
Nisa meraba-raba sesuatu yang sedang dipeluknya, benda itu terasa lembut dan nyaman membuatnya enggan untuk bangun dari tidurnya. Hari ini sedang cuti Nasional dia merencakan untuk mengisi hari liburnya dengan berubah menjadi snow white. Menungu pangeran datang menjemputnya sembari tertidur sepanjang hari.
Nisa membuka matanya perlahan dia berpikir sedang memeluk Yola yang tadi malam tidur disampingnya. Ketiga temannya memutuskan untuk tidur menginap dirumahnya. Tetapi kenapa benda yang dipeluknya mendadak menjadi besar sekali? teksturnya pun sangat lembut. Ia membelalakkan matanya menyadari apa yang tengah berbaring tegak disampingnya.
Sebuah boneka bear berwarna merah muda sedang menatapnya intens tanpa berkedip. Ia membaca sebuah tulisan yang tertera di dada boneka itu dengan alas berbentuk love merah maroon. ANNISA MEYLIN CYLA dengan huruf abjad kapital. Ia tersenyum sumringah sambil kembali memeluknya erat, menciuminya beberapa kali.
Nisa memandang langit-langit kamarnya mengingat sesuatu. Ia seperti pernah melihat boneka ini sebelumnya. Senyumnya mengembang ia ingat sekarang. Boneka ini sama dengan boneka bear yang ia lihat saat pergi ke kafe dengn Zen. Boneka yang sama dengan yang digendong Aldo waktu itu. Aldo masih mengingat kesukaannya? boneka bear berwarna merah muda. Perlahan senyum Nisa mengempis menyadari satu hal, dia pernah berusaha untuk setia walaupun akhirnya sia-sia. "Terima kasih pernah ada meski ujungnya menghilang tiba-tiba".
Nisa melepaskan pelukannya saat mengetahui keberadaan teman-temannya telah raib dari kamar tidurnya. Ia tergesa berjalan keluar mencari mereka.
"Mama" panggil Nisa dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mama dimana sih" Nisa berdecak kesal ia berjalan sempoyongan mencari mamanya, dirinya belum sepenuhnya sadar.
"Nisa" seru Mamanya dari arah ruang tengah, wanita paruh baya yang masih berparas cantik diusia tuanya. Dian geleng-geleng melihat wajah Nisa dengan bekas air liur yang mengering ditambah rambutnya yang awut-awutan terlihat mengenaskan.
"Temen Nisa mana Ma?" tanya Nisa lemah sisa kantuk belum sepenuhnya hilang. Ia mengucek matanya menghilangkan lem yang merekat dipelupuk matanya.
"Sudah pulang" jawab Dian tanpa mengalihkan pandangannya dari sinetron yang ia tonton.
"Sejak kapan Ma?"
"Tadi"
"Tadinya kapan Mama" tambah Nisa sedikit menaikan suaranya satu oktaf.
"Tadi pagi Nisa, sekitar pukul enam Filla udah merengek minta pulang"
"Kenapa Ma?" tanya Nisa heran. Ia merasa curiga dengan sikap Filla yang tidak lumrah. Biasanya di hari libur mereka akan berkumpul sampai petang.
"Engga tahu Mama kan bukan paranormal"
"Mama kan bisa tanya alasannya kenapa?"
__ADS_1
"Mama bukan wartawan" elak Dian ia merasa terganggu dengan kedatangan Nisa telinganya terbagi dua antara celotehan Nisa dan suara pemain film yang ditontonnya.
"Mama kenapa enggak bangunin Nisa?" protesnya sambil mengerucutkan bibir.
"Mama tadi mau bangun kamu tapi Yola nyegah Mama katanya enggak tega liat kamu yang sudah seperti orang mati suri"
"Temen kamu nitip salam buat kamu" lanjut Dian menyampaikan salam dari teman-teman Nisa.
"Nisa kan jadi enggak enak Ma" tutur Nisa kecewa dengan sikap Mamanya.
"Harusnya Mama kekeh mau bangunin Nisa".
Dian tidak mau ambil pusing, ia mengedikan bahunya tidak peduli. Semuanya sudah berlalu apa lagi yang mau dipermasalahkan menyesal pun tiada berguna.
"Mereka semua juga udah tau kalau kamu suka ngebo, mau ngebangunin juga sungkan" jelas Dian, ia mengambil tissu dipangkuannya terbawa haru suasana Film yang ditontonnya.
