
Nisa merenggangkan tubuhnya, membuka kedua tangannya lurus kesamping. Matanya perlahan terbuka,
"Astaga" Nisa terlonjak kaget saat melihat cahaya mentari telah bersinar terang, matanya refleks menoleh pada jam wekker dinakas. Pukul 10.00
"What the hell" Nisa dengan sigap menegakkan tubuhnya.
"Awww" Nisa meringis kesakitan saat mengerakan tubuhnya untuk duduk tegap. Benturan di punggungnya kemarin masih meninggalkan nyeri.
"Parah, kok bisa gue kesiangan" rutuk Nisa pada dirinya sendiri.
"Mama kok nggak bangunin gue" gerutu Nisa kesal. Nisa menoleh ke samping nakas tempat tidurnya, tak sengaja matanya melihat semangkuk bubur ayam dengan segelas teh hangat yang mulai mendingin. Diambilnya secaraik kertas dibawah mangkuk.
"Mama pamit mau berangkat kerja dulu yah. Maaf Mama sengaja enggak bangunin kamu, Mama tau kamu masih sakit hehe :v. Kalo udah bangun langsung mandi sama sarapan"
Nisa tersenyum singkat, matanya berkaca-kaca. Ada rasa sesal dihatinya menyadari Mamanya yang kini single parent. Tentu tidak mudah baginya harus membagi waktu untuk mengurus rumah sekaligus dirinya. Belum lagi Ia harus membanting tulang mencari nafkah.
"Ya Allah, Kuatkan tulang punggungnya agar mampu menyangga segala beban yang Ia tanggung. Mudahkan urusannya, ringankan langkahnya dalam menggapai Rizki-Mu" Nisa mendekap surat kecil dari Dian, kerinduan menyeruak didadanya.
\*\*\*
Ditemapat lain diwaktu yang sama....
Aldo berjalan gontai menuju X IPS 3 ditemani Zen, bel tanda isitirah baru saja berbunyi nyaring. Filla tersenyum sumringah saat melihat Aldo memasuki kelasnya. Aldo tersenyum singkat membalas sapaan ramah Filla, namun mata menoleh kesamping kiri mencari keberadaan sosok incarannya.
"La Nisa mana?" tanya Aldo pada Yola, teman sebangku Nisa.
"Dia nggak masuk lagi sakit katanya" jawab Yola pendek.
"Kenapa?" tanya Yola penasaran.
"Engg nggak kok..cuma tanya aja" balas Aldo gugup. Zen menggaruk tengkuknya mendengar jawaban Yola.
Filla menggebrak mejanya pelan, sebal mendengar percakapan Aldo dan Yola. Azam menelan salivanya, feelingnya merasa tidak enak memihat gelagat Filla.
"Tumben nyariin Nisa, kan lo lengketnya sama Filla" cibir Yola merasa heran.
Aldo mengabaikan tatapan heran dari Yola, Ia memandang Zen penuh arti.
"Tapi gue gimana?" bisik Zen.
"Lo kasi langsung aja" usul Aldo.
"Malu njir" balas Zen sewot.
"Ya udah ga usah aja"
"Sayang dong, udah gue beli" ucap Zen keberatan.
"Ya makanya lo kasi langsung aja"
"Tapi..."
"Cha" panggil Aldo memotong ucapan Zen.
__ADS_1
"Iya Al?" sahut Icha sedikit gugup.
Aldo segera merampas coklat dari tangan Zen.
"Nih buat lo, dari temen gue katanya nge fans berat sama lo" Aldo melirik Zen sekilas melalui sudut matanya.
"Makasi" balas Icha sambil menunduk malu.
Zen tersenyum kikuk, canggung tak kala berhadapan langsung dengan Icha.
"Ini buat gue kan Al?" tanya Filla penuh percaya diri melihat kotak bekal yang digenggam Aldo.
"Emm itu..."
"Thanks" sahut Filla mengambil dengan paksa. Zen menyikut perut Aldo, tak terima saat melihat benda kotak yang dibawa Aldo telah berpindah tangan.
"Iya" Aldo memaksakakan senyimnya tidak enak hati hendak mengambil kembali kotak bekalnya.
"Iya itu buat lo, tolong kasih ke Nisa ya" sambung Zen lalu menyeret Aldo kembali kelasnya.
Filla menggeram pelan, wajahnya memerah menahan malu sekaligus cemburu.
Yola meledakan tawanya melihat ekspresi kesal dari wajah Filla.
"Di toko masih banyak, nggak usah cemberut gitu. Kayak orang susah aja" ledek Yola masih dengan tawanya.
