Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 75


__ADS_3

Pukul 18. 45


Suasana rumah Icha tampak ramai dengan celotehan Yola dan Filla sudah stay sejak 10 menit yang lalu. Jiwa antusiasme keduanya sangat tinggi, hingga datang lebih awal dari waktu perjanjian yang telah disepakati.


"Akhirnya temen gue nggak jomblo lagi" ucap Filla tertawa lebar. Ia masih tak menyangka jika sahabat polos nan pemalunya kini sudah berani berpacaran.


"Semoga nular yah" imbuh Yola sembari mengedipkan matanya.


"Emang calonnya ada?" tanya Filla mengejek.


"Ada dong"


"Calon ngaku-ngaku kali"


"Lagi gue usahain semoga semesta mau ngerestuin"


"Aamiin" sahut Icha seraya menelungkupkan kedua telapak tangannya diwajah.


"Emang calonnya siapa la?"


"Astoge, emang lo nggak tau?" ucap Filla menyahuti Icha.


Icha menggelengkan kepala cepat.


"Masa lo nggak tau sih"


"Emang Yola pernah bilang? kapan? kok bisa gue nggak tau?"


Filla meremas tangannya didepan wajah Icha.


"Enggak perlu bilang semua orang juga tau Yola naksir si ketua kelas yang super songong itu Icha" gemas Filla menjelaskan.


"Heis, nggak semua orang juga kali, cuma kita berdua" sanggah Yola mengerucutkan bibirnya. Yaah cuma berdua saja, karena Yola memang hanya curhat pada Filla. Yola terpaksa jujur karena waktu itu Filla blak-balakan menuduhnya. Apa munggkin sifatnya terlalu agresif hingga Filla dengan mudah menebaknya?.


"Hah Azam? bukannya dia doi Nisa?" tutur Icha spontan. Sontak Filla cepat-cepat menutup mulut Icha.


"Itu sih udah jadi rahasia umum Icha nggak usah dijelasin" bisik Filla sambil merapatkan giginya. Siapa sih yang nggak tau tentang kedekatan Azam dan Nisa yang seperti lem dan perangko? dimana ada Nisa disitu pasti ada Azam.


Meski Nisa tampak seperti lawan yang siap menjatuhkan perjuangan Azam, tapi tak jarang pula Ia membalas rayuan Azam dengan candaan. Membuat keduanya tampak romantis.


Yola menggelembungkan pipinya, memang tak bisa memungkiri fakta bahwa Azam menyukai Nisa.


Dilihat dari frekunsi seringnya Azam menguntit Nisa hinggga rayuan maut yang sering di lontarkan olehnya, jelas sudah maksud dihatinya.


Walaupun tak ada coklat atau puisi cinta yang terselip di laci meja, tapi dengan melihat cara Azam memperlakukan Nisa sudah bisa di tebak pasti ada perasaan love di dadanya.


"Eh maaf La" sesal Icha menatap raut sendu Yola.


"Enggak papa kok" lirih Yola memaksakan senyumnya. Semuanya memang benar adanya, mau bagaimana lagi. Mau marah pun percuma. Itu tidak akan membuat cinta Azam berpindah padanya bukan?.


"Jangan cerita ke siapa-siapa yah, gue malu" pinta Yola dengan menunduk.


Icha mengacungkan jempolnya tanda mengerti


"Okey siap"


"Tenang la. Kita kan sahabat, jadi lo bebas cerita apa aja masalah lo. kita pasti bakal jaga rahasianya kok" Filla mengelus punggung Yola untuk menyakinkan.


"Iya bener La. Enggak ada salahnya menceritakan perasaan yang terpendam lo sama sahabat sendiri. Ini jauh lebih baik dari pada diumbar di sosmed"


Yola tersenyum tulus, bersyukur memiliki sahabat yang bisa mengerti dirinya.


"Cha kasih gue minum dong. ngoceh terus bikin tenggorokan kering nih" ucap Yola seraya mengelus leher jenjangnya.


"Oh iya gue lupa. Sebentar yah"


"Hadeh, masih muda udah pikun. Nanti kalo tua jangan-jangan lupa udah punya suami" cibir Yola melihat punggung Icha yang mulai menjauh.


"Thanks yah" Filla menepuk-nepuk pundak Yola.


"Buat?"


"Buat keberanian lo, jadi gue nggak bakal mati ke hausan disini" jawab Filla disertai gelak tawanya.


"Anj*r" Yola menjitak kepala Filla tanpa permisi.


