
Nisa menghentakan kakinya dilantai dengan perasaan kesal. Sudah dua tempat ia datangi, taman belakang dan rooftop sekolah namun hasilnya nihil.
"Kemana sih tuh bocah" gerutu Nisa mengelap keringatnya dengan punggung tangan.
"Temen lo demit apa tukang sihir sih, kok bisa ngilang"
"Tau tuh, Cari kemana lagi coba" ucap Nisa frustasi.
"Kita cari ke perpus aja yuk" tawar Azam memberi solusi.
"Gue udah capek" ucap Nisa lirih.
"Ya udah istirahat dulu nanti pulangnya kita samperin"
Nisa mengangguk setuju, keduanya sekarang melangkah menuju kantin dengan gontai. Icha melambaikan tangannya saat melihat Nisa datang.
Azam mutar bola matanya malas, pasalnya Filla tengah menatap tak suka padanya.
"Enggak usah gabung deh Nis"
"Tapi nggak enak sama yang lain" bisik Nisa. Mmereka berdua punu dengan langkah berat berjalan mendekati meja Icha yang berisi Zen, Filla, Aldo dan Fian.
"Makin lengket aja nih" ucap Fian mengompori Aldo. Ia belum tau jika Aldo sudah memiliki pacar baru.
"Kok lo mau sih jadi obat nyamuk orang pacaran" jawab Nisa tak kalah sinis. Tidak ada Ardan disini, otomais Fian lah yang jomblo sendirian.
"Heh Aldo juga jomblo" sahut Fian mencari dukungan.
"Ututu kasiannya pacar baru nggak dikenalin" Cerca Azam dengan senyum mengejek.
"Sorry bre gue sekarang udah punya pasangan" sanggah Aldo cepat meralat ucapan Fian. Ia merasa tak enak dengan Filla.
"Hahaha lo nggak cemburu pacar lo digandeng cowo lain?"
"Ehem..pacar gue Filla Yan" ucap Aldo sembari menggaruk tengkuknya.
"Eh? sejak kapan?" balas Fian terkejut. Ia melirik Filla sedikit salah tingkah.
Filla memaksakan senyumnya membalas lirikan Fian.
Zen membulatkan matanya tak percaya. Setaunya kemarin Aldo masih mengejar Nisa, kenpa sekarang sudah pindah haluan?.
"Lo serius?" tutur Zen ragu.
Aldo mengangguk tegas.
"Baru kemarin aja gue jadian" jawab Aldo santai, berbanding terbalik dengan Filla yang cemberut.
"Gue pikir lo bakal jadi jomblo abadi karena gagal move on" cengir Fian polos.
"Bagus deh jadi nggak tarik ulur perasaan lagi" sambung Zen menghembuskan nafas lega.
Filla menyendok makannya kasar, jengah mendengar percakapan tak bermutu disekitarnya.
Aldo tertawa kecil.
"Udah nggak usha dibahas, lanjutin makannya" seru Aldo tak mau memperpanjang masalah.
Seketika suasana menjadi hening. Mereka larut dengan pikirannya masing-masing.
"Yola mana Nis? kok nggak barengan? " tanya Icha celingukan.
Nisa ta k menyahut, Ia menyeruput es jeruk milik Icha. Sudah sejak tadi Ia menahan rasa haus ditenggorokannya namun pesanannya belum juga datang.
"Lagi ngilang" sahut Azam mewakili.
"Ngilang gimana? kok bisa?" tanya Icha heboh.
__ADS_1
"Lagi patah hati ditikung temen sendiri" jawab Filla dengan nada tak bersahabat.
Nisa menyeka bibirnya yang basah sehabis minum. Wajahnya terlihat kesal mendengar ucapan mencibir Filla.
"Muka doang cantik tapi hati mak lampir" cerca Azam disertai decakan kecil.
Filla mendesis geram.
Icha dibuat bingung dengan kalimat kiasan Filla dan Azam.
"Ditikung gimana Fil? gue nggak paham"
Filla menunjuk Nisa dengan dagunya.
Icha berpikir sebentar, mencerna baik-baik ucapan Filla.
"Nisa lo..." Icha tak lagi meneruskan kalimatnya.
Nisa mengangguk lemah. Tak bisa menyangkal lagi, lebih baik jujur saja.
"Waaah selamat yah Nis akhirnya lo menemukan cinta sejati lo" Zen tersenyum senang. Selama ini dia pro dengan Nisa tentu saja Ia ikut bahagia mendengar Nisa sudah memiliki pasangan. Tidak lagi berharap pada Aldo yang plin plan.
"Makasi" ucap Nisa tulus.
Fian tiba-tiba memijat pelipisnya.
