Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
72


__ADS_3

"Hoaaaammm" Nisa menguap panjang kali lebar. Tepat pukul lima pagi matanya terbuka. Entah mengapa hari ini terasa berbeda, kantuknya mendadak hilang lebih cepat entah kemana. Tubuhnya yang biasanya sayu sekarang semangat empat lima.


Ia bersemangat bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Ia berjalan menuju cermin sembari menyisir rambutnya. Nisa mengucir rambutnya menjadi satu. Diambilnya bedak tabur dari laci nakas, menyapukan keseluruh wajah hinggga leher.


"Perfect" seru Nisa yang melihat perbedaan pada warna permukaan wajahnya yang tampak lebih glow up. Nisa mengambil tas punggungnya lalu melangkah menuju meja makan.


"Pagi Ma" Sapa Nisa ceria, Ia tersenyum tulus bukan sekedar basa-basi.


"Too" balas Dian singkat. Mulutnya sedang penuh dengan makanan.


"Nisa langsung berangkat ya Ma"


"Enggak sarapan dulu? Mama udah gorengin nasi spesial lho"


"Suapin" ucap Nisa manja.


Dian mengurungkan tangannya yang hendak menyuapkan potongan roti tawar ke dalam mulutnya.


"Langsung berangkat aja Nis" jawab Dian melahap


"Ckkk sama anak sendiri jahat bener" decak Nisa berkacak pinggang.


"Ututu sini-sini dede bayi nya ngambek, sini mama suapain"


"Enggak ah udah nggak mood"


"Oh ya udah"


"Mamaaaa" teriak Nisa kesal. Ia meremas jarinya seolah meremas hati mamanya yang sama sekali tidak peka.


"Apaan sih budek nanti kuping Mama" Dian mengelus daun telingannya tanpa merasa berdosa.


Nisa menarik nafas dalam-dalam..


"Udah deh Nisa brangkat" pamit Nisa mencium punggung tangan Dian.


"Nih bawa, hati-hati dijalan" Dian menyodorkan kotak bekal untuk Nisa.


"Hmm"


"Makasi" cibir Dian menatap tubuh Nisa yang mulai menjauh.


"Kembali kasih" sambung Nisa tanpa menoleh, Ia tidak ingin Dian semakin mengoloknya karena berhasil membuatnya kesal.


"Dasar nggak peka"


"Cih Mama juga engga peka" gerutu Nisa lirih.


Ia mengeluarkan motor bebeknya dari garasi. Seperti ada magnet yang menariknya untuk segera berada disekolah, Ia meng gas poll motornya. Jalanan masih sepi, jarum jam menunjukan pukul enam pagi.


Nisa memasuki pintu gerbang bersama anak-anak SMA Nusa Bhakti lainnya.


"Astaga" pekik Yola menatap sosok yang nampak janggal di sebelahnya


"Kenapa la?" tanya Nisa tanpa mengalihkan tatapan matanya dari kaca spion motornya, Ia sibuk merapikan anak rambut yang berantakan diterpa angin.


"Apa ada setan yang berkeliaran dipagi hari?" tutur Yola seraya memutar badannya menghadap Nisa yang duduk diatas motor yang terparkir disebalahnya.


"Enggaklah" jawab Nisa menahan tawa.


"Emamg lo liata dimana?"


"Di depan gue" ucap Yola polos.


"Sialan lo" Nisa menendang ban motor Yola. Lalu beralih mencubit kedua pipinya.


"Awww" Yola mengaduh kencang.


"Cacian deh lo" Nisa meleletkan lidahnya, meninggalkan Yola tanpa rasa bersalah.


"Nis" panggil Yola menyusul langkah kaki Nisa.


"Apa" Nisa memasang kuda-kuda, waspada siaga satu.


"Kira-kira setan mana yang nemplokin lo?" tanya Yola serius.


"Kampret, gue nggak lagi kesurupan"


"Terus kenapa lo tumben berangkat pagi?" tanya Yola masih penasaran.


"Pengen la"


Yola mengendus-endus tubuh Nisa, matanya memicing menatap Nisa .


"Mencurigakan"


"Apanya sih biasa aja kali" sewot Nisa tak terima dituduh yang macam-macam.


"Ini luar biasa banget, seorang Nisa si pel*r bisa dateng ke sekolah di pagi buta" ucap Yola heboh.


"OMG, setan apa yang merasuki mu" imbuh Yola.


"Hingga kau tega menyakiti kuu"


"Yang tulus membenci mu"


"Mencintai mu dodol" ucap Nisa meralat.


"Dih najis, gue masih normal" cerca Yola memasang mimik wajah jijik.


"Cuma lirik lagu nyet" kesal Nisa melengos pergi.


