Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 15 Kebetulan Yang Tidak Disengaja


__ADS_3

"Maaf ya Cha nunggu lama tadi antrinya lumayan banyak" ucap Filla merasa bersalah.


"Iya nggak papa kok" Icha tersenyum tulus.


"Yuk ke kantin, Nisa sama Yola pasti udah nungguin" imbuhnya lagi.


Filla mengandeng tangan Icha, merasa beruntung memiliki sahabat yang pengertian, penyayang juga sabar seprti Icha.


"Nisa sama Yola mana yah?" Filla mengedarkan pandangan ke seluruh kantin.


"Itu dipojok " Icha menunjuk sudut pojok kiri kantin, bergegas menghampirinya, diikuti Filla yang berjalan disampingnya.


"Aldo?" Filla terbelalak melihat Aldo juga beranda satu meja dengan Nisa. Tidak hanya Filla, Icha juga kaget melihat keberadaan Aldo, ia ingin meluapkan rasa penasarannya, namun sudah diwakilkan oleh Filla.


Dilain sisi jantung Zen berdetak kencang, gadis impiannya berada dihadapannya sekarang. Zen hanya mampu memandangnya, bibirnya kelu hendak menyapanya.


"Hey Fill" ucap Aldo ramah.


"Ck ck temen lo gue kali Fill kenapa lo malah nyapa makhlus astral sih" Nisa berdecak kesal, ia menahan lapar hanya demi menunggunya tetapi yang ditunggu malah memedulikan orang lain.


"Sorry Nis, abis gue kaget kok lo bisa sih barengan gitu"


"Biasa aja kali, udah takdir" Nisa menjawab ketus. Entah mengapa ia merasa emosinya naik jika bersama Aldo, ditambah lagi banyak yang menyapa Aldo membuat otaknya mendidih. Nisa memegang dadanya, apa gue cemburu? kenapa panas banget liat Aldo disapa cewek lain yang merupakan sahabatnya sendiri. Filla juga hanya sebatas menyapa bukan menggodanya.


"Ayok duduk" Yola menarik kursi untuk Filla dan Icha.


"Aldo udah mesenin kalian berdua makan, buruan gih dimakan nanti keburu dingin" Ianjutnya mengalihkan pembicaraan Filla dan Nisa. Dia merasa ada yang aneh dengan Nisa, Ia melihat kemarahan dimata sahabatnya. Nada intonasi suara Nisa pun selalu meninggi jika menjawab pertanyaan dari siapa pun. Saat Fian bercanda menggodanya, Nisa bahkan menganggapnya serius menjawab dengan kasar.


"Ya ampun Aldo lo perhatian banget sih"


"Nggak usah ke PD an deh Fill, nggak cuma lo aja yang dipesenin, kita semua juga" Nisa menelan makanannya dengan menunduk, tidak peduli dengan tatapan kesal Filla.


Nisa merasa rasa panas dihatinya seperti akan meledak, ia bersiap menumpahkan pada Filla jika dia berani menggoda Aldo. Sudah cukup Yola yang sok akrab dengan Aldo, Nisa tak ingin melihat keakraban Aldo dengan wanita lain lagi. Hati Nisa perih, ingin ia berlari dari tempatnya sekarang berpijak, namun dia tidak mungkin melakukannya.


Dia tidak ingin mengundang perhatian, ia sudah berjanji akan megubur dalam dalam masa lalunya. Meski tak bisa dipungkiri dirinya telah lama putus dari Aldo, tetapi rasa cinta masih menggelayuti hatinya.


Yola memegang lengan Filla, berusaha menenangkan gejolak didada sahabatnya.


"Udah Fil nggak usah ngeladenin Nisa, mungkin efek kelaperan jadi sensi".


Filla diam, ia mengalah untuk tidak berdebat dengan Nisa, ia juga merasa bersalah karena membuatnya menunggu lama.


Yola menatap Filla kasihan. Tidak sebarusnya dia membela Nisa. Tidak adil rasanya jika dia memintanya untuk mengalah secara sepihak. Logikanya mengatakan jika Nisa memang bersalah, tidak seharusnya dia berkata kasar pada Filla, namun hati nuraninya tidak tega jika harus menyudutnya. Yola melihat mata Nisa yang sedikit berkaca kaca, sebenci itukah Nisa dengan Aldo dan teman temannya? sampai ia harus menahan tangis. Yola merasa bersyukur Filla tidak memperpanjang urusannya.

__ADS_1


"Kok bisa kebetulan ngumpul disini?" Filla memandang lurus kedepan bertanya pada Yola secara pribadi yang duduk didepannya.


"Tadi...". Yola belum sempat menjawab, Nisa sudah lebih memotongnya.


"Tadi meja kantin udah penuh semua, kebetulan cuma disini yang masih longgar, makanya kita gabung" .


Yola menatap Nisa heran, sejak kapan Nisa berani berbohong? bukankah tadi Aldo yang memangilnya untuk bergabung? ini bukan kebetulan belaka tapi memang disengaja.


Yola menatap sekelilingnya, tidak ada yang menyanggah pernyataan Nisa barusan.


"Gue nggak tanya sama lo" Filla mendengus kesal malas jika Nisa yang menanggapi.


Suara Filla memutus lamunan Yola, ia sadar dari alam bawah sadarnya. Karena yang melamun hanya pikirannya, Yola masih bisa menangkap pertanyaan Filla. Berbeda jika telinganya juga ikut melamun, ia pasti akan berubah mode menjadi budeg.