"Aduh kok malah pergi sih harusnya kan dengerin penjelasan isterinya dulu" omel Dian tidak terima melihat adegan seorang perempuan yang tinggal pergi setelah suaminya puas menyudutkannya. Ia tidak mendengar alasan sang istri saat ia menunjukan foto istirnya sedang berkencan dengan lelaki lain menjadi bukti kuat dugaannya.
"iiih engga boleh gitu dong kasian kan ceweknya" sungut Dian tidak terima. Sebagai perempuan ia merasa ikut tersakiti juga.
"Itu kan cuma film Ma, ngapain sih baper"
"Tapi itu diambil dari kisah nyata lho kan kasihan"
"Iya tapi jangan nyinyir juga, cowoknya kan cuma dibayar buat main film enggak beneran jahat"
"Tetep aja Mama enggak like" Dian menyimpan tangannya didada bersedekap.
Nisa tersenyum singkat "Iya udah Nisa mau balik lagi ke kamar" pamit Nisa sambil melangkah pergi merasa kadar emosinya sudah memuncak.
"Mau ngapain kamu Nis?" tanya Dian penasaran. namun tatapan masih fokus kedepan tidak teralihkan dengan kepergian Nisa.
"Mau jadi snow white" jawa Nisa pelan. Ia sejak tadi terus menguap membuatnya malas berbicara
__ADS_1
"Kamu enggak mau sarapan? sahut Dian heran, waktu menunjukan pukul sepuluh pagi.
Nisa baru saja akan membalik badannya hendak menutup pintu kamarnya saat pertanyaan Dian meluncur keluar.
"Nanti Ma" Nisa menyahut sambil menutup rapat pintu kamarnya hati-hati agar tidak mengganggu Mamanya. Ia menghempaskan tubuhnya merentangkan tangannya menyambut mimpi indah yang akan datang. Ia merangkak sebentar duduk dipinggir ranjangnya. Menarik laci di meja kecil sebelah kiri tempat tidurnya, Nisa mengambil obat tidur dengan pelan takut jika akan membangunkannya, segera menelannya. Ia ingin tidur pulas hari ini. Semalam ia baru bisa tidur sekitar pukul empat pagi membuat kepalanya terasa sedikit pening.
Dian menyimak dengan seksama tontonanya. Sesekali ia menyeka sudut matanya saat ada adegan film sepasang suami istri sedang bertengkar. Ia mengahayati peran istri yang terdzolimi itu. Ia menghembuskan napas lega saat film itu selesai dengan happy ending. Dian menggerakan kepalanya menoleh samping kanan kirinya mencari remot, mematikan televisi.
Tidak terasa sudah empat jam ia menonton. Dian mendongakan wajahnya menatap pintu kamar Nisa yang tak kunjung terbuka. Ia mengerutkan kening, penasaran apa yang dilakukan Nisa selama berjam-jam lamanya.
Dian melihat Nisa yang tertidur pulas memeluk boneka bear barunya. Ia menepuk pelan pipi Nisa membangunkan dengan sabar. Ia memanggil Nisa lembut.
"Nisa, Nisa"
"Bangun Nisa" lanjutnya.
Nisa masih merem ditempatnya pengaruh obat tidurnya sangat manjur.
"Nisa!!!!" teriak Dian tepat ditelinga Nisa membuatnya terlonjak kaget membuka mata dengan otomatis.
"Mama" sentak Nisa lirih kembali mengatupkan matanya.
"Bangun Nisa"
"Nisa masih mengantuk Ma"
"Kamu belum makan Nak, nanti kamu sakit" ungkap Dian khawatir.
Nisa hanya menunjuk lemah bungkus obat yang tadi tidak sempat dibuangnya.
Dian mencubit pipi Nisa gemas niat sekali anaknya untuk menjadi putri tidur.
"Ya ampun Nisa" ucapnya kesal ia menatap tidak percaya wajah Nisa yang polos tertidur. Bagaimana bisa ada manusia yang betah untuk berjam-jam tidur. Ingin rasanya Ia mengutuk Nisa menjadi snow white sungguhan. Ia teringat tentang Nisa yang sering mendapat surat peringatan dari guru BK karena ketahuan tidur dikelas tidak jarang juga guru bimbingan konseling itu memanggilnya kesekolah untuk berkonsultasi mengenai kebiasaan buruk Nisa.
__ADS_1