Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 30 Mencoba Ikhlas


__ADS_3

Langit yang semula cerah berubah menjadi mendung seiring dengan senja yang mulai merambat diatas cakrawala. Tidak ada mega, warna jingga senja tergantikan dengan warna kelabu, suram.


"Thanks Zen" Nisa melemparkan senyum manis kearah Zen yang telah seharian penuh menemaninya. Waktu menunjukan pukul lima lebih, mereka berdua memutuskan untuk pulang.


"Sama-sama"


"Mau mampir dulu?" tawar Nisa pada Zen sesampai dirumahnya.


"Gue langsung balik udah sore" tolak Zen halus, tubuhnya terasa lengket ingin segera dibersihkan.


"Okey hati-hati dijalan" Nisa melambaikan tangan mengantar kepergiannya.


Nisa melangkah masuk dengan gontai. Sepeninggal Zen, rasa sedih sekaligus kecewa menghampirinya lagi.


Raut wajahnya berubah ceria saat melihat Mamanya yang sudah berkacak pinggang diambang pintu rumahnya.


"Selamat siang Mama"


Dian menggelengkan kepalanya "Dari mana kamu Nisa? kenapa sampai sore baru pulang. Mama khawatir sama kamu" tanya Dian panjang lebar kecemasan mendadak hilang seketika, berganti kemarahan.


"Maaf Ma, Nisa tadi jalan-jalan dulu" sesal Nisa, keasyikannya dengan Zen membuatnya lupa mengabari Mamanya.


"Ya sudah yang penting kamu sudah pulang, kamu mandi gih biar seger"


"Iya Ma" Nisa menurut melangkah menuju kamarnya dilantai dua.


"Mama siapin makan yah?" seru Dian yang sejak tadi mengamati Nisa, ia menatap punggung Nisa yang berjalan menaiki anak tangga. Dian dapat menangkap wajah Nisa yang sendu, keceriaan yang ditunjukan padanya terlihat palsu.


"Engga perlu Ma, Nisa udah makan tadi. Nisa mau langsung istirahat aja Nisa capek" papar Nisa. ia memutar gagang pintu melangkah masuk.


Dian menghembuskan nafasnya perlahan, memberi Nisa waktu untuk sendiri. Ia memutuskan untuk menonton TV, mengusir kegundahannya.


Nisa mendekati jendela kamarnya. Ia menempelkan jari jemarinya, merasakan sensasi dingin disetiap setuhannya.


Ribuan titik air hujan sudah menghujam deras meluruh kebumi. Semilir angin tak mampu mengusir gumpalan awan hitam dilangit.


Nisa terpaku ditempatnya, mengingat kembali pertengkarannya dengan Yola. Bayangan Yola menari dipelupuk matanya, bergantian dengan bayangan Aldo. kenangan lama dengannya bermunculan kembali, memancing isak tangisnya.


"Hadirmu seperti senja yang hanya bisa kunikmati sesaat. Akan ada saatnya malam mengisi rantai waktu. Sama seperti hati, akan ada saatnya terisi dengan yang baru".

__ADS_1


Malam hadir lagi, membentuk rangkaian kisah baru. Sosok baru sudah hadir lagi, membuatnya harus melupakan masa lalu.


Nisa terbaring lesu diranjang, air matanya mengalir. Dia memejamkan matanya perlahan, menikmati kepiluan didadanya.


"Dalam diam ku pendam rasaku. Perasaan manusiawi yang tercipta dengan sendirinya. Dengan kesedarhaan yang kau miliki mampu menyentuh rasa cintaku. Andaikan hatimu dapat kusentuh, ingin kuraba hatimu agar kau tau akan hadirku. Namun nyatanya rasa itu bersifat abstrak, hanya bisa mengalir dan larut dalam pikiran. Meskipun terletak dalam pikiran namun mampu mengikat jiwa dan raga".


Di keremangan malam Nisa terlelap dari tidurnya. Dalam pejaman matanya, air mata masih mengalir turun, sakit dihatinya tidak berhenti saat dia tidur melainkan terbawa sampai ke alam mimpi. Mimpi yang memutar kembali kejadian tadi siang.


Tok..tok..tok..


"Nisa bangun sayang" ucap Dian lembut. Berulang kali mengetuk pintu namun tidak kunjung mendapat jawaban. Ia memanggil anak semata wayangnya lagi.


"Nisa".


" sebentar Ma" Nisa susah payah membuka suara. Sudah sejak ketukan pertama matanya terbuka. Kepalanya yang terasa pening membuat berat untuk membuka mulutnya. Dian masih sabar menunggu dibalik pintu.


"Boleh Mama masuk Nisa?" seru Dian gusar, ia khawatir terjadi sesuatu dengan Nisa.


"Iya Ma, pintunya tidak dikunci"


Seorang wanita paruh baya menyembul dari balik pintu, berjalan pelan mendekati Nisa menatap miris kearahnya.Nisa mengembangkan senyuman tipis, menyabut wanita tegar yang sangat dirindukannya.


