Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
77


__ADS_3

Nisa menangis sepanjang jalan, hatinya hancur fisiknya remuk. Sungguh meski tangannya hanya menangkis pukulan, tetap saja meninggalkan rasa nyeri.


Diusapnya air mata yang tanpa seizinnya mendadak turun. sebentar lagi Ia akan sampai disebuah mini market, dirapikanlah rambutnya yang berantakan. Jaraknya memang masih jauh namun sudah bisa terlihat oleh mata.


Nisa melirik pergelangan tangannya, sudah hampir pukul sebelas malam. Nisa menoleh kebelakang, memastikan kedua preman itu tak lagi mengejarnya.


Nisa mengambil ponsel dari sling bag yang dikenakannya, menjawab panggilan suara dari Azam.


"Nis lo dimana?"


"Gue ada do dekat minimarket X"


"Oke, lo tunggu di situ, bentar lagi gue sampe"


"Iya makasi Zam"


"Lo nggak papa kan?"


"Gue baik-baik aja kok"


Azam yang tak percaya segera melakan panggilan video call untuk memastikan.


"Apaan sih Zam, gue serius baik-baik aja" ucap Nisa menyakinkan. Ia menggeser tanda berwarna merah dilayar ponselnya.


"Ya udah angkat" desak Azam.


"Nggak mau, nanti gue dikira orang gila" elak Nisa. Jalan yang dilaluinya kini bukan lagi jalanan dengan pepohonan dikiri kananya, melainkan jalan raya dengan bangunan toko dan perumahan.


"Lo sekarang bisa bohongin gue, tapi liat aja nanti"


Nisa berdecak pelan,


"Ya udah buruan, lo dari tadi kemana coba"


"Lo kasi pentunjuk alamat aja nggak jelas"


"Namanya juga buru-buru"


"Posisi gue sekarang udah deket sama minimarket X, gue usahain lima menit lagi sampai disitu" ucap Azam memberitau.


"Jangan ngebut Zam, gue nggak papa kok"


"Nggak papa gimana? jelas-jelas gue denger suara lo kayak orang abis liat setan"


Nisa tertawa kecil,


"Gue nggak liat setannya, tapi ketemu titisannya"


"Serius Nis"


"Hahaha becanda. Buruan gih kesini"


"Siap bos"


Nisa mematikan sambungan telepon saat sudah sampai di minimarket yang buka hingga 24 jam. Ia duduk di depan toko, masa bodo dengan kasir yang melihatnya kepo.


Nisa menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan perlahan. Diusapnya sisa keringat yang masih menempel.


Ditatapnya kedua tangannya secara bergantian, mengamati dengan seksama lebam biru yang tercetak dikulit putihnya.


Bagaimana jika nanti Mamanya melihat ini? apa yang harus dikatannya? bicara jujur atau lebih baik mencari alasan logis lainnya?.


"Ya ampun" Nisa menepuk jidat lebarnya. Ia lupa memberi kabar Mamanya. Nisa buru-buru menelepon Dian.


"Hallo Ma" ucap Nisa lirih.


"Nisa kamu dimana?" omel Dian yang resah anaknya tak kunjung pulang.


Nisa mengusap wajahnya, kenapa bisa dia seceroboh ini?.


"Maaf Ma, ban motor Nisa bocor. Jadi Nisa fokus dorong dulu" Nisa menggigit bibirnya, berharap Dian percaya.


"Ya ampun Nisa. Kenapa baru bilang? kamu sekarang gimana?"


"Nisa lagi dibengkel, Ma" jawab Nisa gugup.


"Dibengkel mana biar Mama jemput kamu"


"Nggak usah Ma, Azam udah jemput Nisa kok"


"Syukurlah"


"Nisa minta maaf Ma" ucap Nisa merasa bersalah.


"Iya..kain kali jangan diulangi yah. Hati-hati pulangnya"


"Iya Ma. Makasi"


Tuuut...

__ADS_1


Sambungan diputus sebelah pihak oleh Nisa. Satu bebannya telah terkurangi, Ia menghembuskan nafas lega.


