
Pukul sepuluh malam, Nisa dan Zen memutuskan untuk pulang. Nisa terlihat panik saat motor yang ditumpanginya mendadak melaju melambat.
"Kenapa nih?" seru Nisa berdecit lirih merasakan firasat buruk.
"Engga tau nih" Jawab Zen yang menepikan motornya ditepi jalan membuat keduanya turun dengan terpaksa. Memeriksa ban belakang motor sport berwarna hitam merah milik Zen. Nisa menendang ban motor itu kencang.
"Kenapa harus bocor segala sih" cerca Nisa. Malam semakin larut, jalanan tampak sepi hanya dengana kendaraan sebelas dua belas yang memadati jalan.
Zen menjitak kepala Nisa yang menendang sesuka hati ban motor kesayangannya.
"Nanti lecet dodol" Zen duduk jongkok mengelus bekas tendangan Nisa diban motornya.
"Bodo amat"
"Zen gimana nih?" lanjut Nisa lagi.
"Bodo amat" Zen menuntun motornya perlahan.
"Zen" teriak Nisa ia menyusul langkah Zen.
"Apa" jawabnya cuek.
"Kita pulang pake apa dong" rengek Nisa seraya memajukan bibirnya.
"Lo masih punya kaki kan?"
"Masa jalan kaki?"
"Terus mau gimana? mau ngesot?" cerca Zen tidak peduli.
"Ya nggak gitu juga"
"Ya udah jalan aja nggak usah bawel"
"Iya Iya" serah Nisa pasrah ia menendang apa saja yang dilaluinya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Nanti kalo ada rampok gimana Zen" tanya Nisa ragu, sejak tadi ia berusaha untuk terus berpikir positif tetapi sulit sekali menepis pikiran buruknya itu.
"Ngaco lo"
"Gue kemarin liat berita ada begal di daerah X kalo misal tiba-tiba dateng dan nyerang kita gimana?" Nisa menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran negatifnya.
"Ya ampun Nisa jangan ngadi ngadi lo ah, berdoa aja yang baik-baik"
"Gue serius Zen" kukuh Nisa menyakinkan Zen.
"Terus kalo ada begal beneran lo mau apa?"
"Zen kok lo ngomong gitu?"
"Ya makannya lo jangan ngomong sembarangan" sergah Zen.
"Zen kita pesen taxi on line aja yah" ucap Nisa penuh semangat empat lima menawarkan solusi.
"Terus motor gue gimana?" Zen tidak ingin menghianati motor kesayangannya.
"Itu mah urusan lo" jawab Nisa cuek ia tampak sedikit mengigil, malam semakin matang menghembuskan hawa dingin.
Zen menginjak ujung kaki Nisa," Sttt Lo bisa diem nggak jangan berisik, nanti tante kun bisa bangun denger suara cempreng lo" Zen menunjuk pohon besar disepanjang pinggir jalan melalui sudut matanya.
Nisa mendekatkan diri kepada Zen, ia memegang ujung kemeja yang zen pakai.
"lo kalo mau ngelawak jangan becanda dong" Ucap Nisa lirih ia memegang erat baju Zen sampai lecek.
"Kenapa takut?"
"Engga" Nisa melepas pegangannya
"Oo terus ini apa?" Zen melihat bajunya yang tampak kusut, berdecak pelan.
"Tadi tangan gue kotor, numpang lap aja" sanggah Nisa cepat. Ia berjalan mendahului Zen.
"Ooo" Zen membulatkan bibirnya kemudian menghela napas mengalah.
"Zen gue capek nih" keluh Nisa, ia menyandarkan pada salah satu pohon kecil. Kakinya terasa encok.
Zen menatap iba kepada Nisa ia melihat keringat mengalir deras dari pelipisnya. Ia menunjuk sebuah toko yang sudah tutup.
"Kita istirahat disana" Zen mempercepat kangkah kakinya. Nisa mengacungkan ibu jempolnya setuju dengan ide Zen.
Sesampainya diemperan toko mereka berdua duduk menyelonjorkan kakinya.
__ADS_1
"Pijitin gue dong" pinta Nisa sambil meyodorkan kedua kakinya.
"Ogah" tolak Zen mentah mentah.
"Gue beneran capek Zen" Nisa mengelap keringat di dahinya.
"Ini semua juga karena lo" imbuhnya.
Zen mengerutkan dahinya"Kok gue?Sanggahnya tidak terima.
"yang bocor motor siapa?"
"Gue" Jawab Zen polos masih tidak mengerti.
"Yang duduk dibelakag siapa?" lanjutnya.
"Gue" Nisa menunjuk dirinya sendiri.
