Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 94


__ADS_3

Kedua lelaki berpakain hitam-hitam itu membungkukkan badan saat tuan muda mereka masuk kedalam rumah Nisa.


Azam menyorot tajam dua orang yang terikat tak berdaya dilantai.


Ia perlahan mendekat, mengamati dengan seksama kedua preman tersebut.


"Apa yang kau lakukan hah?" tanya Azam dingin. Kemarahan tercetak jelas diwajah ovalnya.


Nisa yang berdiri dibelakang Azam sedikit merinding. Belum pernah sekalipun Ia mendengar Azam dengan nada tinggi seperti itu.


Tidak ada yang menyahut, kedua preman yang terikat menunduk dalam.


"Apa kalian bisu?" bentak Azam saat tak ada satu pun yang menjawab. Pukulan keras mendarat di kaki keduanya bergantian.


"Maaf tuan, tapi aku tak ada urusan dengan mu"


Azam mengangkat dagu si gendut yang baru saja menyahutinya.


"Seharusnya aku yang bertanya pada mu, apa urusanmu berada disini"


Keduanya tampak ragu hendak menjawab.


"Oh tampaknya kalian mau main-main dengan ku" Azam menyeringai jahat.


"Ka..kami hanya ingin membalas dendam pada gadis itu" sahut Si gendung akhirnya membuka suara.


"Apa kau tidak malu sehingga mengeroyok perempuan?"


"Tapi kami tidak mau dikatakan bodoh oleh tuan kami karena dikalah kan perempuan"


"Siapa tuan mu?"


Keduanya membisu, saling tatap satu sama lain.


Azam mengeluarkan pisau lipatnya dari saku.


"Apa perlu aku menguliti mu hidup-hidup agar kalian mau membuka suara?"


Kedua preman menatap ngeri, keduanya lantas mengedipkan matanya saling mengode.


Azam semakin tak sabar Ia mendekatkan pisaunya ke leher si gendut.


"Ampun tuan jangan bunuh aku. Istriku tengah hamil dan kami mempunyai dua anak kecil lainnya" rengek si gendut tampak ketakutan.


"Waah tersnyata kau suda beristri tapi kenapa kamu masih berani menyakiti perempuan?


"Kami khilaf"


"Khilaf atau kalian memang tidak punya otak?" ucap Azam sinis.


Nisa meremas jari jarinya. Jantungnya berdegup kencang. Azam yang biasanya bersikap ramah serta humoris sekarang berubah menjadi manusia psikopat.


Lagi..lagi keduanya terdiam.


"Apa tujuan kalian mencelakai Nisa?"


"Bos kami menyuruh agar kami membuat Nisa tak lagi mendekat dengan Aldo. Namun sayangnya Nisa malah mengajar kami habis-habisan. Saat itu bos kami marah karrna mengira kami gagal, lantas kami berinisiatif untuk memberi pelajaran pada Nisa lagi"


"Siapa yang menyuruh kalian?"


Keduanya tampak ragu hendak mengatakan.


"Cepat katakan sebelum kesabaran ku habis"


"Baik..baik...Bos kami adalah Nona Filla" ucap keduanya kompak.


"Apah? Filla?"


Keduanya mengangguk serempak.


"Nafilla Amalia maksudmu?"


"Ya" jawab si cubgkring tegas.


Nisa meluruhkan tubuhnya diatas sofa. Ia sama sekali tak menyangka. Perasannya benar-benar terpukul telak.

__ADS_1


Azam mengepalkan tangannya, senyuman licik terukir dibibirnya.


"Kayaknya lo perlu dikerasin dikit biar sadar Fill" batin Azam sembari menahan emosinya.


Azam meilirk Nisa sekilas, kemarahanya semakin memuncak. Ia perlahan mendekati Nisa yang sedang syok melamun di di sofa.


"Nis" panggil Azam lembut .


"Nisa" Azam memegang lengan Nisa untuk menyadarkan.


Nisa tak bergeming, pandanganya lurus ke depan.


"Salah gue apa sih Zam" tanya Nisa lirih.


Azam memeluk Nisa dari samping, Ia tahu perasaan kekasihnya pasti sedang hancur tak berbentuk.


"Lo nggak salah, dianya aja yang terlalu terobsesi"


"Gue nggak pernah sedikit pun godain Aldo, dia sendiri yang deketin gue"


"Gue tau, lo cewek baik-baik"


"Kenapa dia benci bnaget sama gue Zam"


"Dia udah dibutakan oleh cinta"


Nisa menyandarkan kepalanya di dada Azam. Sungguh Ia lelah sekarang.


