Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 43


__ADS_3

Menjelang sore Nisa baru sampai dirumahnya. Gerimis deras yang membungkus kota mengurungkan niatnya untuk menemui Ardan. Ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu kerumahnya. Tidak patut sekali bertandang kerumah orang lain dengan pakaian basah kuyup.


Nisa langsung beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri. Nisa menyiram kepalanya perlahan, berharap air yang mengalir dapat menyegarkan kepalanya, mendinginkan emosinya.


Selesai mandi Nisa langsung melilitkan handuk ditubuhnya lalu memakai pakaiannya yang berwarna merah muda dengan corak bunga-bunga. Nisa merebahkan tubuhnya dikasur empuk miliknya yang juga berwarna merah muda. Ia masih tidak habis pikir mengapa Filla bisa mendadak berubah emosian saat berbicara dengannya. Nisa mengingat-ngingat kembali kesalahan yang diperbuatnya.


Malam harinya usai makan malam bersama Mamanya, Nisa langsung berpamitan pergi kerumah Ardan setelah sebelumnya menceritakan permasalahan yang menimpa mereka.


"Ma Nisa keluar sebentar yah" pamit Nisa sambil mengecup punggung tangan Dian.


"Iya, kamu hati-hati dijalan. Jangan pulang sampai larut malam" ucap Dian memperingati, Ia mencubit hidung mancung Nisa.


"Iya Ma" jawab Nisa cuek, Ia mengusap-ngusap bekas cubitan Mamanya.


"Jangan lama-lama nanti mama kangen" Dian mengedipkan matanya.


"Nisa cuma sebentar Ma, mungkin nanti jam sepuluh sudah sampai rumah"


Dian berdecak pelan saat matanya tertuju pada jam di dinding yang menunjukan pukul tujuh malam.


"Cuma tiga jam Ma"


"Tiga jam? Itu bukan sebentar lagi namanya Nisa"


"Mama juga kalo dandan bilangnya sebentar cuma lima menit tapi ternyata lima jam" sanggah Nisa mengingatkan kebiasaan buruk Mamanya.


Dian hanya terkekeh kecil menyadari kepintaran Nisa yang pandai mengelak.


"Ya sudah, cepat berangkat agar tidak pulang kemalaman"


"Iya Ma Nisa berangkat dulu" ulang Nisa berpamitan untuk kedua kalinya.


Dian mengangguk melambaikan tangannya mengantar kepergain Nisa dari ambang pintu.


****


Nisa melongokan kepalanya melihat kedalam ruang tamu rumah Ardan melalui pintu yang terbuka lebar. Ia pun langsung masuk saat mendapati Ardan tengah berdiri diruang tamu sambil memegang nampan berisi minuman.


"Ardan" Nisa menepuk pelan pundak ardan dari belakang.


"Nisa" Ucap Ardan tersentak kaget melihat kedatangan Nisa. Nampan ditanggannya bergoyang kecil karena hentakan dari rubuhnya.


Bukan hanya Ardan, Fian dan Zen yang kebetulan bertamu juga terperanjat kaget dengan kemunculan mendadak Nisa. Sama seperti Nisa yang terjebak gerimis tadi sore, mereka berdua memutuskan mengintrogerasi Ardan malam ini saat gerimis sudah mereda. Rasa keingintahuan yang tinggi membuat keduanya tidak sabar hingga menunggu esok tiba.


Nisa hanya nyengir kuda membalas sapaan Ardan yang tampak kesal telah dikagetkan olehnya.


"Lo bisa kan ketuk pintu dulu sebelum masuk?"


"Pintu rumah lo udah kebuka, udah jelas dong ada penghuninya"


" Tapi lo bisa kan ngasih salam jangan main nyelonong masuk"


"Iya Maaf, ya udah deh gue ulang"


Nisa mengalah ia berjalan mundur beberapa langkah.


