Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
68


__ADS_3

Nisa berjalan lesu menuju jalan raya, menaiki sebuah angkot kuning yang biasa ditumpanginya. Hari semakin sore, hanya ada satu dua penumpang yang singgah.


Nisa mengambil tempat duduk di kursi paling sudut. Pikirannya kacau, ucapan Azam selalu terngiang-ngiang dikepalanya. Suara kalimat Azam yang percaya diri menuduh Filla bercampur ekspresi kalut Filla bersatu berjejalan memenuhi otaknya.


"Udah sampai Neng" ucap sopir angkot membuyarkan lamunan Nisa. Hampir satu tahun menjadi penumpang setia Mang Asep (supir angkot) membuatnya hafal kebiasaan Nisa yangs selalu turun dipersimpangan jalan Kenanga.


"Oh iya Mang, makasi yah" ucap Nisa tersadar dari lamunannya. Ia lekas membayar ongkos kendaraan yang dinaikinya, bersiap untuk turun.


"Kembali kasih Neng" Mang Asep pun melambaikan tangannya sekilas, lalu melajukannya perlahan.


Nisa tersenyum simpul tanpa berniat membalas lambaian Mang Asep. Hembusan nafas berat keluar dari hidung mancung Nisa, dirinya berusaha mengontrol raut wajahnya saat memasuki pagar rumahnya menjadi seceria mungkin.


"Mama Nisa pulang" teriaknya kencang, bertolak belakang dengan tangannya yang lesu melepas sepatu dan kaus kakinya.


"Tumbel telat Nis?" balas Dian yang kini telah berdiri diambang pintu.


"Iya Ma, tadi angkotnya lama datang" ucap Nisa berbohong, Ia tak mungkin menceritakan pertengakarn Azam dan Filla yang menghalanginya untuk segera pulang.


"Ooo gitu" Dian membulatkan bibirnya tanda percaya. Ia pun merangkul Nisa masuk ke dalam rumah.


"Mama masak apa hari ini?" tanya Nisa basa-basi.


"Ayo tebak" seru Dian sok misterius.


"Paling juga masak nasi" jawab Nisa asal. Dian berdecak pelan,


"Tetangga sebelah juga masak kalo itu mah"


"Terus masak apa dong?" gemas Nisa yang tak ingin percakapan semakin panjang.


"Emmm kita langsung makan aja yuk, dari pada kamu keburu mati penasaran" Dian pun menggandeng tangan Nisa, menuntunnya ke meja makan.


"Astagfirullah, emak nggak ada akhlak" Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub dengan sahutan Dian.


"Untung emak sendiri kalo bukan udah gue smack down nih" batin Nisa sembari mengelus dadanya.


"Heiis jangan begitu nggak sopan" Dian menarik telinga Nisa dua senti.


"Aduh..duh sakit Ma" ucap Nisa ikut memegangi telinganya.


"Lain kali saring dulu kalo ngomong" Dian pun melepaskan tarikan tangannya.


"Astaga, ngatain anak sendiri emang boleh yah?๐Ÿ˜“" gerutu Nisa di dalam hatinya.


"Udah ayok makan" tegas Dian saat sampai dimeja makan.


"Iya" jawab Nisa pendek, moodnya benar-benar ambruladul sekarang.


"Makan yang banyak" perintah Dian saat melihat Nisa mengambil nasi dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya.


"Enggak ah, nanti gendut"


"Ya nggak papa, itu tandanya kamu makan nasi bukan makan hati"


Nisa menarik piringnya menjauh dari jangkauan Dian saat melihat Mamanya hendak menambahkan satu centong nasi untuknya.


"Justru bagus kalo kamu berisi, jadi nggak malu-maluin orang tua. Nanti tetangga mikirnya Mama nelantarin kamu" sambung Dian.


"Mau kurus atau gendut, kerempeng atau berisi pasti dinyinyir juga" cerca Nisa.


"Terserah lah, Mama lagi sariawan males debat"


"Bagus deh" lirih Nisa bernafas lega, setidaknya Ia bisa mendinginkan pikirannya tanpa takut direcoki obrolan dari Dian.


"Mama denger Nis" cibir Dian menyendok makanannya kasar.


"Hehe maapkeun" Nisa nyengir kuda, merasa berdosa.


"Sudah habiskan makanannya, nggak baik makan sambil berbicara"


"Idih orang dari tadi Mama yang nyorocos, Nisa kan cuma menjawab"


"Ssst, diam"

__ADS_1


Nisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat, lalu menundukan kepalanya. Sepi, hanya dentingan sendok yang beradu piring yang terdengar. Tak ada satu suara pun yang keluar, nyali Nisa menciut tak kala Dian menatapnya horor.


"Nisa udah selesai Ma, Nisa pergi ke kamar dulu yah" pamit Nisa hati-hati.


"Yakin nggak mau nambah?" tanya Dian menawari.


"Enggak Ma udah kenyang"


"Ya sudah langsung mandi "


"Iya nanti"


"Nanti kapan" picing Dian.


"Yaaaa nanti kalo enggak lupa"


"Mandi kok lupa, mantan tuh lupain"


"Issh Mama, Nisa juga udah lupain kenapa di ingetin lagi"


"Boro-boro lupa move aja belum" cibir Dian seraya menumpuk piring kotornya dengan milik Nisa.


