Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 64


__ADS_3

Sore harinya..


Nisa membuka matanya saat ponsel disampingnya berbunyi nyaring.


"Hallo" ucap Nisa pelan dengan suara serak khas bangun tidur.


"Dasar *****" ucap seseorang diseberang suara disertai decakan.


"Gue kan lagi sakit butuh istirahat banyak" jawab Nisa masih dengan mata terpejam


"Cepeten bukain pintu"


"Buka aja nggak dikunci"


"Udah gue dobrak tapi nggak kebuka"


"Astaga, kok gue nggak denger" Nisa terperanjat kaget, dengan sigap menegakan tubuhnya.


"Lo tadi mati suri kali"


"Oke sebentar, gue bukain" Nisa berjalan gontai menuju pintu kamarnya, Ia celingukan mencari Yola.


"Mana nggak ada orang" ucap Nisa ketus saat tak melihat siapa pun.


"Pintunya aja belum dibuka, buruan dong gue diluar kepanasan nih"


"Gue juga udah diluar" sahut Nisa mengucek matanya agar mau melek sempurna.


"Luar rumah Nisa bukan luar kamar lo" seru Yola sebal.


"Astaga" seru Nisa baru tersadar.


"Iya Nisa, lo dari tadi kemana sih lola bener dah"


"Sorry....gue ke depan sekarang" Nisa bergegas menuju beranda depannya.


"Yollaaaaa" Nisa berteriak membuka kedua tangannya lebar, menyambut Yola ke pelukannya. Fian menelan ludah melihat Nisa yang keluar dari balik pintu lalu menutup mata Aldo dengan tangannya.


"Aish, kenapa bukan mata lo sendiri yang lo tutup" gerutu Aldo berbisik menurunkan tangan Fian dari matanya.


"Jangan diliat dosa" Bisik Fian ditelingan Aldo. Ia pun mengalihkan matanya ke lain arah.


"Aaah gue kangen banget sama lo" ucap Nisa berseru riang, mengabaikan lima pengawal dibelakang Yola dan Icha.


"Kangen apa gabut?" jawab Yola sembari membalas pelukan Nisa.


"Nis" desis Icha pelan.


"Apa?" Nisa melepas pelukan Yola, menoleh pada Icha.


"Oh iya gue lupa temen gue kan dua" Nisa mendekati Icha hendak memeluknya.


"Itu" Icha menunjuk pakian bawah Nisa.


"Upps" Nisa menutup mulutnya, Ia segera masuk ke dalam rumahnya saat sadar hanya mengunakan hotpans dan baju lengan pendek .


Azam menggaruk tengkuknya sesaat sebelum Nisa masuk yang menatapnya canggung.


"Masuk aja dulu" teriak Nisa sambil menaiki tangga menuju kamar. Tak ada pergerakan, masing-masing dari mereka larut dalam pikirannya sendiri.


"Masuk yuk" ajak Yola mencairkan suasana.


"Serius nih" tanya Icha ragu.


"Nggak papa lah udah dibolehin kok, capek nih gue berdiri terus" imbuh Yola melenggang masuk.


Semuanya pun mengekor masuk ke dalam ruang tamu rumah Nisa.


"Huh leganya" Yola meluruskan kakinya. Icha mengambil tempat duduk disamping Yola.


"Hay, maaf nunggu lama" ucap Nisa yang kini telah berganti pakaian dan ikut bergabung.


"Udah baikan Nis?" tanya Azam basa basi.


"Tadi sih udah, semenjak lo dateng jadi kambuh nih" gurau Nisa seraya memegang perutnya.


"Tenang gue udah siapin mental buat beli itu" balas Azam berbisik disebalah Nisa sembari mengedipkan sebelah matanya.


Yola mengerutkan keningnya melihat Nisa menepuk perutnya.


"Bukannya lo sakit demam Nis?"


"Eh i..ya" jawab Nisa terbata. Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika dia sakit karna sedang PMS.


"Gue bikinin minum dulu yah" pamit Nisa buru-buru berdiri.


"Eh nggak usah repot-repot" cegah Yola yang tak tega melihat Nisa yang tampak sayu.


"Enggak kok santai aja". Nisa hendak membalikan badan lagi namun ditahan oleh Yola.


"Eits, nggak usah. Gue yang bikinin aja gimana? lo kan masih sakit" Yola pun menoleh menatap Icha.


