
Waktu terus berputar, tak terasa satu hari telah terlewati lagi. Sekarang hari senin, hari pertama siswa-siswi SMA Nusa Bhakti mengahadapi UAS.
Nisa berjalan lesu menuruni anak tangga, sejak kejadian kemarin Azam selalu mengabaikan panggilannya. Pesan chat yang dikirimnya bahkan belum di bukanya.
"Pagi Nis" seru Dian membuyarkan lamunan Nisa.
"Pagi Ma" sahut Nisa tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. Ia sebisa mungkin mengontrol mimik wajahnya agar terlihat ceria.
"Ayok sini sarapan dulu"
"Emm Nisa langsung berangkat aja deh Ma" tolaknya halus.
"Kamu kan mau UAS jadi butuh energi dan nutrisi"
Nisa menghela nafas, dengan langkah berat hati menuju meja makan.
"Makan yang banyak jangan sungkan-sungkan" goda Dian sembari memberikan sepiring Nasi goreng untuk Nisa.
"Tapi ini kebanyakan Ma"
"Kalo makan seblak aja nggak pernah bilang kebanyakan malah kurang terus"
"Hehe itu seblak kan enak"
"Terus masakan Mama enggak enak?"
"Ya bukan gitu. Masakan Mama enak kok, Tapi kalau nasi goreng emang ngebosenin"
"Halah pinter banget ngeles" cerca Dian sembari menyendok sarapan pagi nya.
"Bersyukur Ma, dari pada pinter ngibul"
"Pinter matematika dong biar bisa di pamerin ke tetangga"
"Walaupun Nisa dapet nilai tiga dimatematika tapi Nisa pastikan dapet Nilai seratus disejarah"
"Kok bisa?"
"Iya soalnya menghafal lebih mudah dari pada menghitung. Apa lagi yang pake nol komah, udah deh nyerah"
"Pantes susah move on. Daru dulu sukanya Menghafal sih bukan melupakan".
"Hadeh, melupakan nggak semudah membalik roti bakar Mama, butuh waktu butuh proses "
"Emang satu tahun bukan bilangan waktu?"
"Satu tahun mana cukup, pacarannya aja dua tahun
"Terus mau berapa lama? Nobita aja udah nikah"
"Nunggu ada yang melet aja deh. Mau buka hati sendiri buat yang baru susah"
"Hus ngawur kamu, dosa tahu"
"Lho Nisa kan cuma korban pelet, yang dosa mah pelakunya"
"Nanti kalo ilmu peletnya udah expayed nyesel kamu udah jadian"
"Semoga aja udah suka beneran wkwkk"
"Halu banget bambang"
"Yee ada kok ceritanya begitu"
"Realita tak seindah ekspektasi"
"Jangan-jangan Azam pelet Nisa Ma"
"Ya ampun, enggak mungkin lah. Azam mah orangnya baek luar dalem"
"Mama tahu dari mana?"
"Mukanya aja ganteng begitu"
__ADS_1
"Yaelah modal ganteng mana cukup Ma. Atau Mama juga dipelet biar merestui?"
"Heh nggak boleh su'udzon Nisa, Mama nggak like ih"
"Siapa tau aja kan?"
" Enggak nanti kita buktikan. Sepulang sekolah jangan kemana-mana. Tunggu Mama pukang kerja".
"Mama mau ajak Nisa jalan-jalan?"
"Iya, jalan-jalan ke rumah pak ustadz biar di ruqyah otak kamu kotor"
"Mama!" kesal Nisa mencebikan bibirnya.
Dian mengendikan bahunya, asyik menyantap nasi goreng buatannya.
"Mama kok pro banget sama Azam?"
"Gimana nggka pro? dia tuh sopan, ramah, sabar pula, kurang apalagi?"
Nisa mendengus pelan membenarkan perkataan mamanya.
"Harusnya kamu bersyukur Azam masih bertahan. Tau sendiri mood kamu bobrok nya kaya apa. Udah galaknya nggak ketulungan, banyak maunya, disalahain apa malah mencak-mencak" jelas Dian dengan santai mengabaikan raut wajah kesal Nisa.
"Jelek-jelekin terus" sahut Nisa menyendok kasar makanannya.
"Eh Mama nggak lagi buka aib kamu, justru mama lagi buka pikiran kamu biar sadar"
"Ma doain Nisa yah, semoga lancar ujiannya" sahut Nisa mengganti bahan obrolan. Jengah mendengar penuturan Dian yang memuji Azam setinggi langit, tapi justru menginjaknya sampai ke dasar bumi. "
"Anak Mama Dian sebenarnya siapa sih? Annisa atau Azam?" batin Nisa dongkol.
"Dih nggak nyambung" gerutu Dian cemberut Nisa mengganti topik seenaknya.