"Cuma becanda nyet"


Nisa membulatkan matanya, menyapu sesisi kelas. Ia mengehela nafas kecewa, seseorang yang dicarinya belum menampakan batang hidungnya.


"Nis" Yola mengibaskan tangannya didepan wajah Nisa.

__ADS_1


"Ehh iya" sahut Nisa terbata, tersadar akan lamunannya.


"Kenapa?" tanya Yola yang bingung melihat ekspresi kecewa diwajah cantik milik Nisa.


"Cari Azam yah?" goda Yola menaikan turunkan alisnya.


"Enggak lah"


"Hayoo ngaku" desak Yola.


"Gue nggak ads urusan sama dia"


"Sekarang gue paham kenapa lo semangat brangkat lebih awal"


Nisa menatap Yola intens,


"Lo pasti lagi rindu Azam ye kan" tambah Yola.


Nisa masih terdiam, membiarkan Yola berbicara sesuka hatinya mesti sedikit ngawur.


"Nis lo dengerkan gue ngomong" ucap Yola memajukan bibirnya, jengkel melihat Nisa yang tampak tenang tak meresponnya.


Nisa mendekatkan bibir ke arah telingan Yola "Gue tadi liat poci"


"Ah ngaco lo" ujar Yola tak percaya.


"Serius, dia bilang mau kenalan sama lo"


"Iih nggak mau"


"Katanya dia kesepian nah lo kan cerewet jadinya dia suka" jelas Nisa.


Yola mengatupkan bibirnya, mengunci rapat-rapat. Nisa menggigit bibirnya agar tawanya tidak pecah.


"Ganteng lho"


"Seganteng apa lun kalo beda dimensi juga gue ogah" sungut Yola.


"Ya udah bagus deh, gue juga nanti ribet kondangannya kalo beda alam"


"Pagi All" sapa Icha yang baru datang bersaa Filla.


"Pagi" balas Yola dan Nisa serempak.


"Tumben siangan?"


"Yaelah Yola, mau awal apa siang dikomplein mulu" timpal Nisa.


"Iya dong. Kan yang paling bener cuma gue" ucap Yola bangga.


Nisa menoyor kepala Yola


"Bener dimata lo tapi salah dimata semua orang" ketus Nisa.


"Mulai deh ribut" sela Icha yang jengah melihat keributan keduanya yang hampir setiap hari.


"Iya nih, yang tua nggak mau ngalah" celetuk Yola melipatkan tangannya didada.


"Lo kira gue gila" seru Yola melotot galak.


"Gue nggak bilang gitu kok" sanggah Nisa.


"Woy stop" ucap Azam ikut nimbrung.


"Siapa lo dateng-dateng ikut nyambung" jawab Nisa.


"Alien dari planet mana lo bang? kok ganteng banget sih" ucap Yola dengan nada manja.


"Dari lubuk hati lo yang paling dalam"


"Dasar lelaki kardus" cibir Yola lirih. Yola menginjak kaki Nisa pelan.


"Aww sakit njir" ucap Nisa dengan suara tertahan.


" Beneran bang?" tanya Yola dengan bertopang dagu menatap Azam, mengabaikan raut kesakitan diwajah Nisa.


Azam memgangguk mantap, bibirnya tersenyum lebar.


"Waaa jadi sayang"


"Tapi boong" Jujur Azam sembari berlalu menuju bangkunya sendiri.


"Azammm" teriak Yola menggerutu tak karuan. Wajahnya memanas menahan malu.


"Hahaha duh malunya aku" ledek Nisa tertawa ngakak.


"Sabar yah" Icha menepuk pundak Yola lembut, turut prihatin. Ia mati matian menahan tawanya.


"Udah bubar" teriak Azam dari sudut kelas, tangannya menggengam sapu, lalu membagikan satu persatu pada keempat tempatnya.


"Buat apa nih?" tanya Filla tidak mengerti.


"Dimakan" cuek Azam.


"Buat mukul kepala peyang lo boleh nggak?" balas Filla sewot.


"Sekarang jadwalnya kebersihan" jelas Azam singkat.


Sontak ke empat sapu pemberian Azam melayang ke udara, mereka melempar kembali ke asalnya.


"Heh kurang ajar" kesal Azam saat ke empat sapu mengenai kaki dan lututnya.


"Kabuuur" teriak Nisa mengomando. Ketiga temannya mengekor dibelakang.


"Hayyy jangan kabur" Azam menarik kerah belakang baju Yola yang berlari paling belakang.


"Aaaa lepasin dong" rengek Yola memelas. Ia menatap miris ke tiga sahabatnya yang berhasil kabur.

__ADS_1


"Enggak, gue kan nggak bisa jauh dari lo" bisik Azam tepat ditelinga Yola, Ia sengaja meniup tengkuk Yola.


