
Fian dan Zen kompak mengambil posisi duduk dikiri kanan Ardan mengapitnya ditengah.
"Apa perlu gue temenin ke komnas HAM?" seru Fian heboh melihat Ardan yang meringis kesakitan.
"Mau ngapain kesana?" timpal Ardan bingung merasa tidak nyambung dengan penawaran Fian.
"Ini udah termasuk dalam KDRT, Nisa harus dilaporin ke pihak yang berwenang'"ucap Fian menggebu-gebu tidak terima sahabat baiknya disakiti.
"KDRT pala lo" Ardan menjitak gemas kepala Fian.
"Nisa siapa coba, nggak kenal gue. Demit dari mana emang?" imbuh Ardan malas membahas tentang Nisa.
"Halah belagu sok enggak kenal, nanti ilang lo cariin di got" ejek Fian.
"Nisa si Ratu demit maksud lo?"
"Ratu demit? bukannya ratu hati lo" sergah Fian cepat, Ia mencolek perut Ardan penuh arti.
"Enggak ada sejarah manusia berhubungan sama mak lampir yang ada juga sama bidadari keles"
"Bidadari mana yang mau sama lo? tampang aja cuma pas-pasan" sahut Fian tak kalah sengit.
"Ada lah, kan gue orangnya baik suka menolong ramah tamah plus murah senyum pula"
"Murah? murahan maksud lo?" tanya Fian memperjelas ucapan Ardan.
"Iya baik kalo ada maunya" Seru Zen ikut menyahuti.
"Iya lah. Ngapain baik kalo enggak ada maunya nanti yang ada cuma dimanfaatin" ucap Ardan membenarkan perkataan Zen.
"Masih mending kalo cuma dimanfaatin, lha kalo sekalian diporotin mampus dah lo" tambah Zen ikut memperkeruh pembicaraan.
"Itu sih masih lebih baik, lo bayangin aja udah dibaikin, dimanfaatin, diporotin eh ditinggalin wkwkwk" Entah mengapa Fian mendadak ingin melihat reaksi Zen saat mendengar ucapannya, ada firasat yang menyuruhnya melirik seklias melalui sudut matanya.
"Kenapa engga sekalian bundir aja yah, udah pasti nyesek tuh" imbuh Ardan.
Zen mengelus dadanya bersabar dengan sindiran kedua temannya. Ia masih mengingat saat Nisa memintanya untuk menjemputnya saat ke rumah Aldo, Nisa juga sudah menfaatkan dirinya untuk menjadi mesin ATM berjalan.
"Untung aja gue bertakwa sama Tuhan Yang Maha Esa, jadi kuat mental menghadapi segala cobaan" ucap Zen menyombongkan diri.
"Kok gue nyium bau-bau orang lagi kesindir yah" celetuk Ardan. Ia mengurutkan keningnya heran.
"Emang waktu lo pergi sama Nisa ngapain aja sih?" Tanya Fian serius, meski Ia tidak yakin dengan yang dirasa Zen, siapa yang memanfaatkan dirinya namun menilik sejauh ini Zen tidak pernah berjalan dengan perempuan selain Nisa. Kemungkinan jawabannya pasti benar, membuatnya semakin penasaran dengan peristiwa minggu lalu.
"Lo masih ingetkan sama bunga yang dibawa Nisa waktu ke acara ulang tahun Aldo?" jelas Zen memulai menceritakan kenangan pahit bersama Nisa.
"Bunga? bunga yang mana?" balas Fian sambil mengingat-ngingat.
"Buket bunga mawar?" balas Ardan sedikit mengingat memori ingatannya.
"Engga ada" lanjut Fian.
"Ada kok, itu bunga gue yang bayar" papar Zen sambil cemberut, bukan masalah harga namun lebih kepada image nya yang terlihat seperti orang bodoh karena dapat dengan mudah dikadali oleh Nisa.
"Setau gue Nisa cuma bawa hati lo enggak ada yang lain" ucap Fian disertai tawa ngakak diujung kalimatnya.
"Bul ****"
Ardan tertawa kencang disamping kiri Zen, sejak tadi dia menganggap Fian benar-benar pikun ternyata hanya modus untuk meledek Zen.
Zen berdecak kesal, bukan simpati yang ia dapat namun malah candaan garing Fian yang tidak lucu sama sekali di gendang telinganya.
"Ehmm..hmm" Zen berdehem keras mengingatkan tujuan awal kedatangan mereka.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong tadi kenapa Nisa dateng kerumah lo Ar?" ucap Zen mengalihkan pembicaraan. Ia memancing sebuah topik yang sangat berkelas untuk menjadi bahan bully an papan atas.
Ardan tersenyum masam. Niat sekali Zen untuk bergantian membully. Ardan menghela nafas sebelum memulai mendongeng.
Fian dengan takzim hendak medengarkan, Zen tampak antusias bersiap meledek.
"Lo enggak ada hubungan apa-apa kan?" seru Zen mengompori.
"Enggak lah" Ardan menimpuk kepala Zen dengan bantal kecil yang berada di sofa. Zen kalah gesit untuk sempat menangkis atau menghindar kejadiannya begitu cepat hingga bantal itu mendarat sempurna di dahinya.
"Tadi gue bilang kalo lo ada disini. Makanya Nisa dateng ke sini mau ketemu sama lo, rindu katanya" Cerca Ardan ditunjukan untuk Zen.
"Jangan muna lo, jelas-jelas tadi Nisa bilang lo calon imam dia" sanggah Zen mengingatkan sapaan manis Nisa untuk Ardan.
"Eits, emang lo lupa? kalo dia juga bilang lo calon pacar dia?" ucap Ardan balik melempar pertanyaaan.