"Ya udah berarti bukan salah gue dong?"
"Gara-gara gue maksud lo?" oceh Nisa tidak mau kalah.
"Ya iyalah, lo sih gendut jadi meledak tuh ban motor gue"
Sontak Nisa memukul bahu Zen,
"Enak aja lo kalo ngomong"
"Emang kenyataannya gitu kok jelas jelas yang bocor ban belakang gue"
"Ini semua salah salah, lo sih katarak sampe nggak liat didepan ada benda yang nembus ban motor lo" omel Nisa.
"mana gue liat, lagian gue fokus liat belakang "
"Liatin apa lo?" Nisa mengerurtkan kening ia yang sejak tadi sibuk bermain dengan ujung kakinya menoleh kerah Zen bertanya serius
Zen berdehem pelan, "Tadi gue liat biadadari" ucap Zen santai
"Halu"
"Alhamdulillah gue sadar "
"Emng lo liat dimana?
"Paling juga di alam mimpi kan?" tebaknya cepat.
"Bukan,Tadi gue liat dibelakang jok motor gue"
Nisa menundukkan kepala dengan wajah memerah seperti tomat. Hatinya tiba tiba berdesir pelan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Zen menahan tawa di tempat duduknya melihat puas kerah Niza yang salah tingkah.
Nisa bangkit berdiri, "Pulang yuk" ucapnya mengalihkan perhatian.
Zen tersenyum penuh arti. Ia berdiri tegak setelah itu berjalan mengikuti langkah kaki Nisa. Beberapa meter jalan telah dilalui. Nisa tersenyum lega.
"Itu dia" seru Nisaa melihat sebuah papan dengan tulisan besar bertuliskan BENGKEL SEPEDA MOTOR ia dapat melihat dengan jelas tempat yang masih buka itu.
Zen mengikuti arah pandangn Nisa, mereka berdua berjalan cepat mendekati.
"Pelan-pelan dong Nis" tegur Zen. ia kewalahan menuntun motor besarnya.
"Cepetan dong Zen" teriak Nisa yang sudah berjarak agak jauh dari Zen. Ia terpaksa berbalik arah tidak tega meninggalkan Zen.
Zen kaget merasakan dorongan dibelakangnya yang penuh tenaga, Ia menoleh sekilas membuka mulutnya hendak berbicara.
"Enggg perlu protes" potong Nisa cepat ia sudah sangat lelah ingin segera sampai. Seorang pekerja dibengkel tersenyum menyambut ramah kedatangan mereka, tanpa banyak tanya langsung bergegas memberikan pelayan untuk motor Zen. Mereka berdua menunggu dikursi panjang yang disediakan.
Drt drtt..
ponsel di celana jeans yang Nisa kenakan bergetar singkat menandakan pesan masuk.
[Mama]: Kamu dimana Nisa, Mama sudah pulang.
Nisa mengigit bibir bawahnya, tidak tau harus menjelaskan dari mana. Ia lupa memberi tahu Mamanya jika dia sedang jalan-jaln keluar. Ia pikir Mama nya benar benar tidak akan pulang malam ini.
[Nisa]: Maaf Ma, Nisa tadi keluar sebentar sekarang sudah diperjalan pulang tetapi ban motor yang Nisa kendarai mendadak bocor ditengah perjalanan.
[Mama]: Ya sudah hati-hati dijalan Nak, maaf Mama tidak bisa menjemputmu karena ban mobil Mama juga sedang bocor
[Nisa]: Iya Ma terimakasih
__ADS_1
Nisa bernapas lega merasa bersyukur Mama nya mau memahami keadaanya. Ia terlalu senang sampai tidak menyadari kejanggalan dari Mamanya.
Siapa?" tanya Zen penasaran. Ia melongokan kearah ponsel Nisa yang masih menyala. Ia melotot kaget melihat angka jam yang tertera dilayar ponsel Nisa 22.53.
Zen menarik tangan Nisa mengajaknya pulang. Ia berpamitan sebentar kemudian melangkah pulang. Zen memutuskan untuk berjalan kaki ke rumah Nisa yang hanya berjarak beberapa meter lagi.
Nisa hanya menurut, berjalan bersisian dengan Zen. Mereka berbelok ke kiri dipersimpangan jalan. Nisa terkejut melihat rumahnya yang gelap gulita.
Ia menepuk bahu Zen.
"Kita engga salah alamat kan?" ini bener rumah gue?" seru Nisa tidak percaya ia merasa was-was.
"Iya lah, gue belum pikun sampe harus nyasar ke rumah orang"
"Kenapa gelap banget jangan-jangan ada maling" ujar Nisa panik, ia berlari kencang kearah rumahnya menyadari keberadaan Mamanya yang sudah didalam rumah.
