
Nisa memandang gusar materi yang ditulis Bu Ratna dipapan tulis. Meski matanya fokus lurus kedepan, namun pikirannya berkelana entah kemana. Hatinya gundah, ucapan Ardan masih terngiang-ngiang di gendang telinganya.
"Lo lagi ada masalah apa Nis?" tutur Yola yang jengah melihat kegusaran diwajah Nisa.
"Enggak ada kok" jawab Nisa berbohong, meski Ia sendiri yakin Yola tidak akan semudah itu untuk percaya.
"Nis" panggil Yola lirih, matanya tak lepas mengawasi seorang guru yang sedang menerangkan materi didepan sana.
"Apa?" sahut Nisa penasaran dengan kalimat yang sengaja Yola gantung.
"Gue cuma mau bilang bohong itu dosa"
Nisa mendengus pelan,
"Kalo mau curhat, gue udah siapain bahu buat lo bersandar" ucap Yola tulus. Ia menatap prihatin kepada Nisa yang tampak lesu.
"Nggak perlu deh, mending lo siapin catatan materi yang rapi biar nanti gue gampang nyalinnya" sanggah Nisa sembari menutup buku tulisnya. Sepuluh menit lagi bel tanda belajar telah usai akan berdering. Ia menyimpan buku tulisnya dilaci mejanya, hanya menyimak penjelasan materi tanpa mencatatnya.
Yola menghentikan aktivitas menulisnya,
"Lo kenapa sih Nis?" tanya Yola kepo, geregetan melihat Nisa yang bertopang dagu. Meski tatapan Nisa menghadap lurus kedepan memperhatikan, namun apalah artinya jika tatapan itu sendiri kosong hanya sebatas formalitas agar tidak mendapat teguran guru jika ketahuan mengacuhkan penjelasaannya.
"Gue laper" cetus Nisa cuek.
" Apa gue sebego itu dimata lo Nis sampe lo ngotot bohongin gue? gue tau mana orang yang lagi kelaperan sama orang yang lagi tertekan"
"Hmmmm" Nisa bergumam malas.
Nisa melotot menatap sikap cuek Nisa.
"Tangan gue kenapa mendadak gatel yah?"
"Emang dari dulu juga lo udah kegatelan" celetuk Nisa.
Yola berdecak kesal,
"Kali ini gatelnya beda" ucap Yola berubah serius.
"Kalo gatel tinggal garuk aja kali"
"Tangan gue nggak pengen digaruk, pengennya nabok orang"
"Eh i..ya nanti gue ceritain" jelas Nisa cepat.
Yola menunduk menahan tawa dibibirnya melihat ekpresi konyol Nisa yang mendadak berubah gugup ketakutan.
Nisa berdesis pelan, sadar telah dikerjai Yola.
Yola tak kuasa menahan tawanya aagr tidak lecah, Ia memegangi perutnya yang terasa kram.
"Baru gue gertak aja udah kayak kucing liat air gimana kalo beneran?" seru Yola meledek Nisa.
"Sialan lo" Nisa menendang salah satu kaki kursi Yola.
" Gue bukannya takut sama lo, tapi karena gue menghargai lo sebagai sahabat gue" sanggah Nisa.
"Aduh gue jadi terharu" ucap Yola dengan intonasi nada mellow.
"Jangan ke PD an dulu, gue cuma menghargai lo seribu perak"
Yola mengurungkan niatnya yang hendak menjitak kepala Nisa, saat tatapan tajam Bu Ratna mengarah padanya.
Suara bel berdering nyaring menandakan pelajaran telah usai.
__ADS_1
Tidak selang berapa lama, Bu Ratna langsung mengakhiri pembelajarannya. Selesai mengucap salam, Ia pun melangkah pergi meninggalkan ruang kelas.
"Tunggu aja pembalasan gue"
Nisa tersenyum kecil menghiraukan ancaman Yola, Ia bergegas membenahi peralatan tulisnya bersiap pulang.
Azam dengan sigap menghampiri bangku meja Nisa.
"Hei Nis, mau pulang bareng gue nggak?" tawar Azam tiba-tiba.
Nisa terlonjak kaget melihat kedatangan Azam dimejanya yang tanpa undangan itu, lebih kaget lagi setelah mendengar ajakan Azam.
Yola mematung dikursinya, ikut menanti jawaban dari Nisa.
******
Aldo mengemasi buku-bukunya pada tas punggungnya. Fian yang sudah selesai merapikan alat tulisnya langsung bangkit menuju meja Aldo yang disusul Zen dibelakangnya.
"Yuk pulang" seru Fian sambil merangkul bahu kiri Aldo. Zen lagi-lagi melakukan hal yang sama dengan Fian, merangkul bahu kanan Ardan.
Aldo menoleh samping kanan kirinya dengan tersenyum lebar.
Aldo berdehem pelan, Ia kesulitan bergerak dengan Fian dan Zen yang menghimpit tubuhnya ditengah-tengah.
"Gimana gue mau pulang? mau jalan aja susah" sindirnya.
Fian dan Zen kompak melepaskan rangkulan mereka.
"Lo berdua udah ditakdirkan buat berjodoh apa gimana sih? kompak banget" Aldo menyipitkan matanya menatap keduanya bergantian.
"Jangan ngawur lo" Fian menoyor kepala Aldo berkali-kali.
"Ya nggak mungkin lah, jodoh gue pasti seorang bidadari, bukan cewek jadi jadian kayak dia" timpal Zen sambil menunjuk Fian melalui dagunya.
"Sakit cuy, gue kan cuma becanda" protes Zen lalu mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa bibir lo? jadi pengen nyobain gue"
Zen refleks menimpuk Fian dengan penghapus papan tulis didekatnya.
