Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 16 Penasaran ( Lagi)


__ADS_3

Tiga jam mata pelajaran terakhir, suasana kelas terlihat senyap. Penghuninya sudah kehabisan energi setelah mengikuti 8 jam mata pelajaran.


Nisa menopang kepalanya dengan satu tangan, Filla menyandarkan badannya pada sandaran kursinya.


Tok..tok..tok


Tampak pintu dibuka dari luar, Aldo melangkah masuk ke kelas X IPS 3.


"Permisi" ucapnya sopan.


Sontak semua ciwi ciwi membuka matanya lebar, menatap Aldo dengan histeris.


"Itu Aldo si murid baru?" ucap salah seorang siswi pada teman sebangkunya.


"Iya bener, ganteng juga yah?"


"Ganteng banget gila, kenapa nggak masuk kelas kita aja sih" ucapnya lagi.


"Iya nih kenapa harus masuk IPS 2 " sesalnya.


"Ya ampun my handsome husband" ucap Filla ikut membicarakan Aldo, matanya tak berkedip melihat seseorang yang baru saja masuk kedalam kelasnya.


Icha tersenyum melihat ulah sahabatnya. Sebenarnya dia juga senang melihat Aldo, tetapi dia tidak berani menampakannya. Icha tidak ingin merusak momen bahagia milik Filla, dia berjanji akan menyimpan rapat perasaannya. Dia ikhlas jika harus mengalah untuk sahabatnya.


"Lo ngapain kesini?" ucap Yola heran melihat kedatangan sepupunya.


"Nyasar lo?" imbuhnya.


"Enggak kok emang sengaja mau kesini"


"Mau ngapain?"


"Mau ketemu sama lo, gue kangen nih" Aldo mengabaikan beberapa siswi yang terang terangan menatap kearahnya, menatap penuh harap agar Aldo mau melirik dirinya.


Serempak semua mata menuju pada Yola, mereka belum tau hubungan darah antara Yola dengan Aldo. Yola sengaja menyembunyikannya agar tidak menarik perhatian siswi disekolahnya. Dia tidak mau didekati hanya untuk jembatan temannya yang ingin PDKT dengan Aldo, hal itu akan membuatnya risih. Yola hanya ingin berteman dengan seseorang yang tulus berteman dengan dirinya.


"Ketua X IPS 3 siapa? tanya Aldo sesampainya di meja Yola. Yola menunjuk Azam.


"Kenapa?".


"Kepo lo" Aldo berjalan mendekati Azam kemudian menyerahkan selembar kertas yang berisi soal tugas.


"Ini tugas dari Bu Mia"


"Emang Bu Mia kemana?"


"Bu Mia lagi ada rapat "


"Kok bisa tugasnya sama lo?"


"Tadi gue abis dari kantor buat ngumpulin tugas, malah sekalian dititipin tugas dari Bu Mia buat X IPS 3 makanya gue kesini"


"Okey thanks".


"Sama sama" Aldo pun bergegas undur diri. Semua guru sedang mengadakan rapat pleno kemungkinan dirinya juga akan diberikan tugas dari guru mata pelajaran yang mengajar dikelasnya.


"kok buru buru? ngobrol bentar bisa nggak?" ucap sesorang siswi yang duduk didekat pintu. Saat Aldo hendak keluar, otomatis dia melewatinya.


"Iya nih, ada tugas juga" Aldo tersenyum ramah.


"Sebentar aja kok"

__ADS_1


"Maaf gue nggak bisa, lain kali yah" tolak Aldo sehalus mungkin. Aldo mempercepat langkahnya keluar kelas.


"Hiiih ganteng tapi kok sombong banget" ucap siswi yang baru saja menyapa Aldo.


Yola berdecak heran melihat kelakuan Aldo, sifat cueknya tidak berubah. Seharusnya sebagai siswa baru Aldo harus menjaga image nya agar terlihat good looking.


Nisa yang mendengar penolakan Aldo tersenyum lebar.


"Rasain, makanya jangan ganjen" batin Nisa.


"Yola memicingkan matanya menatap Nisa, lo ngapain senyum senyum sendiri?". Yola menatap sekitarnya, tidak ada hal yang menurutnya lucu.


"Nggak papa kok, cuma lagi seneng aja"


"Kenapa?"


Nisa mengendikan bahunya tidak peduli.


"Kenapa sih?"


"Emang bener yah kata Aldo lo itu manusia kepo"


"Nisa gue bukannya kepo, cuma takut kalo lo lagi kesambet setan"


"Please deh La berapa kaki gue bilang, nggak ada setan disiang bolong begini lo jangan parno deh"


"Yee siapa tau aja, emang lo bisa liat"


"Gue emang nggak bisa liat setan tapi gue bisa liat ratu iblis"


"Ngaco lo?" tanya Yola tidak percaya dengan Nisa.


