
Yola memakirkan mobilnya didepan salah satu butik yang terkenal di Jakarta Pusat. Salah satu butik yang sudah menjadi langganan Mamanya. Yola memandang takjub, baru beberapa bulan yang lalu dirinya tidak datang berkunjung perubahan besar telah terjadi, membuatnya sedikit pangling. Hanya namanya yang tidak berubah, membuatnya yakin inilah butik yang sudah terkenal itu.
"Udah sampai, kalian nggak mau turun?" Yola melangkahkan kakinya turun diikuti Filla yang antusias, moodnya untuk shopping berada di mode ON.
"Ayok buruan turun Nis" Icha keluar lebih dulu menyusul Filla dan Yola yang telah meninggalkan mereka. Nisa mengekor dibelakang Icha, berjalan malas menuju butik.
"Lo mau pilih dress yang mana La" ucap Filla, dalam sekejap dia sudah memilih dua dress ditangannya. "yang kanan atau kiri?" Filla memamerkan hasil buruannya.
"Gue mau milih yang kiri aja, kayaknya lebih bagus modelnya" usul Yola.
" Gue juga setuju, apa lagi warna Navy warna favorit gue" Nisa mendekati Filla, memperjelas penglihatannya.
"Lo Cha? gimana?"
" Dicoba dulu aja Fill, siapa tau cocok"
"Oke gue ke ruang ganti dulu"
Nisa mencari dress yang sama dengan Filla, mematut matutkan dibadannya.
"Bagus nggak?" tanya Nisa pada kedua sahabatnya.
Serempak Yola dan Icha mengangguk. Warna kulit Nisa yang putih bersih sangat cocok dengan dress berwarna Navy, ditambah postur tubuhnya yang semampai membuatnya tampak anggun. Belum lagi bentuk tubuhnya yang langsing, memberikan kesan sempurna.
Yola mengalihkan pandangannya, ia memilah lagi jajaran dress didepannya.
"Gimana cocok kan?" Filla berseru girang saat keluar dari ruang ganti, tidak sabar memamerkan pada ketiga sahabatnya. Ia berjalan berlenggak lenggok seperti sedang mengikjti Fashion Show. Mengibaskan ujung dress saat tepat berada didepan ketiga sahabatnya.
"Cocok banget Fill, perfect" balas Yola menyemangati Filla.
"Iya nih" sahut Icha sependapat.
"Ya udah kita ambil yang ini aja" Tegas Nisa.
"Okey" Filla berjalan lagi keruang ganti melepas dress yang tadi dicobanya.
__ADS_1
Icha mencari dress yang bermodel sama dengan Filla, postur tubuhnya yang tinggi sedang membuatnya sangat mudah menemukan ukuran yang sesuai dengannya tinggi badannya, tersedia stok melimpah malah.
Yola membolak balikan jajaran dress didepannya, mencari ukuran yang sesuai untuk dirinya. Berulang kali ia mengulangi gerakannya, tetapi nihil.
"Lo cari apa La?" tanya Icha yang heran melihat Yola kebingungan, padahal dress yang bermodel sama dengannya sangat banyak didepan matanya.
" Gue cari ukuran yang pas sama gue, tapi kayaknya nggak ada deh" jawab Yolla gusar, ia tidak ingin mengecewakan teman temannya.
Icha mendekati Yolla ikut membantu mencari.
Hasilnya sama, Nihil. Icha melihat Yola sekilas, sadar jika temannya yang satu itu termasuk kategori tinggi kebawah susah mencari ukuran yang pas untuknya.
"Dapet nggak?" Nisa yang sedari tadi hanya melihat akhirnya ikut membantu.
Yolla mengehentikan aktivitasnya, pasrah dengan kenyataan pahit didepannya.
"Kayaknya stoknya lagi kosong deh"
"Terus gimana dong?" timpal Filla kecewa, ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dress warna Navy yang pertama kali dilihatnya.
"Kalo pake yang ini gimana?" Nisa mencoba menawarkan solusi.
"Bagus kok La, nggak papa pakai itu" sanggah Filla membesarkan hati Yola yang tampak murung.
Yola menggelengkan kepalanya kuat, dirinya tampak seperti badut dengan baju yng kebesaran miliknya.
"Harusnya Lo tinggi keatas bukan kebawah" ceplos Nisa.