"Assalammu'alaikum calon imam" ucap Nisa lembut sembari menyunggingkan senyumnya.


Ardan menghela napas pendek berusaha bersabar agar tidak terpancing modus Nisa.


"Wa'alaikum salam ukhty" sambung Fian cepat. Ia menaik turunkan alisnya menggoda.


"Kenapa jadi lo yang jawab sih" Nisa mengerucutkan bibirnya, Niat hati memancing ikan namun malah mendapat buaya.


"Yaelah masih mending gue jawab dari pada cuma dikacangin" ledek Fian melirik Ardan melalui sudut matanya.


"Lo mau apa?" ucap Ardan tanpa basa-basi


"Gue cuma ma...."


"Kalo lo kesini cuma buat minta sumbangan mending lo pergi deh, gue lagi kere cuma menerima sedekah" sanggah Ardan ketus.


"Bukan, gue kesini cuma mau ngasi ini buat lo" Nisa memaksakan senyumnya mengabaikan perkataan sarkas dari Ardan.


"Apa?" tanya Ardan penasaran menerima bingkisan dari tangan Nisa.


"Martabak, tapi maaf enggak spesial"


Ardan mengerutkan kening, tidak paham maksud Nisa.

__ADS_1


"Itu martabaknya cuma biasa aja soalnya yang spesial cuma kamu"


"Oh" jawab Ardan singkat.


Tawa Fian meledak menatap prihatin Nisa yang lagi-lagi dicueki Ardan.


"Eh monyet diem lo" gertak Nisa galak. Fian otomatis langsung mingkem.


"Lo ngapain disini?" tanya Nisa kesal.


"Biasa anak muda, nongki lah"


"Emang harus berdua gitu?" seru Nisa menyadari Fian yang tidak hanya sendirian, ada Zen yang menempel dengannya.


"Iya lah kita kan satu hati". Fian menautkan kedua jari telunjuknya.


"Lo sendiri ngapain kesini?" balas Fian menanyai Nisa.


"Apel lah masa anggur"


"Emang lo berdua pacaran?"


"Iya. Makanya lo berdua cepatan gih jadian. Udah kayak lem sama perangko tapi kok masih TTM" Cibir Nisa melirik Zen yang duduk berdekatan dengan Fian.


Zen sontak mendorong tubuh Fian menjauhinya.


"Lo pikir gue gay?" Zen menepuk baju bekas yang tertempel dengan Fian.


"Maybe" sahut Nisa cuek.


"Gue masih normal anj*r"


"Bagus deh, berarti gue bisa dong nyalon jadi calpac?"


"Calpac?"


"Iya calon pacar" terang Nisa


"Maaf, nggak ada lowongan silahkan mencoba melamar ke tetangga sebelah" tolak Zen halus Ia bergidik ngeri membayang mempunyai pacar seperti Nisa yang galaknya melebihi kak Ros.


Nisa mendengus kasar.


"Gue mau ngomong sama lo"


"Ya udah pulang gih cepetan"


"Kok gue diusir? gue belum ngomong apa-apa"


"Lo dari tadi udah ngoceh sampe ke ujung dunia dan lo masih bilang kalau lo belum ngomong? terus yang dari tadi lo ocehin lo anggep apa?"


"Itu baru pemanasan belum seriusan"


"Ya udah buruan ngomong"


"Gue mau ngomong serius" tutur Nisa dengan mimik wajah serius.


"Mau serius atau duarius juga gue bodo amat"


Nisa mencebikan bibirnya emosinya seperti hendak meledak mengebom siapapun.Siap meluluh lantakan apa pun yang ada dihadapannya.


"Gue mau bicara empat mata" pinta Nisa penuh harap.


Ardan melirk Fian dan Zen meminta persetujuan. Ia menatap penuh arti memohon kepada keduanya agar mau keluar.


Zen mengangguk, ia menarik tangan Fian agar keluar dari ruang tamu. Bukan karena tatapan memohon dari Ardan melainkan sorot mata membunuh dari Nisa yang menciutkan nyalinya untuk membangkang.


