Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
67 Pembuktian


__ADS_3

Bu Ratna semangat empat lima mengajar materi di didepan kelas, tangannya tak henti-henti menulis dipapan tulis disertai bibirnya yang terus membuka menjelaskan.


"Kenapa lo Fil?" tanya Icha yang heran melihat Filla terus senyum-senyum tak jelas.


"Enggak papa kok" jawab Filla sembari menyunggingkan senyumnya.


"Lo nggak lagi menang lotre kan?" tebak Icha memicingkan matanya.


"Anj*y ya enggak lah, bokap gue udah kaya tujuh turunan kali"


"Terus ngapain senyum melulu dari tadi? kesambet tante kun atau uwo?"


"Astaga Icha" Filla mencubit pipi cubby milik Icha.


"Awali harimu dengan senyuman, biar lancar segala urusan" sambungnya.


"Ah masa sih? tapi senyum lo beda"


"Mana ada sih beda, yang punya juga sama kok"


"Serius beda" Icha memandang lekat pada Filla.


"Apa hmm?"


"Senyuman lo kali ini mirip kek orang setres"


"Sembarangan" Filla menoyor kepala Icha pelan.


Tok..tok..tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar membuyarkan konsentrasi seisi kelas, Bu Ratna menghentikan aktivitasnya, menanti seseorang yang akan datang. Perlahan pintu terbuka separuh. Filla menyipitkan matanya, berharap-harap cemas.


Gelak tawa membuncah saat seorang siswi perempuan mendekati Bu Ratna dengan malu-malu.


"Maaf Bu, Saya terlambat" sebuah senyuman terukir manis dibibir tipis Nisa, berharap dapat meluluhkan guru mapel sejarahnya.


Bu Ratna menggelengkan kepalanya berkali-kali, sedikit jengkel saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 07.30.


Nisa terdiam ditempatnya, menunggu respon dari Bu Ratna.


"Ya sudah, kembali ke tempat duduk mu" ucapnya membuka suara, sebenarnya Ia ingin mengintrogasi Nisa panjang lebar namun urung saat melihat wajah pucat Nisa.


"Terima kasih Bu"


"Sial" desis Filla tanpa sadar menggebrak meja pelan.


"Astagfirullah" seru Icha kaget saat buku yang sedang ditulisnya diatas meja bergetar.


"Eh sorry..sorry" Filla salah tingkah disorot tajam Icha.


"Kenapa sih"


"Emm itu, tadi Bu Ratna nutupin"


"Liat punya gue aja" Icha menyodorkan buku tulisnya.


"Thanks"


"Mantaps bos" Yola mengacungkan jempolnya menyambut kedatangan Nisa dibangkunya.


"Ngantuk sangad nih"


"Halah, itu si emang dasar lo pel*r" cibir Yola melanjutkan menyalin catatan dipapan tulis.


Nisa meletakan tas punggungnya,


"Bismillah, semoga enggak kambuh" lirih Nisa sambil mengeluarkan buku tulisnya.


"Kalo masih sakit, kenapa dipaksain berangkat"


"Sayang kalo absen, nanti ketinggalan banyak pelajaran. Bentar lagi kan ujian kenaikan kelas"


"Kan lo bisa pinjem catatan gue"


"Catatan mana cukup, contekan dong baru mantul"


"Boleh, asal besok otak lo tinggal aja dirumah. Sebel gue liat barang yang nggak berguna".


"Itu sih namanya lo nyuruh gue bunuh diri"


"Tau aja lo, jangan-jangan lo titisan cenayang?"


"Anjr*t, bukan lah" Nisa mencubit paha Yola.


"Iss sakit nyet" umpat Yola berbisik.


"Fokus pelajaran dulu" Nisa menahan tangan Yola yang hampir membalas mencubit dipahanya.


Yola memajukan bibirnya, mengalah. Keduanya pun kembali konsentrasi menyimak pelajaran sampai jam istirahat berbunyi.


Nisa menghembuskan nafas lega, sejauh ini perutnya bisa diajak kompromi.


"Akhirnyaaaa" seru Yola melempar pulpen yang terselip dijarinya ke sembarang arah.


"Kantin yuk" timpal Filla dari bangku belakang Yola.


"Hayuk gaskeun" Yola antusias bangkit dari duduknya.


"Nis ikut nggak?"


" Gue mau bobok cantik" Ia pun menelungkupkan kepalanya diatas meja.


"Mau nitip?"


"Enggak masih kenyang"


"Okey kita pergi dulu ye". Seusai mengucapkan kalimatnya, Yola, Filla dan Icha pun melangkah keluar kelas menuju kantin.


Nisa menolehkan kepalanya ke samping saat merasakan sebuah pergerakan dikursi sebelahnya yang kosong.


"Gimana kabar lo?"


"Baik"


"Masih sakit?"

__ADS_1


"Lumayan" balas Nisa singkatt


"Udah dibawa ke dokter?"


