
Hening, Nisa masih canggung untuk mengeluarkan suara sedangkan Azam sibuk mengamati jalanan didepannya, fokus menyetir mobil.
Nisa mengigit bibir bawahnya pelan, merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.
"Azam" panggil Nisa lirih memberanikan diri.
"Hmm" gumam Azam pendek.
"Udah dong ngambeknya"
"Siapa yang ngambek?" cecar Azam balik.
"Pacar Nisa"
"Oh"
"iiiih Azam, kok jadi gue yang dicuekin. Kan Aldo yang dateng sendiri ke rumah"
"Lo masih chattan sama dia?"
"Enggak"
"Terus kenapa dia bisa tau kalo lo sakit?"
" lo sendiri yang nyuruh gue bales chat dia"
"Jadi kemaren yang chat sama telpon lo Aldo?"
"Iya"
"Kenapa lo nggak jujur sama gue?"
"Udah" jawab Nisa cuek.
"Lo cuma bilang kalo temen lo"
"Iya lah masa pacar"
"Kan ada namanya"
"lo juga nggak maksa tanya nama, kenapa sekarang sewot?"
Azam berdecak pelan. Harusnya dia yang marah mengapa sekarang jadi terbalik Nisa yang jutek?
"Iya udah deh lupain aja" ucap Azam mengalah.
Nisa menghela nafas, satu beban pikirannya telah berkurang.
"Gue udah maafin, nggak usah ditekuk gitu mukanya"
"Gue sedih"
"Yaelah, udah nggak usah dibahas lagi"
"Dih, gue sedih sama nasib motor gue yang entah dimana"
Azam memukuk stir mobilnya pelan, kembali kesal dengan Nisa.
"Zam, gimana dong?" tanya Nisa seperti hendak menangis.
"Nggak tau"
Nisa menunduk sedih, kepada siapa dia akan bercerita. Siapakah yang mau menolongnya? atau lebih baik memgatakan yang sebenarnya pada Dian?.
__ADS_1
Nisa mengangkat kepalanya saat merasakan belaian lembut dipuncak kepalanya.
"Lo tenang aja, motor lo ada dirumah gue kok"
"Azam serius"
"Iya" tangan Azam mengusap kembali kepala Nisa dengan sayang. Semenjengkelkan apa pun Nisa, dia tak bisa marah padanya. Ia bersikap dingin hanya ingin mengetes Nisa.
"Kenapa bisa sama lo?"
"Itu nggak penting, yang jelas sekarang lo harus senyum nggak boleh sedih lagi"
Nisa mengangguk singkat, menyenderkan kepalanya dibahu Azam.
"Makasih yah, lo udah baik banget sama gue. Maafin sikap gue yang kadang bikin lo kesel"
"Gue terima kelebihan dan kekurangan lo. Jadi apa pun masalahnya lo harus cerita sama gue. Dan gue janji akan jagain lo semampu gue, nggak bakal ada lagi yang bisa nyakitin lo"
Nisa tersenyum manis menatap Azam, betapa beruntungnya dia memiliki seseorang yang begitu menyayanginya. Dibalik lika likunya untuk bisa kembali dengan Aldo, justru Tuhan mengirimkan seseorang yang benar-benar serius dengannya.
"Love you"
"Love you too" Azam merangkul pundak Nisa dengan tangan kirinya. Dia berjanji dalam hatinya, tak akan melepaskan apa yang telah menjadi miliknya kecuali dia sendiri yang ingin lepas.
Nisa menegakan kepalanya, matanya terbuka sempurna saat mobil yang ditumpanginya telah berada didepan sekolah.
"Kenapa Nis?"
"U..dah sampe?" tanya Nisa sedikit gugup. Ia lupa meminta pada Azam menurunkannya di pinggir jalan.
"Iyaps" Azam memelankan laju mobilnya saat memasuki pintu gerbang, matanya awas melihat parkiran mencari tempat kosong.
"Semoga Yola nggak liat, bisa mencak-mencak dia" ucap Nisa penuh harap dalam hati.
"Lo sakit?" seru Azam saat melihat wajah pucat milik Nisa.
"Ya udah ayok turun" Azam membuka pintu mobilnya, keluar lebih dulu.
"Ah Azam gue bisa buka sendiri kok" ucap Nisa sedkit malu saat Azam membukakan pintu mobil untuknya.
"Gue nggak mau tangan lo lecet"
"Lebay lo ah" Nisa mencubit perut Azam pelan.
"Gue serius tau"
"Malu diliatin banyak orang"
"Biarin, lumayan kan buat bahan ghibahan" oceh Azam tak peduli.
