
"Sabar nanti kita tengokin Nisa yah" ucap Zen menepuk bahu Aldo yang tampak lesu.
"Bukan itu, gue nggak enak hati sama Filla" ucap Aldo pelan seraya melangkah menuju kantin.
"Namanya juga lagi berjuang yang pasti ada yang dikorbanin lah"
"Tapi nggak gitu juga kali" sanggah Aldo keberatan.
"Lo itu harus tegas Al, emamg kalo Filla baper sama lo, lo mau tangggung jawab?"
"Enggak juga si"
"Ya udah"
"Tap..."
Zen meletakan jari telunjuknya di bibir Aldo.
"Jujur itu emang menyakitkan, tapi lebih baik dari pada bahagia diatas kepalsuan. Ujungnya juga sama pahit, jadi lebih baik sakit diawal dari pada menyisakan luka mendalam diakhir" papar Zen.
Aldo terdiam membisu ditempatnya mencerna kata-kata Zen.
"Lo lebih milih mana? nyakitin Filla atau Nisa?"
Aldo menggeleng pelan,
"Hidup itu keras Al, kita nggak bisa maksain takdir berjalan sesuai kehendak kita"
"Gue tau, tapi apa nggak ads jalan tengah?"
"Coba lo pikir lebih realistis, mungkin saat ini Filla kecewa sama lo. Tapi emang itu faktanya kan? lo nggak ada rasa apa-apa kan sama dia?"
Zen membuka suaranya lagi saat Aldo masih mengunci rapat bibirnya.
"Tapi kalo lo nggak bisa tegas jujur sama Filla, gue yakin lo nggak bakal dapetin Nisa. Dia pasti mikir lo lagi deketin Filla"
Zen menepuk punggung Aldo,
"Kacang...kacang" seru Zen kesal melihat Aldo yang mematung tanpa merespon ucapannya.
"Eh..iya" Aldo gagap menanggapi seruan Zen.
"Buruan jalan, dede cacing kelaperan nih" ucap Zen tidak sabar dengan Aldo yang masih berdiri ditempat.
Hening, Kedua tetap diam sampai berada di kantin, tepatnya dimeja tempat Ardan dan Fian hinggap.
"Kenapa muka lo Al? lupa belum disetrika?" tanya Ardan saat melihat tampang kusut Aldo.
Aldo enggan menyahuti Ardan. Ia menarik sebuah kursi, menempatinya dengan malas.
"Eh Al, gue duduk disitu dong" pinta Zen berbisik.
"Kenapa? grogi?" tanya Aldo cuek saat melihat Icha yang tengah duduk manis didepan Zen.
Zen menginjak kaki Aldo,
"Kalo udah tau diem dong" seru Zen setengah berbisik. Aldo pun bangkit dari duduknya, bertukar posisi. Kini dirinya berhadapan dengan Icha sedangkan Zen berseberangan dengan Yola.
"Efek kangen sama ayang beb kali" jawab Zen asal seraya menempati tempat duduk barunya.
"Lho bukannya abis apel?" timpal Fian heran.
"Iya, tapi sayang bebebnya lagi absen" jelas Zen.
"Kenape tuh bocah?" sambung Ardan ikut bertanya.
"Lagi sakit katanya"
"Seorang Nisa bisa sakit? amazing syekali" seru Fian sambil bertepuk tangan kecil.
"Sakit apa?" imbuh Ardan kepo.
__ADS_1
"Ga tau gue nggak tanya" jawab Zen karena Aldo masih bungkam.
"Lo tanya aja langsung sama pawangnya" balas Zen sembari melirik Yola yang duduk di depan mejanya.
"Katanya sih demam" jawab Yola tanpa sempat ditanya oleh Ardan.
"Kalo jodoh emamg nggak kemana" gumam Filla saat memasuki ambang kantin. Dari jauh dia melihat Aldo yang sedang makan bergabung dimeja Yola dan Icha. Filla mempercepat langkahnya, hatinya berbunga-bunga.
"Eits" desis Filla lirih saat sampai didekat meja Yola, terkejut dengan salah satu sosok yang tak asing dimatanya ikut bersenda gurau dengan teman-temannya.
"Lo ngapain disini?" pekik Filla keras, wajahnya berubah masam saat bertatapan dengan Azam.
Sontak semuanya mengarahkan pandangan fokus pada Filla.
"Mata lo rabun yah? emang lo nggak liat gue lagi apah?" tanya Azam balik bertanya.
"Gue tau lo lagi duduk, tapi ngapain bareng sama temen gue?"
"Kayaknya mata lo katarak deh, lo nggak liat mejanya udah penuh semua?" cerca Azam seenak mulutnya berucap.
Filla berdecak kesal,
"Yola yang ngajak gue gabung santai aja tuh, kenapa lo sewot gue disini?" ucap Azam merasa tersindir dengan decakan Filla.
"Temen gue masih pada polos, makannya nggak bisa bedain mana manusia asli sama yang manusia jadi-jadian siluman buaya"
"Udah jangan ribut, malu tuh diliatin banyak orang" seru Yola melerai Filla dan Zen.
"Lo ngapain sih sok baik sama siluman buaya kek dia" ucap Filla sambil melipatkan tangan didadanya.
"Ya ampun Fil, kita aja juga cuma dibaikin sama Ardan. Ini meja dia, beruntung Ardan ngebolehin kita gabung. Masa iya gue ngebiarin Azam lontang lantung nggak dapet tempat duduk?" jelas Yola sedikit tersulut emosi.
