Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 23 Kecewa


__ADS_3

Disebuah kamar berukuran 5x6 meter. Nisa melangkahkan kakinya menuju bwnda trasnparan disamping kanan ranjang tidurnya. Pandangannya tertujubpada titik-titik air yang menempel dikaca jendela, malam ini hujan turun lagi. Ia tempelkan kedua telapak tangannya dikaca jendela, rasanya seperti mengalirkan sensasi dingin yang menyegarkan pikiran. Berbagai macam peristiwa yang masuk kedalam otak menjadi sebuah memori, memori yang Ingin Ia hapus bila saja ia mampu melakukannya.


"Apa gue salah?" Pertanyaan itu muncul lagi saat bersamaan kenangan buruk tadi siang berputar kembali di ingatannya.


Nisa mengambil ponsel di bad cover temoat tidurnya, hendak meminta maaf sekali lagi pada Yola. Ia mengetikan nama sahabatnya lalu menekan menu send.


[Nisa] Yola


Lima menit berlalu. Pesan terkirim yang semula ceklist satu kini berubah menjadi ceklist dua. Nisa menggigit bibir bawahnya, berharap akan ada pesan balasan.


Sepuluh menit menunggu, warna ceklist yang abu-abu masih tetap sama tak kunjung berubah biru. Menit terus berlalu, tiga belas menit kemudian Nisa tidak sabar memeriksa pesannya kembali, dilihatnya tulisan ON LINE terpampang jelas di WhatsAap Yola.


Tepat di menit ke lima belas, tanda Ceklist dipesan yang ia kirim berubah warna menjadi biru, harapan besar tumbuh kembali.


Setengah jam berlalu, harapannya mulai kempis. Ia mengepalkan tangannya, geregetan dengan pesan yang kunjung berbalas. Nisa memutuskan menyepam chat.


[Nisa] Yola, gue minta maaf soal yang tadi😔


[Nisa] Gue nggak bermaksud ngehina Lo.


[Nisa] Gue cuma becanda .


[Nisa] La😣


[Nisa] please bales chat gue 😢


[Nisa] Y****ola


[Nisa] Lo on line tapi nggak bales chat gue, Lo marah sama gue?


[Nisa] gue bener-bener nggak sengaja gue minta maaf


[Nisa] Gue khilaf😓


Satu jam berlalu dengan cepat, Nisa masih sabar menunggu balasan pesan dari Yola. Selama satu jam pula Nisa menahan untuk tidak mengumpat. Ternyata menunggu kabar nggak seenak es doger. Nisa menghempaskan tubuhnya diranjang, merasa jengah menunggu kabar tanpa kepastian. Ia pun memejamkan matanya.


"Ya ampun gue lupa" Nisa menghentakkan tubuhnya dengan keras, menegakkannya kembali. Ia sibuk memikirkan Yola, sampai melupakan hari ukang tahun Aldo. Ya besok hari minggu, hari ulang tahun Aldo juga. Ia belum mempersiapkan apapun baik dress maupun kado untuknya.


"Tapi tunggu..." Nisa menyadari sesuatu.


Yola bahkan belum mengirim undangan pesta ultah apa Aldo enggak ngerayain?" .


Nisa memutar otaknya, mengingat siapa teman dekat yang bisa dimintai informasi.


"Aaah gue tau" seru Nisa girang.


[Nisa] P


[X] Iya? kenapa Nis


[Nisa] aldo besok ultah dia ngrayain nggak?


[ X ] iya Nis. kenapa?


[Nisa] Lo besok berangkat sama gue yah?


[X] temen temen lo pada kemana?


[Nisa] Udah gue buang ke rawa rawa


[X] jahat bener Tan


[Nisa] becanda, gue cuma mau dateng sama lo.


[X] Ngaco? Abis ketimpuk apaan lo?

__ADS_1


[Nisa] Gue serius. Lo dateng sama gue yah?


[X] idih kagak mau gue


[Nisa] please mau dong


[X] ogah


[Nisa] mau dong😢


[Nisa] Ya ya ya?😄 please


[X] lo kesambet apa sih kok aneh gitu


[Nisa] Aneh gimana kan lo temen gue emang salah kalo gue ngajak temen sendiri?


[X] sejak kapan kita temenan?


[Nisa] Sejak tadi😁


[X] Ya udah deh


[Nisa] Okey sip


[X] hmm


[Nisa] besok jemput gue juga yah


[X] Anj*r ..emang gue body guard lo main suruh-suruh aja


[Nisa] 😢


[X] iya2 gue jemput. Jam 8 lo harus udah siap.Nggak boleh telat.


