Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 56


__ADS_3

" Gimana akting gue?" tanya Ardan sesampainya diluar kelas.


"Gila, The best pokoknya" sambut Fian dengan bertepuk tangan pelan.


"The best mata lo bunder, itu mah modus" cecar Aldo mencebikan bibirnya.


"Alah Al, kan biar totalitas" sanggah Ardan.


"Iya, tapi kan.."


"Udah nggak usah tapi-tapian. Sekarang giliran lo" Ardan mendorong tubuh Aldo agar masuk ke dalam kelas.


"Duh sabar dong, gue nervous nih"


"Jangan banyak cingcong, buruan gih" timpal Zen yang ikut geregetan.


"Heleh, emang lo berani nyamperin Icha sekarang?"


Zen membisu di tempatnya, tidak bisa membalas ucapan Aldo.


Ardan mati-matian menahan tawanya melihat Zen yang mati kutu.


"Udah gih buruan, jangan sampe tenaga yang uda gue keluarin terbuang sia-sia" Ardan menepuk-nepuk bahu Aldo menyemangati


"Jangan lupa libatkan Allah di setiap masalah agar langkah perjuangan mu menjadi berkah" pesan Fian.


Aldo mengangguk, mengangkat perlahan kakinya mulai melangkah.


"Udah ngak usah lo dengerin, ke kantin aja yuk" ajak Nisa cepat saat matanya beradu pandang dengan Kedua manik hitam milik Aldo. Nisa tidak mau ribet berurusan dengan Aldo, Ia memutuskan untuk segera pergi.


Nisa mengelus punggung tangan Azam, membuat empunya tersentak kaget. Aldo menenangkan gemuruh didadanya, hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Gue minum dulu haus" ucap Nisa dengan nada yang lemah lembut, sengaja memanasi Aldo.


Aldo menelan salivanya, Ia semakin ragu untuk semakin mendekati.


"Emm lo mau istirahat bareng gue ngak?" ucap Aldo membuka suaranya.


"Mau dong" jawabnya cepat seperti takut Aldo berubah pikiran. Aldo tersenyum kecil melihat tangan kanannya sudah digenggam seseorang. Mereka berdua pun melangkah keluar.


"Astagfirulloh" seru Ardan tersentak kaget begitu melihat Aldo yang keluar dengan sosok yang bergelayut manja disampingnya.


Fian membuka kelopak matanya lebar, sepasang mata bola yang berkombinasi warna hitam putih seperti ingin mencuat keluar dari tempatnya.


"Gue pikir Aldo mau bawa bidadari kenapa yang keluar mbak kunti?" ucap Ardan terkejut.


Fian menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Temen lo udah rada gesrek kek nya deh" sambung Zen yang juga melongo takjub dengan kejutan yang diberikan Aldo.


"Perlu kita selidiki gaes, yok susulin" tambah fian menarik tangan Ardan.


"Temen lo kan dua, kenapa yang diajak cuma satu" protes Zen.


"Sorry gue lupa" Fian berbalik arah untuk menggandeng Zen. Ketiganya kini berjalan seperti ala cabe-cabean dipasar loak.


*********

__ADS_1


Sesampainya dikantin, Filla langsung menghampiri meja tepat dimana Yola berada.


"Kok lo bisa sama Aldo?" tanya Yola bingung melihat Filla datang bersama Aldo bukan Nisa.


"Iya tadi Aldo nyamperin gue ke kelas buat istirahat bareng, nggak papa kan dia gabung sama kita?" sahut Filla menjelaskan.


"Lho Nisa mana?" tanya Icha yang baru saja datang sambil membawa nampan berisi empat mangkuk bakso dan es teh.


"Nisa tadi bilang mau ke kantin sama Azam"


"Oo iya" Icha memberikan semangkuk bakso dan segelas es teh untuk Filla, kemudian bergantian memberikan jatah pada Yola.


"Makasi" Filla menerima pemberian Icha, Ia menarik satu mangkuk bakso yang masi tersisa dinampan untuk Aldo.


Icha terperanjat kaget memperhatikan aktivitas Filla.


"Buat gue?" tanya Aldo memastikan saat melihat melihat Yola menyorot tajam tampak tidak terima.


"Iya, buruan makan mumpung masih anget" jelas Fila mengacuhkan tatapan kesal Yola.


Aldo ragu menyendok baksonya, rasanya seperti mustahil saat dia baru saja datang namun sudah dipesankan.


"Kenapa? lo mau pesan makanan yang lain Al?" ucap Filla yang duduk berseberangan dengan Aldo.


"Enggak kok Fil" Aldo menggeleng canggung, kemudian menyuapkan potongan kecil baksonya.


Tak lama kemudian Fian datang beserta Ardan dan juga Zen. Mereke bertiga berebut untuk disamping Aldo hendak menagih penjelasan.


Fian berdecak kesal saat melihat Aldo yang sedang menyeruput es teh manis.


Aldo memaksakan senyum menyambut ocehan Fian.


"Lo pesenin gih Zen". Zen mengangguk menurut perintah Aldo.


Ardan mencolek perut Aldo, menunjuk Filla melalui dagunya.