Zen menggelengkan kepalanya ia menahan kuat kuat agar tidak membuka tawanya.
"Nisa tunggu"
Nisa tidak menghiraukan panggilan Zen, baru saja Mamanya mengirimi pesan jika dia sudah berada didalam rumah, jika sekarang gelap gulita lantas dimanakah Mamanya berada?"
Tok..tok ..tok..Nisa menggedor pintu rumahnya beruntun.
"Mama" panggil Nisa sambil berteriak.
"Mama" serunya berulang kali. Air matanya menetes tepat saat Zen yang terenggah-engah berhenti tepat disamping Nisa.
"Lo kesambet setan dimana sih bisa lari kenceng banget" tutur Zen sambil mengelap dahinya.
"Zen jangan becanda, Lo nggak liat situasinya lagi darurat" bentak Nisa sambil mengetuk pintu rumahnya sekali lagi. Terbesit kekhawatiran dihatinya
Ia meraih gagang pintu memutanya dengan gusar.
"Wait? enggak dikunci?"
" ****" Nisa mengumpat kesal merasa bodoh. Ia melangkah masuk dengan takut-takut.
Zen terdiam diluar pintu menunggu apa yang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Nisa menendang sesuatu yang terasa ringan melayang beberapa senti diudara. Nisa merasa deg-degan, apa yang sedang terjadi sebenarnya? dimana Mamanya? kenapa gelap dan sepi?
Ia melangkah lagi menendang benda yang sama. Nisa duduk jongkok meraba raba lantai ruang tamunya. Ia menemukan benda bulat besar yang terasa seperti menggelembung.
"Ini apa?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia merasai permukaan halus benda tersebut.
"Balon?" rasa penasaran Nisa mendorong tangannya untuk memukul dengan keras bendat tersebut.
"Dorrr" Nisa terlonjak kaget mengelus dadanya.
"Kenapa ada balon disini?" ungkapnya heran.
Kedua telapak tangan Nisa menutupi matanya saat tiba-tiba sebuah lampu menyala dengan terang. Disusul suara gemuruh menyanyikan sebuah lagu. Nisa tersenyum takjub melihat Mamanya yang memegang
cake ultah berwarna merah muda ditemani teman empat sekawannya. Tidak hanya itu ia juga melihat geng somplak di ruang tamunya.
Happy birth day to you Nisa ucap semuanya serempak sambil bertepuk tangan.
Nisa meniup lilin setelah semua orang bersorak memintanya. Tak lama kue dengan bentuk kota itu telah terpotong menjadi banyak bagian. Nisa membagikannya dengan adil.
Nisa menghambur memeluk Dian saat memberikan potongan kue pertamanya.
"Makasi Ma" ucap Nisa berbisik ditelinga Dian kemudian bibirnya turun mengecup
pipi Mamanya.
Dian dengan terbuka membalas pelukan Nisa, mengelus rambunya dengan penuh kasih "Sama-sama sayang".
Nisa juga mengucapkan terima kasih untuk semua yang hadir dirumahnya.
"Maaf ya Nis kalo kita bebepa hari terkahir ngejauh dari lo, kita cuma mau ngeprank lo aja kok" ucap Yola ia bergantian dengan Dian memeluk Nisa.
"Iya Maafin gue juga kalo udah ngomong keterlaluan sama lo" balas Nisa hangat, ia melepaskan pelukannya berganti memeluk Icha.
"Sorry Nis gue cuma ngikut skenario Yola" jujur Icha pada Nisa seraya meringis tipis.
"iya ga papa kok"
Terakhir Nisa memeluk Filla, ia merasa ada yang aneh dengannya. Filla hanya tersenyum terpaksa kearahnya tanpa berkata apa pun, ekspresi wajahnya terlihat datar.
"Ehem...gue nggak lo peluk?" celetuk seseorang yang berdiri dibelakang Nisa.
__ADS_1
Nisa berjalan kerah Zen kemudian mencolek cream strowberry dikuenya mengoleskan pada pipi Zen sebagai jawaban. gerakan Nisa terlalu cepat sehingga tidak bisa dihindari Zen.
Nisa tergelak melihat wajah cemong Zen, Ia segera berlari ke punggung Dian mencari peelindungan. Zen mengepalkan tangannya menahan untuk tidak balas dendam saat Dian menatapnya galak. Sontak semua tertawa melihat ulah Zen dan Nisa. Hanya Filla yang masih menatap Nisa datar ia tidak tergoda dengan lelucon sampah dihadapannya.