Nisa menggelengkan kepalanya, jangankan di gunjing dibelakang, ditolak mentah-mentah pun Azam tak pantang goyah.
Keduanya berjalan beriringan menuju kelas X IPA 3. Anak IPS akan duduk bersebelahan dengan anak IPA. Saat UAS posisi duduk mereka silang dan sesuai absen.
"Mau langsung ke kelas?" tanya Nisa saat mereka telah sampai di kelas X IPA 3. Karena jumlah mereka terlalu banyak jika digabungkan, maka setengah dari mereka akan masuk ke kelas X IPS 3.
"Gue temenin sampe bel masuk" jawab Azam menguntit masuk ke dalam kelas.
"Oke" Nisa meletakan tasnya di atas meja. Melirik kiri kanannya, meneliti seksama siswa yang telah datang.
"Cari siapa?" cibir Azam sebal tela diabaikan.
"Emm biasa" Nisa menghembuskan nafas lega saat tidak didapatinya Yola, Icha atau pun Filla.
__ADS_1
"Nis" teriak seseorang dari arah ambang pintu.
Nisa yang baru mengamati bangku belakang, refleks memutar tubuhnya, menatap kaget sosok yang baru memanggilnya.
"Zen?" balas Nisa heran, matanya menyipit seseorang yang digandengnya.
"Pacar baru" ucap Zen bangga melirik Icha disebelahnya.
Icha tersipu melempar senyum pada Nisa.
Nisa memutar bola matanya malas, toh sudah ketinggalan zaman beritanya.
"Gue nitip, tolong jagain yah" pinta Zen memelas. Pasalnya kelas mereka berbeda.
"Gue bukan ibu panti" ketus Nisa melipat tangannya di dada.
Icha mencebikan bibirnya, kesal mendengar jawaban Nisa.
"Nanti gue kasih PJ deh" bujuk Zen licik.
"Ogah"
Zen masih ingin menyahuti, namun suara bel tanda masuk lebih dulu berbunyi nyaring.
"Pokoknya jagain kalo sampe lecet, lo gue end" seru Zen seraya menyilangkan kedua tangannya.
"Yank, aku ke kelas dulu yah nanti istirahat gue ke sini lagi" pamit Zen sambil memberikan kiss bye.
Icha tersenyum sekilas, melambaikan tangnnya. Berbeda dengan Nisa yang bergidik jijik.
"Cha, jagain juga pacar gue" imbuh Azam yang juga bersiap kembali ke kelasnya.
Icha mengerutkan dahinya bingung.
"Siapa?"
"Annisa Meylin Cyla" jawab Azam tegas sembari menepuk punggung Nisa.
"Hah?" Nisa membuka lebar matanya, tak percaya.
Nisa terperanjat kaget, Ia menginjak kaki Azam. Jujur dirinya belum siap dengan hubungannya yang dipublikasi terang-terangan.
"Apahhh????!!!" pekik Yola yang baru datang seraya menutup mulutnya. Filla yang berangkat bersama Yola menyeringaikan senyumnya. Ada binar bahagia dimatanya, tampaknya akan ada kawan baru untuk menyingkirkan Nisa.
"Iya" balas Azam dingin, lalu melenggang pergi keluar kelas.
"Gue nggak salah denger?" tutur Yola masih syok.
Nisa menggaruk tengkuknya, salah tingkah.
"Enggak kok, cuma becanda" elak Nisa sembari memaksakan senyumnya.
Yola mendekati Nisa. Di tatap lekat-lekat manik hitam Nisa, membuat empunya gugup.
"Lo nggak nikung gue kan Nis?" tanya Yola menyelidik.
"Eng..nggak kok" jawab Nisa terbata. Sekelebat kejadian dirinya saat bersama Filla dikamar mandi berputar di otaknya.
"Gue percaya sama lo Nis, tolong jangan khianatin gue" tegas Yola sedikit menjauh.
"I.ya Yola.Kan lo tau sendiri Azam orangnya suka becanda" sambung Nisa dengan bibir bergetar. Ia takut Yola percaya dengan ucapan Azam. Ia takut Yola akan menghajarnya sama seperti Filla.
Sedangkan di luar sana, Azam masih berada di koridor kelas X IPA 3 mengepalkan tangannya kuat-kuat, penuturan Nisa menusuk ulu hatinya, membuat dadanya mendadak terasa sesak.
__ADS_1
"Permainan seperti apa yang sedang kau ciptakan?. Apa kah cinta bagimu hanya sebatas di bibir saja?. Atau aku yang tak sadar bahwa menerima bukan berarti cinta, namun lebih karena rasa kasihan".
Azam meneruskan langkahnya yang terhenti dengan wajah lesu.