"Males"


"Biar cepet sembuh" Azam membelai rambut Nisa lembut, ditatapnya manik bola mata Nisa yang sayu.


"Brisik banget lo ah" Nisa menyandarkan punggungnya disandaran kursi, perlahan memejamkan matanya. Azam menggeser kepala Nisa hati-hati ke bahunya, membuat empunya tersentak kaget.


Nisa membetulkan posisi kepalanya dipundak Azam, Ia lantas memiringkan tubuhnya menatap Azam.


"Boleh peyuk nggak?" Goda Nisa seraya menggelembungkan pipinya seolah menunggu jawaban. Azam mengacak rambut Nisa.


"Boleh tapi nanti dirumah"


"Keburu sembuh" jawab Nisa cepat.


Azam mengusap perut Nisa.


"Udah baikan?"


Nisa tertawa kecil, menepis tangan Azam.


"Awas ih nanti dikira yang enggak-enggak sama netizen"


"Ya bodo amatin lah"


"Enggak ah, kasian nanti dosanya bertambah gara-gara ghibahin kita". Azam gemas mengacak rambut Nisa lagi.


"Ada bawa barang yang gue minta semalem kan?" ucapnya mengganti topik pembicaraan.


Nisa mengerutkan keningnya tidak paham.


"Kue brownis itu?"


"Yaps anda pintar"


"Bawa, mau lo apain?"


"Nanti juga lo tau".


"Okey" Nisa mengalah, tidak ingin berdebat. I harus menghemat energi apa bila ada kepentingan urgent, seperti ke kamar mandi misalnya😉.


"Lo nggak ke kantin?" tanya Azam setelah beberapa detik membisu.


"Mager"


"Mau gue beliin?" tawar Azam tulus.


"Makasi"


"Mau makan apa?"


"Apa aja asal berdua sama lo"


"Tumben bucin"


"Lama-lama gue nggak tega sama lo yang bertepuk sebelah tangan mulu"


"Emang cinta lo kadar alhokolnya berapa persen sih? kok bisa bikin gue mabuk"


"Jumlah persenannya setara dengan jumlah bintang dilangit"


"Emang lo udah ngitung?


"Belum, gue nggak bisa ngitung tapi gue bisa merasakan"


Nisa mencubit pelan perut Azam.


"Gombal"


"Serius, Aduh" Azam bangkit berdiri menghindari cubitan Nisa.


"Buruan gih ke kantin" usir mendorong tubuh Azam menjauh.


"Siap bos". Nisa menopang dagunya menatap punggung Azam yang kian menjauh.


"Ayo dong move on, sayang orang sebaik dia disia sia in". batin Nisa menyeringai jahat.


*********


Seusainya bel tanda pulang sekolah berbunyi..


Nisa membereskan perlatan tulisnya, tubuhnyaa terasa lelah ingin segera diistirahatkan.


"Nis jangan lupa" ucap Azam mengedipkan matanya.


"Iya" Nisa menurunkan tas punggung yang dikenakannya.


"Nanti dulu, jangan buru-buru.. Nanti ada waktunya sendiri" Azam melipatkan tangannya didada, mendekati meja Filla.


"Fill pulang bareng?" tanya Yola yang sefrekuensi dengan Filla, sama-sama mengendarai sepeda motor sebagai alternatif ke sekolah.


"Iya, sebentar" Ia memasukan buku catatannya ke dalam tas.


"Gue duluan yah, udah dijemput" sahut Icha berpamitan.


"Okey, hati-hati" balas Yola melambaikan tangannya. Suasana kelas semakin sepi seiring berkurangnya penghuni kelas satu persatu.


"Yuk" ajak Filla bangkit dari duduk. Yola mengulurkan tangan menggandeng Filla.


"Eits, mau kemana lo" Azam menarik tas punggung Filla dari belakang.


"Pulang lah, lepasin" Yola menghentakan tubuhnya.


"Enggak bisa, gue ada urusan sama lo" Azam memutar tubuh Filla menghadap pada dirinya.


"Apaan sih, gue nggak ada urusan sama lo" Filla hendak membalikan tubuhnya lagi, namun ditahan oleh Azam.


"Lo nya aja yang nggak sadar diri"


"Bodo amat, gue mau pulang"


"Enggak" Azam menarik pergelangan tangan Filla

__ADS_1


"Kalo nggak mau jangan dipaksa, sama gue aja gimana?" tawar Yola melebarkan senyumnya.


"Gue nggak ada urusan sama lo" jawab azam dingin.


Yola mencebikan bibirnya kesal.


"Ya udah deh gue balik dulu, tapi jangan lo apa-apa in temen gue" ancam Yola mengepalkan tinjunya.


"Santai aja, palingan juga cuma gue cekik lehernya"


Filla melolot tajam mendengar ucapan terakhir Azam.,


"Udah sono pulang, atau lo mau gue cekik sekalian?"


Yola menelan salivanya, bergegas mengambil langkah seribu.