Icha kembali ke ruang tamu dengan empat botol minuman dingin dan aneka camilan.


"Ayok minum dulu" ucap Icha membagikan minuman yang dibawanya.


Tanpa menngulur waktu, Yola menenggak minuman botol yang disodorkan Icha


"Duh leganya" sindir Yola seusai minum.


Icha tersenyum kikuk, salah tingkah.


Btw lo kapan jadian sama Zen?" tanya Filla mencairkan suasana.


"Baru beberapa jam yang lalu"


"Dimana?" sambung Yola ikut kepo.


"Hehe dia nembak gue cuma lewat chat" jujur Icha malu-malu.


"Yaah nggak seru dong" desah Yola kecewa.


"Nggak papa, gue ditembak langsung yang ada malah mati beneran karena syok"


"Wkwkw bener juga tuh"


"Ceritain dong jaman PDKT lo kayak gimana" pinta Yola jail.

__ADS_1


"Emm ya..ya kek gitu la" Icha terbata hendak menjelaskan, Ia merasa sungkan membagi pengalaman pertamanya.


Mantan lo kan banyak, ngapain masih nanya orang PDKT gimana" imbuh Filla yang tak tega melihat semu merah di pipi Icha. Ia yakin sahabatnya pasti sedang menahan malu.


Yola mendengus sebal.


"Suka suka gue mau tanya apa, Icha juga nggak keberatan jawab kan?" ucap Yola menatap Icha penuh harap.


Sepi melintas sesaat, Icha ragu hendak bercerita.


"Udah Cha, nggak usah dijawab itu privasi"


Icha meringis lebar, setuju dengan saran Filla.


"Aish Filla nggak bisa liat orang bahagia" Yola menghentak-hentak kakinya ke lantai, hatinya yang semula ceria mendadak berubah dongkol.


"Nanti deh gue ceritain kalo Nisa udah dateng. Paling dia juga ngerecokin gue" hibur Icha tak enak hati melihat wajah tertekuk Yola.


Yola bersemangat melirik jam dinding, waktu menunjukan pukul 18.55.


"Kebiasaan deh si Nisa" omel Yola saat tak kunjung melihat batang hidung Nisa.


"Coba lo telpon, siapa tau ketiduran" jawab Filla logis. Tau sendiri kan Nisa kebonya kayak apa?.


Yola mengambil ponselnya, segera melakukan sambungan telepon suara dengan Nisa.


"Berdering tapi nggak diangkat"


"Lagi dijalan kali" sahut Icha berpikiran positif.


"Semoga aja deh" ucap Yola pasrah meletakan ponselnya diatas meja.


Filla masih ingin menyahuti namun bibirnya kalah cepat dengan suara cempreng dari arah luar rumah.


"Hallo gays" sapa Nisa saat memasuki ambang pintu ruang tengah rumah Icha.


"Akhirnya dateng juga ni bocah" celetuk Yola yang sudah lelah menanti.


"Pasti dateng dong" ucap Nisa tanpa rasaa bersalah.


"Eh gue nggak telat kan?" decit Nisa saat Yola menatap jengkel ke arahnya.


"Enggak si, tapi kan..."


"Lo aja yang kerajinan dateng" potong Nisa tak ingin disalahkan.


"Gue kan kepo gimana ceritanya Icha bisa jadian sama Zen"


"Terus?" tanya Nisa cuek.


"Masalahnya dia nggak mau cerita sebelum dateng"


"Percuma gue dongeng sampe berabad-abad kalo suruh ngulang" jelas Icha.


"Cih tau gini mending lo cerita dari tadi Cha"


"Heheh maap" balas Nisa.


Icha menggatuk kepalanya, Ia tadi hanya asal bicara.


"Emm mau cerita apa yah? gue bingung mulai dari mana"


"Dari mata mu, ku mulai jatuh cinta" sahut Yola.


Filla menggetok kepala Yola pelan.


"Diem ih"


"Yaelah gue kan cuma nerusin"


"Tapi nggak kayak gitu juga ceritanya. Emang lo sama Azam"


Yola nyengir kuda,


"Tapi sayangnya Azam ngggak peka" Yola menopangkan dagu pada kedua tangannya.


"Kapan yah Azam nembak gue" imbuh Yola mulai berandai-andai.


"Kapan-kapan" ledek Filla.


Nisa mematung di tempatnya, hatinya berdesir pelan.


"Apa dunia selucu ini? Disaat kau mengingkinkan seseorang, justru seseorang itu malah mengharapkan orang lain"


"Butuh kode keras La" imbuh Icha.


