Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
92 Sosok itu lagi?!!


__ADS_3

Nisa memutar knop pintu dengan malas. Apa yang akan dilakukannya sekarang. Kaum rebahan bisa apa? ya cuma bisa bobo syantik lah. Kaki jenjangnya melangkah gontai menuju kamarnya, lantas mengganti pakaian dengan kaos oblong dan jelana jeans panjang. Ia merebahkan diri di atas kasur empuknya.


Nisa mengusap wajahnya kasar,lagi-lagi benaknya di penuhi oleh raut kekecewaan milik Yola. Salahkan Ia jika menerima Azam?.


"Hati nurani lo dimana Nis, kenapa lo egois nggak mikirin perasaan Yola" umpatnya dalam hati.


Air mata Nisa berhasil lolos jatuh membasahi pipinya. Haruskah dirinya melepaskan Azam sedangkan Ia sendiri merasa hampa baru beberapa menit berpisah.


Andaikan Ia bisa memilih takdir, Ia akan meminta agar keduanya tuk bersama. Jika harus berkorban perasaan Nisa akan maju nomor satu. Tetapi menyudahi hubungannya pun belum tentu Azam akan menerima Yola bukan?.


Nisa mengusap air matanya, dihembuskan nafasnya pelan-pelan. Semuanya sudah terlanjur, ia hanya bisa mendoakan agar hati Yola lekas sembuh.


Nisa menegakan tubuhnya, perutnya terasa lapar. Sama seperti hari sebelumnya, menu makan siang hari ini adalah mie instan lagi.


"Kenapa tadi nggak minta anterin Azam buat beli makan sih" sesal Nisa menepuk dahinya.


"Jadi ribet kan" imbuhnya sembari mengambil panci dan menuangkan air secukupnya.


"Buruan mendidih dong udah laper gue" ucap Nisa ngedumel tak jelas. Ia memotong beberapa cabai rawit, disaat lagi bad mood seperti ini sepertinya memakan makanan pedas sangat cocok.


Setelah beberapa menit berkutat kini semangkuk mie kuah tekah tersaji di meja makan. Nisa memakan lahap sampai tandas.


"Alhamdulillah kenyang" ucap Nisa mengelus perutnya.


Tok...tok..tok...


Nisa bergegas bangkit dari duduknya, tak lupa juga Ia mengelap bibirnya sehabis makan.


Tok..tok..tok..


"Sebentar" sahut Nisa saat ketukan di pintunya mulai terdengar beruntun.


Nisa memegang gagang pintu, memutar perlahan.


"Yola?" seru Nisa membulatkan matanya.


"Iyah Yola bukan setan. Biasa ae tu mata" celetuk Yola yang sedikit kesal dengan ekspresi Nisa yang sangat terkejut dengan kedatangannya.


"Em sini masuk" ucap Nisa mempersillahkan masuk.


Yola melenggang santai masuk ke dalam rumah Nisa di ikuti seseorang.


"Lho Ar lo juga kesini?" tanya Nisa terkejut.


"Iyaps"


"Oh ya gue lupa ngenalin, ini supir baru gue" sahut Yola cuek.


"Calon imam bukan supir" ralat Ardan tak terima.


Nisa melongo diambang pintu, entah apa yang sudah terjadi dengan keduanya sehingga bisa se akrab itu.


"Dih ngaku-ngaku"


"Ucapan adalah doa, siapa tau lima tahun ke depan terijabah"


"Sepuluh tahun lagi"


"Mau jadi perawan tua lo?"


"Ya kagak lah, sepuluh tahun tu lu nunggu janda gue" ucap Yola sambil tergelak.


Aradan menghela nafas sepertinya berdebat debgan Yola sama saja berdebat denngan emaknya, tak akan menang!!.


"Nis lo mau sampe kapan si jadi patung selamat datang? nggak mau buatin gue minum gitu?" cibir Yola mengipaskan-ngipaskan tangannya didepan wajahnya.


"Eh i..ya" ucap Nisa terbata. Sejak tadi Ia asyik menjadi pendengar setia sampai lupa untuk membuatkan minuman.


"Mau minum apa?"


"Tersererah" jawab Yola tak mau ambil ribet.


"Air comberan mau?"


"ya nggak gitu juga". sewot Yola menjengitkan bibirnya.


"Air putih aja Nis" timpal Ardan.


"Air kran rumah gue warnanya juga putih".


"Susah ya ngomong sama orang cerdas. Bikin orange jus aja deh" tandas Yola yang sudah hampir cacing kepanasan.


"Emang susah yah ngomong sama orang yang kebanyakan basa basi"


Yola memberikan cengiran manisnya.


Tak selang berapa lama Nisa kembali dengan minuman yang diminta Yola.

__ADS_1


"Emm lo ada apa kesini?" tanya Nisa sambari meletakan gelas minumannuyam.


