Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 24 Bimbang


__ADS_3

"Stop" Seru Nisa mendadak.


"Gue kan udah bilang mampir ke toko bubga dulu" Nisa memelototkan matanya.


"Oh iya gue lupa"


"Ya udah putar balik gih" perintah Nisa tak mau ambil pusing.


"Yaelah toko bunga didepan masih banyak Nis" ucapnya tidak mau ribet putar balik ke tempat toko bunga yang sudah dilewatinya beberapa meter.


"Gue mau yang disana bunganya lebih bagus masih fresh pilihannya juga banyak"


" Sama aja kali Nis" sanggahnya keberatan.


"Lo tuh nggak tau selera yah?" cerca Nisa, ia tidak suka dibantah.


"Yang pentingkan sama-sama jualan bunga"


"Tapi gue mau yang disana, putar balik cepet"


"Iya Iya. bawel banget lo kek mak lampir"


"Apa?"


"Emm nggak papa kok"


"Coba bilang sekali lagi?"


"Annisa Meylin Cyla orang paling cantik sedunia bahkan peri dari khayangan aja kalah"


Nisa mangut manggut, ia membuang pandangannya ke samping memperhatikan toko bunga yang kini sudah berada didepan matanya. Ia langsung melangkah kan kakinya ke deretan bunga mawar.


"Ini bagus nggak?" tanya Nisa sambil memperlihatkan beberapa bunga mawar yang berwarna warni putih, merah, kuning, dan merah muda.


"lo beli bunga buat siapa sih?"


"Buat Aldo" jawab Nisa santai tidak peduli temannya yang sudah meledakan tawanya.


"Aldo tuh masih hidup belom mati ngapain lo beliin bunga beginian?


"Dari pada brisik mending lo bantuin gue milih"


"Kita mau ke pesta bukan pelayat"


"Gue tau tapi kemaren gue lupa beli kado makanya gue mau ganti kadonya pake buket bunga mawar ini"


"Kalo lo cuma beli buket bunga mawar itu udah biasa, lo harus kasih bunga yang luar biasa.


"Apaan?" tanya Nisa penasaran.


"Karangan bunga" jawabnya dengan cengiran tanpa dosanya.


"Lo belum pernah nyium high heels gue kan? mau nyoba?" Nisa memicingkan matanya menatap horor lawan bicaranya.


"Eh, gue becanda Nis"

__ADS_1


"Ya udah gih bantu gue milih" omel Nisa, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh bunga mawar yang yang terawat rapi didepannya.


"Mau cari bunga apa nih?"


"Lo nggak liat gue lagi ngapain? Nisa melontarkan pertanyaan retorisnya,


"Liat bunga"


"Bunga apa?"


"Bunga mawar" ucapnya polos ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bodoh didepan Nisa.


"Mau yang warna apa?" ucapnya merevisi pertanyaannya.


"Kalo gue tau mau pilih warna yang mana gue nggak bakal minta bantuan sama lo"


"Ya ampun gue salah yah?"


"Nggak"


"Terus gue harus bantuin apa?"


"Lo bantu gue bayar pesenan bunga gue" seru Nisa kesal, ia meninggalkan temannya yang masih melongo cantik ditempatnya bediri.


"Mba saya pesen satu buket bunga mawar putih yah, dikombinasi mawar warna merah muda" Pinta Nisa lembut pada seorang kasir. Wanita muda berusia 25 tahun itu bergegas melangkah pergi, menyiapkam pesanan Nisa.


Nisa menghembuskan nafasnya perlahan, ia berharap Aldo akan menyukai pemberiannya. Ia sendiri bimbang dengan warna pilihannya. Baru pertama kali dirinya memberi buket bunga biasanya dirinya sendiri yang diberi. Ia tidak tahu apakah Aldo menyukai warna bunga yang dipilihnya atau tidak, ia hanya memilih sesuai instingnya. Ia ingat kebiasaan Aldo yang selalu memberinya buket bunga mawar putih dicampur merah muda. Nisa juga berharap kedua warna pilihannya juga warna kesukaan Aldo.


"Ini mbak buket bunganya"suara lembut sesorang wanita memutuskan lamunan Nisa. Tangannya yang cekatan membuatnya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit untuk merangkainya menjadi buket.


"Terimakasih, Oh iya mbak nanti yang membayar temen saya yah" ucap Nisa sambil menunjuk sesorang yang berdiri disampingnya.