"Masa iya gue nembak duluan" ucap Yola greget.


"Padahal gue suka menolong dan tidak sombong, kurang apa coba?"


"Kurang setia" sanggah Filla.


"Gue setia kok"


"Mantan lo aja bertebaran dimana-mana"


"Itu karena kita udah nggak cocok, bukan karna gue selingkuh" elak Yola.


"Kalo setia tuh di pertahanin. Diperbaiki bukan cari doi lagi"


Yola menyorot Filla tajam, Ia tak ingin masa lalu nya di ungkit.

__ADS_1


Filla meleletkan lidahnya, puas menggoda. Yola sampai tak bisa berkata-kata.


"Baik hati udah, pinter iya plus rajin menabung, cantik pula, apa masih kurang?"


"Masih La"


"Ingat di atas langit masih ada langit" Icha melirik Nisa melalui sudut matanya.


Yola menegakan tubuhnya, diliriknya Nisa yang duduk disampingnya. Ya..ya .ya .Nisa memang cantik tapi apa semua lelaki memandang dari fisik?.


"Hubungan lo sama Azam apa sih Nis? picing Yola menatap Nisa intens.


"Nis?" Yola menyengol lengan Nisa yang membisu.


"I..ya?" Nisa tergagap sadar dari lamunannya.


"Lo punya hubungan apa sama Azam?"


Nisa mengerutkan dahinya, "Azam?"


"Iya"


"Enggak ada apa-apa"


"Lo nggak pacaran sama dia? desak Yola.


"Enggak"


"Serius cuma temen? kayaknya lo deket sama dia?"


Nisa menghembuskan nafasnya, Ia sendiri juga bingung dengan perasaanyya sendiri.


"Serius cuma temen Yola"


"Boleh gue ambil dong"


"ambil aja" ketus Nisa.


"Lo sama sekali. nggak ada rasa gituu?"


Nisa mengangguk tipis, setipis hatinya yang yakin bahwa tak memiliki rasa apa pun untuknya.


Dua jam berlalu tanpa terasa.


"Kita pamit pulang dulu yah, udah malem" ucap Yola mewakili teman-temannya.


"Ukay, hati-hati dijalan"


"Oh iya La, anterin gue ke supermarket yah?" pinta Filla tiba-tiba.


"Mau ngapain?"


"Beli roti tawar, stok udah abis dirumah"


" Okey, Lo mau ikut Nis?"


Nisa menimbang sebentar. Ia ingin ikut namun tatapan tak suka Filla membuatnya urung.


"Gue langsung balik aja deh, udah ngantuk"


"Yakin nggak ikut? rumah kita kan searah. Biar nanti pulang bareng"


"Iya, gue udah ngantuk bingit nih"


"Oke, kita duluan yah" ucap Yola sambil melajukan motornya pergi.


Nisa tersenyuk tipis, Ia melambaikan tangannya ke arah Yola.


"Hati..hati"


Hening. Hanya ada Nisa dan Icha kini.


"Lo mau nginep disini Nis?" tawar Icha yang melihat keraguan dari raut wajah Nisa yang akan pulang sendiri.


"Emm enggak deh, makasi" tolak Nisa halus.


"Lo berani pulang sendiri?"


"Iya, belum larut juga"


"Iya udah hati-hati"


Nisa mengangguk singkat, lantas mengarahkan motornya menyusuri jalan raya.


Nisa merapalkan doa dalam hati, semoga sampai di rumah dengan selamat. Motor yang dikendarai Nisa semakin menjauhi umah Icha, feeling nya menjadi tak enak.


Nisa melirik ke samping kirinya melalui sudut matanya, perasaannya mendadak tak tenang. Ia merasa sedang ada yang membuntutinya.


Jantung Nisa berdegup tak teratur, jalanan sepi menambah ketakutannya. Keringat dingin menetes tanpa terasa.


Tiba-tiba..


wusss, angin berhembus kencang saat sesuatu dengan cepat melewati dirinya.


Brakkkk


Nisa tak sempat menghindar saat sesuatu itu sengaja berhenti di depannya.


"Aww" Nisa meringis sakit saat pantatnya mendarat di jalanan beraspal.


Samar-samar Nisa mendengar gelak tawa, bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


"Ya Rabb, apa yang sedang kau rencanakan?" Nisa menekan salivanya, perasaannya semakin tak karuan saat dua sosok hitam besar muncul didepannya dengan meringai buas.


__ADS_2