Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
79


__ADS_3

Rasanya baru sekejap Nisa terlelap, samar-samar Ia mendengar klakson mobil dari arah luar rumah. Masih dengan mata terpejam, Nisa menajamkan pendengarannya, ternyata bukan mimpi suara klakson itu semakin jelas.


Nisa mengerap-ngerjapkan matanya hendak bangun, namun perutnya terasa berat seperti ditindih sesuatu.


Saat matanya terbuka sempurnya, Nisa teperanjat kaget. Tangan Dian melingkar erat di perutnya. Sejak kapan Mamanya pindah ke bawah? senyenyak itu kah tidurnya, sampai tidak menyadari pergerakan disampingnya?.


Nisa menurunkan tangan Dian dengan hati-hati, tetapi hal itu justru membangunkan Dian secara tidak langsung.


"Nisa? udah bangun nak?" tanya Dian dengan mata menyipit.


"Iya Ma" jawab Nisa seraya menegakan tubuhnya.


Tiiin...


"Nisa mau bukain pagar dulu Ma" pamit Nisa seraya bangkit dari duduknya, melangkah dengan gusar menuju keluar rumah.


Dahi Dian mengerut, apa dia bangun kesiangan? kenapa sudah ada tamu?.


"Hmm iya" gumam Dian lirih. Dirimya masih dilanda kantuk, Ia pun kembali tidur. Hari ini hari minggu, Dian berencana mengisi hari liburnya dengan tidur panjang.


Nisa membuka kunci gerbang rumahnya, lantas mendekati sebuah mobil yang berhenti di depannya.


"Azam?!" pekik Nisa riang saat, separuh nyawanya yang semula masih bersama kantuk sekarang telah kembali utuh ke raganya.


"Selamat pagi sayang" ucapnya ramah dari balik kaca mobil yang diturunkan.


Nisa tersenyum kecut, baru sadar jika sedang merajuk dengan Azam.


"Ngapain lo disini" ucapnya ketus.


"Mau jengukin ayang lah"


"Gue nggak sakit" jawab Nisa berkacak pinggang.


Azam menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Lo masih marah sama gue?" tebak Azam.


"Enggak"


"Gue minta maaf"


"Minta maaf buat apa?"


"Ya kalo gue ada salah"


"Emang salah lo apa?" ucap Nisa balik bertanya. Meminta jawaban lebih spesifik


"Emm soal yang tadi malem"


"Tadi malem? yang mana"


"Yang gue lupa soal itu"


"Oh, gue cuma becanda tadi malem" tandas Nisa


Azam memicingkan matanya, cuma becanda tapi marahnya kek seriusan?.


"Gue bener-bener minta maaf Nis. Gue lupa karena kemaren lo bilang balikan sama Aldo. Jadi yah gue udah lupain tentang pertanyaan gue itu"


Nisa berdecak kesal,


"Gue kan ngetes lo doang, nggak serius balikan"


" Ya mana gue tau" elak Azam tak mau disalahkan.


"Lo aja yang nggak peka"


"Lha kok gue yang disalahin?


Nisa menatap Azam galak


"Terus siapa? gue?" jawabnya melotot tajam.


"Eehhh sa..lah gue kok" ucap Azam salah tingkah.


"Bagus deh kalo sadar"


"Emm iya" jawab Azam dengan memasakan senyumnya. "Sabar Zam mungkin dia lagi PMS makanya sensi".


"Peraturan pacaran nomer satu, Kalo ada kesalahan berati lo yang salah"


Azam hendak membantah namun sorotan tajam dari Nisa menciutkan nyalinya.

__ADS_1


"Iya ndoro" jawab Azam pasrah.


Nisa tersenyum puas, "Ayok masuk" perintah Nisa lembut. Lantas menarik pagar besinya ke samping, memberi akses jalan agar mobil Azam bisa masuk.


"Makasi" balas Azam seraya melajukan mobilnya pelan. Nisa mengekor dibelakang, menutup kembali pintu pagarnya. Maklumlah, dihari weekend seperti ini Nisa bertugas menjadi satpam pribadi di rumahnya.


"Lo nggak mau ngajak gue jogging kan?" teriak Nisa curiga, merasa aneh melihat Azam bertandang dipagi hari. Ia dengan sabar menunggu Azam selesai memarkirkan mobilnya.


"Enggak la gue kesini cuma mau bawain bubur Ayam buat sarapan. Lo lagi nggak enak badan kan?" ucap Azam seraya keluar mobil.


Mata Nisa berbinar ceria, kekesalannya langsung luruh dengan perhatian Azam.


"Waaa lo baik banget sih"" seru Nisa dengan nada manja.


Azam mengangguk mengiyakan, senyumannya terkembang lebar.


Kening Nisa membentuk banyak lipatan kecil saat melihat wanita paruh baya yang sedang cengar cengir turun dari mobil Azam.


Sontak Nisa menunjuk wanita itu dengan dagunya


"Kenalkan nama saya Inah non" ucapnya ramahnya mendekati Nisa.


"Nisa mbok" sahut Nisa sembari tersenyum hangat.


Nisa memandang Azam penuh arti


"Apa?" tanya Azam tak mengerti.


"Bisa nggak? njelasin tanpa di minta?"


Azam menghela nafas pendek, Salah lagi gue?.