"Gue mau mintaa maaf soal sikap gue tadi pagi"


Nisa menatap Yola bingung.


"'Maaf gue pergi ninggalin lo tanpa denger penjelasan lo"


Nisa tersneyum lega, dia pikir Ia akan galau sampai besok pagi memikirkan nasib Yola.


"Gue juga mau harus minta maaf karena udah ngecewain lo"


"Udah lah Nis lupain aja. Gue nggak mau persahabtan kita hancur haya karena lelaki"


"Syukurlah kalo lo masih berpikir waras"


"Tanpa Azam gue nggak bakalan mati kok. Jadi kenapa harus pusing"


"Gue doa in biar lo nemu seseorang yang tulus sayang sama lo" ucap Nisa penuh harap.


"Kayak gue misalnya" sambung Ardan penuh percaya diri.


"Ehm udah di kode tuh La"


"Biasalah fans gue tuh. Meski gue jomblo tapi banyak yang naksir tau nggak" jawab Yola bangga.


"Uluh..uluh..sekali sekali diresmikan jangan cuma TTM an" cibir Nisa sambil melirik Ardan.


"Nanti deh kalo ada yang cocok"


"Serah deh asal jangan lo mainin temen gue. Kasian belum pernah pacaran. Masak iya sekali dapet malah dapet yang fakgirls" tutur Nisa memperingatkan.


"Gue anak sholihah tau"


"Kebobrokan lo buang kemana?"


"Ke rawa-rawa"


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu memotong gurauan ketiganya. Nisa selaku tuan rumah segera bergegas menuju pintu.


"Siapa" tanya Nisa seraya membuka pintu.


Nisa membulatkan bibirnya, matanya membelalak lebar melihat tamunya.


"Hallo gadis kecil" ucap seseorang bertubuh kurus nan tinggi. Dia adalah si cungkring, preman yang beberapa waktu lalu menghadang Nisa.


Yola mengerutkan keningnya melihat tiga orang preman tengah berdiri di ambang pintu. Ardan sigap bangkit dari duduknya, nalurinya mengatakan jika Nisa dalam keadaan bahaya. Yola yang kepo pun ikut mendekati Nisa.


Nisa mundur selangkah, nyalinya menciut melihat tatto dan tubuh kekar preman yang dibawa si gendut dan si cungkring.


"Mau apa kalian?" tanya Nisa dengan suara serak. Wajahnya sedikit pucat karena takut. Bukankah Ia tak lagi dekat dengan Aldo? bahkan sekarang Aldo sudah memiliki ke kasih.


"Hahhah mau apa kau bilang? apa kau lupa telah membuat kami babak belur hah?" hardik si cungkring menatap Nisa tajam.


Nisa menelan ludahnya, tentu saja Ia masih mengingatnya. Bahkan peristiwa mengerikan itu kini berputar dimemori otaknya.


"Maaf aku hanya membela diri" ucap Nisa lirih. Ia tak mau memancing keributan dirumahnya.


"Maaf katamu? kau bahkan hampir membuat kami sekarat" bentak si gendut galak.


"Aku...aku hanya tidak suka jika ada yang menghina Keluarga ku" jelas Nisa membela diri.


"Hahaha kau pikir aku suka dikalahkan oleh gadis ingusan seperti mu?" ucap Si gendut dengan nada tinggi.


"Tolong bisakah kau jaga nada bicaramu?" ucap Ardan dingin. Ardan tak gentar sedikit pun jika harus mengahadapi lawan di depannya meski tidak sepandan dari segi fisik dan umur.


Nisa menghela nafas panjang, memutar otak agar bisa melawan ke tiga preman itu. Apa lagi dengan Yola dan Ardan di sampingnya. Ia tak ingin mereka celaka.


"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan" cerca preman yang bertubuh sedang.


"Maaf aku hanya tak bisa melihat seorang wanita direndahkan" ucap Ardan tegas.


"Sudah jangan banyak bacot" jawab si cungkring sambil menarik tangan Nisa paksa.


Ardan cekatan menahan gerakan si cungkring dengan tangan kanannya yang hendak menyeret Nisa.


"Nisa" teriak Yola histeris. Nisa sebisa mungkin untuk tenang meski takut sekaligus terkejut.


"Jangan ikut campur" gertak si cungkring geram menghentakan tangan Ardan.


Ardan tak kalah gesit ia memutar tangan si cungkring hingga membuat meringis si empunya.


Si gendut tak tinggal diam, Ia maju hendak ujuk tinju nya. Nisa kilat menendang perut si gendut.


"Yola minggir" seru Nisa.

__ADS_1


Yola menggigit bibirnya, Ia sedikit menjauh dari area yang kian memanas. Toh dia tidak berpengalaman dalam jual beli pukulan. Dirinya hanya akan menambah ribet.