"Gue jadi bingung"
"Kenapa Yan?" jawab Nisa heran.
"Gue bingung mau minta pajak jadian sama siapa dulu. Lo atau Aldo" ucap Fian memasang wajah sok berpikir keras.
"Makan besar nanti kita Yan" imbuh Zen mengedipkan sebelah matanya.
"Lo aja belum ngasih gue PJ" timpal Fian menjitak kepala Zen.
"Gue mah udah lawas. Minta sama yang masih anget lah"
"Aww sakit nj*r" umpat Zen membalas menoyor kepala Fian.
"Heh udah stop" ucap Aldo melerai.
"Lo makan aja sepuasnya, biar gue yang bayarin" tandas Aldo enteng.
"Nah gitu dong dari tadi" balas Fian sumringah.
"Al gue juga yah" tambah Zen tak mau kalah.
"Iya, sekalian aja bungkusin buar Ardan" celetuk Aldo.
"Siap master" sahut Fian sambil mebghormat pada Aldo.
Tak lama kemudian pesanan Nisa dan Azam datang.
Nisa melahap makanannya malas. Perasaan bersalah pada Yola membuat nafsu makanya hilang.
"Buruan makannya bentar lagi masuk" perintah Azam gemas melihat Nisa mengaduk-aduk makanannya.
"Iya"
"Mau gue suapin?" tawar Azam.
Nisa menggeleng singkat
"gue bisa sendiri".
"Yang disini uwu-uwuan yang di sana mellow"
__ADS_1
Azam menghentikan aktivitasnya menyendok makanan.
"Lo bisa nggak sehari aja enggak nyinyir?
"Gimana gue nggak nyinyir? temen gue terluka gara dia. Eh malah dianya masih sempet pacaran"
"Heh kalo ngomong jangan asal njeplak"
"Fakta kok" ketus Filla.
"Seenggaknya kita udah berusaha nyari. Nggak kayak lo yang bodo amat nggk peduli".
Nisa menutup mulutnya menahan tawa. Padahal dia yang di cibir Filla, namun kenapa Azam yang beradu mulut dengan Filla.
"Cih yang salah lo berdua kenapa jadi gue yang repot?"
"Temen macam apa si lo? cuma mikirin perut doang".
Icha menelan salivanya merasa tersindir. Dia sendiri bahkan tak tau apa-apa.
"Lo cowok banyak mulut. situ bencong?" ucap Filla sinis.
Nisa mengelus punggung Azam yang mulai tersulut emosi.
"Sayang, udah diem" tukas Nisa menenangkan. perdebatan antara keduanya di prediksi bisa sampai subuh jika tidak segera dihentikan.
"Bukan gue yang suruh diem, tapi dia tuh si mulut lemes"
"Idih masih mending lemes yang penting bukan penikung"
"Emang siapa sih yang tukang tikung? gue bukan pacar Yola. Terserah gue mau pacaran sama siapa"
"Jadi cowok punya hati dikit dong" ucap Filla semakin menyudutkan.
Aldo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lama-lama risih dengan perbincangan kekasihnya yang semakin memanas.
"Maaf hati nggak bisa di paksa"
Aldo memegang lengan Filla yang hendak menyahut.
"Udah nggak usah di jawab" tutur Aldo lembut.
Filla masih tampak tak terima namun sorotan tajam Aldo membuatnya urung.
"Maaf yah gays Kita mau pindah meja aja" ucap Aldo ramah.
Tidak ada jawaban, Nisa membuang muka ke arah lain. Fian dan Zen saling tatap.
"Iya Al, silakan" sahut Icha.
Aldo menarik tangan Filla bangkit, mereka pindah ke meja sebelah agar tak jadi keributan lagi.
"Nanti gue coba ngomong sama Yola yah Nis" ucap Icha membesarkan hati Nisa.
"Makasih ya Cha"
"Iya. Jangan terlalu di pikirin, Yola pasti cuma syok nggak mungkin dia marah"
Nisa tersenyum tipis.
"Semoga"
Keduanya saling melempar senyum. Tak ada yang berani bersuara, ketegangan yang baru saja terjadi membuat mereka sungkan untuk membuka mulut.
Nisa mengigit bibirnya agar tawanya tak pecah. Nisa benar-benar tak menyangka Azam bisa secrewet itu untuk membela dirinya.
Betapa beruntungnya gue, memiliki seseorang yang selalu memperjuangkan dirinya. Sumpah, tak bisa dibayangkan jika Ia diposisi Filla. Yang jelas dia pasti sudah uring-uringan.
__ADS_1
Aldo bahkan cuma diem saat wanitanya dimaki. Nisa melirik Azam dengan mulut mengukir senyuman.
"I love you so much Azam"