"Nisa?" panggil Azam seraya turun dari mobilnya mendekati Nisa yang tengah duduk jongkok memeluk lutut.


"Azam" Nisa segera berlari menghambur memeluk tubuh tegap Azam dengan erat, meluapkan segera ketakutan yang sejak tadi ditahannya. Tiba-tiba air matanya memberontak turun.


"Disaat aku terpuruk mengapa aku hanya mengingat namamu?. Kenapa dibenak ku hanya bayang mu yang selalu saja melintas?. entah lah aku sendiri tak tahu dengan apa yang ku rasakan. Yang ku tahu, raga ingin ingin sekali berada disamping mu, rindu ini terasa menggebu-gebu".


Azam mengelus punggung Nisa yang bergetar. Banyak pertanyaan yang berjejalan di otaknya, namun tak satu pun yang keluar. Rasa iba membungkam mulutnya agar tetap terkunci rapat, menunggu sampai kondisinya membaik.


Setelah puas menangis, Nisa baru melepaskan pelukannya.


Azam mengangkat dagu Nisa, ditatapnya kedua bola manik didepannya lekat. Di usapnya sudut mata Nisa yang masih membendung air mata.


"Masuk dulu yuk, ceritain didalam"


Nisa mengangguk lemah, Ia menurut masuk.


"Lo kenapa?" tanya Azam seraya membelai lembut rambut Nisa. Ia menyadarkan kepalanya di bahu Azam.


Sepi melintas sesaat. Nisa masih membisu ditempat menikmati setiap sentuhan di kepalanya.


"Entah sejak kapan aku mulai mencintai mu yang jelas saat ini aku merasa nyaman berada didekat mu. Entah apa ini yang disebut cinta atau hanya sekedar euforia ketakutan saja? Apa pun itu yang jelas aku tak ingin jauh dari mu".


Azam dengan sabar menunggu, perlahan Ia melajukan mobilnya mengantar untuk mengantar Nisa pulang.


"Azam stop" ucap Nisa tiba-tiba.


Azam mendadak mengerem, tubuhnga tersentak maju ke depan.


"Kenapa Nis?" tanya Azam bingung.


Nisa menelan salivanya, mengumpulkan keberaniannya untuk membuka suara.


"Gue takut" lirih Nisa.


"Kenapa" Azam pun menepikan mobilnya.


"Gue takut orang jahat itu masih nyariin gue" sambung Nisa sembari memegang lengan Azam, matanya mulai berkaca-kaca.


"Tenang Nis ada gue"


"Kalo dia bawa temen-temennya gimana?"


"Lawan lah masa pasrah?"


"Ya udah lo tenang gue cari bantuan dulu" Azam mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya.


"Lo mau ngapain?" tanya Nisa heran saat melihat Azam mengirim pesan pada seseorang.


Azam menempelkan jari telunjuknya di bibir Nisa.


"Baca pesan yang gue kirim" ucap Azam dengan seseorang diseberang teleponnya. Lantas mematikannya saat orang itu telah membaca pesannya.


"Ngapain aja boleh. Sekarang kita pulang yah"


Nisa mengangguk lemah, Ia yakin Azam pasti akan melakukan yang terbaik untuk mereka .


"Mereka nggak ngapa-ngapain lo kan?" tanya Azam hati-hati.


Nisa memalingkan wajahnya, tak mungkin Ia menceritakan percakapan tak mengenakan dengan kedua sang preman.


"Nis" Azam memegang tangan Nisa yang mematung.


"Aww" Nisa sontak membuang tangan Azam kasar.


"Kenapa?" tanya Azam khawatir. Ia memperlambat laju kendaraannya untuk memeriksa tangan Nisa.


"Astaga Nisa tangan lo kenapa memar gitu?"


"Gue abis ketemu preman bukan badut ya pasti abis baku hantam lah"


"Ya ampun Nis. Gue minta maaf, gue terlambat dateng jadi nggak bisa nolongin lo"


"Enggak perlu minta maaf, lo nggak salah. Gue tau lo udah usaha. Justru gue berterima kasih sama lo karna udah belain dateng buat nolongin gue"


"Tapi Nis, gue harusnya bisa lebih gercep"


"Udah yang penting gue nggak apa-apa kan" balas Nisa membesarkan hati Azam.


