Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 14 Penasaran


__ADS_3

Nisa, Yola, Filla, dan Icha berjalan beriringan meuju kantin. Beberapa pasang mata menatap iri mereka, Tidah hanya karena memiliki paras yang cantik tapi mereka juga termasuk geng yang memiliki solidaritas tinggi. Keceriaan selalu terpancar saat mereka berkumpul.


Jarang orang tau berapa banyak rasa sakit yang menusuk hati mereka saat bertengkar, berapa banyak goresan luka karena yang mereka terima saat adu mulut berbeda pendapat. Beribu kata pedas telah mereka dengar hingga akhirnya mereka kebal dengan kejulidan satu sama lainnya


Mereka yang menatap iri tidak pernah tau proses yang mereka jalani hingga bisa membentuk geng yang solid.


"Gue mau mampir bentar di kamar mandi yah" Ucap Filla memecah keheningan diantaranya.


"Okey kita tunggu" jawab Yola.


"Lo ke kantin aja duluan, gue minta temenin Icha . Kasian tuh si Nisa mukanya udah pucet begitu, nanti pingsan kelaperan"


"Tumben lo peka?" Nisa meringis tiga jari.


"Oke kita duluan yah" Nisa menarik tangan Yola segera berlalu dari hadapan Filla dan Icha.


"Jangan lupa pesenin kita berdua" ucap Filla dengan sedikit berteriak, Kedua sosok sahabatnya sudah sedikit menjauh.


"Siap Bosku" balas Nisa.


Sesampainya dikantin Nisa mencari meja yang belum terisi. Susasan kantin yang ramai membuatnya kesulitan mencari meja yang masih kosong.


Yola menengok kiri kananya, ikut membantu nNsa mencari tempat duduk.


Dari arah lain Aldo melihat sepupunya yang kebingungan, Ia pun memanggilnya.


"Yola" teriak Aldo sambil melambaikan tangannya ke arah Yola.


Yoal merasa terpanggil, ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh kantin.


Nisa merasa suara yang memangil nama sahabatnya seperti tidak asing ditelinganya. Nisa mencari sumber suara yang mengganggu gendang telinganya, Ia justru melihat Aldo disalah satu sudut kantin.


"Yola".


Yola melihat Aldo baru saja memanggilnya lagi, ia pun berjalan mendekati Aldo.


"La lo mau kemana?" Tanya Nisa yang kebingungan melihat Yola malah berjalan mendekati Meja Aldo.


"Emang tadi lo nggak denger ada yang manggil gue?" ucap Yola santai.


Nisa terdiam tidak tahu harus melakukan apa.


"Duduk disini aja, masih ada yang kosong kok" Ucap Aldo sesampainya Yola didekatnya.


" Nisa?" Aldo baru sadar Yola datang tidak sendirian, ada Nisa dibelakangnya.


"Lo ngapain kesini sih la" Nisa mengabaikan Aldo, geram dengan sikap Yola.


"Kita duduk disini aja deh Nis, masih banyak kursi kosong, cukup buat kita berempat" Ucap Yola yang sudah sejak tadi mengambil tempat duduk disebelah kanan Aldo, tidak peduli dengan ekspresi marah Nisa.


Yola sama sekali tidak tau tentang masa lalu Nisa dan Aldo, walaupun Aldo sepupunya yang terbilang cukup akrab , tetapi ia tidak tau detail privasi. Faktor jarak tempat tinggal membuat keduanya sibuk dengan urusannya masing masing, hanya sekedar berkunjung jika libur panjang atau menyapa lewat chat.


Kedekatannya semakin rapat saat Aldo pindah ke sekolahya dan menetap di Kota yang sama dengan Yola.


"Cie ada yang lagi reuni mantan nih" ucap Ardan dari balik buku novel yang dibacanya, melihat siapa yang baru saja datang.


"Aduh "


Aldo menginjak kaki Ardan yang duduk disebelah kirinya. Ekspresi tidak bersahabat milik Nisa membuatnya bergidik ngeri, meledek Nisa sama saja memancing mara bahaya.


"Lo kenapa?" tanya Yola heran dengan Ardan yang mendadak mengaduh kesakitan.