"Dasar omes" seru Zen seraya bergidik jijik.
"Gue cabut duluan yah" seru Ardan acuh berpamitan kepada teman-temannya yang sedang asyik bersenda gurau.
"Lo nggak mau bareng sama kita?" tanya Zen heran.
"Ada urusan urgent" Ardan menepuk-nepuk perutnya mengode.
"Mau kemana lo?" tanya Aldo masih belum mengerti.
"Mau ke kelas X IPS 3" celetuk Ardan, gemas dengan Aldo yang lola menerjemahkan arti kodean darinya.
"Mau ngapain lo?" tanya Aldo menatap curiga.
"Rahasia Negara"
"Jangan-jangan Ardan cinlok sama Nisa waktu di perpus tadi? makanya sekarang mau ngapel" ujar Fian berbisik pada Aldo mengompori, namun masih bisa didengar oleh Ardan.
Jawaban yang meluncur dari mulut Fian sukses membuat Aldo bungkam disertai tatapan membunuhnya.
"Gue mau pulang kok, udah laper" sahut Ardan meralat ucapannya. Kemudian bergegas pergi diiringi tatapan kesal dari Aldo.
"Gue nggak nyangka Ardan bisa naksir sama Nisa" oceh Fian.
__ADS_1
"Apa lagi gue, padahal gue udah cari yang super galak nyatanya temen gue masih juga mau nikung"
"Lo yang sabar yah? jodoh enggak bakal kemana" ucap Fian membesarkan hati Aldo.
"Jodoh emang enggak akan kemana-mana tapi saingannya yang dimana-mana, hiks" balas Aldo lirih.
Fian memandang Aldo penuh makna,
"Perlu kita selidiki" ucap Fian sambil menepuk pundak Aldo. Aldo mengangguk sepakat.
"Gue harus bisa jadi Doi dia satu-satunya bukan salah satunya" Aldo mengepalkan tinjunya didepan wajahnya, berjanji dengan dirinya sendiri.
"Gue akan selalu ada untuk mendukung mu" tegas Fian menyemangati. keduanya pun menelusuri jejak langkah kaki Ardan.
Zen menggelengkan kepalanya melihat ulah keduanya, membiarkan kedua pergi. Zen menghembuskan nafas lega saat melihat ketiganya tidak singgah di X IPS 3. Ia pun melangkah santai memasuki kelas tersebut.
Mata Icha membulat sempurna. Zen tersenyum ramah kepadanya. Icha mengerjap-ngerjapkan matanya, menyakinkan dirinya tidak salah melihat. Ia tersenyum kikuk saat yakin Zen memang nyata ada dihadapannya. Hatinya teras penuh, ada kebahagiaan tersendiri memenuhi rongga hatinya yang telah lama kosong.
"Nis, pulang bareng sama gue yuk" Seru Zen tanpa basa-basi saat setelah sampai dimeja Nisa. Ia tersenyum manis merayu Nisa.
Senyuman Icha perlahan mengendur, suasana ceria dihatinya lenyap begitu saja.
Nisa terperangah mendengar ajakan Zen. Ia berpikir malaikat mana yang tengah merasukinya hingga mau berbaik hati menawarinya tumpangan.
"Nggak bisa, Nisa mau pulang bareng gue" sahut Azam tidak terima.
"Pulang sama gue yah Nis" pinta Zen merengek.
Nisa memijat pelipisnya, kepalanya terasa pening mendengar adu mulut dari keduanya.
Nisa menatap Yola meminta pendapat, namun Nisa membisu ditempatnya saat melihat Yola yang diam membeku. Ekpresi wajahnya seperti tegang menanti sesuatu. Nisa tahu persis arti ekspresi itu, Ia bahkan juga tau alasan Yola yang mendadak diam.
Ia pernah mengalaminya, bahkan baru beberapa jam yang lalu dirinya merasakan hal yang sama dengan Yola. Ya, ekpresi itu sama persis saat dirinya menanti reaksi Aldo saat Filla bergelayut manja dilengannya. Ekspresi yang penuh harap agar Aldo menolak aksi Filla. Apa mungkin Yola juga menginginkan dirinya agar menolak tawaran Azam?.
"Sorry yah Zam, supir gue udah jemput gue lain kali aja yah" tolak Nisa hati-hati.
"Yaaah" Desahan kecewa keluar dari bibir Azam.
"Ya udah deh, hati-hati dijalan" ucap Azam mengalah, setidaknya Zen juga tidak bisa pulang bersama Nisa kan?.
"Gue pulang duluan yah" tambah Azam lalu pergi keluar.
"Sejak kapan lo punya supir?" tanya Zen penasaran, Ia tau selama ini Nisa termasuk penumpang setia angkutan umum.
"Sejak tadi" jawab Nisa ketus.
"Udah ayok buruan pulang" imbuh Nisa lalu menarik tangan Zen.
"Hah? bukannya lo bilang udah dijemput sama supir lo?" ungkap Zen heran.
"iya, terus?"
"Kenapa ngajakin gue?"
"Supir gue kan..." Nisa menunjuk Zen dengan jari telunjuknya.
"Sialan lo" ucap Zen geram.
"Eitss nggak boleh mengumpat, lo harusnya bersyukur enggak gue tolak" jawab Nisa sombong sambil berlalu pergi.
Zen mendengus berat, mengikuti langkah kaki Nisa dari belakang.
"Kalo bukan karna cinta, gue nggak bakal mau jadi kacung lo" batin Zen kesal. Ia menatap sekilas pada Icha sebelum benar-benar meninggalkan ruang kelas X IPS 3.
__ADS_1