"Saya permisi dulu" imbuh Nisa, ia melenggang meninggalkan kasir.


"Berapa mba?" ucap teman Nisa lemah, tidak ada pilihan selain harus membayarnya. Ia tidak ingin jadi bulanan massa karena dianggap pencuri, kemudian menyusul Nisa yang sudah duduk manis dikursi.


"Lo tega banget Nis" umpatnya sesampai dimobilnya, ia duduk di kursi kemudi ditemani Nisa yang masih asyik menatap buket bunga yang baru dibeli melalui dompetnya.


Nisa menyeringai licik, emosi yang tadi dipendamnya terbayar lunas.


"Makasih ya"


"Hmm" ucapnya kesal yang mendadak jadi atm berjalan Nisa.


Nisa memndangi lagi buker bunga miliknya. Ia mencium aroma wangi yang semerbak.


Sebentar, Nisa merasa ada yang salah dengan warna pilihannya, merah muda? yang artinya sama dengan warna pink? terlihat lucu menurutnya. Tapi bisa saja kan, warna pink tidak hanya menjadi favorite cewek? cowok juga boleh kan? batin Nisa menyemangati. Toh Aldo selalu memberikannya bunga dengan kedua warna tersebut.


Padahal Nisa sama sekali tidak suka warna tersebut ia suka Warna Navy, Nisa tidak pernah menyebutkan warna pink atau putih saat ditawari warna bunga yang akan dibelikan Aldo. Dan kedua warna tersebut menjadi warna kebiasaan Aldo untuk diberikan padanya.


Jalanan terlihat padat, waktu menunjukan pukul sembilan kurang seperempat.


"Kita telat gak yah?" ucap Nisa khawatir saat melihat jam ditangannya.


"Iya lah" jawabnya cuek.

__ADS_1


"Lo kok nyebelin banget sih"


"Terus gue harus gimna?"


"Ya apa kek"


"Iya apa gimana?"


" Harusnya lo semangatin gue bukan malah ngomporin" timpal Nisa sambil melipatkan tangan didanya, mendengus kasar sebagai bentuk kekesalannya.


"Lo sendiri aja tukang telat, jadi udah jadi kerjaan lo kan buat terlambat?"


Nisa mengepalkan kedua tangannya geregetan hendak menyerang, tapi ia sadar ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk adu panco.


"Lo serius mau ngado Aldo bunga itu?"


"Iya"


"Buat apaan Aldo lo kasih bunga?"


"Buat sajen" Jawab Nisa ngasal


"Emang Aldo suka bunga?"


"Enggak cuma suka doyan malah" Mood Nisa sedang buruk membuatnya berbicara sesuka hatinya.


"Serius lo? kok gue baru tau?"


"Emang lo nggak sadar temen lo itu demit?"


"Enggak la ngaco lo"


"Lo pikir temen lo manusia?"


"Iya lah" tegasnya.


"tapi kok nggak punya hati?"


Hening, ia tidak tahu harua menjawab apa pertanyaan Nisa yang sedang menyindir masa lalunya. Ia tidak ingin salah bicara, mengingat dirinya tidak bisa mengontrol mulutnya saat membicarakan kejelekan orang lain, bukannya meluruskan tapi justru malah memperkeruh suasana.


"kenapa lo diem? bener yang gue bilang?"


"Dia manusia dan dia punya hati. Gue tau lo masih sakit hati sama masa lalu lo, tapi lo nggak bisa nge jugde orang lain sesuka hati lo. Ada sesutu yang nggak lo pahami dan hal nggak pernah lo tau" sanggahnya.


"Manusia berhati iblis maksud lo?" sahut Nisa lagi, ingatannya kembali pada kenangan masa dulu membuat dadanya sedikit sesak.


"Sebentar lagi kita sampai" ucapnya mengalihkan pembicaraan ia tidak ingin situasinya semakin memanas.


"Mending lo benerin rambut lo yang udah kayak sarang burung" lanjutnya.


Nisa refleks mengambil cermin dari tas selempang yang dipakainya, ia melihat pantulan rambutnya yang masih tertata rapi.


Nisa berdecak kesal, merasa dikadali.


"Oke tunggu saja pembalasan gue" ucap Nisa didalam hatinya. otaknya segera menyusun siasat jahat untuk balas dendam.

__ADS_1


__ADS_2