Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 40


__ADS_3

Nisa menyandarkan tubuhnya pada tembok, tangannya terlipat takzim di dada. Jam pelajaran sudah lima belas menit usai namun seseorang yang di tunggunya tak kunjung menampakan batang hidungnya. Nisa menatap awas kedalam ruang X IPS 2 melalui pintu yang terbuka separuh. Ia memejamkam matanya, menunggu dengan sabar si kutu kampret.


Samar-samar Ia mendengar derap langkah kaki. Nisa membuka matanya sipit, mengintip siapa yang baru saja lewat. Ia membuka mata dengan sempurna saat sosok itu lewat didepannya.


"Ehm...ehmm" Nisa berdehem agak keras, menyindir seseorang yang tanpa dosa melaluinya begitu saja.


Ardan menghentikan langkahnya, membalik badannya dengan malas menghadap Nisa yang sudah tertinggal dua meter. Sontak Fian ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa Ar?" tanya Fian tidak mengerti mengapa Ardan tiba-tiba berhenti.


"Ada mak lampir dibelakang kita"


"Aduh" Zen mengusap dahinya yang tanpa sengaja menabrak dahi Ardan yang mendadak membalikan badannya.


Ardan menggeser paksa tubuh Zen yang menutupi Nisa. Zen menjadi penasaran, Fiam antusias untuk menguping. Aldo was-was dengan apa yang akan dilakukan Nisa dan Ardan.


"Kenapa Nis" sapanya cuek. Ia sedikit berteriak dari tempatnya berdiri. Hidungnya mencium aroma mencurigakam dari raut wajah Nisa yang memutar malas bola matanya saat melirik sekilas dirinya.


Nisa bersiul kecil mengabaikan panggilan Ardan pura-pura tidak mendengar.


"Lo abis makan apaan sih kenapa mendadak jadi budeg?"


Nisa mengerucutkan bibirnya, mendengar kata budeg terlalu kasar untuk ukuran Ardan yang kalem. Ia menghela napas kasar saat melihat Fian yang menoel perut Ardan. Pasti teman laknatnya itu sudah mengambil kepolosan Ardan sehingga menjadi tengil.


"Kalian balik duluan aja, gue mau meruqyah Mak lampir dulu" seru Ardan mengalah, Ia pun mendekati Nisa.


"Lo mai gue bukain pintu ke syurga nggak?" tanya Nisa sesampai Ardan didepannya.


"Mau, gimana caranya?" Ardan semangat menanggapi Nisa.


"Tepati janji lo" Nisa mencubit keras perut Ardan.


"Berani ya lo sama gue? mau gue jadiin abon hah?"


"Awww sakit Nis" Ardan meringis kesakitan, cubitan Nisa menembus sambai daging.


"Minta maaf nggak?" Gertak Nisa yang melotot galak kepada Ardan, Ia memperdalam cubitannya melihat Ardan yang hanya diam meringis.


"Iya..iya..tapi lepasin dulu" Ardan menarik tangan Nisa agar terlepas dari dari perutnya yang justru membuat Nisa semakin kencang mencubitnya.


"Minta maaf dulu"


"Iya gue minta maaf"


Nisa tertawa puas melihat kesakitan yang amat sangat diwajah Ardan.


"Ini peringatan buat lo kalo berani ingkar janji sama gue" Nisa melepas cubitannya. Fian melongo melihat Ardan yang tampak akrab dengan Nisa. Zen hanya menggelengkan kepalanya selalu saja Nisa mencari gara-gara. Aldo melangkah pergi menuju parkiran sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, hatinya terasa perih.

__ADS_1


"Gue hampir sekarat masih aja lo nagih janji" Ardan memdengus kesal, perutnya terasa nnnyeri hendak putus.


"Itu salah lo karena berani ngacuhin gue" Nisa mengangakat dagu Ardan dengan satu tangannya. Tepat saat Ardan mendongak Nisa membulatkan matanya sempurna.


Ardan menelan salivanya pelan, Apa ini yang dinamakan manusia keturunan nenek sihir? kok lebih serem dari demit yah? batin Ardan berdigik ngeri. Bulatan sempurna mata Nisa seolah tampak ingun copot. Ardan menengadahkan tanganya tepat dibawah kelopak mata Nisa.


"Lo ngapain?" Nisa menepis kasar tangan Ardan dari wajahnya.


"Gue takut mata lo mau copot makanya gue tadahin biar nggak nggelinding kemana-mana" Ucap Ardan polos.


"Kayaknya lo nggak cukup puas kalo cuma sampe sekarat, mau jadi Almarhum sekalian?" Nisa mengepalkan tangan kananya mengacungkan tepat diwajah Ardan.


"Gue kan cuma mau bantuin lo biar nggak susah payah cari mata pas lepas" Sanggah Ardan cepat, ia melihat kepalan tangan Nisa seperti bom molotov yang siap meledak kapan saja.