[Nisa] Siyap bos q


Nisa meletakkan ponselnya sambil menciuminya berulang kali. Bersorak sorai atas ide briliannya. Nisa memasang alarm pukul enam pagi.


Nisa menguap lebar, merentangkan kedua tangannya. Rasanya baru sebentar ia tertidur. Nisa bersemangat membuka lemari pakaiannya, menjelajahi jajaran dress yang digantung rapi. Pilihannya tertuju pada dress berwarna Navy, warna kesukaannya. Ia bergegas menuju kamar mandi.


Tak selang beberapa lama ia telah selesai membersihkan diri. Mengambil semua alat make up nya dan memakai secara acak. Sebuah blush On warna merah muda menyapu pipi tirusnya. Ia mengambil lipstik dengan warna yang sama agar tidak terliihat mencolok. Ia menatap pantulan dirinya dicermin, puas dengan hasil karyanya.


Nisa menuruni tangga dengan senyum lebar 360 derajat.


"Ma" panggil Nisa sembari menepuk pundak Mamanya.


"Iya Nisa" Dian terlonjak kaget, sedari tadi dia asyik menikmati wajah cantik anaknya yang sedang menuruni tangga.


"Masih pagi kok udah ngalamun Ma" cibir Nisa.


"Masih pagi kok udah dandan rapi Nis" Dian balas mencibir Nisa.


"Mau keluar sebentar Ma"


"Kemana?" tandas Dian.


"Ke rumah Aldo"


Dian mengernyitkan dahinya, nama Aldo tidak asing ditelinganya.


"Aldo?"


"Iya Aldo Ma"


"Aldo yang ma....."

__ADS_1


"Iya" Sergah Nisa memotong ucapan Dian, Mamanya pasti akan senang membully nya.


Dian tertawa keras melihat ekspresi cemberut diwajah Nisa.


"Ma" ucap Nisa kesal dugaannya benar terjadi.


Diam menutup mulutnya.


"Tapi kenapa pakai dress?" tanya Dian masih disela-sela tawanya.


"Aldo ultah Ma, Nisa mau dateng ke pesta perayaannya"


"Oo begitu, syukurlah"


"Buat apa Ma?"


"Ya bersyukur aja dateng ke pesta ultahnya bukan ke pesta pernikahannya, bisa syok nanti kamu"


"Mama" Nisa menggerutu kesal.


"Iya sayang, Mama becanda" Ucap Dian sambil mengacak pucuk kepala Nisa. Meski sudah usia remaja, tapi Nisa masih terlihat seperti gadis kecil yang menggemaskan dimatanya.


"Kamu mau sarapan?" tawar Dian mencoba mencairkan ketegangan.


"Iya" balas Nisa cuek


"Mama siapin dulu yah"


"Iya"


"Mau makan apa?"


"Terserah"


"Kok terserah?"


"Biarin"


"Emang terserah bisa bikin kamu kenyang?


"Mama" seru Nisa dengan sedikit berteriak.


"Peka dikit dong" lanjutnya lagi.


Dian mengalah, ia mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Nisa, disusul piringnya sendiri.


Melihat nasi goreng yang kecoklatan membuat selera makannya naik, ia bernafsu menghabiskan semuanya.


Nada dering sebuah panggilan masuk memekakan telingannya. Ia lupa mengecilkan volume suaranya saat menyetel lagu rock dikamarnya.


Nisa mengiyakan semua perkataan seseorang disebrang teleponnya.


"Siapa Nis?"


"Nisa udah dijemput, Nisa berangkat dulu yah" pamit Nisa mengabaikan ekspresi keberatan Mamanya.


"Hati hati Nis" Dian dengan berat hati melepas putrinya. Sebenarnya ia masih ingin berlama lama berbincang dengan Nisa. Kemarin Nisa mendiamkannya membuatnya rindu.


"Iya Ma, Assalammu'alaikum"


"Wa'alaikum salam"


Nisa melangkah keluar, mendekati mobil yang berhenti didepan rumahnya.


"Nanti mampir ke toko bunga yah, gue lupa belum beli kado" Ucap Nisa santai. Seenak jidat memerintah orang lain.

__ADS_1


"Iya" jawabnya ketus. Tiga tahun satu sekolah dengan Nisa membuatnya paham sikap Nisa jika tidak dituruti kemauannya. Kemungkinannya hanya ada dua, mengomel atau mengamuk.


__ADS_2