
Nisa mempercepat langkahnya sebelum bendungan disudut matanya jebol. Ia mengabaikan tatapan ingin tahu dari orang-orang yang menyapanya. Sesekali Ia mengusap sudut matanya yang berair.
Toh mereka hanya kepo bukan peduli. Nanti-nati juga sudah lupa.
Banyak yang menyapa dan bertanya kenapa, namun Ia acuh. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena air mata yang bercucuran.
"Huwwwa" Nisa menangis kencang setibanya di rooftop sekolah. Ia menatap miris kotak bekal yang berada digenggamannya. Ia tersedu pelan, mengungat kenangannya yang telah lalu. Dulu Ia sering duduk dibangku taman kota bersama Aldo, ditemani sekotak kue brownis cokelat makanan favoritnya.
"Biasanya gue makan disuapin, hiks" gumam Nisa pelan, Ia menyuapkan sendiri potongan kecik kue coklat itu ke dalam mulutnya.
"Apa perlu gue suapin hmm?"
Nisa tersentak kaget, Ia refleks menoleh ke belakang. Matanya terbelalak lebar, ditatapnya Azam yang tengah berkacak pinggang dengan jarak satu meter darinya.
"Lo ngapain disini?"
"Suara tangisan lo kedengeran sampe kelas, brisik tau"
Nisa membuang muka, pipinya memerah. Ingin sekali Ia melempar wajah Azam dengan kotak bekalnya. Namun urung, Ia tak ingin balas dilempari omelan pedas seperti bon cabe level seratu oleh Azam. Ia berjalan mendekati Nisa, memgambil tempat duduk disampingnya.
"Lo kenapa?" ucap Azam lembut, Ia menyeka sisa air di pipi Nisa.
"Gue.." Nisa terbata, isakannya kembali terdengar. Azam memgambil kepala Nisa, menyimpannya didada bidang miliknya. Ia mengusap punggung Nisa yang bergetar berusaha menengkan.
"Gue nggak papa kok" ucap Nisa lirih.
"Bilang nggak papa tapi nangis bombay"
"Gue nggak nangis, air mata gue aja yang nakal berontak turun"
Azam mengangkat dagu Nisa, ditatapnya lekat-lekat kedua boleh mata Nisa.
"Lo kenapa? sini cerita sama gue" ucap Azam tulus.
"Gue boleh pinjem dasi lo nggak?"
"Buat apa?"
"Enggak boleh ya udah" Nisa melepas pegangan tangan Azam didagunya.
"Eeeh iya, boleh kok" jawab Azam cepat, Ia segera melepas dasinya. lalu menyodorkan pada Nisa.
"Makasi" Nisa mengembangkan senyumny, Lantasa mengelap ingusnya yang keluar.
Azam menelan salivanya, menatap Nisa tanpa kedip.
"Kenapa? lo jijik sama gue?"
"Emm enggak kok" jawab Azam sedikit ragu.
"Terus kenapa ekspresi lo kayak orang minta dicolok?"
"Emm cuma rada ilfeel aja" ucap Azam jujur.
"Itu sama aja b*go"
"Hehhe maap"
"Ya udah nih gue balikin"
"Hah?😲"
"Kenapa?" atau mau buat sumpel mulut lo?"
Azam segara mengatupkan bibirnya.
"Enggak kok"
"Ya udah ambil"
"Tapi..."
"Apa gue semenjijikan itu di wmata lo?" ucap Nisa lirih, memasang puppy eyes.
"Emm enggak kok" Azam terpaksa mengambil dasinya, huh untung sayang.
Nisa tersenyum lebar,
"Uuuh jadi sayang"
"Udah yuk balik, abis ini ada pembagian kartu UAS"
"Bentar" Nisa menarik tangan Azam yang hendak bangkit.
__ADS_1
"kenapa?"
"Lo kok bisa disini?" tanya Nisa heran.
"Gue tadi mau nyusulin lo ke taman belakang buat balik lagi ke kelas, tapi malah udah ketemu di depan toilet. Mau gue samperin tapi lo keburu pergi, ya udah gue ikutin lo sampe sini"
"Gue males balik"
"Jangan gitu dong, kasian anak-anak yang lain . Lagian cuma sebentar kebersihannya abis itu pulang kok"
"Enggak ada pelajaran?"
"Enggak, kan besok senin udah UAS. sekarang tinggal glady bersih"
"Bagus deh, gue juga lagi nggak mood ikut pelajaran"
"Lo tadi ngapain sama Aldo?"
"Temu kangen"
"Lo nggak balikan kan?"
"Belum"
"Lo mau balikan sama dia?"
"Kalo iya kenapa?"
Azam menghela nafas,
"Gue doa in langgeng dunia akhiratt"
Nisa berdecak kesal mendengar jawaban yang tidak mengenak dihatinya dari bibir Azam.
"Lo nggak nyegah gue?"
"Enggak"
"Kenapa?"
"Kalo lo bahagia gue juga bahagia. Kalo bahagia lo dia kenapa gue masih maksa?"
