
Aldo memakirnya mobilnya dengan sempurna, dengan sigap turun mengejar Nisa.
"Nisa tunggu" Teriak Aldo disela sela tangannya yang sibuk melilitkan dasinya.
"Kok abang gantengnya ditinggalin"
"Abang ganteng dari mana orang burik begitu" balas Nisa Ngaco. Ia berusaha secepat kilat meninggalkan tempat area parkiran. Beberapa pasang mata memperhatikan kearahnya, Nisa sadar sedang berjalan dengan Primadona disekolahnya jelas saja hal itu menarik pusat perhatian.
"Burik begini juga banyak yang naksir"
Jadi ini alasan kamu ninggalin aku.Hiks.
"Yakin mereka suka? atau cuma sekedar morotin?" sahut Nisa.
Jiwa julidnya mulai muncul. Sebenarnya Nisa merasa heran dengan Aldo bagaimana tidak? Aldo berasal dari keluarga kaya namun penampilan dirinya dulu sangat cupu. Semestinya sangat mudah baginya untuk mengikuti gaya masa kini, mengingat Bisnis Ayahnya tidak akan habis tujuh turunan.
"Cie..cie suit suit".
Aldo mengalihkan pandangannya kebelakang. Sedari tadi dirinya tidak menyadari kehadiran teman temannya.
"Ada yang lagi CLBK nih" ceplos fian menggoda.
"Iya nih. Bakalan makan makan kita" ujar Ardan penuh antusias.
" Mantap kali kau Al. Udah buang sampah eh sekarang mau diambil lagi" sambung Fian tak mau kalah. Ekor matanya melirik Nisa menyidir terang terangan.
Nisa menatap Fian galak. Kemudian melenggang pergi. Ia tak mau berurusan dengan geng yang diketuai Aldo. Pasalnya sebagian anggotanya berotak miring, akan susah baginya untuk mengontrol diri agar tidak julid jika menanggapi ocehan mereka.
Tiga tahun berada dalam Almamater yang sama sewaktu SMP membuka ruang untuk Nisha mengetahui segala kebobrokan sahabat baik Aldo. Begitu pun Sebaliknya teman teman Aldo juga mengetahui persis, masa lalu Aldo dan Nisa.
Aldo berjalan tenang seolah tidak terjadi apa pun ia sudah paham dengan kesomplakan teman temannya dari pada dibully terus menerus lebih baik diam. Ia berusaha mensejajari langkah Nisa.
"Ngapain si Al ngikutin Nisa terus"
"Memangnya siapa yang mengikuti kamu Nisa? bukannya kelas kita searah? Timpal Aldo menyeimbangkan irama langkah kaki Nisa.
Kedua mata Nisa membulat sempurna. Ucapan Aldo mengingatkanya saat ia membaca badge kelas pada seragam yang di pakai Aldo. X IPS 2, sedangkan dirinya menghuni ruangan X IPS 3. tentu saja arah mereka sama, ruangan kelas mereka ternyata bersebelahan.
Lo bodoh banget sih Nis. Rutuknya dalam hati.
Tawa Fian dan Ardan meledak.
__ADS_1
"Makanya jangan Ke PD jadi orang , malu sendiri kan"
Aldo menyonggol perut Ardan dengan keras, menyuruhnya diam.
"Aww sakit mas bro" ucap Ardan meringis kesakitan.
Fian tak mau bernasib sama, ia memegangi perutnya, berusaha meredakan tawanya.
Nisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, bersyukur telah berada didepan kelasnya. Tampak Yola melambaikan tangan kearahnya ia pun segera mendekat.
"Tumben zen nggak ikut berangkat bareng?" Heran Aldo ketika mendapati Zen yang sudah duduk manis di kursinya.
Ardan tak menyahuti Aldo ia masih sibuk denga sisa tawanya.
"Abis kesambet apaan tuh bocah? jawab Fian tak kalah takjub.
Mereka semua tau diantara 4 sekawan itu Zen yang paling setia. Zen tidak akan meninggalkan temannya dikondisi apa pun bahkan untuk urusan kecil berangkat sekolah sekalipun. Mereka akan berangkat bersama sama.
"Iya tuh. Biasanya kan kita kita yang ninggalin dia" sahut Ardan disertai decak heran.
Aldom tersenyum mendengar respon dari teman temannya hanya masalah sepele seperti ini saja bisa menghangatkan susana persahabatan mereka.
