Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 6 Bukan Sekedar Halusinasi


__ADS_3

Nisa mengerjap ngerjapkan matanya. Rasa kantuk masih menyerangnya. Perlahan ia membuka matanya. Ruang kamarnya masih gelap, Ia hendak melanjutkan mimpi indahnya.


Drtt..drttt..


terdengar suara ponsel nya bergetar. Ia


meraba nakas di samping tempat ranjangnya mencari sumber suara yang menganggu tidurnya.


Dilihatnya notifikasi beberapa pesan baru muncul.


P


Nisa


Ayok bangun


Jangan terlambat lagi


Okey?


Nis..


Nisa menggerutu kesal dipagi yang masih buta Nisa sudah spam chat dari Yola.


Iya nanti gue bangun. Ini masih pagi say


Pagi pala lo peyang. Lo sadar nggak sekarang udah jam berapa?


Nisa melirik angka jam yang tertera pada layar ponselnya.


05.30


Nisa membuka matanya dengan sempurna. Perlahan bangkit kemudian membuka tirai jendela kamarnya. Nisa mengira saat ini masih subuh ternyata awan mendung bermunculan dimana mana membuat area sekitarnya gelap gulita.


Nisa bergegas menuju kamar mandi membersihkan badan secepat kilat. Nisa sudah membulatkan tekadnya tidak boleh terlambat pada hari ini jika tidak mau reputasinya hancur. Bagaimana tidak gadis secantik Nisa seharusnya terkenal menjadi primadona buka biang kerok yang suka terlambat.


" Pagi ma" Nisa menyapa mamanya dengan ceria. Meskipun sisa kantuk masih menempel di wajahnya hal itu tak menyurutkan semangat nya.


semalam ia tidur terlalu larut. Pikirannya menjadi kacau sejak ia bertemu Aldo. Kenangan masa lalu berputar memenuhi memori otaknya, membuat Nisa sulit tidur. Penderitaanya berlanjut saat tertidur, ia memimpikan Aldo. Bagaimana nanti jika bertemu dengannya? Nisa menepis pikiran buruknya. Sudahlah lupakan.


Nisa menuruni anak tangga dengan tenang seakan hari ini adalah hari bahagia untuknya.


Dian menatap Nisa tak percaya. Ternyata harapannya agar putrinya berubah menjadi kenyataan


" Pagi juga anak mama" Ucap Dian senang. Ia dengan sigap menyiapkan sarapan untuk Nisa. Mengambil dua helai roti tawar lalu melapisinya dengan selai coklat kacang kesukaan Nisa.


"Makasi ma" ucap Nisa menerima jatah sarapannya.


Nisa menatap mamanya lekat.


Dian sadar sedang di perhatikan Nisa.


"Ada apa Nis?"


"Emm jadi gini ma, Nisa mau berangkat pake motor aja boleh nggak ma? " tutur Nisa hati-hati


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Nisa tanya boleh apa engga mama" ucap Nisa agak menekan.


Nisa tak mungkin menjelaskan Alasan sebenarnya. Karena ia tak mau lagi terlambat datang. Nisa sadar dirinya terlalu pemalas untuk bangun pagi. Akan lebih efisien jika menggunkan motor.


"Jangan mengada ada Nis. Biasanya juga kamu pakai angkot nggak sewot kenapa sekarang mendadak mau pakai motor?"


"Nisa capek jalan kaki, Mama kan tau sekolah Nisa nggak deket jalan raya".


Dian tampak keberatan dengan permintaan Nisa. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Nisa.


"Nisa janji bakal hati hati kok.Mama tenang aja" Nisa memasang wajah memelasnya berusaha menyakinkan mamanya.


Dian menangguk menyetujui. Ia tak tega jika anaknya harus kelelahan.


Yess. Nisa tersenyum senang, Segera memeluk mamanya sembari mencium pipinya.


"Makasi ma"


****


Nisa melaju dengan kecepatan sedang. Akhirnya dia bisa menghirup udara segar, tak perlu lagi berdesak desakan dengan penumpang lainnya.


Nisa menikmati kebebasannya. Namun kesenangannya tak berlangsung lama. Tiba tiba sepeda motornya terasa berat. Ia segera menepi dipinggir jalan.


Dilihat ban motor nya gembes.


Apes banget gue. Mungkin ini karma karena maksa mama, sebenarnya mama kan nggak ngizinin.


Nisa menunduk lesu. menyesal pun percuma.


15 menit menunggu.


"Bang masih lama ngak?" Nisa mulai tak sabar untuk menunggu.


Hari ini Nisa tak akan berani untuk terlambat. Hari senin, hari yang sakral untuk siswa seperti nisa. Pantang baginya untuk terlambat. Hukuman berat akan menantinya jika itu terjadi.


Tanpa nisa sadari seekor mobil berhenti didekatnya. Seorang remaja dengan ciri khas seragam putih abu abu menghampiri Nisa. Semula Nisa tak memedulikannya. Ia masih sibuk bergelut dengan pikirannya. Bayangan saat bertemu Aldo kemarin datang lagi.