"Gue grogi tadi, lo tau kan Nisa sekarang galaknya ngelebihin mak lampir" jelas Aldo berbisik.


Ardan menepuk jidatnya,


"Makanya udah jadi tugas lo biar bikin Nisa klepek-klepek lagi sama lo" cetus Ardan geregetan. Ia harus merapatkan giginya agar tidak terpancing emosi.


"Lo nggak tau si gimana seremnya waktu dia melotot ke gue, sumpah tu mata udah kek mau copot" Aldo bergidik ngeri membayangkan mata Nisa yang hendak keluar.


"Terserah deh" ucap Ardan pasrah.


Aldo mengemhuskan nafas pelan, otaknya terasa buntu untuk menghadapi kegarangan. Nisa.


"Tenang bro, gue akan selalu ada disisi lo" seru Fian asal saat melihat raut wajah sayu Aldo.


"Thanks ya bro" Aldo tersenyum kecil memiliki harapan baru, merasa beruntung memiliki teman fakboy seperti Fian. Aldo yakin Fian pasti mau membagi tips rahasia menaklukan hati wanita.


"Sellow men, asal jangan lupa lo bayarin makanan gue yah" ucap Fian saat Zen datang memebawa pesanan mereka.


Bibir Aldo kembali cemberut, mengingat sifat matre sahabatnya.


"Njir nggak peka banget lo jadi sohib" cerca Nisa nyaring saat tak melihat magkuk bakso bagiannya.

__ADS_1


"Maaf Nis gue lupa" jawab Icha berbohong tidak ingin berbuntut panjang. Namun lain hal dengan Yola, saat Nisa tak sengaja menatapnya Yola mengode melalui sudut matanya mengarah pada bakso yang sedang dimakan Aldo.


Nisa mendengus kasar, paham arti kodean Yola.


"Lo mau makan? apa biar gue yang mesenin" ucap Azam menengahi, tidak tega melihat Nisa yang sudah kelaparan.


"Apa aja yang penting halal nggak ngambil punya orang" ketus Nisa. Filla melirik tajam tak suka pada Nisa mendengar ucapannya barusan.


Azam masih terdiam ditempatnya, bingung hendak memesan apa.


"Udah apa pun yang lo kasih gue terima kok, gue menghargai orang yang mau berusaha bukan yang mau hasil instan"


Filla menggenggam sendoknya lebih kuat, menahan emosinya mendengar sindiran Nisa.


"Anjim, kalo bukan ditempat umum udah gue cincang mulut lo pake garpu Nis"


"Okey, gue pesenin dulu yah" Azam bersiap bangkit dari duduknya.


"Al lo kenapa? mau gue suapin?" tanya Filla yang melihat Aldo hanya mematung. Ia memberanikan diri menyodorkan sendok berisi potongan bakso ke mulut Aldo.


Aldo patah-patah menerima suapan Filla.


Tak lama kemudian Azam datang membawa pesanannya. Ketika Azam hendak meletakan mangkuk bakso untuk Nisa saat itu juga Nisa berinisiatif agar mengambil sendiri baksonya. Tangan keduanya tanpa sengaja bersentuhan membuat keduanya saling pandang.


"Cieeee" seru Fian menggoda.


Nisa segera melepas peganganya setelah melempar sekilas senyuman kepada Azam sebagai bentuk perminta maafannya.


"Makasi" ucap Nisa sambil menunduk karena malu.


"Kembali kasih" jawab Azam sembari duduk disamping Nisa.


"Fil buruan dong gue laper nih" celetuk Aldo yang kini telah dibakar cemburu.


"Oh iya, gue lupa" Filla meneruskan suapanya ke mulut Aldo yang sempat terhenti.


Nisa menyendok kasar potongan baksonya, entah mengapa perasaannya menjadi tidak tenang. Ada rasa kesal bercampur sedikit kecewa di dadanya.


Nisa memasukan lagi potongan baksonya dengan rakus, membayangkan sedang mengunyah Filla hidup-hidup yang tampak sok manis di depannya itu.


"Lo laper apa doyan sih" Azam tanpa sadar lamgsung mengelap bibir bawah Nisa yang sedikit belepotan karena saus bakso. Nisa tersentak dari halusinasinya.


"Uhuk..uhuk.."Sontak Aldo tersedak bakso yang sedang ditelannya.


Filla refleks memberikan minuman pada Aldo


"Pelan-pelan makan nya jadi belepotan kan" Azam menunjukan ibu jarinya yang tertempel sedikit saus. Nisa tersenyum pada Azam, bukan karena berterima kasih namun karena meyadari Aldo yang tengah jealous padanya. Azam mengacak pucuk rambut Nisa sebagai jawabanya.


"Hati-hati dong Al" Tangan kiri Filla telaten memijat punggung Aldo sedangkan tangannya masih setia memegang gelas es teh yang sedang diminum Aldo.


Aldo memegang tangan Filla agar menurunkan gelas es teh dari mulutnya.


"Thanks yah" ucap Aldo dengan nada penuh penekanan.


"Sama-sama" ucap Filla lembut.


Nisa tanpa sadar berdecak kesal memyambut genderang perang dingin di kibarkan oleh Aldo.

__ADS_1


__ADS_2