Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 34 Mati Rasa


__ADS_3

Nisa menghempaskan tubuhnya dikasur empuk tempat tidurnya. Malas sekali rasanya untuk berganti pakaian, tubuhnya terasa penat. Nisa tidak habis pikir, kenapa semua sahabatnya menatap tajam ke arahnya. Terutama Filla, ia bahkan bisa merasakan atmosfir tidak suka darinya.


Ketukan keras di pintu kamarnya membuat angan-angannya terputus.


"Nisa" Panggil Dian lantang, ia mengetuk pintu sekali lagi.


"Iya Ma" Nisa membuka pintu kamarnya malas.


"Ada apa?" tanya nya.


"Ya ampun Nisa, kamu anak gadis kenapa jorok sekali cepat mandi dulu" omel Dian.


"Nisa capek Ma"


"Setiap hari juga kamu mengeluh capek, apa setiap hari juga kamu tidak mau mandi?" sergah Mamanya sambil menarik pelan telinga Nisa.


"Aww aduh, iya Ma Nisa mandi"


"Buruan gih"


"Iya tapi lepasin dulu tangan Mama" ucap Nisa kesal, telinganya terasa hendak putus.


"Oh Iya Mama lupa" jawab Dian tanpa merasa bersalah, ia segera melepaskan tangannya dari telinga Nisa.


"Mama tunggu dibawah selesai mandi langsung makan" perintahnya.


"Mager"


"Ya sudah" Dian menatap cuek Nisa, kemudian melenggang pergi pura pura tidak peduli.


"iiih Mama, kenapa enggak peka sih"


"Terserah kamu, nanti kalau sakit juga kamu yang ngerasain buka Mama"


"Mama kok jahat, doain Nisa yang jelek"


"Mama juga inget stok obat masih banyak dirumah, kalu kamu sakit ya syukur ada yang bantu menghabiskan tanpa terbuang percuma karena kadarluarsa"


"Mama tega banget jadi emak-emak" Nisa menghentakan kakinya berjalan menuju kamar mandi.


Dian tertawa kecil dalam hati, ia tahu tabiat Nisa yang susah sekali disuruh makan, namun jika dibiarkan malah nanti Nisa sendiri yang akan merengek meminta ditemani makan.


Nisa mengguyur tubuhnya, sensasi dingin air yang mengalir dari atas kepalanya memberikan kesejukan baru. Ia mengambil sabun cair menuangkan pada spon mandi berwana merah muda, mulai menggosok setiap inchi tubuhnya. Ia meraup aroma bunga lavender yang menyebar dikamar mandinya.


Nisa mempercepat menyelesaikan ritual mandi sorenya saat perutnya berkerucuk lapar.


"Tumben cepet mandinya Nis?" sapa Dian saat melihat yang sudah duduk rapi didepannya.


"Dede cacing laper Ma"


"Cacing kok dipelihara, mending juga kambing lumayan hasilnya"


"Melihara kambing mah hasilnya engga seberapa, melihara tuh tuyul biar luar biasa hasilnya"


"Huss ngawur kamu"


Nisa mengendikan bahunya, mengambil Nasi satu centong penuh masih ditambah setengahnya.


"Tadi Mama lupa ngasih tahu, nanti malam Mama ada acara Arisan kamu tunggu dirumah yah" ucap Dian memecah keheningan dimeja makan.


"Jangan lupa bawain oleh-oleh buat Nisa"


"Mama mau arisan bukan liburan"


"Hehehe, bawain Nisa bingkisan apa kek"


"Iya nanti kalo engga lupa" ucap Dian enteng.


Nisa mengelus dadanya melihat mamanya dengan cemberut "Sungguh terlalu emak gue"


"Pulang jam berapa Ma?" lain dimulut lain dihati, bukannya nyinyir dengan kelakuan Mamanya tetapi malah sok care.


"Mama mau sekalian menginap sekalian"

__ADS_1


uhukk..uhuk..