"Iya, gue bantuin" ujar Nisa tak enak hati.


"Gue aja yang bantu Yola, lo duduk manis disini " timpal Icha menyeret Nisa duduk disofa.

__ADS_1


"Lo yakin nggak butuh bantuan gue?" tanya Nisa menyakinkan.


"Iyups" ucap Yola yakin.


"Oke deh " Nisa tersenyum singkat, melihat Yola dan Icha yang telang berjalan entah kemana.


"Emang mo tau dapurnya sebelah mana La?" tanya Icha menyenggol perut Yola.


"Enggak" jawab Yola bingung.


"Gimana si lo"


"Lo balik gih tanya Nisa arahnya kemana" perintah Yola.


"Lha kok gue? gue kan mau bantu bikin minuman kenapa malah jadi pesuruh" gerutu Icha sebal.


"Nggak papa deh dapet pahala bantuin orang tersesat"


Icha mencebikan bibirnya menurut.


"Kenapa Cha?" ucap Nisa mengontrol tawanya agar tidak pecah.


"Emm itu, dapurnya sebelah mana yah?" ucap Icha malu-malu.


"Yee, tadi aja songong nggak butuh bantuan" cibir Nisa seraya bangkit dari duduknya.


"Hehe Yola tuh" sanggah Icha. Ketiganya pun berjalan menuju dapur di pimpin Nisa.


"Mau minum apa?"


"Es teh manis aja Nis biar nggak ribet"


"Gue aja yang bikin, lo balik aja ke depan" sambung Icha memerintah, Ia dengan gesit langsung mulai bekerja.


"Oke" Nisa pun berlalu pergi. Tak selang berapa lama, Yola dan Icha kembali dengan nampan berisi minuman.


"Itu yang satu buat siapa?" tanya Nisa heran melihat segelas es teh masih tersisa.


"Buat Filla. Dia tadi ada keperluan tapi nanti nyusul kesini kok" papar Icha.


Nisa menahan nafas beberapa saat mendadak badmood.


"Kenapa Nis?"


"Nggak kok, cuma sedikit pusing" jawab Nisa berbohong.


"Makasi" ucap Zen tersenyum menerima es teh yang diberikan Icha.


"Ehmm..ehmm mendadak gerah nih" celetuk Ardan mencibir Zen.


"Minum dulu nih biar adem" Fian memberikan segas es teh dari nampan yang dipegang Yola memperagakan gerakan Icha barusan.


"Syirik banget lo dua".


"Hallow Everybody" seru Filla yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu, membungkam mulut Fian yang hendak membuka menimpali Zen.


"Haiii" balas Yola melambaikan tangan.


"Udah selesai urusannya?"


"Udah dong, tinggal nunggu hasil" jawab Filla menyeringai licik melirik Nisa.


"Hasil apa?"


"Enggak kok" Filla menggeleng kecil,


"Ini minuman buat gue kan? haus nih" Filla meneguk segelas es teh yang berada dinampan tanpa menunggu jawaban.


"Good looking tapi bad atitude" sindir Azam.


Filla mengedikkan bahu, malas berdebat dengan Azam.


"Nis laper nih" ucap Fian tiba- tiba memasang wajah memelas.


"Oh ya gue lupa, dedek kan abis pulang sekolah paati laper kan" canda Nisa tertawa kecil.


"Mau makan apa?" imbuhnya.


"Apa aja asal bergizi".


"Tapi gue nggak bisa masak, delyveri aja yah" ucap Nisa malu-malu.


"Yelah masak aja nggak bisa, gimana mau jadi menantu idaman" cerca Filla.


"Apa gunanya warung warung makan sama restoran kalo semua kaum hawa wajib bisa masak" serang Azam balik.


"Percuma pinter intelektual tapi ngurus dapur nggak becus"


"Hidup tuh nggak cuma seputar tentang perut" balas Azam dingin.


"Gue tau tapi sebagai cewek dan calon istri yang baik kita harus bisa masak dong. Emang anak lo doyan makan rumput?"


"Sebagai calon istri yang baik. Alangkah baiknya memperbaiki akhlak dulu biar anaknya nggak bejad nantinya kerjaannya cuma nyinyir sama orang" imbuh Ardan dengan nada suara meninggi.


Filla menyorot tajam Ardan.

