Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 20 Indahnya persahabatan


__ADS_3

Nisa menepuk jidatnya, mengingat sesuatu. Ia pun merogoh saku celana jeans yang di pakainya, mengambil benda pipih yang diselipkan didalamnya. Nisa menekan beberapa menu diponselnya, hendak melakukan panggilan telepon. Tidak selang beberapa lama sesorang diseberang panggilan mengangkat panggilannya.


"Hallo, ada apa Nis?"


"Gue belum tau rumah lo, sharelok dong"


"Oke sebentar, gue tutup dulu ya teleponnya.


Drt..drtt..


Ponsel yang dipegang Nisa bergetar pendek, menandakan pesan masuk, membukanya dalam sekejap. Nisa melajukam motor scoopy nya dengan kecepatan sedang, mengikuti arah GPS di HP nya.


Beberapa menit kemudian Nisa sudah sampai ditempat tujuannya. Ia berhenti dipinggir jalan, melihat beranda rumah Yola terlihat sepi, seperti tidak ada tanda berpenghuni.


Nisa memutuskan untuk mengirimi Yola pesan, memberitahukan keberadaannya.


Nisa: Yola, lo dimana gue udah sampe didepan rumah lo, keluar gih.


Yola yang kebutula sedang memegang ponselnya, segera membuka pesan Nisa, membalas pesannya.


Yola: Okey, gue keluar sekarang


"Hai Nis" panggil Yola sumringah meski kaget dengan kedatangan Nisa. Tangan kanannya melambai ke arah Nisa, menyambut kedatangannya. Dewi fortuna sedang berpihak padanya hari ini, Ia semula berpikir akan berjamur menunggu kedatangan Nisa, ternyata malah Nisa yang datang lebih awal dari pada teman temannya yang lain.


Nisa membalas melambaikan tangannya "Hey".


"Bukain dong gerbangnya" perintah Nisa masih diatas motornya.


Yola mendekat ke arah Nisa, membuka pintu gerbang rumahnya, mempersilahkan Nisa masuk. Nisa melajukan motor perlahan, memarkir motornya dihalaman depan rumah Yola. Yola pun mengekor dibelakang Nisa.


"Yang lain mana?" tanya Nisa yang belum beranjak dari duduknya diatas motor, ia memandangi wajahnya melalui spion motornya, membenarkan anak rambutnya yang berantakan terkena angin.


"Belum dateng"


Nisa manggut manggut, mencari pertanyaan lain.


"Dirumah lo ada siapa?"


"Gue sendirian"


"Ortu kemana?


"Lagi ada bisnis diluar kota" jelas Yola, ia menyedekapkan tangannya didada, sabar menunggu Nisa selsai membenahi rambutnya.


Nisa menghirup napasnya dalam dalam, hawa sejuk memenuhi rongga dadanya.


Nisa mengedarkan seluruh pandangannya, mengamati satu persatu pohon yang tumbuh berjajar rapi diteras rumah Yola. Matanya awas menatap setiap dahan di pohon yang sedang berbuah, berharap ada yang masak.


Yola melihat gerak gerik Nisa yang mencurigakan."Lo cari apa?".


"Eh..enggak kok, siapa tau Filla atau Icha dateng " Nisa berbohong menutupi kegugupannya, membuat jawabannya tidak nyambung.


"Lo cari mereka tapi mata lo liat ke pohon?


"Siapa tau aja mereka jelmaan jin penunggu pohon" cerca Nisa cuek.


"Gue aduin ke mereka dua ****** lo" ancam Yola menakut nakuti Nisa.


"Lo mau ngadu domba gue?"


"Enggak kok"


"terus maksud lo apa mau ngadu ke mereka?"


"Gue cuma mau ngadu kambing"


"Maksud lo? gue kambing?" Nisa memicingkan matanya memandang Yola,


"Yaps betul, lo sejenis kambing, jarang mandi" jawab Yola dengan lantang tanpa ragu.


"Meski gue enggak glowing, tapi gue rajin mandi tau"


"Buktinya apa?" tantang Yola, semangat mengompori Nisa.