Ardan melepas pegangannya lantas memgirimi pukulan di pipi kiri si cungkring hingga jatuh tersungkur.


Si gendung dan preman yang bertubuh sedang kompak maju menyerang Ardan.Mereka berdua mencekal lengan kiri dan kanan Ardan.


"Haha hanya segitu kah kemampuan mu?" tanya si cungkring bangkit dari jatuhnya. Ia tertawa puas melihat Ardan yang tak lagi berkutik.


"Dasar baj*ngan. Hadapi satu satu jangan keroyokan bangs*at" umpat Ardan memberontak.


"Cih aku tak ada waktu untuk melayani mu. Urusan ku hanya dengan bocah tengil ini"


"Apa kau tidak malu melawan perempuan?" sergah Ardan sinis.


"Aku urusan mu hah? lebih baik jangan ikut campur maka aku akan membebaskan mu"


"Lebih baik aku mati dari pada melihat perempuan tersakiti"


Mata Nisa berkaca-kaca, merasa bersalah dengan Ardan.


"Baiklah jika itu mau mu"


Si cungkring melangkah maju mendekati Ardan, bersiap mengirim pukulan.


Nisa tak tinggal diam, dia menyerang dari samping. Pukuoannya telak mengenai perut si cungkring hingga terjerembab jatuh saat tengah fokus pada Ardan.


"Arrg sialan kau" serunya geram.


"Sepertinya kau lupa, aku tak akan menyerah begitu saja. Apa lagi saat nyawa sahabat ku terancam jelas aku tak akan tinggal diam"


Nisa menendang perut si cungkring dengan keras preman itu saat Ia belum sempat bangkit.


Namun naas nya, preman itu dengan sigap menangkap kaki Nisa.


Yola menatap miris adegan di depannya. Ia bahkan tak bisa melakukan apa-apa.


Nisa meringis kecil saat cengkeraman dibetisnya semakin kencang, preman itu lantas memelanting Nisa dengan keras ke lantai.


Dug..


Nisa terjengkang jatuh. Yola sedikit syok melihat tubuh Nisa menghantam lantai.


"Bangs*at" teriak Ardan tersulut emosi.


Yola berlari ke arah dapur, Ia berinisiatif hendak keluar rumah mencari bantuan.


"Hey jangan biarkan dia lolos" ucap si cungkring menginterupsi. Si gendut segera melepas tangannya yang memegangi Ardan, Ia tergopoh mengejar Yola.


"Yola awas" teriak Nisa bersusah payah marangkak bangkit. Ia memegangi kaki si gendut yang hendak mengejar Yola.


"Dasar sampah" si gendut menendang pipi Nisa tanpa ampun yang menghalanginya.


Nisa merasakan perih di pipinya. Daras kental keluar dari sudut bibirnya.


Si preman bertubuh sedang tertawa lepas melihat Nisa yang lemah tak berdaya.


Ardan menolehkan tubuhnya ke samping, Ia bersiap memberikan bogem ke arah rahang preman yang memeganginya.


"Dugh"


Senyum dibibir si preman terbungkam sudah. Ardan segera meninju perutnya. Lantas membabi buta meninju wajahnnya tanpa jeda.


"Ar dan a..was" ucap Nisa terbata saat Si cungkring hendak memukul Azam dari belakang.


"Ar dan" ulang Nisa berusaha memperingati Azam. Namun mulutnya terasa perih dan nyeri membuat suara yang hanya keluar lirih.


Ardan tak mendengar peringatan Nisa. Ia fokus menghajar si preman yang bertubuh sedang itu.


Bughh


Punggung Ardan dihantam dari belakang oleh si cungkring.


Nisa memejamkan matanya tak sanggup melihat kejadian disekitarnya. Rasa nyeri di tubuhnya mengalahkan kekuatannya untuk bangkit.


Ardan tergeletak dilantai, punggungnya terasa nyeri seperti hendak lepas.


Satu pukulan mendarat lagi diperut Ardan yang tak sempat menghindar, punggungnya sepertinya retak.


Trap..trap..trap..


Suara seseorang yang berlari terdengar jelas dari arah beranda.


Nisa menggelengkan wajahya saat empat orang tergesa menuju ke rumahnya. Tiga orang saja sudah kewalahan apa lagi ditambah empat. Niat sekali preman itu hendak menghabisinya.


Nisa menitikan air matanya, sudah cukup hentikan. batin Nisa nelangsa.


"Jika kalian hendak membalas dendam cukuplah membunuhku saja. jangan mereka, Mereka sama sekali tidak bersalah" bibir Nisa bergetar hendak bersuara tapi mulutnya terkunci oleh rasa sakit.

__ADS_1


Dorrrr


satu tembakan terlepas. Si cungkring yang sedang menghajar Ardan mendadak berhenti melihat kedatangan ke empat tamu yang tak di undang itu..


__ADS_2