"Sok puitis lo"
"Emamg kedalaman hati lo berapa meter?"
"Yang jelas lebih dalem dari palung mariana" jawab Azam bangga.
"Wuih pantes gue tenggelam dalam rayuan mu"
"Kok masih hidup?"
"Iya, kan yang melayang hanya separuh nyawa ku"
"Emang ada orang mati setengah-setengah?"
"Ada, kan pepatah mengatakan kaulah separuh nyawaku. Jadi gue masih bisa numpang hidup sama lo"
"Parasit"
"Tenang, gue kasi jatah nanti" Nisa mengedipkan matanya, menggoda.
Azam menyeringai licik, lalu menggigit pinggir bibir bawahnya.
"Omes" Nisa mengusap wajah Azam, membuang fikiran kotor yang menempel diotak Azam.
"Lo dulu yang mancing"
"Jatah apa dulu hayoo?" Nisa menatap Azam intens
"Eh emang apa?" Azam mengaruk tengkuknya, salah tingakah.
"Udah ayok balik ke kelas" balas Azam seraya bangkit dari duduknya. Tak nyaman ketahuan mesum.
"Gendong"
"Ogah, lo berat"
"Engak lah , kan gue kuyus" rengek Nisa
"Emang lo nggak malu diliatin guru-guru?"
Nisa tersenyum tanggung, menyadari kebodohannya.
__ADS_1
Keduanya menyusuri lorong sekolah dalam hening, larut dengan pikiran masing-masing. Azam membisu, pikirannya masih tertinggal pada ucapan Nisa di rooftop sekolah.
"Berjuang boleh, namun untuk apa bertahan jika kehadirannya tidak diinginkan?"
"Nisaaa" panggil Icha nyaring, pasalnya ia ditinggal sendirian ditaman belakang hanya ditemani angin lalu, Filla yang tadi hendak ke toilet pun ikut raib entah kemana. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kelas, beruntung Yola masih setia di sini.
"Hai Fans" balas Nisa cuek.
"Dari mana aja sih" kesalnya
"Sorry tadi gue ada urusan bentar"
"Urusan apa lagi pacaran" cibir Yola yang melihat Azam datang Nisa.
Nisa tertawa kecil, Ia tahu sahabatnya sedang dilanca cemburu.
"Sorry gue bukan penikung"l
"Bukan penikung tapi penggoda" imbuh Icha mengompori.
"Cowok lo aja yang kegatelan" sanggah Nisa.
"Heh sembarangan" sahut Yola.
"Yang namanya setia tak kan tergoda untuk mendua"
"Kantin yuk gaes" ajak Filla yang tiba-tiba muncul.
"Abis dari mana lo?" jawab Yola penasaran, melupakan ucapan Nisa.
"Toilet"
"Kok gue tadi nggak nemuin lo?"
"Toilet mana dulu, sekolah kita luas"
Icha mengangguk-angguk, percaya.
"Yuk cus" ajak Filla lagi.
"Ayok" jawab Yola.
"Gue mau langsung pulang aja deh" tolak Nisa. Suasana hatinya sedang kacau ia membutuhkan kesunyian untuk menenangkan.
"Lho kenapa? lo sakit? atau azam ngapa-ngapain lo?" tanya Icha beruntun.
"Gue baik-baik aja dan gue sehat" ucap Nisa sebal.
"Paling juga mau molor" sahut Yola sok tau.
"Pinter banget si" Nisa menarik kedua pipi Yola gemas.
"Iya dong, Yola"
"Pinter tapi kok nilai matematikanya dapet dua" ledek Icha sembari menutup mulutnya.
"Gue kan cuma pinter bukan jenius, maklum lah" sanggah Yola.
"Udah jagang ribut, buruan yuk kantin" potong Filla tak sabar.
"Temen lo tuh songong" Yola mendahului berjalan pergi, Filla mengekor dari belakang.
"Gue pergi dulu Nis, hati-hati pulangnya" pamit Icha melambaikan tangannya.
"Siap bos"
Nisa bersiap pulang, lima belas menit lagi jam untuk kebersihan telah usai. Hari ini pulang lebih awal, pukul sebelas siang, agar siswa siswi SMA Nusa Bhakti dapat rehat sebelum ikut ujian.
"Nih punya lo" Azam memberikan kartu tanda peserta UAS milik Nisa.
"Makasi" Nisa menerima kartunya, menyimpan dalam tas punggungnya tanpa melihatnya lebih dulu.
"Mau gue anterin pulang?"
"Gue bawa motor sendiri"
"Okey hati-hati"
Nisa tersenyum singkat, kemudian melenggang pergi. Azam menatap tubuh Nisa yang kian menjauh, ada rasa kehilangan menyeruak masuk ke dalam hatinya.
Tugas ku hanya sebatas mencintaimu, entah itu diterima atau tidak itu urusan mu.
Tugasku hanya sebatas menjaga mu, masalah memiliki aku cukup sadar diri.
__ADS_1
Meski aku mencintaimu, percayalah aku tak oenah menahan mu untuk tetap bersama ku.