Sesorang itu semakin mendekatinya, dan kejutan untuk nisa. Surprise.


"Hai Nis" sapanya ramah.


Nisa salfok pada seragam putih yang digunakan lelaki dihadapannya. putih polos . Hanya ada bagde kelas yang bertengger manis di lengan kanannya. X IPS 2.


Tanpa dasi yang melilit dilehernya. Entah dimana benda itu singgah. Namun anehnya rambutnya yang acak acakan tak mengurangi sediktpun ketampanannya.


Meskipun tanpa name tag Nisa bisa mengenali siapa dirinya. Nisa berasumsi jika itu Aldo. Orang yang meninggalkannya setahun terakhir.


"Hello" balas Nisa ragu. wajahnya sekilas memang mirip Aldo. bedanya Aldo memakai kacamata bulat tebal yang membuatnya terlihat cupu.


"Aldo?" ucap Nisa menyakinkan.


Aldo mengangguk lembut. terlihat Cute dimata Nisa.


Gue kan lagi berimajinasi kan? kenapa bisa dia berubah jadi maskulin begini.


"Lo ngapain disini?"

__ADS_1


Nisa menunjuk abang tambal ban di depan nya. pertanyaan Aldo tidak layak mendapat jawaban.


"Ban motor lo bocor?" Aldo masih memancing Nisa agar membuka suara. Jujur Aldo rindu dengan suara emas Nisa.


"Hmmmm" Gumam Nisa malas. Ia melirik senyum Aldo. Senyum yang udah lama banget Nisa rindukan. Menurutnya senyumnya masih sama seperti dulu.Manis.


Nisa juga tak akan lupa lelaki ini juga yang telas menghancurkan hatinya. Meminta putus darinya. Apa mungkin gue lagi berhalusinasi tentang mantan? Tapi kayaknya engga deh, buktinya senyuman itu masih ada. Bahkan makin... manis. Batin Nisa


"Nisa?" Aldo membuyarkan lamunannya membawa ke alam sadarnya.


Nisa masih diam bingung hendak menolak atau menerima. Jika menolak kemungkinan dia akan terlambat jika mengiyakan tawarannya ia harus menerima kemungkinan buruknya jika suatu saat nantinya bakal CLBK .


Glek


Nisa menelan salivanya dengan susah payah. Inget Nisa udah mantan jangan kemakan pesonanya Aldo. Sabar Nisa, ujian paling berat buat para jomblo yang susah move on seperti Nisa itu tak kala melihat senyum mantan. Rasanya tuh nana nano. Uwu sekali.


"Engga deh " Tolak Nisa halus.


"Kenapa? Udah lah bareng gue aja" tawar Aldo sambil menarik tangan Nisa.


Aldo geregetan melihat sikap Nisa yang tampak seperti orang **** dimatanya.


"Lepasin Al. Gue kan bilang enggak, jangan maksa dong" Jawab Nisa kasar. Entah mengapa emosinya seperti akan meledak. Apakah faktor mantan kali yah?.


Aldo mengalah. ia sudah hafal tabiat Nisa. Semakin di kekang justru akan membuatnya lepas.


15 menit menunggu. Tidak ada tanda tanda abang tambal ban itu akan menyudahi pekerjaannya.


"Mau sampe kapan si lo nunggu" omel Aldo tak gusar.


"Lo tu cerewet banget sih Al? kalo lo mau pergi ya udah pergi aja. Engga ada yang nyuruh lo buat nunggu di sini"


"Sensi amat lo Nis. Niat gue baik mau nolongin"


"Nis Ayolah, udah mau masuk nih. Ntar telat lho. nggak takut sama Pak Jay?


Nisa memilih bungkam. Tak bisa dipungkiri dalam hati kecilnya sebenarnya ia merinding saat Aldo menyebut pak Jay. Siapa si yang tak kenal guru killer seperti dia.


"Ya elah gue dikacangin. Lo tuh udah sering diPHP yah? celetuk Aldo asal.


Nisa menatap aldo. Tatapannya mengisyaratkan, Apa hubungannya coba?


"Lo tuh udah sering di PHP kan makanya udah kebal nunggu lama yang nggak jelas begini.


Nisa membelalakan matanya.


"Aldo bisa diem nggak".


"Jangan marah marah terus Neng nanti manisnya ilang lho takut kena marah juga"


Nisa mencubit perut Aldo. Aldo meringis menahan sakit. Sedangkan Nisa sudah berlari menuju mobil Aldo.


"Yok bang brangkat" teriak Nisa. Ia sudah bosan menunggu lama.


"Ayok gaskeun" balas Aldo dengan senang hati. Penantiannya tak berakhir sia sia.


Nisa memilih mengalah. Berdebat dengan Aldo tak akan membuahkan hasil apa pun kecuali efek buruk untuk kesehatannya. Darah tingginya akan kambuh berhubung Aldo yang pandai memancing emosi.

__ADS_1


__ADS_2