"Apa Ma?" Nisa membulatkan matanya, jiwa kucurnya meronta-ronta.


"Iya Mama mau menginap soalnya acara arisan akan selesai pukul sebelas enggak baik perjalanan malam untuk orang tua kayak Mama"


"Nisa ikut ya Ma" pinta Nisa Manja, ia takut ditinggal sendirian. Bagaiman nanti jika ada maling atau hantu? kan engga lucu kalo harus nangis batinnya parno.


"Kamu dirumah saja Nisa, Mama cuma mau arisan bukan kondangan kenapa ikut?"


"Siapa tau aja yang bening kan lumayan buat cuci mata"


"Emang kamu doyan sama tante-tante?"


"Ya engga lah"


"Ya udah ngapain ikut, Mama itu mau arisan bukan kondangan mana ada cogan yang ada juga cuma emaknya"


"Ya udah engga papa anggap saja kenalan dulu sama camer"


"Sekolah dulu yanga bener, camer..camer"


"Intinya Nisa mau ikut titik" tegas Nisa bersikeras dengan mata menatap memelas, berharap dikasihani.


"Engga boleh"


"Yah Mama" desah Nisa kecewa .


"Nanti Mama beliin kamu boneka bear baru gimana?" tawar Dian menyogok.


"Waaah serius Ma?"


"Iya"


"Nisa mau yang warna pink"


"Iya"


"Yang tingginya dua meter"


"Iya"


"Iya" Dian tanpa sadar mengiyakan semua ucapan Nisa.


"Yes" Nisa berseru girang membayangkan kaamrnya yang akan dioenubi boneka lucu dengan warna favoritnya, merah muda.


Dian tersentak kaget, sepertinya ada yang salah. "Tunggu dulu, sepuluh pasang? itu artinya berjumlah dua puluh?


"Enggak" Seru Dian kemudian "Untuk apa boneka sebanyak itu?"


"Terserah Nisa Mama udah setuju nggak bisa dicancel"


"Nisa kalau kamu mau jualan modal sendiri dong jangan manfaatin Mama" gerutu Dian kesal, Ia bakit berdiri hendak mencuci piring bekas makannya.


"Nisa enggak mau tau pokoknya Mama harus beliin Nisa, kalo engga berarti Mama harus mengajak Nisa arisan" jelas Nisa menggebu-gebu merasa untung banyak.


Dian menarik napasnya dalam-dalam, menghembuskannya dalam sekali sentakan.


"Iya nanti Mama belikan" Ucapnya mengalah setelah itu membalikan badan pergi menuju ruang tengah, menyalakan televisi.


Nisa menyusul Mamanya, duduk disampingnya ikut menonton TV. Satu jam berlalu, Dian menguap lebar tidak tertarik menonton kartun yang diputar Nisa. Dia lebih suka menonton drama Ku Menangis.


"Mama mau kemana?" tanya Nisa yang melihat Mamanya bangkit berdiri.


"Mama mau siap-siap dulu"


Nisa melihat jam dinding, waktu menunjukan pukul enam lebih lima belas.


"Mau berangkat jam berapa Ma?" teriak Nisa bertanya basa basi.


"Nanti jam tujuh"


Nisa mematikan televisi nya, membuang remote ke sembarang arah merebahkan diri disofa.

__ADS_1


Dian keluar kamar tepat saat jarum jam berada diangka tujuh dan dua belas. Dian tidak tega membangunkannya, melewati Nisa yang sudah terlelap mau menggendongnya untuk mwmindah kw kamar pun tidak bisa. Ia tidak mau ambil pusing segera bergegas pergi ke alamat yang yang hendak ditujunya.


Nisa membuka matanga perlahan, bulu kuduknya merinding. Ia mengernyitkan dahinya perlahan mengapa suasana rumahnya mendadak terlihat mengerikan.