"Apa perlu gue Vc lo pas gue mandi?"

__ADS_1


"Emang lo berani?"


"Berani lah, emang lo doyan liat gue mandi?"


Yola menutup mulutnya, perutnya merasa mual membayangkan ucapan Nisa.


"Ogah" Yola membuang muka, perasannya menjadi tidak enak. Ia hanya berdua dengan Nisa, takut jika hal tidak senonoh akan terjadi.


"Kita masuk dulu yuk, capek nih berdiri terus" Yola mengalihkan pembicaraan, meladeni orang gila akan membuat dirinya semakin gila. Yola berjalan mendahului Nisa.


"Kita tunggu diteras aja, biar mereka nggak repot nyariin"


Yola mengangguk menuruti, mendudukkan pantatnya disofa depan rumahnya.


"Tumben lo berangkat awal?" ucap Yola basa basi, mencairkan suasana.


"Iya nih, takut singa betina ngamuk" jawab Nisa enteng membalas cibiran Yola.


Yola menghembuskan nafasnya berat, meyadari mulutnya telah salah bicara.


"emang kalo gue telat boleh? tanya Nisa polos.


"Engga juga sih" cengiran manis bertengger dibibirnya.


Yola menatap ke jalanan didepan teras rumahnya, ia mendengar deru suara motor yang mendekat arah rumahnya.


Seorang gadis tersenyum lebar begitu sampai dihalaman depan rumahnya. Ia mematikan mesin motornya, kemudian turun perlahan diikut seseorang yang tadi duduk dibelakangnya.


"Hai Fil, Cha" sapa Yola sambil tersenyum ramah, bersyukur sekali memiliki teman yang displin, bahkan pukul sembilan kurang satu menit mereka telah smapai di rumahnya. pertemuan mereka berjalan mulus, tanpa ada adu mulut karena biang kerok yang biasa terlambat.


"Hai La" Filla dan Icha serempak membalas sapaan Yola. Mengabaikan sesorang yang duduk disebalah Yola.


"Ehmm..hmmm" Nisa sengaja mengeraskan dehemannya agar didengar dua makhluk yang tidak punya sopan santun itu.


"Eh Nisa? lo udah sampai sini?" seru Icha takjub, menyaksikan keajaiban dunia kedelapan.


Filla mengucek ngucek matanya, gestur tubuhnya kentara sekali menyindir keberadaan Nisa


"Iya, emang lo nggak liat?"


"terus siapa bidadari?


mana ada bidadari kayak lo, kalo ratu iblis mah cocok" cerca Filla meledek Nisa.


"Gue pikir tadi lagi berhalusinasi tentang lo, sampe liat bayangan lo disini" Icha menahan senyumnya, berusaha melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Biasanya jam segini lo kan masih molor" imbuh Icha lagi tawanya tidak bisa dibendung lagi. Seketika membuncah melihat rona merah diwajah Nisa.


Nisa berdecak sebal dengan kekompakan kedua sahabatnya.


"Gue kira tadi malah tante kunti yang lagi gentayangan" ucap Yola tanpa merasa berdosa, mengatai sahabatnya sendiri.


Nisa bangkit berdiri, bad mood nya kambuh.


"Lo mau kemana?" tanya Icha panik melihat Nisa yang hendak pergi.


Nisa diam, pura pura tida mendengarkan.


Filla menahan lengan Icha yang hendak mencegah Nisa, mengode melalui tatapan matanya biarin aja.


Nisa mulai berjalan pelan, kemudian membalikan badannya saat merasa tidak ada reaksi dari para sahabatnya.


"Lo semua nggak mau nyegah gue?


"Enggak, emang lo mau pergi?" Tanya Filla menantang.


"Pulang"


Filla dengan santai mempersilahkan Nisa pulang. "Silahkan"


"Hati hati dijalan" tambah Yola lagi tangannya memegang perutnya yang terasa kram menahan tawa.


"Oke" Nisa melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah Yola.


"Gila, lo biarin Nisa pergi gitu aja?" teriak Icha dengan sedikit teriak, merasa kasihan dengan Nisa.