"Coba lo ulangi langi? kayaknya bener deh kata lo gue mengidap kebudekan akut"


"Eh itu Gue tadi cuma emm bilang mau nraktir lo makan siang kok" elak Ardan terbata, Ia melihat kedua sungut Nisa yang mulai tumbuh tak kasat mata diatas kepalanya.


"Oh itu gue kira lo mau nyuruh gue buat ngantern jenazah lo kerumah Mama lo"


"Hehehe enggak kok, ya udah kita pulang yah" pinta Ardan memutuskan, berdua dengan Nisa sama saja nekat uji nyali untuk bunuh diri.


Nisa menurut melangkah mendahului Ardan sedangkan Ardan sendiri menghembuskan napas lega, malaikat maut tidak menjemputnya hari ini.


Nisa berdiri tegak dibelakang motor Ardan.Ia tersenyum manis. mempersilahkan Ardan untuk mengambil motornya. Ardan memberikan helm cadangan yang selalu Ia bawa. Sengaja Ia membawa dua helem untuk mengantisipasi jika nanti ada siswa lain yang ingin menumpang pulang bersama.


"Nih lo pake dulu"


"Nis gue enggak mau berurusan sama polisi, buruan deh lo pake" tegas Ardan.


Nisa menunjuk kepalanya sendiri.


"Apa?" tutur Ardan semakin tidak mengerti.


"Lo enggak peka banget sih, gue jamin lo jadian pagi malem udah putus" ketus Nisa.


"Gimana gue mau peka lo aja enggak ngomong apa-apa. Gue mana tau bahasa isyarat Alien"


"Maksud gue pasangan helm buat gue Ardan" Nisa berseru kesal. Ingin hatinya terkesan romatis namun malah berakhir miris.


"Ogah" Ardan memundurkan motornya tidak peduli dengan tatapan kesal Nisa.


"Oke nggak papa lo nolak gue asal jangan salahin gue kalo lo sehabis pulang dari rumah gue muntah darah"


Ardan terlonjak kaget, nyalinya menciut mendengar ancaman Nisa.


Ia terpaksa turun dari motornya mengambil helm cadangan yang tadi ditolak mentah-mentah oleh Nisa memasang dikepala Nisa dalam sekali sentakan.

__ADS_1


"Udah puas sekarang?"


Nisa membenarkan posisi helmnya yang sedikit miring. Ia menarik ujung seragam Ardan yang hendak menaiki motornya.


"Apa lagi Nisa?"


"Ini?" Nisa menunjuk helmnya yang belum dikaitkan.


Ardan mendekati Nisa mengakitkan helmnya.


"Anj*r sumpah Nisa keren banget. Ardan aja sampe bertekuk lutut sama dia" celetuk Fian, ia menyenggol lengan Zen.


"Tuh anak kesambet apa sih kenapa bisa nurut gitu sama Nisa?" Tanya Zen yang juga penasaran. Mereka bertiga melihat Ardan yang mau mengalah untuk turun membenarkan helm Nisa.


Aldo sedikit terkejut hatinya berdesir pelan.


"Iya pesonanya benar-benar ajaib. Lo aja kemaren sampe pontang panting nayariin dia" timpal Fian sengaja mengompori Aldo yang berdiri disampingnya.


Zen tidak tanggung-tanggung menjitak kepala Fian.


"Itu karena gue bertanggung jawab sama anak orang. Gue yang bawa pergi ya jelaslah gue yang bawa pulang" Sanggah Zen, ia tidak ingin mendapat amukan dari Aldo yang dia rasa pasti sudah terbakar api cemburu.


"Sama aja kan lo takut kehilangan dia"


"Jangan baper lo" Zen berseru ketus. Ia melihat Aldo yang menegang menahan amarah.


Aldo melangkah cepat menuju parkiran mobilnya. Dengan singkat langsung meluncur pergi.


Nisa melambaikan tangan kearah Fian dan Zen yang masih bergosip ditempat parkiran.


"Gays mau ikut kita makan siang nggak? Ardan yang traktir hari ini" Seru Nisa sambil berteriak karena Ardan tidak menghentikan motornya saat berpapasan dengan Fian dan Zen.


"Mereka jadian?" ucap Fian menyakinkan dirinya tidak salah dengar.


"Ga tau" ucap Zen yang juga mendengar dengan jelas ucapan Nisa.


"Kenapa ada acara makan-makan?"


"Ga tau, susulin yuk" imbuh Fian lagi.


"Tapi Aldo gimana?"


"Nanti kita kasih tau hasil akhirnya aja" tawar Fian memberikan solusi.


"Okey ide bagus"


"Ayok gercep jangan sampe ketinggalan"

__ADS_1


"Gasss".


Mereda berdua dengan kilat mengambil sepeda motor masing-masing mengejar Nisa dan Ardan.


__ADS_2