Drtt...drtr..
Yola yang semula hendak menyahuti Nisa mendadak berhenti, merapatkan kembali mulutnya. Satu pesan baru masuk ke dalam WhatsApp Yola. Yola menyalakan layar Hp nya hendak memeriksa. Matanya tak sengaja melihat tanggal dikayar terkunci, 09 November 20**. Ia mengingat sesuatu. Yola segera membaca pesan tersebut dan membalasnya singkat.
"kalo bisa milih takdir, gue akan milih untuk ditakdirkan hidup dengan tinggi badan diatas rata rata Nis" sindir Yola, ia mengembalikan dress yang diberikan Nisa, melangkah keluar meninggalkan teman temannya begitu saja.
"La, bukan gitu maksud gue" Nisa salah tingkah ia hanya berniat bercanda bukan mengejek Yolla.
__ADS_1
"Lo salah Paham La" seru Nisa ia membesarkan volume nya agar terdengar oleh Yola, tidak peduli tatapan aneh para pengunjung disekitarnya.
"Yola" panggil Icha cemas, ia melihat kemarahan terlihat jelas dimatanya.
"Gue kejar dulu yah" Pamit Icha
Filla menahan gerakan Icha "Gue aja Cha, sifat keras Yola cuma bisa ditenangin dengan kekerasaan, kalo lo yang kesana yang ada malah tambah mellow" ucap Filla tanpa perasaan. Ia juga khawatir dengan Yola, emosi tercetak jelas diwajahnya.
Icha menurut "Iya gue mah apa. Gue terlalu jelly buat lo yang agar agar" gerutu Icha kesal.
Filla mengejar Yolla, dilihatnya Yola masih diam duduk di mobilnya seperti menunggu sesekrang. Filla mengetuk kaca mobil Yola.
"La gue mau ngomong"
"Masuk" jawab Yola tanpa ekspresi. Filla pun masuk kedalam, ia membujuk Yola untuk kembali ke butik tetapi Yolla menolaknya mentah mentah. Perbincangan mereka tampak serius, berakhir dengan Filla yang mengalah turun. Yola segera melajukan mobilnya pergi pulang.
"Lo keterlaluan banget Nis" bentak Filla tepat diwajah Nisa sesampainya didalam butik.
Nisa tersentak kaget "Gue nggak sengaja" Nisa menundukan kepalanya merasa bersalah sekaligus takut melihat wajah Filla yang berubah menjadi singa.
"Nggak sengaja kata lo? harusnya lo mikir, fisik bukan bahan candaan Nis. Lo pikir keren ngehina fisik orang? bangga bisa bikin down mental anak orang? enggak Nis, bangs*t tau nggak" bentak Filla lagi. Meski diakui mereka suka saling meledek satu sama lain, tetapi pantang baginya untuk meledek fisik orang sebagai candaan. itu tidak lucu sama sekali, melainkan kesalahan fatal.
Nisa menggigit bibirnya, menahan air matanya agar tidak jatuh turun.
"Ayok Cha kita pulang" Filla menyeret paksa tangan Icha, membuat si empunya tangan kelimpungan.
"Tapi..." Belum selesai Icha menyelesaikan kalimatnya Filla sudah memotng kalimatnya.
"Enggak usah peduli sama manusia yang nggak punya hati kayak dia" jelas Filla tegas. sorotan matanya tajam menatap Nisa.
"Nis gue pulang duluan yah" teriak Icha dirinya sudah ditarik paksa menjauhi Nisa. Lebih baik menuruti Filla, Ia tidak mau mereka menjadi tontonan gratis didepan umum
"Iya Cha hati hati dijalan" Nisa balas berteriak. Ia mengembalikan satu persatu dress yang diambilnya ketempat semula.
Kemudian melenggang pergi tanpa membawa barang belanjaan apapun. Tangannya menyeka air mata dipipinya, mengelapinya dengan tissu yang selalu dibawanya.
__ADS_1
"Bodoh Lo Nis" rutuk Nisa dalam hatinya. Ia memukul kasar dadanya. Bentakan Filla meninggalkan rasa nyeri didadanya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya membuat dadanya sesak.
"Gue nggak bermaksud ngehina Lo La" lirih Nisa menyesali perbuatannya.