"Azam" panggil Nisa kesal karena Azam tak bergeming.


"Iya gimana?"


"Itu siapa?"


"Oo ini? mbok Inah"


Nisa mengerucutkan bibirnya menyadari ketidakpekaan Azam.


"Kenapa sama lo?


"Cih, Maksud gue kenapa mbok Inah diajak ka kesini?"


"Oh mbok Inah tuh tukang pijet. Sengaja gue ajak ke sini buat mijit lo. Pasti badan lo pegel semua kan?"


Nisa menatap Azam tak percaya, segitu perhatian dirinya kah?


"Heh malah bengong" ucap Azam mengibaskan tangannya didepan wajah Nisa .


"Eh iya" Nisa tergergap sadar, Ia pun segera memutar gagang pintu rumahnya.


Nisa menepuk jidatnya saat melihat Dian masih tertidur. Ia tersenyum canggung menatap Azam.


"Kita ke dapur aja biar nggak ganggu" tutur Azam memberi saran.


Nisa mengangguk singkat, berjingkat masuk.


langkah kaki Azam terasa ringan saat memasuki ruang tamu, lega karena Nisa tidak mengamuknya.


"Gue bawain dua, siapa tau Mama lo belum masak biar sekalian sarapan" jelas Azam.


"Waaa lo baik banget si" ucap Nisa girang sampai lupa mengontrol nada suaranya.


Azam refleks membungkam mulut Nisa,


"Ssst nanti Mama lo bangun" desis Azam lirih.


"Gue lupa" bisik Nisa ditelinga Azam.


Dian yang mendengar keributan di sekitarnya perlahan membuka mata.


"Astagfirulloh" ucap Dian kaget melihat Azam yang sedang berjalan ke arah dapur.


Azam membalikan badannya,


"Pagi tante" sapa Azam kikuk.


"Pa..gi juga nak Azam" jawab Dian malu-malu. Ia sontak mengelap kedua sudut bibirnya takut ada iler yang menempel.


"Maaf menganggu tan" jawab Azam tak enak nati.

__ADS_1


"Hehe enggak kok. Tante aja yang kesiangan nih"


"Emm maaf Ma, Mama enggak mau pindah?"tanya Nisa hati-hati.


Mata Dian membulat seketika, Ia pun refleks bangun. Astaga Ia baru sadar semalam tidur di ruang tamu.


"Kamu kok nggak bangunin Mama dari tadi" tanya Dian gusar.


"Hehe maap"


"Ya sudah kalian disini saja, Mama mau bersih-bersih dulu"


"Thanks Ma"


Dian melempar senyum sekali lagi pada Azam sebagai tanda berpamitan.


"Ayok duduk" tawar Nisa pada Azam dan mbok Inah.


"Mau makan sekarang?"


"Iya"


"Mau disuapin nggak?"


"iya"


Azam membuka bingkisan yang dibawanya, mengambil satu porsi, kemudian meletakan diatas meja.


"Eh tunggu" potong Nisa. Ia melirik Mbok Inah yang sabar menunggu perintah Azam.


"Gue buatin minum dulu" seru Nisa sembari bangkit dari duduknya.


"Enggak usah repot-repot. Biar simbok aja Non" tawar Mbok Inah tulus mencegah Nisa.


"Aduh mbok, masa tamu malah buat minum sendiri"


"Nggak papa, Non Nisa kan lagi sakit. Sini tunjukin aja di mana dapurnya biar simbok yang bikinkan"


"Makasi yah mbok" Nisa pun menunjukan letak dapurnya


Mbok inah mengangguk paham lalu bergegas pergi.


"Lo duduk manis aja. Abis sarapan nanti langsung dipijet simbok"


"Dapet pencerahan dari mana lo?"y


"Dari muka lo yang kayak orang susah" ledek Azam tertawa kencang.


"Sialan lo" Nisa meninju kecil perut Azam.


Azam sigap menahan gerakan tangan Nisa,


"Lagi sakit masih aja pecicilan" cibir Azam menghempaskan tangan Nisa.


"Nyebelin ih"


"Nyebelin? tapi dikangenin kan?"


"Dih kagak"


"Ooo jadi lo nggak kangen sama gue?"


"Enggak"


"Tapi kok mata gue kedutan yah"


"Emang dasar mata lo genit"


"Hmm pasti Yola lagi kangen gue" balas Azam seraya memandang ke arah langit-langit.


"Azaaaammm" Nisa mencubiti tubuh Azam beruntun


"Ammpun Nis" teriak Azam kewalahan menghindar.


Nisa tak peduli, tangannya belum puas sebelum Azam babak belur.


"Awww sakit Nis"


"Bodo amat" jawba Nisa cuek.


Azam meringis kecil, menahan rasa panas disekujur badannya bekas cubitan Nisa.


Mbok Inah yang telah kembali sehabis membuat minuman dari dapur, menggeleng-gelengkan melihat tingkah sepasang ABG didepan nya. Ingin menegur tapi segan, Ia pun hanya memperhatikannya saja, berharap keduanya sadar jika ada sosok lain ditempat itu. Jika tidak entah apa yang terjadi dengan minuman yang dipegangnya jika tangannya kram terlalu lama menunggu.

__ADS_1


__ADS_2