"Enggak papa kok, cuma ada kuman nggigit kaki gue" jawab Ardan sekenanya, rasa sakit dikakinya mengalahkan logikanya untuk berfikir jernih.


Yola mengurutkan kening tidak paham.


Yola tersenyum dengan sedikit dipaksakan, ia tertarik dengan kata kata yang diucapkan Ardan

__ADS_1


"Tadi lo bilang reuni ? emang siapa yang lagi reuni?"


Aldo melirik tajam Ardan, menyuruhnya untuk tidak menjawab ngawur melalui tatapan matanya. Membahas masa lalu yang pahit bukan hal yang menyenangkan dibicarakan didepan umum.


Nisa tersenyum kecut, telingannya mendadak panas. Tidak biasanya dia menjadi bahan gibahan, biasanya Nisa lah yang berghibah.


"Ehh itu, kita dulu satu SMP, iya kan Nis?" Ardan berusaha menjawab hati hati, dia sadar sekarang bukan waktunya bercanda. Ada perasaan yang harus dijaga


"Hmmm ya"


"terus mantan lo siapa?"


"mantan temen maksud gue" Ardan salah tingkah berharap Yola tidak memperpanjang lagi.


"Oooo"


Yola hanya ber O ria. Ia percaya dengan perkataan Ardan. Tidak mungkinkan Nisa mantan pacar Ardan. Untuk cewek seperti Nisa tidak mungkin kan seleranya sekelas Ardan? yang terlihat cuek.


Bahkan mengabaikan keberadaan makhluk syantik sejagad raya itu. Nisa tipikal cewek cerewet juga pecicilan, tidak mungkin mau berpacaran dengan Ardan si beruang kutub, sikapnya terkesan dingin. Pastinya Nisa akan mencari cowok yang bar bar untuk menyeimbangkan tingkanya yang peccicilan agar bisa diajak bobrok bareng ketika kencan. Yola mengendikan bahunya saat perutnya berkerucuk lapar. dia tidak ingin teralu banyak memikirkan sesuatu yang menguras energinya.


Ardan tersenyum lega. Ia membuka buku yang dipegangnya, melanjutkan membaca novel.


"lo mau pesen apa?"Aldo berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Gue mau bakso sama es jeruk, lo mau apa Nis?"


"Terserah"


" Samain aja kek gue Al" ucap Yola,dirinya sudah kelaparan dari tadi tidak ada energi untuk meladeni Nisa.


"Pesen empat porsi yah, temen gue masih ada dua lagi, tadi nyangkut dikamar mandi"


"Okey"


"Gue juga Al" ucap Fian menitipkan menu pesanannya pada Aldo.


Zen berdecak heran atas ketidakpekaan Aldo.


"Kayak biasanya aja Al"


Ardan hanya mengangguk, sependapat dengan Zen ia masih asyik dengan cerita yang dibacanya.


Aldo menganggukan kepalanya paham, ia pun melangkah pergi menemui ibu kantin. Memesankan pesanan Yola dan Nisa juga teman temannya.


"Kok bisa Aldo kenal sama lo? tanya Nisa penasaran.


"Ya jelaslah, cewek secantik gue siapa juga yang enggak kenal" Yola menyombongkan dirinya.


Nisa berdecak kesal, informasi dari Yola tidak berguna untuknya.


"Gue serius la" ucap Nisa penuh sedikit tekanan.


"Aldo juga kenalkan sama lo? kok bisa?" Filla teringat Aldo juga memanggil nama Nisa.


"Gue kan cantik jelas dong Aldo kenal sama gue" Nisa membalikan perkataan Yola, malas jika harus membahas masa lalunya.


Yola mendengus pelan ia tidak ingin berdebat dengan Nisa, besok besok dia bisa mencari tau informasinya langsung lewat Aldo.


ehemm...ehmm..


Yola menatap Fian, yang ditatapnya justru salah tingkah saat kedua manik bola mata mereka bertemu.


"Kenalan dong Neng" sapa Fian basa basi. Gigi gingsulnya membuatnya terlihat manis.