Nisa turun bangkit menuju kamarnya, ia mencari keberadaan ponslenga. Nisa menscroll beranda sosial medianya, menghikangkan ketakutannya. Tidak lama kemudian ia mendengar deru suara motor yang berhenti didepan rumahnya. Ia berlari kecil menururuni tangga, saat seseorang diluar sana dengan tidak sabar memencet bel berkali-kali.


"Iya sebentar" teriak Nisa.


"Siapa sih" gerutunya.


Ia membuka pintu dalam sekali hentakan, ia membuka mulut saat melihat yang datang bertamu.


"Zen?"


"Hay Nis" sapanya riang mengeluarkan senyum termanis yang dimilikinya.


"Hay...lo ngapain kesini?"


"Gue mau ngajak lo jalan" ungkapnya dengan penuh percaya diri.


"Gue nggak salah denger?" ulang Nisa tidak percaya.


"Enggak kok emang kenapa?" Zen melempar balik pertanyaan.


"Enggak si" Nisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal canggung harus menanggapi bagaimana.


"Lo Mau kan?"


"Emmmm" Nisa berpikir sebentar mengira angin apa yang membuat Zen ngapel kerumahnya.


"Mau kan?"


"Okey, lo tunggu disini sebentar gue ganti baju dulu"


"Siap gaes, sebentar kan enggak lama?" ucap Zen dengan menekan kata sebentar.


"Iya" jawab Nisa ketus, ia melangkah masuk. Ia tidak mempermasalahkan ajakan Zen, toh dirinya dirumah sedirian dari pada jenuh lebih baik pergi keljar dengan Zen.


Zen menunggu dengan sabar, ia mengigit gigit kecil bibir atas bawah nya bergantian.


"Yuk berangkat" ajak Nisa sambil menggunakan jaket berwarna Navy nya.


"Yang namanya sebentar itu berapa jam sih?" tanya Zen gusar.


Nisa nyengir kuda "Udah buruan jalan keburu malem" ujarnya sambil berjalan gontai menuju motor sport Zen.


"Dasar mak lampir" celetuk Zen sedikit keras.


"Mau jalan nggak?" gertak Nisa galak, ia menatap Zen cemburut.


"Iya iya" Zen menjalankan mobilnya, membelah jalanan kota.


"Kita mau kemana?" Nisa mengarahkan pandangannya keluar jendela, menikmati suasana malam kota.


"Ke kafe X gimana?"


Nisa membeku dikursinya, memandang tanpa berkedip dua sosok yang baru saja keluar dari sebuah toko boneka. Tampak seorang lelaki menggendong boneka bear merah muda dipunggungnya sedangka seorang gadis dengan ceria memeganginya dari belakang.


"Nisa" .Tidak ada jawaban dari bibir mungil Nisa, Zen memutuskan ikut melihat kelauar dari jendela yang sama dengan Nisa. Ia tersenyum kecut melihat Aldo yang tampak seperti keberatan menggendong boneka jumbo di punggungnya sedangkan Yola tertawa ceria melihat Aldo yang lucu menggendong boneka sebesar itu. Ia memeganginya dari belakang supaya benda gendut itu tidak terjatuh. Ttngan Aldo tidak dapan melingkar sempurna diperut bear pink dipunggungnya. Benda itu tiga kali lipat dari besar tubuhnya.


"Nih gue sediain tissu kalo mau nangis" Zen melempar sekotak tissu besar dipangkuan Nisa.


"Buat apa" tanya Nisa dingin


"Lo nggak mau nangis?"


"Gila, ya enggak la"


"kenapa, kemaren aja lo nangis kan?"


"Itu kemaren beda sama sekarang?"


"O ya? kok bisa"

__ADS_1


"Karena gue udah mati rasa sekarang". Nisa mengalihkan pandangannya kedepan, ia sudah memutuskan untuk bahagia kemarin malam. Ia tidak ingin menangis untuk sesuatu yang bernama cinta.


Zen melirik Nisa sekilas yang tampak tegar sekarang, berbeda saat kemarin siang menemukannya didepan mini market lusuh dan lemah dengan bercak air mata mengering dipipinya.


__ADS_2