"Iya tadi kebetulan cuma meja disini yang masih longgar jadi kita gabung kesini, untung aja diizinin" ucap Yola yang juga ikut menutupi kebohongan Nisa.


"Lo baik banget sih Al" Filla menopang dagunya menatap Aldo, meleleh melihat Aldo yang sejak tadi tersenyum menyimak perbincangan dirinya.


Aldo hanya tersenyum sekali lagi. Memang itu yang bisa dilakukan Aldo, membalas pujian Filla sangat pantang baginya. Aldo bisa merasakan kecemburuan dimata Nisa, ia tidak ingin betinanya mengamuk didepan umum.


Meski Aldo dulu yang memutuskan Nisa, baginya sendir, ia hanya memutus ikatan dalam hubungan mereka bukan memutus rasa cinta dihatinya.


Itu pun dilakukan semata mata kerena banyak yang nyinyir terhadap hubungan mereka, membuatnya merasa minder. Nisa yang cantik dengan kulit putih mulusnya, ditambah tubuhnya yang tinggi semampai membuat kesan sempurna dimata fansnya. sangat tidak singkron dengan dirinya yang terlihat cupu waktu itu.


Semuanya terdiam, hanya dentingan sendok garpu beradu dengan mangkuk yang sedikit menghidupkan suasana meja di sudut pojok kiri kantin.


"Kalian satu kelas?" Fian bertanya pada Yola, berusaha Mencairkan suasana. Sangat sayang jika dirinya dikelilingi oleh bidadari, tetapi hanya menganggurkannya. Dirinya tidak seperti Aldo yang hanya digertak sedikit saja oleh Nisa sudah membuat nyalinya ciut.


"Iya". Yola menginjak kaki Filla perlahan, Filla menatap pada Yola.


"Kenalan gih, biar nambah temen"


"Nama gue Nafilla Amalia, panggil aja Filla"


"Gue Fian". Mereka lalu saling berjabat tangan.


"Itu yang disamping lo siapa?"


Filla menyenggol siku Icha, memberinya kode.


"Icha" jawabnya singkat.


"Oke salken yah" ucap Fian disertai senyuman lebar. Senang mendapat mangsa baru bukan hanya satu tetapi tiga sekaligus.

__ADS_1


Icha tersenyum kemudian menundukkan kepalanya. Merasa risih dengan senyuman Fian. Icha menebak jika Fian adalah seorang Fakboy, ia lebih baik mengalihkan pandangannya dari pada harus termakan pesonanya.


"Oh iya, kenalin juga nih temen laknat gue, yang lagi Asyik baca novel sampe kita kita dikacangin, namanya Ardan. Yang disampingnya namanya Zenata, biasa dipanggil Zen". ucap Fian dengan bangga memperkenalkan sahabatnya.


Icha memicingkan matanya saat nama Zen disebut, ia seperti pernah mendengar namanya. Wajah Zen juga tidak asing baginya.


"Zen? lo yang waktu itu kan?".


Zen terkesiap sejak tadi dia sibuk mencuri pandang kearahnya, tidak menyangka akan terlibat pembicaraan dengannya.


Zen mengangguk mantap ini kesempatan untuk PDKT dengan Icha.


"I..Iya" jawab Zen terbata, bibirnya terasa kelu.


"Lo kenal Cha?" tanya Filla penasaran.


"Iya, gue inget waktu itu kita pernah ketemu diperpustakaan".


Icha tersenyum bahagia dia telah berhasil mengingat Zen. Setidaknya ada bahan untuk bisa nimbrung pembicaraan, bukan sekedar obat nyamuk.


"Kok lo nggak cerita? Yola menuntut penjelasan.


"Kita ketemu waktu itu cuma kebetulan, nggak nyangka bakal ketemu lagi" ucap Icha santay.


"Iya gue juga nggak nyangka bisa kebetulan kayak gini, bisa ngumpul semua" imbuh Zen.


"Nggak cuma diperpus aja kali, bukannya lo berdua juga pernah berangkat barengkan?".


Aldo yang sedari tadi hanya diam sekarang membuka suara, ia ingat dengan wajah perempuan yang berboncengan Zen waktu itu, wajahnya mirip dengan Icha, bahkan namanya juga sama.


"Oh iya waktu itu ban mobil gue bocor, trrus nggak sengaja ketemu sama Zen jadi sekalian berangkat bareng" papar Icha panjang kali lebar.


"Jadi ini orangnya, yang buat lo tega ninggalin kita?" tanya Fian sinis, ia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat Zen berangkat sekolah sendirian tanpa menunggu mereka.


Tawan Ardan dan Aldo meledak, berbeda dengan ekspresi Teman teman Nisa yang terlihat cengo.


Zen menelan salivanya dengan susah payah, kemudian mencubit Paha Fian dengan keras. membisikan sesuatu.


"Lo temen apa musuh gue sih jangan buka kartu disini dong". Wajah Zen berubah menjadi merah tomat, teman temannya menertawakannya tanpa ampun.


"Dunia sempit banget yah" Yola menggeleng gelengkan kepalanya. Dalam pertemuan pasti tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh-Nya. Feelingnya mengatakan pasti akan ada sesuatu setelah pertemuan ini. Yola berharap sesuatu itu merupakan awal yang baik bukan sebuah kehancuran.


Dengan sekejap mereka semua sudah terlihat akrab, tidak ada lagi kecanggungan diantaranya. Sampai bel tanda masuk berbunyi mereka masih asyik mengobrol, bahkan saat perjalanan menuju kelas obrolan masih berlanjut. Berakhir saat mereka berpisah menuju ruang kelasnya masing masing.

__ADS_1


__ADS_2