"Nama gue Fian, nama lo siapa?"


"Yola"

__ADS_1


"Oke salken yah".


Yola tersenyum ramah. Yola buka tipe perempuan yang mudah akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya, tetapi melihat senyum manis Fian meruntuhkan imannya.


Ardan menutup bukunya, mengamati wajah Yola. dia pernah mendengar Fian menyebut nama Yola. Jadi ini cewek yang waktu itu akan Fian jodohkan sama gue batin Ardan.


Tapi kayaknya ada yang salah sama Fian, bukannya dia kemaren mau jodohin gue sama Yola, tapi bukannya jadi mak comblang kenapa malah Fian asyik sendiri sih?.


"kenalin ini Nisa temen gue" Yola memeperkenalkan Nisa pada Fian.


Nisa tersenyum miring, untuk apa Yola memeperkenalkan Fian padanya, toh dia sendiri sudah bosan melihat wajah Fian setiap selama tiga tahun.


"Iya,gue udah tau udah kenal malahan"


"Apah? lo serius?"


"Iya lah. kita pernah satu SMP malah satu kelas"


Nisa menatap tak percaya pada Fian, Yola membisikan sesuatu pada Nisa.


"Ya ampun Nisa, Kok lo nggak pernah cerita punya temen bening kayak gini, mereka mau lo gebet semua?"


Nisa balas membisikan sesuatu.


"Enak aja, gue aja udah lupa punya temen kayak mereka".


Aldo datang membawa pesanan mereka sebanyak delapan porsi bakso dan delapan es jeruk.


Percakapan tertunda.


"Buruan dmakan, mumpung masih anget" Aldo membagikan seporsi bakso pada teman temannya, diikuti pelayan kantin yang membawakan es jeruk pesanan mereka.


Nisa menerima jatanya, mengambil sensok garpu, memotong baksonya kecil kecil. Tampak menggiurkan saat kepulan asap tipis masih menguap diatasnya.


Tanpa menunggu lama dia langsung melahapnya.


"Lo bisa nggak nunggu sebentar lagi? tunggu Filla sama Icha dulu"


Nisa tersedak mendengar sindiran Yola.


Aldo refleks menyodorkan segelas es jeruk pada Nisa. Nisa meminumnya dengan rakus.


"Pelan pelan Nisa, nanti lo bisa kesedek lagi" ucap Aldo memperingatkan.


Cie cie..So sweet" Zen menggoda.


"Apaan si lo" Jawab Nisa ketus.


" uhuk..uuhk" Fian menirukan gerakan Nisa.Tidak ada pergerakan dari Aldo.


"Kok gue nggak diambilin minum sih bang, Adek juga keselek nih".


Fian meledek Aldo, Mulutnya sangat gatal jika tidak mengometari adegan romantis secara live didepannya.


"Lo kan bisa kan bisa ambil sendiri"


"Emang Nisa nggak bisa ambil sendiri? .


Aldo memegang kepalanya, pusing meladeni sahabatnya.Ia mendok potongan bakso kemulutnya. Membiarkan keahlian Nisa membungkam mulut mereka dengan fantastis.


"Kok nggak bilang makasih, kan uda diambilin minum sama abang" Timpal Ardan ikut nimbrung. Matanya melirik Nisa sambil


menaik turunkan alisnya, sengaja mengompori.


"Ngapain nglirik nglirik? mau gue colok pake garpu? Nisa mengangkat garpunya mengarah pada Ardan.


Ardan terkesiap buru mengalihkan tatapannya pada mangkuk bakso didepannya.

__ADS_1


Yola hanya mengamati kejadian didepannya. Ia mencium aroma kejanggalan. Nisa yang semula ceria mendadakan berubah ketus.Nisa yang menjadi super sensitif. Ditambah dengan sikap Aldo yang perhatian. Disini ada empat cowok, kenapa harus Aldo yang terlihat khawatir, ada apakah gerangan.Yola semakin penasaran apa hubungan Nisa dengan keempat temannya. Ia terlihat sangat kesal saat melihat atau berbicara dengannya, Yola bertekad akan menyelidikinya.


__ADS_2