"Pagi Zen" Fian menyapanya, tak luput senyum manis menghiasi bibirnya.
Ardan mendekati meja Zen. Ia ingin menagih penjelasan padanya.
"Tumben lo berangkat sendirian?" tanya Ardan sesampainya dimeja Zen.
"Iya nih. Nggak asik tau nggak masa gue ditinggalin nanti kalo adek ilang gimana bang? Fian pura pura memasang wajah memelasnya.
Zen menimpuk Fian dengan buku tulisnya.
"Aww sakit bang. Jangan kasar kasar dong. Jadi lecet nih" seru Fian Intonasi suaranya dibuat selemah lembut mungkin bahkan dibuat mendesah.
"Bencong lo ah".Zen menatap Fian dengan mimik wajah jijik.
"Ngapain juga gue nungguin lo ujung ujungnya juga ditinggalin". Zen lebih memilih menanggapi pertannyan Ardan. Perutnya mendadak mual berdekatan dengan Fian.
Sebenarnya Zen memiliki alasan lain. Tapi Ia tak yakin alasan yang sebenarnya dapat diterima nalar teman temannya itu.
"Hhhahha bagus deh kalo lo sadar, btw dapet pencerahan dari mana?"
__ADS_1
"gue tadi malem bersemedi di kutub Utara"
"kok lo nggak bawa pulang pinguin?"
"mana ada pinguin di kutub utara. Adanya di kutub selatan dodol" Zen menjitak kepala Ardan gemas. Niatnya menghindari bencong malah dapet ganti orang Oon.
Aldo menyilangkan kedua tangan didadanya. Takzim mendengarkan bacotan teman temannya.
"Tapi kok lo enggak beku?" Fian tak mau kalah ikut nimbrung topik pembicaraan Zen dan Ardan.
"Gimana mau beku kan ada Icha yang selalu menghangatkanku" celetuk Aldo.
Sontak Fian dan Ardan tertawa.
Zen tersedak saliavanya. Mendadak tercengang mendengar celetukan Aldo.
Sedari tadi Aldo hanya ikut menyimak pembicaraan teman temannya dia tidak berminat untuk menanyakan alasan Zen yang berangkat lebih awal. Dia tidak perlu mendengar jawaban dari Zen matanya sudah melihat dengan kepalanya sendiri.
***
Flash back
Aldo mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar menuju pohon besar ditepi pinggir jalan Anggrek, tempat yang sudah dijanjikan ke empat temannya untuk bertemu.
Ditempat ini mereka akan saling menunggu satu sama lain sebelum akhirnya bersama sama menuju ke sekolah mereka. Lokasinya tidak jauh dari tempatnya saat ini. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan teman temanya. Sekelebat pandanganya mengarah pada sosok yang dikenalinya. Ia pun mengurangi kecepatan mobilnya.
Aldo mengamati sosok yang dikenalinya melalui kaca spion dalam mobilnya, tampak Zen yang sedang memberikan helm pada seorang gadis yang ditemuinya dipinggir jalan.
Zen menoleh kiri kananya memastikan semuanya aman. Sangat berbahaya jika salah seorang sahabatnya memergokinya. Perbuatannya pasti akan dijadikan bahan bullyan. Tak lama kemudian ia pun menyalakan motornya mulai melajukan motornya tanpa menunggu teman temanya yag lain.
Dia tidak menyadari seseorang telah mengintainya. Aldo mengenali gadis yang kini bersama Zen, yaitu Icha.
Seketika Aldo menyunggingkan senyumnya, selintas kejadian saat pertama kali Zen bertemu Icha diperpustakaan berputar di memori otaknya, Zen yang malu malu menatapa wajah Icha dan Icha yang lugunya menatap Zen intens.
Zen hanya refleks menggaruk garukkan kepalanya, mati gaya ditatap sedemikian rupa. Bibirnya terasa kelu.
Aldo bahkan masih mengingat dengan jelas wajah Zen yang akan memerah seperti tomat busuk hanya dengan nama Icha disebutkan.
Ekspresi wajahnya yang aneh saat ketahuan mencuri pandang ke arah Icha, justru Icha malah dengan santai membalas tatapannya. Gerakan salah tingkahnya membuat Zen tampak seperti orang idiot. Semua ini jelas menjadi bahan lelucon untuk meledek Zen.
Aldo menggelengkan kepalanya. Semoga saat ia bertemu Nisa dia tidak bertingkah konyol seperti Zen.
__ADS_1
***