
Nisa mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruang tengah rumah Aldo, mencari keberadaanya. Ia menengadahkan pandangannya keatas, mengarah pada sebuah kamar dilantai dua. Tidak lama kemudian ia melihat sepasang sosok keluar bersamaan dari balik pintu. Nisa sangat terkejut melihat pemandangan fantastis didepannya, tanpa sadar ia menjatuhkan buket bunga yang sedari tadi digenggamnya erat. Pegangannya mengendur seiring matanya yang mulai memanas menular ke seluruh wajahnya. Tubuhnya mendadak beku.
"Sebentar ponsel gue ketinggalan" ucap seorang lelaki sembari melepas gandengannya, ia melangkah masuk kedalam kamarnya lagi.
"Gue kebawah dulu yah, kasian yang lain udah pada nunguin" seru seorang gadis diluar pintu yang kini sudah tertutup rapat kembali.
"Oke" balas seseorang dari balik pintu kamarnya.
Nisa tersadar kembali dari kebekuannya saat seseorang yang menatapnya terkejut menyadari keberadaannya.
"Nisa?" Gadis cantik berbalut gaun berwarna putih polos melangkah mendekatinya.
Nisa masih diam, berusaha positif thingking.
"Lo ngapain disini?" ujarnya takjub melihat kehadiran Nisa. tidak ada yang mengundangnya bukan? dia mengagumi keberaniannya. Jika dia datang, tentu nyali Nisa benar-benar sangat luar biasa kan?
"Lo sendiri ngapain disini? balas Nisa sedikit tinggi, rasa panas diwajahnya menjalar hingga dadanya.
"Jelas lah kan gue diundang" jawabnya sombong.
"Gue kesini juga karena diundang" jawab Nisa bohong, ia tidak ingin meruntuhkan harga dirinya.
"Hahahha lo sadar sama ucapan lo barusan? lo pikir bisa ngadalin gue?" ucapnya dengan intonasi tinggi sengaja memancing emosi Nisa.
Jawaban menohok dari mulut gadis cantik didepannya membuat Nisa terdiam.
"kalo lo diundang kenapa gue engga? Filla sama Icha juga diundang kan? emang salah kalo gue diundang juga? punya hubungan apa lo sampe bisa diundang? tanya Nisa beruntun, berbagai pertanyaan menjejali pikirannya.
Hening sesaat.
"Punya hubungan apa lo sama dia hah?" bentak Nisa keras tidak sabar menunggu jawaban. Matanya sudah berkaca kaca ia tidak ingin menjatuhkannya sebelum ia keluar dari tempat yang menurutnya seperti neraka.
Yola terlonjak kaget, ia mengusap telinganya yang medadak seperti akan tuli mendengar bentakan Nisa. Wajahnya seketika memucat melihat jelas kemarahan yang terpancar diwajah Nisa. Seperti gorila yang sedang mengamuk, terlihat mengerikan.
Ia berusaha tenang menjawab pertanyaan Nisa.
"Ehem gue pacarnya, jadi wajar dong kalo gue dateng ke acara pacar? dan dua orang yang lo sebut namanya itu sahabat gue, jadi wajar kan kalo gue ngundang sahabat BAIK gue keacara yang spesial ini?" tuturnya tak mau kalah panjang lebar dengar ucapan Nisa.
Nisa hampir melepaskan daun telinganya mendengar kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Ia ingin mode budeg saja saat itu. Tetapi terlambat, kata kata yang keluar dari mulut gadis didepannya telah masuk ke gendang telinganya.
"Pacar? gue nggak salah denger kan?" ucap Nisa memastikan pendengarannya.
__ADS_1
"Iya" jawabnya mantap.
"Hahahaa pacar kata lo?"
"Iya" ujarnya cuek kesal dengan Nisa yang malah menertawakannya.
Nisa menepuk Pipi gadis tersebut dengan keras.
"Aaaww, lo apaan sih Nis?
"Gue cuma mau lo sadar dari halusinasi lo". ucap Nisa santai ia tidak percaya dengan kata kata busuk yang kekaur dari mulutnya.
"Gue nggak ngimpi dan gue benaran pacaran sama dia"
"Sejak kapan lo kenal sama dia? Nisa memicingkan matanya, mencari kebohongan dikedua manik matanya.
"kenapa? lo cemburu?" serunya ketus.
"Sejak kapan?" ulang Nisa mengabaikan pertanyaan tidak penting darinya.
"Sejak enam bulan yang lalu"
"Dari dulu lo nggak pernah bilang apa apa dan sekarang lo ngaku jadi pacaranya? gue nggak segampang itu lo bodohin"
"Atau jangan jangan lo cuma simpenan makanya sampe harus black street?
"Gue bukan barang dagangan yang harus diposting setiap hari"
"terus kenapa lo nggak pernah cerita?" cerca Nisa lirih, tulang disekujur tubuhnya mendadak ingin melompat keluar membuatnya hendak rubuh.