Fian mencubit tangan Zen yang menyeretnya keluar merasa keberatan. Zen berbisik pelan tepat ditelinga Fian,


"Nanti kita nguping dari luar"


Fian membulatkan matanya lalu menarik ibu jarinya. Ide brilian Zen.


"Dilarang keras menguping" tegas Nisa dari balik punggung Fian dan Zen yang sudah berjalan sampai ambang pintu. Ia mencium aroma busuk dari niat buruk mereka berdua.


Fian menggaruk tenguknya, salah singkah.


"Siap Bos" sahut Zen tenang, mereka berdua lantas pergi keluar.


Nisa mendekati Ardan, ia tidak puas dengan jawaban Zen.

__ADS_1


"Gue cuma mau minta maaf buat masalah yang tadi siang" ucap Nisa lirih merasa bersalah.


"Enggak gue maafin"


"Kenapa bisa begitu?"


"Coba lo bayangin aja, gue udah kayak orang enggak punya harga diri"


"Kalo masalah itu nanti biar gue labelin biar lo punya harga lagi"


"Lo pikir gue barang mau lo kasi label harga?"


"Terus gue harus gimana?"


"Lo pikir aja sendiri"


"Gue nggak bisa, otak gue udah penuh sama nama lo"


"Mau gue maafin nggak?"


"Iya..iya"


"Jangan bikin gue tambah emosi"


"Iya maaf, becanda dikit doang" omel Nisa


Ardan menatap Nisa lama. Dalam hati ia tertawa puas melihat Nisa yang mencak-mencak kesal.


"Kalo mau gue maafin harus ada syaratnya"


"Apa?" tanya Nisa ketus.


Ardan menunjuk pipinya sendiri.


"Apa sih?" ucap Nisa meminta penjelasan arti tunjukan Ardan.


Ardan memonyongkan bibirnya, mengode lebih keras.


Nisa memukul lengan Ardan dengan sling bag yang ia kenakan.


"Dasar omes"


"Aduh sakit Nis"


Mendengar Ardan mengaduh membuat Nisa semakin bersemangat memukuli Ardan.


"Aw..Aw udah cukup Nis"


Nisa menghentikan aksinya menurut


"Masih mau lagi?" Nisa memajukan bibirnya memperagakan gerakan Ardan tadi.


"Enggak Nis" potong Ardan cepat. Ia merasa nyeri di sekujur tubuhnya.


"Yakin nggak mau?":


"iya" tolak Ardan penuh keyakinan. Dirinya tidak mau mati muda ditangan Nisa.


"Gue serius lho" tantang Nisa penuh percaya diri sambil memajukan lagi bibirnya.


"Wah serius lo?" seru Ardan dengan mata berbinar mengira akan mendapat rejeki.


"Serius" tutur Nisa mantap.


Nisa mengacungkan kepalan tangannya tepat didepan bibir Ardan.


"Mau ini kan?" kepalan tangan Nisa menyentuh pelan bibir tipis Ardan.


Ardan menelan salivanya sudah payah. Tersendat mengeluarkan suaranya.


"Emm.bukan.. Enggak jadi deh Nis" ucap Ardan terbata dengan hati-hati dia menurunkan tangan Nisa menjauhi bibirnya.


"Oke bagus. Kalo gitu Gue permisi pulang"


"I..ya" jawab Ardan gugup jantungnya berdegup kencang. Ia menghembuskan nafas lega saat Nisa perlahan pergi dari hadapannya.


Nisa melenggang santai melewati Fian dan Zen yang menatap penasaran dengan padanya.


Mereka berdua langsung masuk menyerbu Ardan menuntut penjelasan. Ardan membuang nafas kasar, baru saja dia menghembuskan nafas lega, sekarang sudah direcoki pertanya kepo dari dari teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2