"Udah kok kata siapa belum?"


"Kata Mama"


"Mama sok tau ih"


"Nyatanya masih jomblo sekarang kan?"


"Itu karena Nisa pengen sendiri, meski sepi tapi lebih baik dari pada berdua tapi tersakiti"


"Bilang aja belum bisa nerima yang baru karena masih terbayang-bayang masa lalu"


"Berarti Mama belum mkve dari Papa dong?" tanya Nisa menyerang balik. Dian melotot tajam


"Sembarangan kamu. Mama udah ikhlasin dari jaman milenial tau"


"Lho tapi kok masih single sampe jaman platinum?"


"Udah sana mandi" lanjut Dian.


"Iya...Iya" Nisa bangkit dari duduknya, segera pergi dari hadapan Mamanya.


Dian memperhatikan punggung badan Nisa yang semakin menjauh, sebuah senyuman terukir manis. Ia tak tersinggung sedikitpun ucapan Nisa, karena dalam kasus ini justru Nisa lah yang paling tersakiti bukan dirinya. Anak broken home? jelas hanya anak-anak tangguh yang bisa bertahan dimasa kirtisnya . Butuh waktu lama yang dibutuhkan untuk kembali seperti sedia kala, menjalani hari-hari seolah tak terjadi apa-apa. Padahal separuh dari dirinya telah pergi.


Nisa menjatuhkan tas punggungnya diatas ranjang, lalu menghempaskan tubuhnya sendiri tanpa mengganti pakaian seragamnya.


Ia membuka resleting tasnya, mengeluarkan benda pipih dari balik buku-buku yang menindihnya. Tujuannya hanya satu, menghubungi Azam. Entah mengapa tiba-tiba kerinduan menerobos masuk kedalam hatinya.


Nisa: [ P ]


[Lo nggak papa kan?]


Dua pesan terkirim pada nomor WhatsAap Azam. Lima menit menunggu namun tanda ceklist satu diponselnya masih tetap begitu.


Nisa menggigit-gigit bibir bawahnya, pikirannya menjadi resah saat warna abu-abu pada tanda ceklist tak kunjng menjadi biru. Ia menatap langit-langit kamarnya, angannya menerawang jauh entah kemana.


"Jangan-jangan Azam beneran sakit?"


"Astaga, apa bener Filla sejahat itu?"


"Ah enggak mungkin lah. Paling juga Azam lagi kecapean makanya offline.


"Atau kuotanya abis? bisa aja ye kan".


Nisa mengusap wajahnya, menyingkirkan pikiran negatif dari otaknya.


"Mending gue mandi dulu, biar fresh nggak netthink mulu". Ia pun menegakan tubuhnya, berjalan malas menuju kamar mandi.


"La..la..la..la" Nisa berdendang mengusir gundah gulana dihatinya, menguyur tubuhnya perlahan.


"Huh dingin". Ia mempercepat tempo guyuran ditubuhnya agar lekas selesai.

__ADS_1


"Nah udah wangi, saatnya duduk manis menanti chat dari doi" Nisa melepas handuk yang melekat ditubuhnya, mengganti dengan baju tidur bergambar keroppi miliknya.


"Anj*y masih ceklist pula" desah Nisa kecewa. Waktu menunjukan pukul 200.00, Ia memutuskan untuk tidur.


"Semoga besok pagi udah ada kabar, Aamiin" ucap Nisa sembari menarik selimut hingga menutupi dada. Niatnya telah bulat, Matanya mulai terpejam rapat bersiap tidur. Tak lupa jua Ia mematikan lampu kamarnya.


Klik..


Kamar pun berubah menjadi gelap.


Bersambung.....


Happy Reading All๐Ÿค—


NB:


"Nis".


Sepi tak ada jawaban, entah karena sudah tertidur atau memang sedikit budek.


"Oi Nis bangun".


Nisa menajamkan telinganya, merasa terpanggil. Perlahan membuka matanya.


"Siapa?" ucap Nisa takut-takut, Ia menyalakan kembali lampu kamarnya.


"Ini gue, masa lo nggak tau?"


Nisa: "Siapa?"


"Author๐Ÿ˜“"


"Hah?๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ lo ngapain dikamar gue thor?"


"Biasa aja kali, nggak pernah liat cewe cantik yak?"๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Nisa: Pernah lah, setiap hari juga gue liat dikaca๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Author: ye itu mah elu sendiri.๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜ช


Nisa: Btw lo ngapain disini?


Author: Ada salam


Nisa: Dari siapa? (bertanya antusias)๐Ÿ˜€


Author: Readers setianya Author๐Ÿ˜„


Nisa: Namanya?๐Ÿ˜”


Author: Zain kamil๐Ÿค—


Nisa: Salam apa?


Author: Salam tresno di jogo


Senadyan adoh panggonan mu


Nisa: Itu lirik lagu thor๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘


Author: Kok tau hehe๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Nisa: Kan sering gue koplo in๐Ÿ˜‚


Nisa: Salam balik ya thor๐Ÿ˜‰


Author: Salam apa?


Nisa: Sumpah tulus kanggo riko


Salam rindu ning sliramuuu๐Ÿ˜š


Author: ๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”

__ADS_1


Author: Okey, salam mu udah autor sampaikan gays ๐Ÿค“


__ADS_2