mereka berdua berjalan menyusul Nisa dan Zen kekantin.


__ADS_2