__ADS_1


"Udah biarin aja" Filla menatap Yola meminta dukungan.


"Lo nggak usah baper Cha" Yola meluruskan kakinya.


"Masuk yuk" Yola melangkah masuk diikuti Filla.


Icha masih mematung ditempatnya, harus menyusul Nisa atau masuk bersama Filla.


"Udah ayok masuk, nggak usak ngejar Nisa" Filla menarik tangan Icha menyuruhnya bangkit masuk.


"Lo duduk dulu, gue buatin minum" Yola melanjutkan langkahnya menuju dapur.


"Tapi Nisa gimmana Fil?"


"Gimana apanya?"


"Dia marah Fil" Icha mengepalkan tanganya, geregetan dengan sikap Yola dan Filla yang begitu santai.


"Terus? biarin aja nanti juga balik lagi"


"Lo jahat banget Fil, Nisa lagi marah lo masih bisa santai disini?"


"Aduh Icha, lo nggak usah baper deh, kita temenan udah lama. Harusnya lo sadar temenan sama kita pake otak bukan hati" papar Filla berusaha menjelaskan siatuasi yang terjadi.


"Maksud lo?"


"Nisa nggak mungkin marah sama kita"


"Enggak mungkin marah kata lo? Nisa baru aja pergi gitu aja? lo punya hati nggak sih?" Icha menggebu gebu meluaokan amarahnya


Filla menggelengkan kepalanya. Tidak menanghapi Icha lagi.


Yola datang membawa nampan minuman berisi jus jeruk. Saat akan meletakan dimeja, nampannya bergoncang hebat hampir menumpahkan isi didalam gelas, badannya tetsentak kaget mendengar benda yang tiba tiba jatuh.


Bruuukk..


Serempak mereka bertiga mengintip kearah luar rumah, asal suara benda yang tadi jatuh.


Dilihatnya seorang gadis yang sedang memunguti buah mangga yang baru dipetik.


"Nisa?" Icha bergegas keluar menghampiri Icha, diikuti Filla. Yola meletakan jus jeruk buatannya dimeja ruang tamu.


Nisa nyengir kuda kearah Filla dan Icha.


"Upss...ketauan deh" ucapnya tanpa bersalah telah mencuri buah mangga milik sahabatnya sendiri.


"Ya ampun Nisa, syukur deh lo mau balik"


"Lo ngapain?" Filla mengelus dadanya melihat gerakan Nisa yang asyik memunguti buah Mangga muda.


"Menurut lo?" seru Nisa, masih kesal dengan Filla yang tadi mengatainya ratu iblis.


Yola keluar setelah menyelesaikan kegiatannya. Yola melipat dahinya, heran dengan Nisa yang membawa banyak mangga ditangannya.


Nisa mengendikan bahunya melewati ketiganya dengan cuek masuk kedalam ruang tamu.


Icha membulatkan mulutnya, melongo ditempat.


"Ayok masuk, kalian ngapain masih diluar?"


"Gue kan yang punga rumah, kenapa jadi lo yang nyuruh?" Yola melangkah masuk dengan cemberut, diikuti Filla dan Icha yang telah berhasil merapatkan kembali mulutnya.


"Gue kan udah bilang temenan sama kita harus pake otak, nggak mungkin Nisa marah sama kita cuma masalah sepele, nggak udah baper kasihan sama Nisa" jelas Filla setelah duduk disofa dekat Nisa.


Icha tersenyum lebar, menyadari ketidakpekaan dirinya terhadap persahabatan mereka.


"Siapa bilang gue nggak marah?, gue balik karena sayang sama mangganya kalo nggak gue bawa pulang"


Filla menjitak pelan kepala Nisa. "Makanan aja yang lo pikirin, lo nggak mikirin sahabat lo yang kena amuk serigala?"


"Bodo amat" ucap Nisa tak peduli, ia meminum jus jeruknya.


Filla baru saja hendak melempar bantal ke arah Nisa.


"Udah minum dulu, abis itu kita cus jalan jalan" ucap Yola menengahi jika diteruskan , sampai subuh juga tidak akan selesai.

__ADS_1


__ADS_2