"Ah kek setan aja lo" ucap Yola mengelus lengannya yang merinding.


"Cepet sapu yang bersih" perintah Azam kejam


Yola memungut sapu yang berserakan dilantai.


"Linda, Farah" panggil Azam. keduanya menoleh bersamaan.


"Bantuin Yola nyapu yah" ucapnya lembut.


"Iya Zam siap" jawab keduanya patuh.


"Lo mau kemana?" tanya Yola gusar melihat Azam mengarah keluar kelas.


"Gue mau nangkep buronan dulu"


Yola menghentak-hentakan kakinya dilantai melepas kepergian Azam.


"Percuma gue disini kalo lo aja malah pergi" .


*******


"Eh Yola mana?" tanya Nisa celingukan saat sudah sampai ditaman belakang.


"Nyangkut dimana tuh anak?" timpal Icha.


"Gue susulin dulu deh, lo dua disini aja yah" ucap Nisa memberi solusi lebih dulu. Lebih baik menawarkan diri dari pada Icha yang menyusul, bisa gawat jika dia berduaan dengan Filla.


"Okey" Icha mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Nisa membalikan badan, berjalan kembali ke kelasnya. Namun ditengah perjalanan Ia dicegat oleh Aldo.


"Nis"


"Dalem sayang"


"Eh..." Aldo merasa canggung, Ia tersenyum kikuk.


"Kenapa?"


"Gue mau ngasih ini" Aldo menyodorkan kotak makannya.


"Apa?"


"Kue brownis coklat"


Nisa menghembuskan nafas berat,


"Kenapa lo ngasi ini ke gue?"


"Karna lo suka kan?"


"Karna gue suka apa lo mau gue nostalgia?" sindir Nisa menatap tajam Aldo.


"Gue mau memperbaiki hubungan kita Nisa" ungkap Aldo.


"Dari pada memperbaiki lebih baik mengulang dari awal"


"Maksud lo?"


"Mending lo cari yang baru"


"Gue mau lo Nis"


"Maaf tapi gue nggak bisa"


Aldo memandang lurus bola mata hitam Nisa.


"Gue tau gue salah, gue minta maaf"


Filla memalingkan wajahnya saat melihat Aldo memegang kedua bahu Nisa, Hatinya mendadak panas terbakar bara api cemburu.


"Mau main-main sama gue ternyata lo Nis" geram Filla dalam hatinya. Tangannya terkepal kuat-kuat menahan emosinya yang mulai tersulut.


Filla membalikan badan, meneruskan langkahnya menuju toilet. Ia tersenyum smrik, ada misi baru yang dituju.


"Please kasih gue kesempatan sekali lagi Nis" ucap Aldo memohon.


"Maaf gue nggak mau jatuh ke kubangan lumpur yang sama"


"Gue janji nggak akan ninggalin lo lagi. Lo masih cinta kan sama gue?"


"Maaf, lo salah Al. Gue udah ikhalsin lo ngilang. Cinta gue emang sebesar gunung tapi kebencian dihati gue seluas lautan"


"Coba lo bayangin saat diposisi gue dulu. Lo nggak tau insecure nya gue saat jalan bareng lo. Lo nggat tau gimana sakitya dibandingin sama seseorang yang lebih sempurna dari lo"


"Lo bilang cinta kan sama gue?


"Iya"


"Terus kenapa lo dengerin omongan mereka?"


"Gue manusia biasa Nis. Hati gue nggak terbuat dari baja yang tahan banting"


"Tugas lo buat bahagian gue bukan bahagia in netizen nyinyir. Ngapain lo nurutin perkataan orang lain? tapi lo tega nyakitin gue"


"Nis coba lo ngertiin gue. Lo tau gimana pedesnya mereka ngatain gue culun. Lo juga tau gimana entengnya mereka ngejodoh-jodohin lo sama seseorang lelaki idaman mereka. Apa lo tau gimana perasaan gue? gue punya harga diri Nis"


"Apa lo juga tau sakitnya gue ditinggalkan tanpa alasan? dua tahun gue nunggu lo jelasin ke gue. Tapi apa? lo seolah buta sama air mata gue. Dan sekarang disaat gue ikhlasin semuanya lo dateng seenak jidat lo minta gue balik?"


Aldo mematung ditempatnya,


"Nisa maafin gue" lirih Aldo, matanya berkaca-kaca menahan air mata.


"Gue udah maafin lo tanpa diminta. Tapi buat balik sama lo? maaf gue nggak bisa"

__ADS_1


"Permisi" Nisa pun pamit pergi, niatnya yang semula hendak ke kelas kini belok menuju rooftop sekolah.


"Melepaskan sakit, bertahan pun sulit"


__ADS_2