"Lo tenang aja gue tau menyadarkan manusia iblis kayak dia"


Nisa tak bersuara, batinnya terluka parah.


"Apa yang mau lo lakuin buat bales manusia sampah kayak mereka?" ucap Azam menunjuk kedua preman di depannya.


Nisa menggeleng tipis, Ia tak mau menyakiti siapa pun Ia hanya ingin hidup damai.


"Nisa jawab gue, bilang sama gue apa yang harus gue lakuin biar lo puas"


Nisa menggeleng lagi.


"Lepasin"


"Lepasin mereka Zam" tutur Nisa lirih.


"Dia udah nyakitin lo Nis"


"Urusan kita sama Filla bukan mereka"


"Secara tidak langsung mereka ikut andil Nis"


"Zam gue mohon. Gue nggak mau dendam ini semakin berlarut. Yang terpenting sekarang kita udah tau siapa dalangnya, bebasin meraka Zam"


"Gue nggak ngerti jalan pikiran lo Nis"


"Gue capek.Gue nggak mau ada orang yang terluka lagi. Kita selesaikan baik-baik semuanya"


Azam tersenyum kecut,


"Bebaskan mereka" perintah Azam tegas pada anak buahnya.


"Baik bos" mereka pun menurut melepaskan ikatan pada kedua preman tersebut.


"Ini peringatan buat kalian berdua, sekali lagi kalian berulah gue abisi nyawa lo dua" ancam Azam menatap tajam.


"Nona maaf kan kami, tidak seharusnya kami menyakiti orang sebaik anda" ucap si cungkring merasa bersalah.


Nisa memaksakan senyumnya.


"Jangan diulangi lagi yah" peringat Nisa berusaha tenang.


Keduanya mengangguk, lantas permisi untuk pergi.


Azam merogoh saku celana jeansnya.


"Cari orang ini dan bawa ke markas" ucap Azam dingin seraya menyerahkan foto Filla pada pengawalnya.

__ADS_1


Mereka mengangguk paham.


"Siap bos"


"Gue mau malam ini udah smapai ke tangan gue"


"Beres bos. Tapi gaji kita double kan?"


"Cih, kalian bahkan tak becus menjaga Nisa".


Sang pengawal menelan ludah.


Nisa mengelus ounggung tangan Azam.


"Kata kata lo terlalu kasar gue nggak suka" ketus Nisa cuek.


"Lo hampir celak gara-gara kerja mereka lamban"


"Ssttt" Nisa menempelkan jari manisnya dibibir Azam.


"Mereka manusia bukan robot tentu saja punya kelemahan. Tapi setidaknya mereka udah berusaha yang terbaik Zam"


Azam menatap Nisa intens, gemas sekali dengan sifat Nisa yang terlalu baik.


"Oke, gue kasih triple gaji lo semua kalo berhasil nangkep wanita iblis itu"


Senyuman lebar merekah pada para pengawal Azam.


"Kita doa in tuan langgeng sama Non Nisa" ucap salah satu pengawal.


Nisa tersenyum manis.


"Makasih".


"Bisa happy-happy ntar makem kita" sahut yang lainnya


Azam mencebikan bibirnya merasa dimanfaatkan.


"Udah sana kerja"


"Siap laksanakan" balas mereka serempak lantas melenggang pergi.


"Cepet beresin bentar lagi Mama gue pulang" ucap Nisa memerintah Azam.


Azam menepuk jidatnya melihat sofa dan noda darah yang berceceran. kenapa tadi Ia tidak meminta salah satu dari mereka untuk membereskan.


Nisa membekap mulut Azam yang hendak meminta mereka kembali


"Lo beresin sendiri. Jangan nyuruh mulu"


Azam menurunkan tangan Nisa.


"Percuma dong bayar mereka kalo hidup gue masih susah"


"Oo lo keberatan? oke gue bisa beresin sendiri"


"Jangan..jangan..oke gue beresin" ucap Azam cepat.


"Lo masih sakit, istirahat aja di kamar" sambung Azam.


"Nah gitu. Kalo udah selesai lo langsung pulang"


"Lo ngusir gue?"


"Iya. Gue nggak mau dituduh macem-macem sama Mama karena berduaan sama cowok"


"Yaelah jahat banget lo Nis"


"Capek gue jadi orang baik disakitin mulu"


Azam mengembuskan nafas pasrah.


"Iya udah deh nggak papa. Dari pada lo dimarahin gue lebih nggak tega"


"Ututu jadi sayang" balas Nisa mencubit kedua pipi Azam.

__ADS_1


"Makasih"


Azam mengacak rambut Nisa, apa pun akan dia lakukan asal wanitanya bahagia.😊


__ADS_2