"Buat apa gue cerita? nggak perlu semua orang tau tentang perasaan gue cukup doi yang tau rasa gue"
"Yo..La lo be can nda kan?" ucap Nisa terbata, ia tidak ingin meneruskan perbicanganya. Ia tidak ingin mendengar kalimat yang semakin menyesakkan dadanya.
"Gue serius"
"Sejak kapan lo jadian?"
"Sejak sembilan bulan yang lalu"
"Lo yakin? kenal dimana lo?
__ADS_1
"Enggak perlu lo tau kenal dari mana, yang harus lo tau dia pindah ke sekolah SMA Nusa Bhakti karena apa? karena gue yang minta agar dia satu sekolah sama gue biar dengan begitu kita bisa makin deket"
Nisa menunduk, menyembunyikan air matanya. menahan sekuat mungkin agar buliran air tidak jatuh. Ia tidak bisa mencerna penjelasan tidak masuk akal dari Yola. Ia hanya bisa merasakan dadanya yang semakin sesak mendengar fakta baru tersebut. semakin ditahan justru buliran air mata itu semain kuat mendorong untuk jatuh.
Aldo memepercepat gerakan tangannya mencari letak keberadaan ponselnya. Suara teriakan melengking milik Nisa dan Yola mampu menebus pintu kayu kamarnya. Meski hanya samar-samar perkataan yang bisa didengarnya, ia bisa dengan jelas bisa menebak siapa pemilik suara tersebut. Menbuat nafasnya memburu, ia yakin sedang ada pertengkaran dibawah sana.
Ia diam sejenak diujung atas anak tangga, terpesona dengan Nisa. meski dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan ia masih terlihat cantik.
Yola mendongakan Nisa dengan tangan kanannya, ia sendiri masih heran dengan sikap Nisa yang berubah sendu, tidak ada lagi keberingasan yang menguar melainkan jiwa yang terlihat lemah seperti hendak rubuh.
Aldo terkesiap melihat gerakan Yola, ia segera menurni anak tangga dengan kilat. Ia menyangka jika pertengakran yang berubah hening akan berubah menjadi kekerasan.
Nisa menepis kasar tangan Yola saat melihat Aldo datang menghampirinya, bertemu tatap muka dengannya akan membuat dirinya semakin lemah. Ia beranjak dari tempatnya, melangkah keluar
Aldo mempercepat langkah kakinya mengejar Nisa sebisa mungkin, dia tidak ingin diacaranya yang bahagia membuat ada seseorang yang terluka.
"Nisa tunggu" ucap Aldo seraya menahan lengan Nisa.
Nisa memegang dadanya,mentaralkan detak jantungnya sekaligus menahan rasa sakit didadanya. Nisa membalik kan badannya, mengarahkan tanganya kearah pipi kiri Aldo, meninggalkan bekas gambar tangan berwarna merah. Kemudian berlari menjauh.
Aldo mematung beberpa detik tidak siap dengan tamparan Nisa.
Yola menutupi mulutnya yang kini sudah berbentuk guruf O bulat, Syok dengan reaksi yang diberikan Nisa.
Dalam sekejap Aldo telah berlari mengejar Nisa.
Aldo segera menghadang langkah Nisa.
"Nisa" panggil Aldo setelah berada tepat didepan Nisa.
Nisa berjalan mundur selangkah,memebrikan ruang antara dirinya dengan Aldo. Mengayunkan tangannya lebih keras melampiasman emosi yang sejak tadi menggupal di dadanya.
Aldo menahan nyeri dipipinya, ia mengambil kedua tangan Nisa mencegah jika tamparan akan dilayangkannya lagi.
"Lo kenapa Nis? kita bicara baik baik yah?" tawar Aldo lembut, ia menatap wajah Nisa dengan seksama. Meski emosi menguasai dirinya tetapi matanya yang seperti menahan sesuatu agar tidak terjatuh, mengumpul pada sudut matanya mengisyaratkan kesedihan dan luka mendalam.
Nisa berhasil melepaskan gengaman dari tangan tangn Aldo dalam sekali sentakan. mengagetkan Aldo yang sedang mengamati mimik wajahnya. Membuatnya bergerak leluasa.
Nisa sedang tak ingin berbicara saat ini ia membiarkan tangannya yang berbicara, menampar sekalu lagi pipi Aldo.
Aldo memegangi pipinya, rasa nyeri yang dirasakan bertambah dua kali lipat. Tampak darah segar mengalir ditangannya. Yola segera mendekat khawatir dengaan bibir Aldo yang robek.
__ADS_1
Nisa tidak ingin menyia- nyiakan kesempatan emasnya. Ia melenggang tidak peduli. Ia rindu pulang, Ia membutuhkan kesunyian di dalam kamarnya . Ia ingin menumpahkan segala kesedihannya pada boneka bear berwarna merah muda kesayangnnya.