"Nanti kalau Nilai Nisa jelek berarti Mama nggak doa in Nisa"
"Kok Maksa? kalau mau hasil bagus yah belajar"
"Iya, Tapi rajin juga belajarnya biar bisa ngerjain"
"Okey siap bos"
"Jadwal mapelnya apa?"
"Bahasa Indonesia sama Sejarah"
"Tadi malem belajar sampe jam berapa?"
"Jam 11"
"Bagus"
Samar-samar terdengar suara kettukan pintu dari arah luar rumahnya.
Tok...tok..tok
"Nis"
"Iya" jawab Nisa lirih. Jantungnya berdegup kencang menebak siapa yang datang sepagi ini.
" Astaga kalau itu Aldo gimana? bisa mampus gue. Azam aja marahnya belum sembuh gimana nanti kalau liat gue berangkat sama Aldo? bisa di amuk gue"
Nisa meremas ujung rok osisnya. Pikirannya berkelana kemana-mana dipenuhi aura negatif.
"Kamu denger sesuatu nggak?" tanya Dian yang gemas Nisa melihat Nisa tak bergeming.
"Iya"
Decakan halus keluar dari bibir Dian.
"Ada tamu tuh"
"Iya" Nisa cuek menyantap nasi gorengnya Malas sekali hendak membukakan pintu.
__ADS_1
Ditolak jadi nggak enak hati, diterima pasti Azam akan tersakiti.
"Semoga aja Azam udah nggak marah lagi dan mau ngejemput gue" ucap Nisa berharap dalam hati.
"Ehm" Dian berdehem pendek memyadarkan lamunan Nisa, sepertinya harus dengan cara klasik nih.
"Nisa, tadi kan Mama udah masak, nyapu, beres-beres rumah, Mama juga udah buka gerbang yekan. Jaga-jaga gitu kalau ada tamu"
Nisa menatap curiga Mamanya,
"Jadi sekarang giliran kamu gih bukain pintu, gantain gitu"
Nisa menjengitkan bibirnya, firasat hatinya benar. Pasti Mamanya mau menyuruhnya jika sudah mengungkit-ungkit kebaikannya.
"Iya" Nisa menurut bangkit. Diputarnya knop pintu dengan malas.
"Azam?" pekik Nisa girang melihat tubuh tegap kekasihnya berdiri di depan pintu.
"Kalo udah siap, langsung masuk mobil" ucap Azam dingin.
Nisa melototkan matanya mendengar ucapan Azam yang tak ada lembutnya sama sekali.
"Buruan ambil tas" tegas Azam.
"Eh iya" jawab Nisa gugup, Ia bersiap lari masuk kedalam kamarnya. Baru saja memutar badan tubuhnya malah menabrak Dian yang baru datang.
Brukk
Tubuh Nisa tersentak mundur beberapa senti, beruntung Azam dengan sigap menopangnya agar tidak jatuh.
"Mama" omel Nisa mengelus dahinya sembari menegakan tubuhnya.
"Mama ngapain disini?"
"Mau liat siapa tamunya" cengir Dian polos.
"Tadi suruh bukain pintu nggak mau"
"Tadi maget tapi kepo, jadi yah nyusulin ke sini"
"Itu temen Nisa, jangan digodain"
peringat Nisa seraya meneruskan langkahnya untuk mengambil tasnya.
Dian merapatkan giginya menahan malu di depan Azam. Usia keduanya terpaut jarak 22 tahun, namun tingkahnya justru malah seperti kakak beradik.
"Bisa-bisa nya punya anak nyablak banget, kalo sama mertua masih begitu bisa dicoret dari KK suami kamu Nis" sahut Dian sebal.
Azam tersenyum manis menanggapi ucapan yang dilontarkan Nisa, dia berusaha memahami tingkah gesrek antara emak dan anaknya itu.
"Pagi tante" sapa Azam ramah mencairkan suasana.
"Pagi juga nak Azam. Mau jemput Nisa?"
"Iya Tan"
"Ayok gas" tukas Nisa yang telah kembali dari kamar sambil mengenakan tas punggungnya.
"Berangkat dulu Ma" imbuh Nisa sembari menyalami punggung tangan Dian diikuti Azam.
"Dikamar kamu ada setan Nis?" cibir Dian.
"Iya mah ada tante kun genit takut di grepe-grepe" balas Nisa sembari melangkah menjauh.
Dian menggeleng-gelengkan kepalanya
"Astagfirullah, tukar tambah anak ada nggak sih? punya anak nggak ada sholehahnya banget" ucap Dian lantas menuntup pintu dari dalam.
Hallo gaes🤓
Author cuma mau bilang, buat para sesama author yang mau promosi dinovel ini boleh kok..Author bebasin mau seberapa banyak promosinya🤗
Salam dari Pujas, love you all😗😗
__ADS_1