Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
87 Lembaran Baru


__ADS_3

Azam menghentikan mobilnya digarasi. Mata Nisa sedikit melebar saat melihat rumah mewah di depannya.



"Orang tua Aldo aja ngelarang gue deketin Aldo, gimana sama Azam yang lebih tajir dari dia?" Nisa menggigit biibir bawahnya merasa minder.


"Ayok Nis turun" ajak Azam bersiap keluar.


"Em Iya" Nisa ragu hendak turun.


"Kenapa?" tanya Azam heran melihat Nisa masih tak bergeming.


"Zam pulang aja yuk" ucap Nisa lirih. Ia tak ingin dipermalukan untuk ke dua kalinya.Ia masih jelas mengingat ucapan preman gendut yang mengatainya miskin.


"Kita aja belum masuk"


"Gue malu Zam, lagian kita beda kasta" ceplos Nisa dengan suara bergetar


"Nisa lo ngomong apa sih" Azam mengangkat dagu Nisa sedikit.


Di tatapnya intens bola mata Nisa. Ia tau mungkin kekasihnya itu merasa insecure dengan rumahnya yang megah.


"Lo kan cewe gue, udah seharusnya gue kenalin lo sama keluarga gue" Azam melepas seatbelt yang dikenakan Nisa perlahan.


"Gue gugup banget. Lagian hubungan kita baru kemaren sore. Nggak perlu lah gue dikenalin ke ortu lo"


"Gue serius sama lo Nis, kenapa lo mau nya main-main sih?"


"Bukan gitu" Nisa menggeleng cepat, Ia bingung harus menjelaskan dari mana.


"Ya udah ayok" desak Azam tak sabar.


"Emm btw kita jadian tanggal berapa sih?" tanya Nisa asal. Ia ingin mengulur waktu lebih lama untuk menenangkan detak jantungnya yang tak teratur.


Azam berpikir keras sebentar. Seingatnya ia mengutarakan perasaan saat dirooftop sekolah. lantas Nisa mengiyakan pada malam. Saat itu tanggal berapa yah?. Azam mengetuk dahinya dengan jari telunjuk, berusaha mengingat.


"Kita udah jadian belum sih?" cerca Nisa yang kesal melihat Azam termenung.


"Udah si..tapi masih ambigu"


"Jangan-jangan gue yang ke PD an"


"Kayaknya tanggal 12 Desember" jawab Azam tak yakin.


"Iiih Azam, yang tegas dong" cerca Nisa kesal.


"Gue lupa, gue ulang aja deh gimana?"


"Ulang apa?" tanya Nisa bingung.


Azam mendekatkan tubuhnya pada Nisa, membisikan sesuatu tepat didaun telinganya.


"Lo mau nggak jadi cewek gue?"


Nisa menelan salivanya, bukannya merasa senang namun seluruh tubuhnya malah merinding.


"Mau nggak?" ulang Azam menunggu jawaban.


Nisa mengangguk samar lantas memalingkan wajahnya yang memerah.


Azam tersenyum lebar, Ia melepaskan seatbelt yang dikenakanya lantas turun. Azam gesit membukakan pintu mobil untuk Nisa.


Nisa menghembuskan nafas berat, pasrah ikut turun.


"Lo tenang aja bunda gue pasti suka sama lo"


"Bunda lo lesby?"


Azam berdecak kesal,


"Maksudnya bunda gue itu ramah, nggak bakal dia marah sama lo"


"Lo yakin, tapi kan bunda lo belum tau kalo gue dari keluarga sederhana"


"Nis udah. Stop berpikiran negatif. Kita coba dulu yah" bujuk Azam sembari menggengam tangan Nisa erat.

__ADS_1


"Zam gue takut" lirih Nisa menghentikan langkah Azam.


"Di rumah gue nggak ada hantu"


Nisa merapatkan tubuhnya pada Azam. Jantungnya berdebar kencang saat berdiri di ambang pintu ruang tamu.


"Ada gue kok, jangan takut ya" ucap Azam menyemangati.


Nisa masih mematung, bagaimana nantu jika keluarga Azam tak menyukainya?.Belum lagi jika Bunda Azam membandingkan dirinya dengan mantan Azam dulu.


"udah gih masuk" imbuh Azam membuyarkan angan Nisa. Tangannya sigap membuka pintu.


Beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruang tamu langasung membungkukan badan saat melihat tuan mudanya datang.


Azam tersenyum sekilas membalas sapaan mereka.


Nisa meremas jemarinya, merasa dingin dikedua telapak tangannya. "Anak sultan si Azam toh, pantes motor gue disini paling juga bodyguard nya yang bawa" terka Nisa membatin.


Mereka berdua melewati ruang tengah lantas menuju ke dapur dimana Ibunda Azam berada.


"Bunda Azam pulang" teriak Azam cempreng mengagetkan Bunda Ify yang sedang memasak dibantu seorang pelayan.


"Ini Bunda gue, Bunda Ify" jelas Azam memperkenalkan.


Nisa menganggukan kepalaya lalu menyalami wanita paruh baya di depannya.


Bunda Ify dengan senang hati menerima uluran tangan Nisa.


"Nisa kan?" tebak Bunda Ify membuat Nisa terkejut.


"Iya tante"


"Beneran scantik yah nggak cuma fotonya aja" puji Bunda Ify merangkul pundak Nisa.


Nisa melirik Azam tajam, meminta penjelasan dari kalimat Bundanya barusan.


