Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 98


__ADS_3

Hari ke lima UAS.


Masih pukul 06.10, parkiran sekolah terlihat sepi. Ardan telah sembuh dari lukanya. Ia kini sudah bisa mengikuti ujian seperti biasanya.


Ardan mengurunkan niatnya yang hendak meninggalkan area parkiran saat sudut matanya tak sengaja melihat motor Fian baru saja memasuki pintu gerbang.


Tampak pula Zen dibelakangnya mengendarai motor sport sambil membonceng Icha. Disusul pula Aldo dengan mobil warna hitam seperti biasanya.


"Pengawal lo banyak bener Zen" sindir Ardan saat mereka bertiga sudah selesai memarkirkan kendaraannya masing-masing.


"Biasa Fans" sahut Zen bangga.


"Eh gue tuh cuma mau jagain dede Icha biar nggak lecet" sergah Fian.


Icha nyengir lebar.


"Ututu maaci" ucapnya mencubit kedua pipi Fian gemas. Zen memicingkan matanya menatap Icha.


"Bisa nggak kalo selingkuh dibelakang aja, jangan didepan orangnya langsung".


"Dede Icha tuh nggak suka main dibelakang, kan sama pacar harus saling terbuka" jawab Icha polos.


"Astga, mendadak darah tinggi gue ini mah"


"Tenang nanti aku temenin kalo mau check up" jawab Icha enteng.


"Anj*r bisa nyesek tujuh turunan begini caranya" balas Zen mengusap dadanya.


"Jangan macem-macem Yan, jadilah jomblo berkualitas yang nggak suka sama pacar orang"


Cerca Ardan mendukung Zen.


"Yang sesama jomblo juga masih banyak Yan" imbuh Aldo ikut menyudutkan.


"Tapi pacar orang lebih menggoda" tukas Fian tak mau kalah.


"Gue juga tergoda buat jadi psikopat Yan" balas Zen mengepalkan tinjunya.


"Eeh becanda Zen" ralat Fian cepat.


"Becanda lo nggak lucu"


"Yaiya lah kan gue bukan badut". Serga Fian.


Icha terkekeh pelan, sepertinya dirinya telah tertular sifat jail Nisa yang suka menggoda Azam.


"Lo juga Cha, setia dikit napa jadi cewek". ucap Ardan sok menasehati.


"Gue setia kok, tapi sama dua orang wkwk"


"Mantap Cha, gue ikhlas jadi simpanan lo" imbuh Fian mengedipkan matanya.


"Otak gesrek Nisa kayaknya udah pindah ke Fian deh" timpal Ardan mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Wah nggak beres nih perlu di ruqyah" sambung Aldo ikut memanasi.


"Kalo masih nggak mempan dimutilasi aja Zen" sambung Ardan mengompori.


"Heh Ar lo sirik banget kalo gue punya pacar, takut jomblo sendirian kan lo" ledek Fian sengit.


"Sorry bukannya gitu, sebagai lelaki sejati gedek aja gitu liat pebinor"


"Lho cari pacar sono Ar biar nggak iri liat keuwuan kita. Iya kan Cha" tutur Fian mencari dukungan.


"Yaps betul"

__ADS_1


"Heh emang Aldo nggak jomblo?" tandas Ardan melirik Aldo.


"Lo masih sama Filla Al?" tanya Fian.


"Oo tentu tidak, pacar gue new lagi dong" jawab Aldo sombong.


"What? siapa?" tanya Ardan penasaran.


Aldo menunjuk belakang Ardan,


"Lo balikan sama Nisa?" tanya Ardan ragu. Ia melihat Nisa yang berjalan beriringin dengan Azam dan Yola sehabis memarkiran mobilnya. Posisi mereka berjarak 5 meter.


"Bukan, tapi sama sampingnya"


"Hah?" Mata Ardan membulat sempurna.


"Lo sama Yola?" imbuh Zen memperjelas.


"Gile, sejak kapan?" tambah Icha tak percaya.


"Sejak lahir".


"Jangan ngaku-ngaku lo Al"


"Serius kok, mau bukti?" tantang Aldo.


Mereka semua serentak mengangguk.


"Oke gue buktikan. Ikut gue" ajak Aldo menghampiri Yola.


"Pagi Yola sayang" sapa Aldo lembut mengagetkan Yola.


"Pagi" jawab Yola cuek, sedikit terkejut.


"Udah sehat?" tanya Aldo mengusap puncak kepala Yola.


Yopa menautkan alisnya, sepupunya itu sedang kerasukan apa sih? kenapa tiba-tiba seperti orang kurbel.


"Baik, kenapa?"