Icha menatap Yola, mengedipkan kedua matanya menyuruh Yola diam.
"Kantin yuk" ucap Icha mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak tega melihat tampanh amburadul Filla yang tengah kesal.
"Lo dua duluan aja gue ntar nyusul" jawab Filla lesu.
"Okey, mau gue pesenin?" tutur Icha menghibur Filla.
"Iya"
Icha pun mengangguk, lalu menggandeng Yola ke luar. Memberikan waktu pada Filla untuk menenangkan dirinya.
"Sial" Fiila mengusap wajahnya kasar. Ia melempar kotak pemberian Aldo ke dalam lacinya dalam sekali hentakan.
Azam yang sedari menyimak gerak gerik Filla segera mendekatinya.
"Jangan macem-macem" ancam Azam tegas. Filla mendengus pelan.
"Nggak usah ikut campur" ujar Filla yang paham arah pembicaraan Azam.
"Gue nggak akan biarin Nisa ngambil sesuatu yang seharusnya jadi milik gue"
"Nisa nggak salah apa-apa Pacar lo aja yang kegatelan" ejek Azam.
"Heh Nisa aja yang keganjenan suka tebar pesona" ucap Filla menggebu, emosinya semakin tidak terkendali.
"Yang ngasi coklat siapa? Aldo kan? berarti pacar lo yang sok ganteng itu yang ngedeketin Nisa. kenapa Nisa yang salahin?" papar Azam mempertahankan argumennya untuk membela Nisa.
__ADS_1
"Lo tuh nggak tau apa-apa, gue nggak ada urusan sama lo"
"Berani lo nyakitin Nisa, gue yang akan bales nyakitin lo"
"Dasar pengecut, berani lo sama cewe?" tantang Filla semakin berani karena emosi menguasainya, membuat dirinya tidak bisa mengendalikan ucapannya.
"Sesama pengecut nggak perlu saling menghakimi"
"Gue nggak level disamain manusia sampah kek lo"
"Oh iya, bukan pengecut sih cuma pecundang. Suka main dari belakang aja dibanggain"
"Gue cuma mau jagain milik gue" elak Filla.
"Jagain tuh yang bener bukan dengan cara yang kotor sampe ngorbanin orang lain" cerca Azam menatap lurus kedua manik hitam milik Filla.
"Tapi gue juga nggak masalah sih ngotori tangan gue buat ngebungkus manusia ular kayak lo" tambah Azam.
Filla tak gentar menghadapi ocehan Azam, Ia balik menatap tajam pada Azam.
"Kalo mau cari lawan tu yang sebanding, bukan sama cewek. Masih gantle kan lo apa udah berubah jadi bencong sekarang hah?"
"Heh lo tu cewek titisan iblis, jadi nggak ada larangan cowok ngelawan iblis"
"Kalo lo nggak mau Nisa kenapa-kenapa jagain dong yang bener"
"Lo aja nggak becus jagain pacar lo, kenapa nyalahin gue?" ucap Azam tak terima.
"Masa sama Nisa doang lo kalah? nggak malu sama bacotan lo yang gede?" sambung Azam semamgat meledek Filla.
"Heh semua tuh gara-gara Nisa yang sok cantik jadi cowok gue tergoda"
"Lha Nisa yang sok cantik aja Aldo bisa kecantol, masa lo yang cantik beneran nggak bisa? "
"Diem lo" sahut Filla yang telah kehabisan kata-kata.
"Gue juga lagi usaha" imbuh Filla sambil memijat pelipisnya.
"Usaha yang bener biar hasilnya juga bener" sambung Azam.
"Ya udah lo bantuin gue mikir, jangan cuma nyeramahin gue aja"
"Kalo kecantikan lo nggak mempan sama tuh cowok lo kasih noh ilmu pengasihan atau lo pelet kek. Semar mesem juga bisa atau jaran goyang biar lebih uwu. Tapi gue saranin pake susuk sekalian biar semua laki nyantol"
"****** lo ya, iman gue nggak selemah itu"
"Terus nyelakain orang apa itu apa maksudnya?"
"Itu khilaf nj*ng"
"Terserah intinya gue nggak Nisa celaka gara-gara lo" tegas Azam memyorot tajam.
"Kalo lo sampe berani nyentuh Nisa, gue lempar lo ke empang belakang sekolah" tegas Azam lalu pergi keluar kelas, cacing di perutnya sudah unjuk rasa mememintanya untuk menurunkan bahan pangan.
__ADS_1
Filla meninju mejanya pelan.
"Bull ****" Filla tertunduk lesu dikursi, memikirkan cara terbaik untuk menyingkirkam Nisa.