"Jangan lupa tutup pintu dari luar" teriak Azam.


Brakkk. Yola memenuhi perintah Azam.


"Mau apa lo?" bentak Filla saat tinggal bertiga dengan Azam dan Nisa.


"Sellow jangan nge gas bisa budeg telinga gue"


"Buruan ngomong"


Azam melirik Nisa, mengulurkan tangannya.


"Keluarin Nis" pinta Azam tegas. Nisa menatap Azam, ragu hendak mengeluarkan.


"Bisa nggak jangan sok dramatis deh" seru Filla kesal tak sabar.


"Oke gue juga males basa-basi" Azam menyerobot tas punggung Nisa.


Filla mengerutkan kening saat Azam menyodorkan kotak bekal Aldo kemarin.


"Makan" Azam membuka kotak bekal yang dipegangnya.


"Hah? lo gila"


"Gue masih waras, kenapa muka lo? kok gugup gitu" ucap Azam blak-blakan.


"Enggak gue biasa aja kok" Filla menggigit bibirnya, jantungnya berdetak dengan tempo. yang tak karuan.


"Ayok cobain" Azam mengambil sepotong brownis coklat itu, menyuapkan ke arah mulut Fila.


Filla menepis kasar,


"Itu udah basi Zam"


"Iya udah basi kek sandiwara lo"


"Maksud lo apa sih? gue nggak ngerti" Filla memalingkan wajahnya sedikit mendorong Azam tubuh Azam yang hanya berjarak sepuluh senti dari tubuhnya.


"Gue nggak akan lepasin lo sebelum lo ngehabisin makanan itu" Azam menyeret Filla kembali ke tempatnya, membanting di sebuah kursi.


"Awww" Filla meringis kesakitan saat pantatnya menyentuk kursi kosong dengan kasar akibat dorongan Azam. Nisa membukatkan matanya melihat perlakuan Aazam kepada Filla baru saja..


"Azam" teriaknya khawatir Azam semakin brutal.


"Lo apa-apaan si Zam" omel Filla menggeram marah.


"Gue cuma mau lo ngerasain apa yang Nisa rasain". Azam menjejalkan beberapa potong roti ke mulut Filla.


"Gue nggak mau" Filla menampik tangan Azam sehingga potongan kue itu terjatuh.


"Kenapa? lo takut senjata makan tuan?" cibir Azam.


"Gue nggak makan makanan basi" elak Filla. Mukanya memerah merasa tersudutkan.


"Basi atau karena udah lo racunin hah?"


"Jangan asal nuduh lo" seru Filla menaikan nada suaranya.


"Gue nggak asal nuduh, justru gue mau ngebuktiin ucapan gue"


"Atas dasar apa lo bisa seyakin itu hah?" ucap Filla sinis.


"Itu kan kue pemberian Aldo, kenapa lo nuduh gue?" lanjutnya.


"Gue tau, tapi gue masih inget kemarin lo izin ada keperluan mendadak kan? gue yakin itu cuma alibi lo doang. Lo cari celah buat masukin obat pencuci perut ke makanan itu kan?" Tandas Azam menatap Filla intens.


"Kalo emang tuduhan gue nggak salah, lo nggak perlu takut kan?" Azam menganggkat wajah Filla mendongak ke arahnya.


"Azam udah cukup" Nisa menahan tangan Azam yang hendak menyuapkan potongan brownis ke mulut Filla lagi.


"Jangan lo bela manusia ular kek dia Nis"


"Dia cewek Zam, jangan kasar"


"Dia aja kasar sama lo, apa lo lupa kejadian tragis lo dikamar mandi?"


Nisa terdiam, membenarkan kalimat Azam.


"Gue cuma mau lo ngerti siapa sebenarnya yang lo anggep temen selama ini. Gue nggak mau dia seenaknya nyakitin lo Nis" jelas Azam seraya memegang kedua tangan Nisa.


"Please percaya sama gue"


Filla tak menyiakan kesempatan, Ia segera berlari saat Azam sibuk menasehati Nisa.


"Hey, urusan kita belum selesai" teriak Azam kesal melihat tawanannya lolos.


"Zam udah yah" Nisa mengusap punggung Azam agar emosinya mereda.


"Belum tentu juga kan gue Diare gara-gara makan kue itu?"


Azam gusar memakan potongan kue brownis, membuat Nisa sedikit kalap.


"Kenapa panik gitu?" cerca Azam yang melihat mimik wajah Nisa berubah menjadi tak tenang.


Nisa mengerjap-ngerjapkan matanya, kebimbangan menggelayuti hatinya. Ia tak ingin berburuk sangka kepada Filla namun entah mengapa pikirannya menjadi was-was saat melihat Azam memghabiskan sisa kue nya sampai tandas.


"Bagaimana jika Azam mengalami hal yang sama dengan dirinya?"


"Itu artinya....?"

__ADS_1


__ADS_2