"Gue kangen tau, kan kemarin lo nggak berangkat"


"Yaelah, tadi malem juga lo udah main ke rumah"


Mata Ardan terbelalak lebar, sedekat itukah hubungan mereka?.


"Bagus deh kalo lo udah sembuh" Aldo meng*cup kening Yola singkat.


Ardan memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas. Icha menutup mulutnya, tak menyangka Aldo senekat itu hanya untuk membuktikan pacar barunya.


"Al" Yola tersentak kaget, lantas mendorong aldo menjauh.


Fian berdecak kagum, sepertinya sekarang gelar play boy telah berpindah ke tangan Aldo.


"Kenapa? ada yang salah?" tanya Aldo santai.


"Lo apa-apaan sih". seru Yola kesal.


"Itu tanda kasih sayang gue sama lo"


"Lo kenapa jadi alay sih, ini disekolah malu tau"


"Dih biasanya juga lo meluk-meluk gue" ungkap Aldo semakin memanasi.


Yola mencubit perut Aldo.

__ADS_1


"Gaje lho" balas Yola cemberut. Ia pun melenggang pergi sebelum Aldo bertindak lebih gila.


Ardan menghela nafas, jadi perhatian Yola selama Ia merawat di rumas sakit tidak ada artinya?.


"Kalian kenapa benging sih" tanya Yola heran saat tak ada yang menyusul langkah kakinya.


"Ini juga mau jalan" jawab Nisa menggandeng Azam mendekati Yola.


Tentu saja Nisa bersikap biasa saja, sewaktu dirumah skit Yola telah mengatakan bahwa mereka berdua adalah sepupu. Meski tindakan Aldo sedikit lebay, tapi ya sudahlah toh mereka memiliki hubungan darah, tak mungkin akan macam-macam.


Ardan membisu menatap punggung Yola yang semakin menjauh.


"Jangan salahkan orang lain jika ada rasa yang hadir diantara kalian berdua. Belum tentu Ia yang sengaja memberi harapan namun justru kalianlah yang berharap berlebihan"


"Yok ke kelas sebentar lagi masuk" ajak Aldo mencairkan suasana.


"Lo belajar ilmu pelet dimana Al?" cibir Fian


"Ini tuh rejeki anak ganteng, makanya banyak yang naksir"


Ardan tersenyum kecut,


"Lo serius sama Yola?" ulang Ardan menyakinkan.


"Iyah. kenapa cemburu?" goda Aldo menaikan turunkan alisnya.


"Enggak" jawab Ardan tegas. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan dalam satu hembusan.


"WOIII ALDO BARU JADIAN SAMA YOLA, JANGAN LUPA NANTI MAKAN GRATIS DI KANTIN" teriak Ardan membahana diseluruh sudut parkitan.


Aldo membekap mulut Ardan.


"Heh ember bener lo" sungut Aldo. Beberapa siswa siswi yang berada diarea parkiran lantas saling berbisik satu sama lain.


Ardan melepaskan tangan Aldo dari bibir sexy nya. Ia tersenyum puas pada seseorang yang kini mematung diambang gerbang sekolah. Ia yakin sebentar lagi pasti akan jadi perang dunia ke 3.


Aldo menyipitkan matanya menatap Ardan yang fokus menatap ke belakangnya.


"Lo liatin siapa sih Ar?" tanya Aldo kepo. Ia refleks memutar badanya 180°.


Dia membuka mulutnya dua senti menatap gadis yang tengah menunduk dalam. Ia dapat melihat kekecewaan pada dirinya melalui postur tubuhnya yang kini berjalan lunglai melengos pergi. Mungkinkah Ia mendengar ucapan Ardan barusan?.


Aldo mengepalkan tangannya.


"Sialan lo Ar" seru Aldo meninju perut Ardan kecil.


"Kenapa muka lo? kok merah gitu" ledek Ardan.


"Lo pasti sengaja kan?" ucap Aldo kesal.


"Iya. Siap-siap diamuk lo Al" bisik Ardan.


Aldo menelan salivanya, ia gusar melangkah pergi.


Icha dengan Zen saling pandnag satu sama lain.


"Pacar Aldo siapa sih? Yola apa Filla?" ucap Icha bingung. Baru saja Aldo mengaku bangga berpacaran dengan Yola, sekarang seperti ketakutan karena kepergok selingkuh.


"Yan" panggil Zen dengan mimik wajah serius.


"Apa?"


"Lo nggak nularin sifat play boy ke Aldo kan?" tanya Zen tegas.


"Busyet, gue anak sholeh tau?" protes Fian mencebikan bibirnya. Aldo yang pakboy kenapa gue yang disalahin?.

__ADS_1


__ADS_2