"Oh" Filla membulatkan bibirnya, merasa tersudut.
"Udah sini duduk" ucap Icha lembut. Ia memberikan semangkuk bakso dan es teh manis pada Filla.
"Minum dulu biar adem" imbuhnya.
"Gerah hati tuh dibacain surat Yasin bukan cuma dikasi minumam dingin" tambahnya demgan wajah tanpa dosa.
Filla menggengam gelas es teh tangannya erat, ingin sekali rasanya Ia menyiramkan isi didalam gelasnya pada wajah sengak Azam.
"Eh btw gimana tadi? kita mau jengukin Nisa nggak?" tutur Azam mencari topik yang lebih hot, sengaja mengompori Filla.
"Iya tuh, ayok" jawab Yola cepat.
"Yang lain gimana?" imbuh Azam bertambah antusias memanasi Filla.
"Gue sih yes" sahut Ardan.
Zen mengangguk setuju.
"Lo Cha gimana?" tanya Azam.
"Gue ikut"
"Fix nih ikut semua?"
Kompak semuanya memgangguk kecuali Filla.
"Fil ikut nggak?" tanya Yola geregetan pada Filla yang tampak seperti mayat hidup.
"Jelas ikut la" jawab Azam cepat mendahului Filla yang tengah membuka mulutnya.
"Yola tanya sama gue kenapa lo yang jawab?" ketus Filla.
"Lagian jawabannya sama aja kan?"
"Sok tau"
"Emang lo lupa tadi Zen bilang apa? Aldo nitipin kotak bekal buat Nisa sama lo, jadi lo harus ikut buat nyampein amanat itu" jelas Azam panjang lebar seraya menatap lekat Filla.
__ADS_1
Filla memgarahkan garpu yang dipegangnya lurus didepan dimata Azam menyisakan jarak sepuluh senti.
"Gue colok juga mata lo lama-lama"
"Lo bisa sopan nggak? gue kick juga lo lama-lama dari kelas gue" seru Azam.
Filla menurunkan garpunya kembali ke mangkuk bakso, menghela nafas perlahan supaya emosinya yang hendak meledak reda.
"Kita mau berangkat jam berapa?" ucap Yola menengahi perbincangan panas antara Filla dan Azam.
"Sehabis pulang sekolah langsung cus" timpal Ardan.
"Iya biar nggak mager kalo udah sampe rumah" imbuh Fian sependapat.
" Siap atuh, gaskeun" sambung Zen setuju.
"Al?" tanya Yola.
"He.em"
"Fil lo mau ikut nggak?" tanya Yola menyakinkan.
"Iya" balas Filla pendek, toh Ia juga harus memastikan Nisa agar tidak menceritakan kejadian kemarin siang kepada Yola dkk.
"Terus kita mau bawa apa?" lanjut Yola.
"Bawain parcel buah aja" usul Icha.
"Yang lain dong, udah pasaran itu mah cari yang unik dong" sanggah Fian.
"Kita mau njenguk orang sakit apa mau bikin karya seni?" cibir Zen lantas menjitak kepala Fian.
"Biar nggak gesrek" imbuh Zen cepat.
"Gue udah ada sesuatu yang spesial buat Nisa kok" balas Azam sambil tersenyum.
"Apaan tuh?" tanya Yola ingin tahu.
"Rahasia"
"Apaan sih?" Fian menatap memelas pada Azam agar mau memberitahunya. Sedangkan yang lain memandang penuh penasaran.
"Ayo dong kasi tau. Enggak etis lho ngebunuh orang cuma karena dendam penasaran" ucap Zen menakuti.
"Anj*y ngeri kali candaan lo bang" jawab Ardan bergidik ngeri.
"Sekarang becanda tapi lain kali gue serius kalo udah nggak tahan"
"Mau gue anter ke kamar mandi?" ucap Aldo menawarkam diri.
"Enggak tahan pengen denger jawaban Azam b*go" Zen merapatkan giginya saat mengucapkan kalimatnya, menahan lidahnya agat tidak menyebutkan nama-nama hewan di bonbin.
"Kirain" Aldo meringis lebar memamerkan gigi putihnya, tampak gingsulnya menyembul keluar.
"Astaga, manis banget lo bang" ucap Fian menopang dagunya dengan kedua tangan seraya memandangi Aldo.
"Jijay ih" Aldo mencolek dahi Fian, lalu mendorongnya ke belakang.
"Lo mau ngasih Nisa apa si Zam? jangan mancing emosi gue dong" seru Yola yang mulai jengah menunggu Azam membuka mulit.
"Iya nih, jangan mancing jiwa psikopat gue" Ardan menusuk-nusuk baksonya dengan garpu berkali-kali.
"He.eh tuh. Jangan buat kanibal kayak gue kepo, nanti bikin laper soalnya" ucap Zen sambil menggigit baksonya besar-besar.
Azam menelan salivanya susah payah.
"Iya ini gue juga mau ngasih tau kok" jawab Azam gugup, semua mata memandang padanya dengan tatapan mata harimau yang kelaparan berbulan-bulan.
"Jadi...." Azam menghela nafas, memberikan jeda pada kalimatnya.
"Hati gue udah terbungkus rapi buat dedek Nisa" ucap Azam bangga.
__ADS_1