"Kalo mau debat bilang dong, biar gue wasitin jangan main nyolong start gitu" ungkap Fian kecewa merasa tidak dibutuhkan.
"Dasar temen laknat, harusnya lo lerai kita berdua nyet" protes Zen geregetan dengan sikap santai Fian melihat perdebatan didepannya.
"Kalo lo berdua udah ngotot kenapa gue harus susah-susah misahin? Seenggaknya kalo lo enggak butuh wasit, gue siap kok jadi penonton bayaran" ucap Fian enteng tanpa rasa bersalah.
"Sungguh terlalu kau Yan" Zen menatap sinis kearah Fian, ingin sekali ia mencabik-cabik tampang polosnya.
"Yang atut" ucap Fian lirih, ia memegang erat lengan Ardan.
"Jijay lo ah" Ardan menghentakan pegangan dilengannya.
Fian memicingkan matanya,
"jadi sekarang lo berubah? mentang-mentang udah sama Nisa jadi kasar lo sama gue?" seru Fian sambil meyeka sudut matanya pura-pura menangis.
"Okey kita putus sekarang" cecar Fian seraya menyedekapkan tangannya.
"Sejak dahulu kala"
"Emang lo pikir gue manusia purba pake sejak dahulu kala" sahut Ardan sewot.
"Lo itu kan reinkarnasi megantropus kan?"
"Enak aja lo kalo ngomong" Ardan menjitak dahi lebar Fian.
"Aw sakit b*go" Fian balas menampol pelan pipi Ardan.
"Para hadirin yang terhormat dimohon bersabar, mari kita kembali ke topik pembicaraan" cetus Zen berinisiatif menengahi kondisi yang mulai memanas.
"Untuk tersangka saudara Ardan Muliadana, Silakan untuk memberikan penjelasan terkait fenomena langka Nisa yang datang berkunjung kerumah anda, waktu dan tempat dipersilahkan" tambah Zen lagi.
"Kebanyakan gaya lo"
"Biarin dari pada mati gaya lagi digebukin"
"Kok lo nyinyir?"
"Jangan ngelak, kenapa Nisa bisa mendadak dateng kesini?" tegas Zen to the point.
"Dia cuma mau minta maaf gara-gara Filla bilang gue kacung dia" jawab Ardan langsung tanpa ditutup-tutupi.
"Cuma itu doang?"
"Iya" ucap Ardan cuek.
"Terus kenapa Nisa bisa sampe nampar Filla?" tanya Fian tidak puas dengan jawaban Ardan.
__ADS_1
"Lo itu udah pikun? kan gue udah bilang Filla ngatain gue kacung dia"
"Lo nggak lagi ngarang cerita kan?" tutur Zen yang juga tidak percaya, lebih tepatnya tidak paham.
"Lo pikir gue penulis cerita fiksi samppe harus ngarang cerita buat bahan tulisan.
"Jadi lo serius?" ulang Fian lagi.
"Iya"
"Sumpah gue nggak nyangka" Fian menatap takjub kepada Ardan.
"Kenapa?" Ardan menaikan kedua alisnya.
"Sekarang gue yakin kekuatan cinta emang bener ada"
"Maksud lo apa sih? jangan muter-muter jelasinnya" sungut Zen yang juga penasaran.
"Ternyata cinta Nisa buat lo besar banget sampe membuat dia jadi brutal"
"Ngaco lo"
"Nggak mungkin dong cuma ngatain kacung langsung digampar? senggol bacok mah udah biasa tapi kalo bacot gampar kayaknya luar biasa" papar Fian menjabarkan logikanya.
"Lo aja yang belum tau gimana juteknya Filla ngatain gue" cecar Ardan sedikit emosi.
Fian menelan ludah melihat dengan jelas wajah Ardan yang memerah menahan emosi.
"Jangan-jangan Filla naksir lo makanya dia jadi jutek karena cemburu?" ujar Zen beragumentasi.
"Udah deh gue males ngungkit-ngungkit lagi. Kalo kalian mau percaya juga syukur kalo enggak juga bagus, percaya sama gue musyrik soalnya"
Fian dan Zen saling memandang saling mengode. Fian mengangguk, menghargai perasaan Ardan.
"Kalo lo berdua masih kurang puas lo bisa tanya langsung sama Nisa" Ardan menyeringai lebar saat memberikan tawaran mematikan untuk keduanya.
Fian bergidik ngeri, membayangkan betapa garangnya Nisa.
"Gue minta tolong yah, jangan ceritain masalah ini sama Aldo gue takut dia salah paham" pinta Ardan dengan penuh harap pengertian dari Fian dan Zen.
"Okey" ucap Fian setuju.
"Ya udah gue mau istirahat dulu, badan gue udah remuk semua nih" pamit Ardan lalu melangkah menuju kamarnya.
"Kita gimana dong?" seru Fian.
"Pulang lah. Ini rumah bukan tempat penampungan anak" usir Ardan halus.
Zen tidak mau ambil pusing. Ia meraih jaketnya disofa memilih pulang.
"Lo mau pulang?"
"Iya. emang lo enggak malu udah diusir" jawab Zen cuek sembari memasang jaket ditubuhnya.
"Enggak, urat malu gue udah putus semenjak temenan sama lo"
"Ralat, kayaknya emang dari lahir urat nadi lo ikut putus saat tali pusar lo dipotong"
"Sembarang".
"Gue mau pulang, bye" Zen perlahan melangkah keluar, malam semakin larut. Dia sendiri juga membutuhkan istirahat.
Fian menurut, melangkah bersama-sama menuju kendaraan yang terpakir rapi dihalaman depan rumah Ardan dengan Zen.
__ADS_1