Nisa memeluknya, menumpahkan air mata yang sudah terbendung disudut matanya.


Dian mendekap Nisa hangat, mengelus punggung Nisa yang bergetar. Nisa merasa bersyukur disela isak tangisnya, inilah yang Ia disukai dari Mamanya. Beliau tidak membutuhkan lisan untuk menjabarkan sebuah kesedihan, hatinya cukup tangguh untuk bisa merasakan kesedihan itu sendiri.


Nalurinya sebagai seorang ibu sangat kuat. Mama menangkup kedua pipi Nisa, menghapus tetesan bening dari bawah matanya. Melihat dengan penuh kasih sayang mengisyaratkan melalui tatapan matanya, mempersilahkan Nisa untuk bercerita.


"Aldo Ma"


"Kenapa dia?" Dian menggenggam kedua tangan Nisa erat, menguatkan.


"Dia.." jawab Nisa mengambang tidak kuat mengatakan fakta tentang Aldo dan Yola yang telah menjalin hubungan. Hatinya tidak siap menerima realita yang ada.


"Ujian akan datang dalam hidup. Sebuah penghalang akan datang dalam sebuah hubungan. Tapi yakinlah akan ada pelangi setelah hujan. Tidak ada terangnya cahaya pagi sebelum melewati pekatnya malam" tutur Dian lembut, meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Ia tidak menuntut Nisa untuk bercerita sekarang. Tetapi memilih menenangkannya terlebih dahulu.


Kesejukan mengaliri rongga dada Nisa, mendengar nasihat bijak dari Mamanya. Ia merasa lega, beban batinnya sedikit terkurangi.


"Kebahagiaan itu datang dari diri kita sendiri, jika kamu memutuskan untuk bahagia, saat ada sepotong hati yang akan datang atu pergi kamu akan tetap bahagia. Bahagia menyambut kedatangannya dan bahagia tersenyum ikhlas melepas kepergiaan. Mungkin hati itu bukan pilihan yang baik sehingga mengharuskan takdir menjauhkannya darimu"

__ADS_1


"Iya Ma" Nisa mengangguk lemah membenarkan semua perkataan Dian.


"Serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Cintai dulu Sang Maha Cinta, baru kamu cintai ciptaannya itulah sebaik baiknya cara mencintai agar tidak meninggalkan luka"


Nisa menghembuskan nafasnya pelan, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir Mamanya.


"Kamu mau cerita sama Mama?" ujar Dian setelah hening beberapa saat.


"Enggak Ma, Nisa mau nenangin diri Nisa dulu" elak Nisa, sebenarnya rasa kantuk sudah menyerangnya saat ia merasa nyaman dioekukan Mamanya.


"Ya sudah kamu ganti baju dulu terus makan. bau asem nih " seloroh Dian, ia menutup hidung mengejek.


Nisa meringis lebar, ia terlalu lelah hingga tidak sadar terlelap tadi sore. Ia bahkan masih menggunakan baju yang tadi pagi dipakainya.


Sekarang sudah pukul sepuluh malam, Dian tidak tega menyuruh Nisa untuk mandi. ia melihat tubuh Nisa yang terlihat lemah, ia tidak ingin putrinya sakit.


"Nisa ganti baju aja deh, abis itu mau langsung tidur aja"


"Kamu belum makan dari tadi sore Nisa"


"Masih kenyang Ma"


"Sedikit aja ya?" pinta Dian membujuk.


"Nisa capek, ngantuk pengen istirahat" rengek Nisa tidak mau kalah. Ia merasa lelah double ekstra, tidak hanya lelah fisik tetapi juga lelah pikiran.


"Ya sudah, tapi besok pagi jangan lupa sarapan"


"Oke siap bosku" seru Nisa senang, ia melangkah menuju lemari kayu jatinya, mengambil baju tidur berwarna pink bermotif bunga.


"Mama keluar dulu" pamit Dian.


"iya Ma" balas Nisa, ia sangat mengantuk sekarang. Berjalan tergesa menuju kamar mandi.


Seusainya berganti baju, ia membaringkan tubuhnya diranjang. Hatinya sudah merasa lapang sekarang. Malam ini dia memutuskan untuk bahagia, mengubur dalam-dalam masa lalunya. Membuang jauh perasaannya memilih fokus pada pendidikannya.


Nisa memejamkan matanya, ia terngiang lagi nasihat Mamanya.


"Ya Allah Ya Rabbi, Jadikanlah rasa kasih yang kau berikan dihati ini sebagai anugerah. Lindungilah gelombang hasratku agar senatiasa dibawah naungan Ridho-Mu. Berikanlah aku petunjuk agar aku tidak jatuh dalam kubangan nafsu rendah yang mengatasnamakan cinta".

__ADS_1


Nisa melantunkan doa dalam hati sebelum terlelap. Nisa ingin tidur yang cukup malam ini, agar besok bisa bangun pagi. Besok hari senin, dia tidak ingin terlambat.


__ADS_2