Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 57


__ADS_3

Aldo membereskan peralatan tulisnya dengan cepat, Ia akan mencobanya lagi untuk memdekati Nisa. Aldo mengepalkan tanganngan kuat-kuat membulatkan tekadnya, menumbuhkan nyalinya, memantapkan hatinya agar tak gentar saat menghadapi penolakan dari Nisa.


"Gimana, udah siap?" tanya Fian memastikan.


Aldo mengangguk mantap, Ia yakin kali ini akan tidak akan gagal. Meski Ia sendiri ragu Nisa akan menerimanya atau tidak namun Ia akan terus mencoba dan berusaha.


" Udah rapi belum?" tanya Aldo sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya.


Fian memutar badan Aldo hingga 360 derajad.


"Sip dah," jawab Fian sembari melihat seragam yang dipakai Aldo telah masuk sempurna dalan celana osisnya.


"Bukan itu dodol, rambut gue berantakan nggak?" ucap Aldo meralat pertanyaannya.


"Uuuh ganteng bingits abang" jawab Fian mengacungkan dua ibu jarinya.


"Udah cocok jadi Orang ganteng nomer wahid lo Al" timpal Ardan saat melihat gaya rambut Aldo yang dibelah tengah.


"Super perfect pangkat kuadrat lo bang" sambung Zen.


"Okey thanks gays, lo bertiga emang temen paling ter the best gue" Aldo memberikan kiss bye nya untuk ketiga temannya satu persatu.


"I love you so much All" Ucap Aldo bersiap pergi.


"I hate you too" balas Ardan sambil bergidik jijik menerima kiss bye dari Aldo.


"Eh bentar, tapi masih ada yang kurang" cegah Fian sambil mengaduk-aduk isi tasnya.


Fian membalik tasnya menghadap ke bawah, menumpahkan segala isinya diatas meja.


"Apa lagi sih Yan" ungkap Aldo tidak sabar.


"Nah ini dia" Fian mengambil sebotol minyak wangi dari balik tumpukan plastik bekas makanan dan buku tulis lusuh miliknya.


"Itu tas apa tong sampah? isinya barang bekas semua" cibir Ardan.


"Jangan liat isinya tapi liat luarnya, lo nggak liat merk tas gue apa?" jawab Fian sinis.


"Ehmm mulai sombong sekarang yah bund"


"ya iyalah, segala sesuatunya emang patut disombongkan". ucap Fian bangga.


"Yaps biar nggak dicap misquen lagi noh sama mulut tetangga" imbuh Zen.


Ardan melirik tajam pada Zen yang membela Fian.


"Jaman sekarang orang melihat dari hasil bukan proses usahanya jadi kalo udah sukses harus sombong biar pada semangat tuh yang nyinyir" balas Fian semakin serius.


"Udah deh jangan ribut gue yang punya pabriknya aja sans aja kok" lerai Aldo malas menimbrung bacotan teman-temannya.


"He..he Iya gue lupa" Fian nyengir kuda mendengar ucapan Aldo.


"Oke, kembali ke topik pembahasan" Fian segera menyemprotkan minyak wangi beraroma pink bloom ke seluruh tubuh Aldo.


"Gila, itu parfum apa pestisida sih" Ardan segera menutup hidungnya saat Fian over menyemprot kan parfumnya, aroma wangi yang menguar terasa menyengat di indra penciumannya.


Bahkan Ardan berani bertaruh kulit Aldo saat ini pasti terasa lembab karena seragam yang dikenakanya sedikit basah terkena parfum.

__ADS_1


"Hidung lo norak banget sih, nggak pernah nyium parfum mahal pasti nih" celetuk Fian kesal saat melihat Ardan berulangkali menggosok-gosokan hidungnya dengan jari telunjuknya.


"Njir lo yang over dosis make parfumnya" sanggah Ardan tidak terima.


"Brisik banget lo, Aldo aja fine-fine aja " elak Fian.


"Dia kan orangnya sabar makanya nerima apa adanya"


"Lo dua bisa diem nggak? kepala gue udah pusing nih" cerca Zen sambil memijat pelipisnya.


"Nah kan Zen aja sampe mau pingsan gara-gara parfum lo" ejek Ardan.


"Heh lo berdua tuh yang sama-sama kamseupay" balas Fian masih tak mau kalah.


"Kalo kalian ribut terus gue kapan berangkatnya" gerutu Aldo.


"Udah Al lo pergi aja, ketemu doi ya harus wangi. Jangan lo dengerin ocehan manusia nggak berguna tu dua"


"Sialan lo" Ardan menjitak kepala Fian.


"Tapi kok wanginya kek parfum cewek yak" ucap Aldo merasa tidak asing dengan wangi parfum di tubuhnya.