"Maksud lo?"


"lo punya cermin kan?


"Iya?"


"Lo bisa liat ratu iblis lewat cermin"


"Lo serius?" Yola masih tidak percaya.


"serius lah" Ucap Nisa yakin seratus persen.


"Lo coba aja kalo nggak percaya"


Yola mengambil cermin dari laci mejanya. Kemudian berkaca, tetapi Yola tidak melihat apa yang dikatan Nisa, ia hanya melihat pantulannya sendiri.


"Gue nggak liat apa apa Nis".


"Cermin lo eror kali"


"Nis, jangan bikin gue bingung dong" Yola masih penasaran meski takut jika nanti dia bisa melihatnya secara langsung.


" lo yakin nggak liat apa apa?"


"Iya"


"Gue cuma lihat pantulan diri gue sendiri" lanjut Yola.


"Nah yang lo liat itu yang gue maksud ratu iblis" Ucap Nisa sambil tertawa terbahak bahak, menertawakan kepolosan Yola yang mau saja mengikuti sarannya.

__ADS_1


"Sialan lo" Yola mencubit lengan Nisa dengan keras.


" Aww sakit la" Namun ekspresi wajah Nisa tidak berubah kesakitan, malah terlihat bahagia dengan mulut masih sibuk tertawa.


Yola melipat tangan didadanya, memikirkan sisat untuk balas dendam dengan Nisa. Namun rasa dendam dihatinya dikalahkan oleh rasa penasaran dirinya.


kenapa mood Nisa cepat sekali berubah ubah? Saat menuju kekantin wajahnya sangat ceria, namun sesampainya dikantin ekspresi wajahnya terlihat marah. Saat bertengkar dengan Filla, emosi terlihat jelas menguasai dirinya, sebentar kemudian Nisa menundukan wajahnya muram, bahkan matanya terlihat berkaca kaca.


Sekarang Nisa mendadak tersenyum seorang diri? bahkan wajahnya berubah ceria secara mendadak.


Yola melihat dirinya sendiri, dari ujung kepala hingga kakinya, tidak ada yang salah dengan dirinya. kemudian menatap kesamping kanan kirinya mencari sesuatu yang menurutnya lucu, nihil. Yola menatap Nisa intens,mencoba menembus isi kepala Nisa.


Apa semua ini ada hubungannya dengan Aldo? Nisa mendadak berubah marah saat dirinya bertemu Aldo, berubah sedih saat Filla antusias bertemu Aldo, dan sekarang dirinya mendadak ceria saat Aldo menolak permintaan teman satu sekelasnya.


Nisa yang sadar sedang diamati menatap balas kearah Yola, Menjentikan jarinya tepat diantara kedua bola mata Yola.


"ngapain sih liatin gue kayak gitu?"


"Hah?" Yola tersadar dari lamunannya.


"Enggak papa kok" ucapnya kelabakan.


"Enggak ada apa apa tapi lo liatin gue nggak kedip gitu? cecar Nisa curiga.


"Pengen aja" jawab Yola sekenanya. Belum sepenuhnya sadar, pikirannya masih melayang diangkasa.


"Yakin nih?".


"I...ya" ucap Yola terbata.


"Lo nggak lagi berhayal aneh anehkan tentang gue ?"


"Ya enggak lah emang gue mesum"


"gue kan nggak bilang kalo lo mesum?"Nisa menaikan satu alisnya.


"Ya siapa tau aja kalo lo mikir gue lagi berhayal yang enggak enggak"


"berarti pikiran lo yang kotor" tangkas Nisa cepat.


"Terus yang "aneh" menurut lo apa?"


"Ya siapa tau aja kalo lo lagi berkayal kencan bareng gue"


Yola menggebrak mejanya pelan.


"Lo pikir gue lesbi?".


"Hahhha becanda la" ucap Nisa tanpa dosa.


Yola memegang kepalanya dengan kedua tangannya, stres berlama lama duduk sebangku dengan Nisa.


"Yola".


Yola menoleh kesamping, dilihatnya Azam sudah berdiri didekatnya.


"Lo tulis dipapan tulis, tugas dari Bu Mia" ucap Azam memerintah Yola selaku seketaris dikelasnya, tak luput senyum manis bertengger dibibirnya.


"Oke". Yola menerima kertas yang diberikan Azam dengan senang hati.


Senyuman Azam meredakan emosinya, berganti dengan keceriaan menyelimuti hatinya. Yola melangkah pelan menuju papan tulis, tangan kirinya memegang dadanya yang berdetak lebih cepat. Apakah bahagia hanya sesedarhana ini? hanya sebuah senyuman tetapi bisa mendebarkan hati.

__ADS_1


__ADS_2