"Azam sering banget cerita tentang kamu ke Bunda, Azam juga suka nunjukin foto kamu yang meski candid tapi tetep cantik" tambah Bunda Ify membelai rambut Nisa. Azam adalah anak tunggal, tentu saja Bunda sangat senang saat Nisa bertandang. Ia jadi bisa merasakan memiliki anak perempuan.


Nisa tersipu malu mendengarnya, pipinya mendadak merona kemerahan.


"I...ya Tante" balas Nisa canggung, Ia pun menurut duduk.


"Ehm anak sendiri di lupain" cibir Azam mengingatkan Bundanya akan keberadaan dirinya.


"Halah kamu mah udah biasa"


Azam menatap bundanya kesal.


"Udah ayok makan dulu, bunda udah siapin makan siang" tutur bunda Ify lembut.


Azam mengambil kursi didekat Nisa.


"Ayok Nisa makan yang banyak. Bunda udah masakin cumi pedas manis kesukaan kamu lho" Tutur Bunda bangga.


Nisa tersenyum simpul, ketakutannya telah sirna melihat keramahan Bunda Ify.


"Bunda tau dari mana?" tanya Nisa takjub.


"Aish, Azam udah ceritanya tentang kamu. Termasuk kamu yang suka ingusan kalau nangis"


Mata Nisa sedikit melebar, Ia malu setengah mati sekarang.


Nisa mencubit paha Azam yang di duduk disebelahnya.


"Awww" Desisi Azam kesakitan


"Lho jahat banget sih, buka aib pacar sendiri" omel Nisa berbisik.


"Aib apaan? gue cerita apa adanya" elak Azam ikit berbisik.


"Ya jangan cerita yang itu juga kali"


"Maap deh"


Bunda Ify tertawa kecil melihat tingkah lucu dua sejoli di depannya.

__ADS_1


"Bunda seneng deh, akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu" ucap Bunda mencairkan suasana. Ia tak tega melihat Azam diomeli Nisa.


"Nisa juga seneng bisa ketemu Bunda"


"Dari dulu Azam nggak pernah bawa cewek ke rumah. Bunda aja sampai khawatir kalau Azam homo. Tapi sekarang Bunda udah tenang, ternyata Azam beneran normal"


Nisa menutup mulutnya menahan tawa. Jadi Ia yang pertama?. Ingin rasanya Nisa menjerit kencang meluapkan kebahagiaannya.


Astaga ia tadi saja sudah cemas kalau akan dibanding-bandingkan, ternyata? uwu sangat di luar dugaannya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Di lain sisi di waktu yang sama.


Di sebuah keramaian pantai tepat di tengah hari.


Filla mengelap keringat di dahinya, kakinya tak kuat lagi untuk berlari. Ia melambaikan tangannya tanda pasrah.


Filla duduk dipasir pantai tanpa Alas dengan menyelonjorkan kakinya. Meski penat, sebuah senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.


Tak berselang lama Aldo datang menyusul. Ia yang juga kelelahan mengejar Filla kini duduk disebelah Filla. Keduanya baru saja bermain kejar-kejaran di tepi pantai.


"Capek banget" ucap Filla kembali mengelap keringat.


"Istirahat dulu"


"Boleh nyender nggak?" tanya Filla


Aldo terdiam sesaat, Ia justru terpesona wajah menggemaskan Filla yang tengah menunggu jawaban darinya.


"Nggak boleh yah?" tukas Filla kecewa.


"Boleh kok" Aldo merangkul pundak Filla, lantas tangan kanannya mengarahkan kepala Filla pada dada bidangnya.


Filla sedikit kaget dengan perlakuan Aldo, tak bisa di pungkiri hatinya kini sudah bermekaran oleh bunga-bunga.


Aldo sendiri tidak paham dengan dirinya. Ia kini merasa ikut bahagia saat melihat senyuman yang terukir di kedua sudut bibir Filla. Mungkinkah Ia telah jatuh cinta?.


"Fill" panggil Aldo lirih.


Filla sedikit mendongak "Apa?" balas Filla memandang lurus pada Aldo.


"Lo mau nggak jadi pacar gue?"


Mata Filla mengerjap-ngerjap mencerna kalimat Aldo. Ia sedang tak salah dengar atau bermimpi kan?.


"Lo serius Al?"


"Iya, gue serius. Lo mau kan?"


Filla tersenyum lebar.


"Iya" jawab Filla sembari memeluk Aldo.


"I love you" bisik Aldo seraya mengec*p kening Filla lembut. Aldo yakin perasaanya tak salah. Dia sendiri tak bisa tegas untuk mengusir Filla menjauh darinya.


"Maaf Nis, gue nyerah" Batin Aldo mencoba melepas perasaannya untuk mantan ke kasihnya itu. Kini Ia sudah mantap untuk membuka lembaran baru untuk hati yang juga baru.-


Filla menjadi gugup merasakan kehangatan di keningnya.


"I Love you too" lirih Filla memejamkan matanya.


Aldo sedikit memundurkan tubuhnya,


"Gue beliin minum dulu" tawar Aldo seraya bersiap bangkit.


"Gue ikut, langsung ke restoran seafod aja"


"Oke" Aldo menjulurkan tangannya, membantu Filla berdiri.


"Thanks" Filla menjabat tangan Aldo, lantas bangkit.


Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan. Banyak tatapan sinis ditujukan kearah mereka yang tak suka melihat keseserasian keduanya. Cantik dan tampan, benar-benar pasangan yang sempurna.


.

__ADS_1


__ADS_2