"Namanya juga mau ketemu cewek, ya harus pake parfum aroma cewek la biar nyambung" papar Fian.


"Nyambung dari hongkong, nanti gue dikira bencong lagi" ucap Aldo.


"Eh btw kok gue kayak kenal wangi ni parfum" Aldo mengendus-ngendus lagi tubuhnya.


"Ya ialah itu kan wangi parfum yang biasa Nisa pake" ceplos Fian.


"Uppps" Fian sontak menutup mulutnya.


Aldo mendenguskan nafasnya, "pantas aja Nisa dulu sering kehilangan parfum ternyata ini biang keroknya".


"Kan kita temenan udah lama, tiga taun" jelas Fian asal.


"Sejak kapan lo jadi fans Nisa?" selidik Zen memicingkan matanya menatap Fian.


"Eh liat tu ada Nisa" seru Fian sambil menunjuk keluar jendela kelasnya menuju lapangan bola voli. Ketiganya pun serempak mengarahkan pandanganya keluar jendela.


"Kaburrrrr" teriak Fian sambil berlari kencang ke luar kelas.


"Shit, cari gara-gara dia" Ardan menggulung lengan seragamnya hingga bahu.


"Kali ini lo bisa lari, tapi lain kali gue nggak akan lepasin lo. Gue kejar sempe ujung dunia sekali pun" timpal Zen sambil memandang ke arah Ardan, keduanya pun mengangguk.


"Lo serius mau ngajar sampe ujung dunia?" tanya Aldo tak percaya.


"Serius bin dua rius"


"Emang lo tau ujung dunia dimana?"


"Enggak si" jawab Zen sembari memamerkan gigi putihnya.


"Lain kali kalo ngomong dipikir dulu yah" Aldo menepuk pundah Zen, lalu melenggang pergi memulai misinya.


"Temen lo pinter banget Ar sampe nggak bisa bedain mana yang seriusan sama yang cuma kiasan" gerutu Zen seraya berdecak kesal.

__ADS_1


"Emang bener kata pepatah, cinta bisa membuat orang yang terkena virusnya jadi bodoh" Tambah Zen.


Ardan mengedikan bahunya, tidak peduli.


"Pulang yok laper nih" Ardan merangkul bahu Zen, melangkah bersama menuju parkiran.


Sesampainya di parkiran.


"Hah itu beneran Aldo?" Zen mengucek-ngucek matanya memperjelas penglihatannya.


Ardan mematung ditempatnya, melongo melihat seseorang yang dibonceng Aldo di atas motornya.


"Heh gue tanya sama lo" Zen merapatkan kembali mulut Ardan yang terbuka dua senti.


"Dasar ABG labil, tadi bilang mau Nisa kenapa sekarang berubah jadi Filla?" Ardan menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Aldo yang kini telah melajukan motornya dengan Filla yang memeluknya dari belakang.


"Sumpah gue nggak ngerti jalan pikiran Aldo gimana"


"Banyak omong dia mah tapi nyali kosong" cibir Ardan.


"Udah lah pulang yuk" lanjut Ardan.


"Satu misi aja belum kelar, udah nambah lagi" celetuk Zen sebal.


Ardan tidak mau ambil pusing, Ia mengeluarkan motornya dari parkiran.


"Ar gimana dong"


"Apah?" tanya Ardan heran yang melihat Zen seperti orang kebingungan.


"Kunci motor lo ilang?"


"Bukan"


"lo lupa naruh motor dimana?"


"Bukan"


"Terus apa? nggak tau cara ngeluarin motor dari parkiran?" desis Ardan geregetan.


"Kita mau selidikin yang mana dulu nih? Fian atau Aldo?" tanya Zen polos.


Mata Ardan menyorot tajam pada Zen.


"Mutilasi lo dulu boleh nggak? daging di rumah gue udah abis" sebal Ardan menanggapi pertanyaan receh dari Zen.


Ardan menyalakan motornya, langsung tancap gas meninggalkan Zen. Perutnya sudah kelaparan sejak tadi.


"Ada yang salah?" ucap Zen pada dirinya sendiri menatap kepergian Ardan dengan ekspresi bingung.


*NB:


Please Like, komen, vote, rate 5 and follow (Author foll back kok😂) Jangan jadi Silent readers yak😐😐


Author mengucapkan Happy New Years All,🤓🤓 semoga di tahun ini kalian menjadi pribadi yang lebih baik lagi😍, dipermudah urusannya🤗, diperbanyak rezekinya😊, diperpanjang umurnya😊. Sehat selalu buat kamu🤗


Happy Reading gaes❤

__ADS_1


Salam dari Pujas😗😘😘


__ADS_2