"Gue obatin dulu yah"


"Emm enggak perlu Zam. Kita langsung pulang aja"


"Nis tangan lo terluka"


"Gue tau. tapi ada yang lebih penting dari ini. Mama gue pasti udah cemas sama gue" jelas Nisa.


Azam mengalah membenarkan ucapan Nisa.

__ADS_1


"Tapi nanti pulang langsung diobatin yah"


" Iya"


"Masi ada luka lainnya nggak?"


"Betis gue jadi bengkak kek badak nih"


Azam menatap Nisa prihatin, tak bisa membayangkan betapa lelahnya berlari hingga berkilo-kilo meter.


"Lo tidur dulu gih, pasti capek kan? nanti kalo udah sampe gue bangunin"


"Uwu lo pengertian banget sih"


"Iya dong kan gue lagi belajar jadi pacar yang baik buat lo"


Nisa tertawa kecil


"Eh btw nasib motor gue gimana?"


"Udah sakit masih aja mikirin motor" cibir Azam


"Masalahnya nanti Mama gue pasti nanyain"


"Emang lo nggak mau cerita yang sebenarnya?


"Enggak. Gue nggak mau nyusahin Mama gue lagi. Dia pasti bakal khawatir banget"


"Tapi sebagai orang tua Mama lo berhak tau Nis.


"Zam gue nggak mungkin cerita sama Mama gue. Dia udah capek ngurus rumah sama cari nafkah. Gue nggak tega nambah beban pikiran lagi"


"Emang papa lo kemana Nis?"


Deg..


Nisa mengerjap-ngerjap kan matanya. Air matanya bersiap tumpah mendengar pertanyaan Azam.


"Nis? gue salah ngomong yah?" tanya Azam yang melihat perubahan raut wajah Nisa berubah sendu.


"Papa gue udah pergi" desis Nisa lirih. Ia mengarahkan pandangannya ke atas, menahan air matanya agar tidak merembes mili.


"Sorry Nis, gue nggak tau" jawab Azam merasa bersalah.


"Iya"


Azam menggigit bibirnya, merasa tak enak hati dengan Nisa. Diliriknya Nisa yang sedang menyeka sudut matanya.


"Gue janji bakal jagain lo. Meski gue harus jadi orang bodo yang rela jagain jodoh orang" batin Azam.


".Walau pun pada akhirnya lo memilih yang lain, gue akan tetap jagain lo dari jarak jauh" imbuhnya.


Keduanya saling berdiam diri. Pikiran Nisa kini kembali pada masa silam. Masa dimana Ia terakhir bertemu dengan Papa nya di sidang perceraian.


"Udah sampai Nis" Seru Azam menghentikan lagu mobilnya di depan pagar rumah Nisa.


"Eh iya"


Nisa tersentak dari lamunanya,


"Makasi ya Zam"


"Sama-sama" Azam mengelus pucuk kepala Nisa lembut.


"Oh ya buat jawaban pertanyaan lo kemarin ....gue mau" ucap Nisa lirih sambil menunduk. Kedua pipinya sedikit memerah karena malu.


Kedua alis Azam bertautan,


"Pertanyaan yang mana?" tanya Azam polos.


Nisa menegakan tubuhnya,


"Em pertanyaan lo yang itu"


"Yang mana?"


Nisa menelan salivanya, apa Azam waktu itu hanya becanda?.


"Enggak jadi deh, gue masuk dulu yah"


"Tunggu dulu" Azam meraih pergelangan tangan Nisa tanpa menoleh.


"Gue capek Zam" Nisa melepas kasar tangan Azam. Ada sebersit rasa kecewa dihatinya.


Azam terdiam menatap tubuhnya Nisa yang kini telah keluar dari mobilnya.


"Gue minta maaf Nis, gue beneran lupa" teriak Azam


Nisa tak bergeming, Ia membuka pintu rumahnya mengabaikan Azam yang terus berteriak meminta maaf.

__ADS_1


__ADS_2