__ADS_1


"Udah deh jangan ribut terus bisa budeg nih kuping gue".


Azam diam tak menjawab lagi.


"Kalo masak kelamaan, mending delyvery aja" lerai Icha menengahi.


"Biar gue aja yang mesenin" Yola membuka suara lagi.


"Lo mau apah Nis?"


"Gue mau spagehtti, burger, kentang goreng, steak ayam. Oh ya gue mau sea food juga" pekik Nisa sambil tertawa.


"Busyet, tuh perut apa karet" picing Filla.


"Julid amat buk" balas Azam.


"Fakta nj*ir" ucap Filla cuek.


"Ya udah biarin aja, Yola aja yang bayarin biasa aja, yang jual pasti seneng jualannya laris. Bang ojolnya juga bersyukur dapet orderan banyak jadi bisa buat tambhan penghasilan. Enggak ada ruginya sama lo kenapa sewot?" papar Azam yang jengan dengan cibiran Yola.


Filla bersiap melempar Azam dengan bantal kecil yang berada di sofa.


"Stop, gue udah mesen makanan buat kita semua jangan debat lagi" ucap Yola menahan gerakan Filla.


"Sambil nunggu pesanan gue bikinin camilan dulu dibelakang" ucap Nisa berusaha menghindari Filla.


"Gue bantu Nis" tawar Yola.


"Lo disini aja, gue bisa kok" sanggah Nisa, Ia. mengederkan senyumannya berpamitan pada semuanya.


"Gue mau ngasi ini dulu yah" timpal Filla menunjukan kotak bekal pemberian Aldo. Azam menatap curiga Filla, Ia ikut bangkit.


" Mau ngapain lo?" tanya Filla menatap tidak suka Azam yang membuntutinya.


"Mau jagain Nisa. Sekarang maljum takut banyak setan gentayangan.


Filla melotot marah


"Apa? emang lo setan" ketus Azam


" Lo aja yang ngasih nih ke tuan putri idaman lo" Filla menyerahkan kotak bekal yang dipegangnya.


Azam menerimanya dengan senang hati


"Udah sana pergi" usir Azam tanpa menoleh pada Filla.


"Nis" panggil Azam sesampainya didapur.


"Iya kenapa Zam" tanya Nisa heran melihat Azam menyusulnya.


"Buat lo"


Nisa menghentiikan aktivitasnya yang sedang mengupas buah-buahhan.


"Apaan nih"


"Buka aja" suruh Azam yang juga pennasaran dengan isi kotak bekal itu.


"Waaah tau aja lo gue doyan beginian" Mata Nisa berbinar menatap potongan brownis coklat didepannnya.


"Iya dong. kan gue pacar idaman" seru Azam bangga.


"Tapi gue makan nanti yah, sekarang gue lagi sibuk"


"Enggak papa, gue bantuin lo biar cepet selesaii"


"Thanks ya" Nisa tersenyum tulus pada Azam.


"Samaa-sama" Azam mencubit pucuk hidung Nisa.


"Gue simpen dulu dikulkas"


Azam menganggguk, tanngannya cekatanmenggantikan Nisa mengupas buah apel.


"Awww"


"Kenapa Zam" Nisa berlari menunu ke arah Azam, menutup pintu kulkas dengan kakinya.


"Sakit" lirih Azam. Nisa memgambil tangan Azam memeriksanya dengan seksama.


"Sakit lo tolak mulu" imbuh Azam. Nisa menghempas kasar tangan Azam.


"Becanda lo nggak lucu" ketus Nisa.


"Oke gue serius sekarang" Azam menahan tawanya.


"Cepet sembuh yah" Azam mengelus puncak kepala Nisa lembut.


"Makasi" jawab Nisa cuek.


"Jaga kesehatan" ucap Azam serius memandang lurus kedua mata Nisa.


"Nanti kalo lo sampe mati, yang nyakitin gue siapa?"


"Ban*ke lo" Nisa mencubit perut Azam bertubi-tubi membuat Azam meracau kesakitan.

__ADS_1


Filla memalingkan muka saat memihat Nisa dan Azam yang asyik bergurau. Ia yang sejak tadi menunggu dari balik ambang pintu bergegas pergi kembali ke ruang tamu.


"Sekarang lo masih bisa ketawa tapi gue yakin cepat atau lambat takdir bakal ngerubah bahagia jadi luka"


__ADS_2